Ke Atas ^
  • Pengidap Lepra Politik

     

    Udara dingin biasanya menggigiti siapa pun, kecuali orang-orang kaya dan penguasa. Salah satunya yang tak luput dari gigitannya adalah organisasi gerakan wanita atau yang dikenal dengan gerwani. Mereka adalah penghuni Kamp Plantungan yang dulunya merupakan tempat pengasingan penderita lepra pada masa Hindia-Belanda. Politik membuat Gerwani disamakan dengan penyakit lepra yang perlu diasingkan, dan disingkirkan. 

    Kamp Plantungan atau Tefaatra (Tempat Pemanfaatan Sementara Tahanan) berada di ujung Selatan Kota Kendal. Tepatnya di bawah kaki Gunung Prahu yang diapit oleh Gunung Butak dan Kemulan. Lokasi yang terpencil, jauh dari keramaian membuat kisahnya tertutup dari media, seperti kabut tebal yang singgah di kamp tiap hari.

    Setelah senja menjadi model panggung hiburan alam, Iroh kembali ke bloknya, blok C atau ruangan isolasi. Blok yang dibagi menjadi dua ruangan ini dikenal sebagai kandang babi. Sempit dan sesak seakan menjadi slogan di blok ini. Bayangkan saja untuk ruangan yang seukuran 3x4 Meter harus diisi sekitar 10 orang, sehingga harus berebut udara tiap harinya. Tidak heran bila blok ini dihuni oleh perempuan-perempuan keras kepala yang dianggap dapat memicu pemberontakan, sehingga nanti mati secara perlahan

    Kedatangan malam disambut hujan. Butiran hujan yang menyentuh genting, tanah menambah irama malam. Suara burung hantu yang kedinginan. Kodok yang tiada henti bernyanyi, serta hembusan angin yang menggoyang pepohonan.  Lampu minyak yang dipasang di kamp tak luput dari sentuhan angin. Cahayanya bergoyang seperti menegaskan kisahnya yang terombang-ambing. Apel malam dimulai jam sembilan. Tiap hari apel dilakukan dua kali sehari: pagi dan malam, untuk mengecek kondisi dan jumlah mereka. Semua tapol diwajibkan untuk mengikuti apel, kalau tidak mereka akan berdiri di lapangan dari pagi sampai malam hari. Sambil menunggu apel, para tapol ada yang mengobrol dan istirahat. Di blok C terdengar sayup perdebatan  

      “Kalo kamu pengen kabur harus punya rencana yang mateng!” tegas dokter kepada Iroh dengan berbisik

     “Jangan sampe rencanamu nyusahin kita yang disini.” Tuti memperingatkan, kemudian mulai membanggakan kamp “Tempat di sini lebih baik dari tempat yang pernah kita tempati. Kita bisa menghirup udara segar dan bisa jalan-jalan di dalam kamp.”    

    “Iya, alam memberikan udara segar bagi kita, dan militer memberikan udara segar bagi penguasa.“ mereka diam. Tuti kaget sekaligus malu untuk mengakui kalo Iroh berkata benar. 

    “Dengan rasa nyaman kita dibuat seakan membenarkan segala tindakan mereka. Membenarkan bahwa kita adalah perempuan tak bermoral. Pengkhianat! Pelacur!...” Iroh meneruskan

    “Cukup! Aku paham. Kita semua menderita di sini. Tanpa pengadilan, tanpa ada batas waktu kita ditahan. Kita ditangkap layaknya sampah yang perlu dibuang dan didaur ulang.” Sela seniman yang dari tadi mengikuti perdebatan.

    “Kita harus tetap hidup agar dapat menceritakan kebenaran.” Tegas Iroh

    “Kebenaran dapat diceritakan, tapi apa kita akan dapat keadilan? Dan juga apa kita akan menceritakan ini semua. Aku ragu. Mungkin kita akan tutup mulut pada keluarga atau pun orang lain karena malu dan karena takut mati.” keluh Tuti seakan membalas atas kekalahannya dalam menjawab tadi.

    “Lagian apa ada jaminan setelah keluar dari sini kita tetap hidup? atau mungkin kita enggak akan pernah keluar?” bantah seniman

    “Apa maksudmu?”

    “Kita keluar dari kamp ini, tapi dipenjara lagi di kamp lainnya seperti sebelumnya.” Kata-kata si seniman mengguncangkan harapan mereka.

    Apel malam dimulai. Mereka berkumpul di lapangan, lalu berbaris dan berhitung untuk mengecek jumlah tapol. Petugas yang selalu memegangi senjatanya terus mengawasi. Selesai apel mereka langsung kembali ke dalam.

    Matahari tampak lemah bersihkan gelap setelah hujan singgah hingga dini hari. Para gerwani melaksanakan shalat subuh, ketika kamp dan sekitarnya menjadi taman bermain bagi kabut. Sehabis shalat subuh Iroh dan teman-teman muslim lainnya mendengarkan ceramah. Ceramah selalu menekankan dan menyudutkan mereka yang dianggap tak bertuhan. “Komunis itu sesat…. Tak bertuhan.. Bertobatlah…” kata-kata yang selalu diulang-ulang terus menerus hingga menguap bersama embun pagi. Dalam batinnya, bila komunis harus dibasmi karena dianggap tak bertuhan kenapa justru para gerwani di sini lebih taat beragama dibanding petugas yang selalu membawa senjata kemana-mana? Kenapa orang-orang lebih takut orang tak beragama daripada orang yang beragama, tapi membunuh dan menyiksa?

    Dia tak begitu peduli kyai atau siapa pun yang menjelek-jelekan komunis. Nyatanya dia bukanlah seorang komunis atau pun gerwani. Dia hanyalah seorang guru yang melindungi muridnya ketika hendak ditangkap di kelasnya. Lalu dia pun ditangkap karena melindungi orang komunis. Tentara yang menangkap meneriakinya sebagai orang komunis, gerwani. Spontan berita tentang Iroh adalah anggota komunis atau gerwani menyebar di sekolahnya dan kampungnya.  

    Ketika Kyai ceramah tentang kemanusian, dia teringat dengan penyiksaan yang dialaminya saat introgasi. Kenangan yang sebenarnya tak ingin diingatnya. Penyiksaan yang menjadikan dirinya layaknya hewan atau bahkan lebih parah lagi. Cepat-cepat dia menghapus air matanya yang berjatuhan sebelum orang-orang melihatnya.

    Cahaya matahari di siang hari terasa hangat. Cahayanya lembut meski tak selembut di pagi hari. Di saat tapol sedang melakukan aktifitas rutinnya, Tuti sibuk ke sana- kemari mencari sesuatu. Dia melangkah dengan terburu-buru. Keringat dinginnya meleleh di kulitnya. Kepalanya menoleh ke kiri, menoleh ke kanan.  

    “Dimana Iroh?” tanyanya cepat pada salah satu kawannya. Menggeleng terus dan terus menggeleng teman yang ditanyakannya. Dia berputar-putar seperti anak yang kehilangan induknya. Berkali-kali Tuti bertanya kepada teman-temannya, tapi dijawab dengan gelengan dan “enggak tau”,

                                                                                                     

    Cahaya matahari tampak lembut. Setelah mendengarkan ceramah, para tapol mengikuti senam pagi, terus mandi. Kemudian tapol beraktifitas seperti biasa. Para tapol yang berkegiatan di kebun terasa nyaman, cahaya matahari dan udara pegunungan di pagi hari mengurangi rasa dingin yang bersarang di hati. Tanah yang subur menghasilkan sayur-sayuran dan buah-buahan yang bagus. Hasil tersebut untuk membantu pasokan makanan para tapol yang dijatah sangat sedikit dari kamp, hingga tapol mencukupi kebutuhannya sendiri.

    Tuti dipanggil oleh komandan untuk membersihkan ruangannya. Dia masuk sambil membawa sapu dan kain pel.  Komandan masuk secara perlahan. Dia tak menyadari kehadiran komandan yang masuk mengendap-endap seperti hendak mencuri di ruangannya sendiri. Kemudian Komandan mengunci kamarnya. Tiba-tiba komandan memeluk Tuti yang sedang mengepel. Dia mencoba berontak, tapi tenaganya kalah besar dengan komandan. Dia merintih, komandan semakin bergairah.

     Tuti pura-pura tertidur untuk beristirahat karena kalo tidak dia akan langsung bekerja. Pemerkosaan yang dilakukan oleh para petugas termasuk komandan seakan menjadi hal wajar. Bahkan ada pula tapol yang bersedia menjadi perempuan simpanan para petugas, terutama menjadi simpanan komandan karena dengan begitu akan mendapat perlakuan istimewa daripada yang lain.

    Ketika Tuti meratapi nasibnya seorang petugas melaporkan sesuatu kepada komandan. Dia mendengarkan baik-baik sambil tetap memejamkan matanya

    ”…Suiroh dari blok C mau kabur.”  

     “Biarkan saja dia menjalankan rencananya,” si bawahan keheranan mendengarnya, tapi dia tidak berani membantah.

    “.. tapi awasi dia terus!” Perintah komandan

    “Siap Komandan!”.

     Tuti masih tetap mencari Iroh. Dia berpikir, tidak mungkin para petugas melepaskan Iroh begitu saja. Komandan pasti memiliki rencana lain. Dia berpikir setidaknya ada dua kemungkinan rencana komandan; pertama Iroh dibiarkan kabur, tapi sebagai gantinya peraturan di kamp akan lebih mengekang. Dengan kata lain, kaburnya Iroh dijadikan alasan untuk membuat peraturan baru. Karena selama ini para tapol mulai nyaman dengan tempat ini. Kedua, Iroh tidak dibiarkan kabur, tapi dibiarkan menjalankan rencanannya. Dengan maksud mengetahui kelemahan dari kamp ini. Dengan begitu dia bisa memperbaiki kelemahan tersebut.

    Matahari terasa pergi lebih cepat. Kepala Tuti dipenuhi dengan rencana komandan. Bila tebakannya benar, apapun rencana komandan rencananya akan menyulitkan para tahanan politik yang ada di kamp ini. Dia tidak mau lebih tersiksa lagi seperti masa-masa ketika diintrogasi. Sampai senja menghilang dia tidak bisa menemukan Iroh. Selain itu, pencariannya pun terbatas, tidak semua tempat bisa didatangi dengan mudah.

    Apel malam usai. Dilanjutkan dengan patroli bergilir yang diwakili tiap blok. Iroh mengikuti patroli rutin bersama pertugas mewakili blok C. Patroli terdiri dari dua kelompok. Masing-masing kelompok terdapat dua tapol dan satu petugas. Dibekali senter dan obor mereka berkeliling mengecek tiap-tiap blok. Petugas berhidung pesek yang menemani terus menerus menggoda perempuan di sebelah Iroh dengan senyum dan kedipan mata. Beberapa kali tangan petugas meraba-raba pantat si perempuan. Bukannya marah si perempuan hanya tersipu malu. Iroh yang memperhatikan perilaku mereka, segera mengambil kesempatan untuk menjalankan rencananya.

    Petugas melepaskan celananya dengan dibantu perempuan tersebut. Iroh ditugaskan mengawasi takut ada yang memergokinya. Diam-diam Iroh kemudian menjauhi mereka berdua. Awalnya berjalan perlahan, lalu mempercepat langkahnya. Angin berhembus cukup kencang. Cukup untuk menggoda api lampu minyak dan obor bergoyang. Langkah kakinya terasa berat, matanya menjelajah malam yang diterangi sedikit cahaya. Nafasnya tersenggal-senggal menahan kegelisahannya yang kian besar. Telinganya menjadi peka, suara kerikil yang diinjak pun terdengar sangat jelas di telinganya. Dia tiarap, mengintip dari balik tanaman. Ada dua petugas di pos jaga pintu masuk. Tidak mungkin dia menerobos melalui pintu depan. Sementara pagar kawat setinggi dua setengah meter lebih mengelilingi kamp.

    Dia menjauhi pintu masuk. Kakinya dilangkahkan mendekati pagar. Untuk sampai ke pagar harus melewati sungai yang membentang. Suara sungai yang mengalir terdengar samar-samar. Semakin lama semakin jelas ketika telah dekat. Dia kembali mempercepat jalannya menerobos arus Sungai Lampir. Celananya dilingkis di atas dengkul, agar tidak basah. Di depannya pagar kawat menghadangnya. Gegep dikantongnya langsung digigitkannya ke pagar. Sambil memotong, matanya terus mengawasi di sekitarnya. Satu persatu kekuatan pagar dirontokannya, hingga menjadi lubang yang cukup untuk keluar.  Secepatnya dia berlari menuju petugas yang sedang menyalurkan birahinya.

    Sesampainya di sana, dia mengatur nafasnya seakan tidak terjadi apa-apa. Petugas tersebut telah puas, lalu menghampiri Iroh yang berjaga di sekitarnya sambil tersenyum.  Mereka melanjutkan patroli. Ketika sampai di dekat sungai lampir, senter petugas disorotkan ke arah pagar. Betapa kagetnya dia melihat lubang besar di pagar kawat.

    “ASU[1]! Lonte mana yang kabur?!” Umpat sang petugas. Iroh disuruh petugas berhidung pesek itu untuk memberitahukan ke petugas jaga, si perempuan mencari petugas terdekat, sementara si petugas tersebut menunggu di pagar.

    “Ada yang kabur” teriak Iroh dari agak kejauhan. Petugas menuju pos pintu masuk, lalu menyalakan sirene. Spontan petugas patroli yang lain langsung menuju ke pagar tersebut. Mereka keluar kamp dari lubang dan pintu masuk.

    Para petugas keluar mencari tapol yang kabur. Di kegelapan, bayangan petugas bertumpuk-tumpuk. Jarak kamp dengan pemukiman penduduk cukup jauh. Mereka mencoba mengendus jejak yang sebenarnya tidak ada. Iroh berpura-pura mencari dengan serius. Petugas kemudian berpencar menjadi dua. Menelusuri jalanan yang becek hingga pemukiman penduduk. Hampir tiap rumah tak luput dari pemeriksaan. Wajah-wajah ketakutan penduduk menyapa para petugas.

    “Itu dia yang kabur” teriak Iroh sambil menunjuk ke arah pepohonan. Petugas yang lain cepat-cepat langsung mengejar ke arah yang ditunjukan Iroh. Dia memanfaatkan kekacauan dan ketakutan penduduk untuk menjalankan rencananya. Dia lari sekencangnya ke arah berlawanan. Terus berlari menuju jalan raya. Kebetulan di sana ada petugas berhidung pesek yang hendak memblokir jalan, sehingga dia bisa berdalih kalo bukan dia yang kabur kepada petugas lainnya.

    Beberapa petugas lainnya telah mengarahkan senjatanya kepada Iroh. Petugas hidung pesek cepat memberi tahu kalau bukan dia yang kabur.  

    “Kenapa kamu kesini?” tanya si petugas hidung pesek.

    “Gerombolan pasukan komunis menyerang petugas yang memeriksa rumah warga. Aku disuruh kesini untuk meminta bantuan” buru-buru para petugas langsung pergi ke arah perumahan warga. Kata “Komunis” membangkitkan amarah meraka terdalam, hingga lupa mencerna informasi dengan baik. Iroh kembali mengatur nafasnya, lalu dia berlari, lari! lari Lari dan terus berlari, hingga jantungnya seakan mau pecah. Beberapa kali dia istirahat karena jarak yang ditempuh cukup jauh bila tidak dengan kendaraan. Sesampainya di pinggir jalan, dia menunggu mobil lewat dengan nafas yang tersenggal-senggal.

    Sambil berharap ada mobil lewat, dia mulai membayangkan ketika bertemu dengan keluarganya. Rindu bertemu keluarganya membuatnya nekat untuk kabur dari kamp. Karena semenjak ditangkap Iroh belum pernah bertemu dengan keluarganya lagi. Setiap tahun, dia menunggu tanggal 30 Agustus, dimana pihak keluarga dapat bertemu selama dua jam, tapi tiap tahun pula dia menumpuk rindunya. Kadang dia mengerti dengan kedatangan keluarganya dapat membahayakan keluarganya, tapi kadang rindu tidak mau mengerti.

    Ketika sedang menunggu, tiba-tiba mulutnya dibekap, diseret menuju mobil. Meski berontak sekuat tenaga, Iroh tak berdaya di hadapan mereka. Mereka adalah petugas khusus yang telah diperintahkan komandan untuk mengawasi Iroh, dengan maksud mengetahui kelemahan kamp.

    Keesokan harinya dia dikembalikan ke bloknya dengan keadaan lemas. Beberapa hari kemudian setelah kejadian itu, sinar matahari pagi tak mampu menyampaikan kehangatannya. Dingin lagi-lagi berkuasa di kamp ini. Kabar meninggalnya Iroh cepat menyebar. Beberapa orang tak percaya akan kematiannya yang begitu saja. Kematian Iroh disebabkan kanker payudara dihembuskan oleh komandan, tapi apa benar-benar murni karena kanker? Perbincangan misteri kematian Iroh lebih hangat terasa dibanding sinar matahari itu sendiri.

    Pihak keluarganya telah dihubungi untuk mengambil jenazahnya. Berita tentang kebiadaban dan tak bermoral gerwani membuat keluarganya malu. Keluarga Iroh tidak mengakui Iroh sebagai keluarga. Mereka takut dianggap terlibat dalam September itu. Jenazah Iroh ditelantarkan oleh keluarganya, yang justru sangat dirindukan Iroh. Kini rindu itu terkubur dan membeku bersama dirinya di kompleks kamp seperti kisah pengasingannya. 

      Banten, Juli 2013

     


    [1] Asu = Anjing


    | Link | Dibaca 1110 kali
memuat Disqus ...

Diatra Bulan Ini



Almanak