dia - cerita fiktif

Ada sebuah cerita tentang seorang bocah yang akan pergi bersama para kerabatnya ke suatu hotel yang sangat megah dan dilengkapi dengan supermarket yang megah pula. Mereka kemudian sampai, dan pada saat akan naik lift, mereka melihat teman-teman mereka berjalan menuju ke arah mereka. Bocah serta kerabatnya itu malu apabila ketahuan sedang pergi kesitu juga. Jadi mereka menyamarkan diri dengan barang-barang yang ada disekitar itu, bahkan ada gadis kecil yang sedang lewat pun disahut oleh salah seorang kerabatnya dan dipotong kepalanya untuk menutupi wajahnya. Dia memotong kepalanya sendiri dan kemudian menggantikannya dengan kepala gadis tersebut.
Ketika teman-teman mereka sampai, tidak ada seorangpun yang mengenal mereka. Mereka tampak ramah di depan teman mereka, bahkan mereka saling bergantian untuk naik lift. Tetapi saat mereka hendak naik, ternyata lift itu penuh dan beberapa orang terpaksa menunggu antrian berikutnya. Beberapa orang yang mengantri belakangan tersebut tidak lain adalah kerabat dari bocah tersebut dan juga si bocah itu sendiri. Wajah mereka yang sebelumnya tampak ramah tiba-tiba berubah murung.
Si bocah lalu melihat seorang wanita yang akan mengantri, dia tergerak untuk mengantarkannya ke antrian depan karena si wanita mau mencoba naik tangga. Akan tetapi setelah itu dia mencoba melihat apakah para kerabatnya melihat tindakannya itu, di dalam hatinya dia ingin supaya dia dipuji oleh mereka. Beberapa saat berlalu dan lift itu akhirnya terbuka, semua orang masuk kecuali si bocah. Para kerabatnya menyuruh dia masuk akan tetapi bocah itu tidak mau. Dia bilang akan menyusul belakangan lewat tangga. Saat si bocah hendak lari ke tangga, dia bertemu dengan teman lamanya dan menyapa. Bukannya menyapa balik, temannya malah marah-marah kepadanya. Katanya “kau apakan adikku, kenapa dia sekarang jadi seperti ini setelah dia sering pergi dengan kerabatmu?” Si bocah menjawab “memangnya ada apa dengan adikmu?” temannya kemudian menceritakan kalo adiknya sekarang berubah gaya seperti orang tahun 80-an yang norak.
Si bocah dalam hati tertawa karena jawaban temannya. Dia pikir itu masalah sepele. Tapi tiba-tiba setelah dia mempunyai pikiran seperti itu, si bocah secara mengejutkan berubah menjadi anak remaja berumur 20-an tahun. Dia tidak menyadarinya, bahkan saat itu dipikirannya dia hanya menginginkan es krim. Kemudian dia lari keluar melewati bagian belakang hotel tersebut untuk mencari es krim. Saat tiba di luar dia menemukan apa yang dia cari. Si bocah mencermatinya dengan teliti dan mencari es krim yang dia inginkan. Tiba-tiba ada seorang gadis yang juga berumur sekitar 20-an tahun mendekatinya. Si bocah kaget tetapi dia tetap diam dan mengamati es krim. Gadis itu lalu meraba-raba tubuh si bocah dengan liarnya. Si bocah membiarkannya tetapi saat si gadis meraba pantatnya dia melempar tangan gadis itu. “kamu mau mencoba mencopetku ya?” Tanya si bocah. “Yah cuma 50 ribu” jawab si gadis. Si bocah terkejut dan melihat isi dompetnya kalo-kalo sudah diambil. Ketika dia lihat, ternyata masih ada. Dan dia senang karena si gadis tidak tahu kalo masih ada uang 20 ribu yang dia sembunyikan. Dia bilang kepada si gadis kalo uangnya bukan 50 melainkan 70 ribu. Si gadis tersenyum dan mendekatinya lagi. Si bocah tak kuasa menahan sikapnya itu, lalu dia mencumbunya dengan sangat liar tanpa mempedulikan orang-orang yang melihat mereka. Setelah puas bercumbu, dia berkata ke gadis itu bahwa dia harus segera pergi karena ada acara dengan kerabatnya. Dia berjanji akan menemuinya lagi besok. Si gadis sedih dan tanpa sempat berbicara si bocah lari dengan cepatnya menuju ke hotel. Dia melupakan es krim yang dia inginkan. Sampai tiba-tiba ditengah perjalanan dia berkeinginan untuk pergi ke gunung. Tanpa banyak pikir lagi, dia bergegas lari kesana. Dia ingin mendengarkan musik kesayangannya sambil bersantai-santai di gunung menikmati pemandangan alam.
Saat sampai tepat di bawah gunung. Si bocah kembali berpikir kalo tenyata di gunung tidak ada saklar untuk menyetel musik. Dia punya ide untuk menyetelnya di bawah keras-keras hingga terdengar sampai di puncak gunung. Kemudian dia pergi ke tempat yang ada saklarnya dan menyetel musik kesayangannya itu. Setelah musik di putar, dia berlari kencang ke puncak. Setelah sampai, dia merasa capek dan ingin mencari tempat yang cocok untuk beristirahat sambil menikmati alunan musik kesayangannya itu.
Akhirnya dia menemukan tempat yang dicari, dia lalu berbaring dan mencoba mendengarkan musik tersebut. Saat mencoba mendengarkan, dia tidak menemukan musik apapun. Lalu dilihatnya dari kejauhan, ternyata musik yang tadi dia setel sudah habis dan dia terpaksa menyetel ulang musik tersebut. Dia kemudian turun dari gunung tersebut dan menyetel musik itu lagi. Sesampai di puncak, musik itu habis lagi. Dan begitu seterusnya tanpa pernah mencari ide lain untuk menikmatinya.
|

Recent comments
22 hours 28 min ago
1 day 21 hours ago
4 days 7 hours ago
4 days 19 hours ago
1 week 5 days ago
2 weeks 1 day ago
3 weeks 4 days ago
3 weeks 4 days ago
3 weeks 4 days ago
4 weeks 2 days ago