Ke Atas ^
  • Kepada Seniman “ Universil”: Menjawab H.B. Jassin. ditulis oleh Klara Akustia

    Klara Akustia atau A.S. Dharta atau Jogaswara merupakan salah satu pendiri Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA). Esei ini sendiri diambil dari (mungkin) brosur yang akan disebarkan pada Kongres Kebudayaan kedua yang diselenggerakan di Bandung pada (kemungkinan) tahun 1950an. Jika dilihat dari kacamata kekinian, tulisan Akustia ini terkesan sedang "nyinyir" ke Jassin. Ia mempertanyakan "Angkatan 45", tetapi di sisi lain menyetujui penyebutan ini. Ia menyerang Chairil Anwar yang ia anggap tidak menyuarakan "isi" yang sesuai dengan "Angkatan 45", sayangnya di lain pihak ia tidak menyodorkan nama-nama yang sesuai Angkatan 45 yang ia utarakan.

    Ya, Akustia! Kita memang tidak tinggal di Planet Jupiter. Oleh karena itu, entah karena takdir karena kita penghuni Planet Bumi, eseimu ini sampai juga pada generasi Y yang sukanya membaca sambil online . Baiklah, untuk pemirsa yang baik, selamat membaca dan selamat membayangkan apa yang terjadi pada tahun 1950an. :)

    Esei dimuat di LEKRA: Menyambut Kongres Kebudayaan (hlm. 3 – 10). Sekilas tentang Klara Akustia --> http://asepsambodja.blogspot.com/2009/09/as-dharta-klara-akustia-dan-jogaswara.html

    Diambil dari Arsip Indonesian Visual Art Archive (http://program.ivaa-online.org/)

    //

    Di dalam bulanan "Zenith" edisi kebudayaan mingguan "Mimbar Indonesia" no. 3 tgl. 15 Maret 1952, perhatian kita tertarik oleh tulisanH.B. Jassin "Angkatan 45".

    Kita kenal H.B. Jassin sebagai seorang yang dianggap kritikus kesusasteraan Indonesia. Setiap tulisan H.B. Jassin kita anggap mempunyai pengaruh kepada perkembangan kesusastraan, sehingga dapat ditarik kesimpulan, bahwa H.B. Jassin bukan seorang yang mau serampangan menulis tentang sesuatu masalah.

    Hal lain yang menarik perhatian kita, Persoalan tentang "Angkatan 45" mulai menjadi persoalan ketika Jogaswara di dalam "Spektra" - almarhum menulis, bahwa "Angkatan 45 sudah mampus". Mulai itulah beberapa sastrawan ikut serta mempersoalkan Angkatan 45, diantaranya Sugijarti, Sitor Situmorang, Mochtar Lubis, Anas Maruf, Achdiat Karta Mihardja, M.S. Ashraf, Asrul Sani, dll.

    Pendapat H.B. Jassin sebagai seorang kritikus di dalam persoalan Angkatan 45 inilah yang mempengaruhi pikiran kita untuk mengemukakan pendapat atas pendapat H.B. Jassin.

    Tulisan "Angkatan 45" H.B. Jassin yang pandangannya kurang lebih setengah halaman "Zenith" itu dapat disimpulkan sebagai pembelaan (pleidooi) tentang adanya dan hak hidupnya yang disebut Angkatan 45. Suatu pembelaan yang bersemangat dan panjang-lebar tetapi yang pada kalimat-kalimat terakhir dibikin banci dengan nasehat: "Tapi lebih baik dari bicara tentang angkatan ialah bicara tentang pengarang seorang-seorang, asal kuat pribadinya. Siapakah yang menghubungkan Shakespeare, Goethe, Dovtoevski, dengan angkatan. Mereka besar sendiri-sendiri dan mengangkat sendiri-sendiri derajat kesusastraan dan kebudayaan Dunia dan Manusia".

    Gimana ini, bung!

    Kalau memang benar pendirian H.B. Jassin, justru ia sebagai kritikus yang mempunyai kewajiban menjaga sehatnya perkembangan kesusastraan Indonesia. Mengapa H.B. Jassin tidak mengupas jiwa-korup mereka yang menonjolkan-menonjolkan etiket "Angkatan 45" atau "tunas Muda - Angkatan 45" (Bandung) dengan hasil-hasil yang bertentangan atau menyeleweng dari garis Revolusi Agustus 45?

    Sebab persoalan yang dibawa oleh Jogaswara dalam "Angkatan 45 sudah mampus"-nya bukan di dalam hubungan perbedaan antara Angkatan 45 dengan Pujangga Baru seperti yang dikemukakan H.B.Jassin, tetapi di dalam hubungan revolusi. Agustus '45 bukan permulaan suatu revolusi di dalam lapangan kesusasteraan, tetapi permulaan suatu revolusi di dalam kemasyarakatan. Bahwa kesusasteraan dipengaruhi kejadian ini, itu hanyalah bukti untuk kesekian kalinya tentang kebenarannya pendapat, bahwa seorang sastrawan tidak mungkin dan tidak bisa berdiri "netral", terlepas dari pengaruh lingkungannya. Tetapi baiklah kita bicarakan tulisan H.B. Jassin secara teratur. Kita adakan pandangan dan kupasan atas tulisannya.

    Alasan yang kontra.

    Menurut H.B. Jassin, alasan-alasan yang tidak menyukai cap Angkatan 45 adalah hal-hal sebagai berikut: 1. Tahun 45 bertalian dnegan ekses-ekses kekacauan, sepertu pembunuhan-pembunuhan, penculikan-penculikan, agitasi, korupsi, saling cakaran, fasis-fasian. Sebagai contoh antara lain dikemukakan dalam buku-buku Idrus "durabaya" dan Syahrir "Perjuangan Kita”.

    (Catatan: Kita tidak setuju dengan pendirian ini. Dapatkah H.B. Jassin mengemukakan tulisan-tulisan sastrawan yang berpendirian demikian?)

    2. Kita tidak berhak membonceng pola nama mentereng angkatan 45, kalau kita tidak aktif berjuang dengan perbuatan. Menjawab alasan ini H.B. JAssin berkata: "Orang terlalu melihat beberapa pemuka Angkatan 45 diatas (yaitu: Chairil Anwar, Idrus, Asrul Sani. K.A.) dari sesuatu sudut dan mencurangkan harganya dari sudut yang lain". Dikemukakan, bahwa Chairil Anwar selain "aku ini binatang jalang"-nya juga mempunya sajak-sajak "Diponegoro", "Beta Pattiradjawane", "Kenanglah Kami." Seterusnya "Sajaknya yang terlahir dari perasaan hidup yang ditafsirkan dengan cara yang dangkal, secara Kyai yang cuma hafal ayat-ayat dan mengenal penghidupan dari jauh dan berdasar atas pengenalan yang dangkal ini mau memberikan petuah-petuah".

    Sampai di sini kita sependapat dengan H.B. Jassin. Dengan pengertian, bahwa kita mereka yang disebut beberapa pemuka Angkatan 45 oleh H.B. Jassin itu adalah sebagian dari generasi baru yang memberontak terjadap "Kultur kammper" Jepang dengan dorongan pokok penderitaan yang berteriak-berteriak dari bangsanya dan pemberangusan demokrasi dalam wujud fasis Jepang yang sangat menikam kemerdekaan berpikir golongan terpelajar.

    Golongan terpelajar mempunya satu sifat khusus golongannya: dia tidak mau dibatasi kemerdekaan berpikirnya. Fasis Jepang adalah pelajaran, bahwa sistem sensor atas pikran, menyebabkan sebagian terbesar dari golongan terpelajar dari segala macam aliran dan keyakinan politik (terutama dari generasi barunya) serentak bersatu memihak perjuangan kemerdekaan bangsanya, bersama rakyat menghantam fasis Jepang.

    Dari sudut inilah, dari sudut golongannya, orang harus melihat hasil-hasil kesusastraan apa yang disebut Angkatan 45 itu. Dan dengan ini kita sampai kepada salah satu pokok persoalan yang sayang dengan tidak tegas dulu sudah dikemukakan Jogaswara. Pokok persoalan itu adalah: Apakah prinsip revolusi Agustus 45 itu; revolusi nasional itu.

    Jawaban akan berbeda-beda, ditentukan oleh pandangan hidup golongannya masing-masing, terutama oleh hukum kebutuhan. Tetapi dari golongan terpelajar generasi baru, dari golongan sastrawannya, sebagai golongan yang kritis dan progresif dan yang dengan sendirinya mengingat heroismenya mesti mempunyai moral-obligation terhadap kemajuan bangsanya, logisnya dapat diharap, bahwa pengertian prinsip revolusi nasional bagi mereka mesti berarti perubahaan perbaikan nasib bagi seluruh bangsanya, bukan hanya untuk segolongan kecil kelas elit, bukan hanya untuk golongan seniman, bukan hanya untuk golongan pedagang atau pegawai.

    Inilah General Line Angkatan 45. Pakailah dengan segala kemegahan nama ini, sebab ini adalah haknya seluruh pendukung revolusi. Kibarkanlah dengan bangga panji-panjinya, sebab dia adalah panji suatu detik sejarah yang gemilang. Pakailah dengan tidak ragu dan bimbang, pakailah dengan penuh keyakinan dan hegeestering nama ini, tetapi hasilkanlah juga buah-buah kesusastraan yang selaras isi nama itu. Jangan dia diapakai etiket! Jangan dia dikotori oleh hasil kesusastraan yang linea-reeta bertentangan dengan prinsip revolusi nasional, bahkan yang mengajak berkapitulasi, lari daripada kesulitan perjuangan! Nama Angkatan 45 bukan nama dari suatu angkatan yang menyerah, tetapi nama dari suatu angkatan yang perwira, nama dari suatu angkatan yang setiap hasil pekerjaannya bersumber kepada prinsip revolusi nasional!

    Sajak-sajak Chairil Anwar kebanyakannya bukan sajak Angkatan 45 menurut isi. Kecuali "Kenanglah Kamu", yang isinya maupun berntuknya benar-benar bernafaskan semangat 45.

    Ukuran adalah perbuatan. Memang benar. Apa hak seseorang untuk membonceng Angkatan 45, kalau dia tidak aktif berjuang! Apa hak seorang Idrus untuk memakai nama Angkatan 45, kalau dia menulis "Surabaya"? Idrus orang terus-terang. Dia tolak, dia ada keberanian untuk menolak! sebutan Angkatan 45.

    Penolakan orang-orang atas sajak semacam "aku ini binatang jalang" chairil dan hasil-hasil sastra yang individualistis, diumpamakan oleh H.B. Jassin dengan "Kyai yang cuma hapal ayat-ayat".

    Seterusnya H.B. Jassin menangkis: "Tenaga-tenaga kata-kata yang mengandung pikiran-pikiran paling dalam dianggap lebih kurang dari perjuangan dengan senjata, padahal bahasa hati tidak kurang meresapkan arti kemerdekaan".

    Kita akui kebenaran ini, tetapi masih menjadi persoalan: "pikiran-pikiran dalam" yang bagaimana? Yang mempersoalkan dan memberi jalan kehidupan manusia-banyak atau yang hanya mempersoalkan masalah sastrawannya itu sendiri?

    Kalau kita hanya mempersoalkan masalah perseorangan yang tidak ada sangkut-pautnya dengan masalah manusia-banyak, maka pikiran dalam itu hanya dalam dan dianggap berguna oleh beberapa gelintir orang saja. Dan ini adalah individualisme.

    Kesusastraan individualistis adalah kesusastraan yang ekslusif. Dia tida mempersoalkan kehidupan manusia-banyak, karena itu dia tidak membahayakan kapitalisme dan dapat dijadikan jurubicara kapitalisme.

    3. Angka itu, hanya suatu saat. Sedangkan nama Angkatan 45 didapatnya baru tahun '49, dilansir pertama kali oleh Rosihan Anwar dalam "Siasat" 9 Januari.

    Terang terhadap alasan ini kita tidak setuju. Benar angka itu hanya suatu saat, tetapi tahun '45 adalah suatu detik sejarah yang harus diabadikan.

    4. Angkatan '45 tidak mempergunakan kesastraan sebagai senjata untuk menentang Jepang dan Belanda.

    Hal ini tidak benar. Yang benar adalah begini. Angkatan 45 tidak mempergunakan kesusastraan sebagai senjata untuk melakukan perbaikan nasib seluruh rakyat, untuk mempraktekkan dan mewujudkan isi proklamasi 1945.

    Perjuangan dia hanya terbatas menentang penjajahan dalam bentuk bangsa lain, tidak mendalam dan meneruskan keperjuangan perubahan susunan masyarakat. Bahkan dalam praktek keperjuangan perubahan susunan masyarakat. Bahkan dalam praktek sebagian dari mereka yang memakai etiket Angkatan 45', yaitu yang sudah arrive, berbalik menentang setiap usaha perubahan susunan masyarakat, menentang perubahan masyarakat bekas koloni kemasyarakat kerakyatan.

    Di dalam kesusastraan mereka mengecap setiap hasil kesusastraan yang diambil inspirasi dari kehidupan rakyat-banyak, misal dari perjuangan buruh dan tani, sebagai kesusastraan yang bertendensi, "berpropaganda" dan "berpolitik", tidak "universil". Di sinilah hampanya perkataan H.B. Jassin: "Penentangan mereka bahkan tertuju pada segala ketidak-adilan, dilakukan oleh siapapun juga, tidak terbatas kepada sesuatu bangsa, sesuatu -isme, tapi kepada sifat-sifat manusia yang jelek, dari bangsa apa dan aliran apapun dia". Hampa karena tidak dapat diuji dengan kenyataan. Kita mengakui adanya hantaman-hantaman terhadap misalnya orang-orang yang korup, tetapi ini adalah hanya segi kecil dari suatu sebab-akibat. Tidak akan berhenti korupsi, tidak akan hilang pelacuran, tidak akan musnah kemiskinan, selama susunan masyarakat tidak dirombak. Kita teringat kepada pleidooi Humprey, Bogart dalam filem "The Knock on any door".

    Angkatan 45 mesti mengetok-ngetok pintu hati manusia dengan hasil segala kebrobokan masyarakat, mengajak seluruh lapisan rakyat bersatu-padu, menyadarkan dan menjanjikan kekuatan dan kepahlawanan massa. Sampai sekarang tidak ada bukti Angkatan 45 melakukan hal ini.

    Apakah rol Chairil Anwar yang Sebenarnya?

    H.B. Jassin mempunyai pendirian, bahwa revolusi kesusastraan dimulai oleh Chairil Anwar. Dengarlah ucapan H.B. JAssin: "Revolusi dalam kesusastraan dibawa oleh Chairil Anwar. Dengan Chairil Anwar kita tiba-tiba bisa mengatakan: Dia bukan Pujangga Baru, Dia mendapat pengikut-pengikut dan sesudah Jepang menyerah makin banyak pengikutnya. Dan tentang hasil pengikutnya kita juga bisa berkata: ini lain dari Pujangga Baru".

    Pendapat ini tidak dapat kita terima seluruhnya. Kita akui dan benarkan, bahwa Chairil membawa corak baru dalam kesusastraan, corak yang segar, yang lain dari corak Pujangga Baru. Tetapi corak revolusi kesusastraan yang dibawa oleh Chairil Anwar tidak mengenai isi, hanya mengenai bentuk, mengenai form-nya saja. Dengan Chairil Anwar dimulai perbaikan bentuk hasil-hasil sastra. Inilah jasa Chairil Anwar didalam perkembangan kesusastraan Indonesia. Tetapi dengan Chairil Anwar pula dilontarkan individualisme dan anarkisme di dalam kesusastraan kita. Inilah segi yang tidak sehat dari Chairil Anwar.

    Mengenai Chairil Anwar dapat ditarik kesimpulan, bahwa kita menerima dan mengakui bentuk sastra baru Chairil Anwar, tetapi kita menolak pandangan hidup Chairil Anwar.

    Hanya dengan begini kita menempatkan Chairil Anwar pada tempatnya yang tepat, yang benar. Tidak dibesar-besarkan, tetapi juga tidak dikecil-kecilkan.

    Golongan sastrawan formalis mesti tidak dapat menerima pendirian kita ini sebab bagi mereka bentuklah yang menentukan nilai seni sesuatu hasil sastra. Tidak perduli isinya menganjur-anjurkan atau menghalalkan perang, asal bentuknya baik, artistik, maka tinggilah hasil sastra itu.

    Syarat hasil sastra yang tinggi nilainya bagi kita adalah: dia harus baik isi dan bentuknya! Artinya dia harus indah, berseni, dan membawa pandangan hidup yang maju.

    Berbicara syarat ini, tentang pandangan hidup yang maju, Chairil Anwar malah berarti kemunduran. Sebab beberapa sastrawan angkayan Pujangga Baru, seperti Asmara Hadi dengan sajak-sajaknya dan buku-bukunya "Di belakang kawat berduri", Sanusi Pane dengan "Manusia Baru"-nya. Tatengkeng, Aoh Karta Hadimadja dengan sajak-sajaknya tentang buruh perkebunan, dll, telah membawa pandangan hidup yang lebih maju daripada Chairil Anwar.

    Karena itu perlu keterangan mengenai perjalanan H.B. Jassin, bahwa "Tentang Chairil Anwar kita pasti bisa mengatakan dia Angkatan 45. Dalam bentuk dan visi".

    Visi Angkatan 45 H.B. Jassin

    Kita catat ucapan H.B. JAssin: "Angkatan 45 tidak mengabdi kepada suatu isme, tetapi mengabdi Kemanusiaan yang mengandung segala yang baik dari sekalian isme". Catatan kita" Apakah visi ini sendiri bukan suatu isme?"

    "Mereka tidak berpikir dalam istilah-istilah, tapi hidup dari pusat pribadi Manusia". Catatan kita: Harap H.B. Jassin suka memberikan penjelasan apa itu hidup dari pusat pribadi Manusia.

    Inilah dia pokok-pokok visi Angkatan 45 menurut H.B. Jassin. Tetapi bagi H.B. Jassin ada yang lebih penting dari visi, visi hanya nomor dua bagi dia. Nomor satu adalah: "Bagi saya titik berat perbedaan antara angkatan sebelum dan sesudah perang terletak pada gaya". Disinilah selisih pendapat H.B. Jassin dengan kita. Sebagai tadi di atas, bagi kita isi dan bentuk adalah satu kesatuan syarat yang tidak dapat dipisah-pisahkan, dinomor satu-duakan. (bagi H.B. Jassin visi dan gaya. bagi kita isi dan bentuk istilahnya).

    Rupanya H.B Jassin sendiri memang tidak mempunyai konsep yang tegas tentang visi (ingat, istilah kita: isi atau pandangan hidup!) angakatan 45. Sebab dia mengatakan bahwa "Bagaimanapun berlain-lainan visi antara sesama Angkatan 45, dalam satu hal mereka sama, yakni dalam gaya". (ingat, istilah kita: bentuk, form, atau teknik). Jadi kita dapat tarik kesimpulan, menurut H.B. Jassin angakatan 45 tidak mempunyai kesatuan pandangan hidup, hanya mempunya kesatuan gaya. Apakah dengan begini kita bisa katakan angkatan 45 adalah angkatan pembawa pembaharuan bentuk? Tetapi toh kita mengenal beberapa sastrawan yang tidak memasang etiket "Angkatan 45" yang di dalam pandangan hidupnya setia kepada prinsip proklamasi Agustus 1945. Misal: Hr. Bandaharo dan Bakri Siregar di Medan, Bujung Saleh dll.

    Hal ini diperkuat oleh H.B. Jassin sendiri yang menegaskan: "Sewaktu revolusi berjalan, seluruh jiwa seniman ikut pula mengalami revolusi dan apa yang dihasilkannya ialah hasil yang tulus dari jiwa revolusi itu. Tapi apa yang datang kemudian makin mendangkal, sehingga tidak lagi mengandung maknanya yang sungguh dan inilah yang ditentang oleh seniman-seniman Angkatan 45".

    Kalau kita ditentang, kita semua tentu sependirian menentang, apakah konsepsi Angkatan 45? Humanisme Universal dalam Ide dan dalam Perbuatan Konsepsi Angkatan 45 H.B. Jassin adalah "humanisme univerzil".

    Apakah itu, H.B. Jassin memajukan ucapan Asrul Sani untuk menjawabnya "Derita dunia adalah derita kita, karena kita adalah ahliwaris yang syah dari kebudayaan dunia". Suatu ide yang sangat muluk sehingga tidak ada garis-garis yang tegas untuk mempraktekannya. Ini diakui oleh H.B. Jassin sendiri. "Suatu keberatan bisa dikemukakan terhadap keuniversilan ini. Sangat banyak kemungkinan-kemungkinan, tapi toh orang harus memilih dalam prakteknya dan apabila telah memilih boleh bertengkar lagi".

    Bagi kita sendiri "seni universil" adalah baju baru dari l'art pour l'art dan hanya menunjukkan kebangkrutan filsafat borjuasi.

    Di dalam praktek kita melihat, bahwa "seni universil" dipergunakan untuk lebih menjauhkan, untuk lebih mengasingkan, seniman dan seni dari masyarakat. Perkembangan kesusastraan adalah pertarungan kelas-kelas yang bertentangan kepentingannya di lapangan kesusastraan, yang satu mempertahankan kekolotan, yang lain mengusahakan kemajuan. Semakin dijauhkan kesusastraan kita dari masyarakat, semkain kuat kelas yang tidak menginginkan adanya perubahan sususan masyarakat dan semakin lemah kelas yang menginginkan terwujudnya masyarakat baru.

    Dengan ini menjadi jelas, bahwa kesusastraan-universil tidak netral, tidak berdiri diatas segala. Di dalam praktek dia menjadi sekutu kelas yang anti perubahan masyarakat ke arah perbaikan.

    Selanjutnya kita ingin bertanya, kalau benar-benar "seni universil" dapat dipertahankan di dalam praktek, mengapa sastrawan-sastrawan ikut serta aktif dalam Revolusi Nasional? Bukankah Revolusi Nasional itu suatu revolusi dalam lapangan kemasyarakatan?

    Dan kalau seni universil, maka sumber inspirasi terdapat dimana-mana. Juga dalam masalah perjuangan kemasyarakatan, dalam politik. Dua kekuasaan dunia sedang bertarung dan tanah-air kita tidak berada di planet Jupiter. Tetapi kita tidak melihat hasil-hasil sastra Angakatan 45 yang mempunyai konsepsi "humanisme-universil"" aktif membikin perhitungan dan mencari penyelesaian.

    Kita tida bsia "universil-universilan" dulu, selama manusia dan masyarakat kita masih mengenal perbedaan kelas, masih penuh dengan pertentangan-pertentangan, masih terdapat kemisikinan dan kelaparan, di samping orang-orang kaya yang korup dan menghisap.

    Menghadapi hari Esok

    Kita dapat menerima ucapan Jogaswara "Angkatan 45 sudah mampus" dalam pengertian sebagian dari Angkatan 45 yang sadar atau tidak sadar memihak kelas yang mempertahankan susunan masyarakat yang mengandung pertentangan-pertentangan. Yaitu Angaktan 45 yang tidak setia kepada prinsip-prinsip Revolusi Nasional kita.

    Jadi bukan karena satu dua pemimpinnya mati dalam perjuangan, sebagai tafsiran H.B. Jassin. Tetapi di samping itu kita melihat pula sebagian dari Angkatan 45 yang hidup terus dan tumbuh makin kuat, ialah mereka yang setia kepada yang dikandung nama Angkatan 45.

    Mereka ini tidak mempergunakan nama Angkatan 45. Mereka tidak mau ekslusif, merupakan golongan elit. Di dalam bentuk mereka banyak mengambil bahan-bahan dari Chairil Anwar, tetapi mereka belum puas dan masih mencari terus suatu bentuk yang sederhana, indah, dan padat. Di dalam pandangan hidup mereka mempunyai persamaan, yaitu memihak rakyat-banyak, memihak golongan mayoritas bangsanya dengan tidak melepaskan fungsi mereka sebagai sastrawan.

    Dan mereka ini menghadapi Hari Esok tanah-airnya dan dunia dengan tabah, dengan kegembiraan dan kepercayaan, meskipun sekelilingnya nampanya gelap melulu. Mereka hidup dan tumbuh, sebab mereka adalah sebagian dari Hari Esok, atau Hari Esok itu sendiri.


    | Link | Dibaca 1093 kali
memuat Disqus ...

Diatra Bulan Ini



Almanak