Page copy protected against web site content infringement by Copyscape

 

Lelucon

mando's picture

LELUCON

Sebentar lagi pintu gerbang,jalan masuk,atau apapun dari bagian terluar tempat yang ku tuju akan segera terlihat. Desa itu. Perhitungan demi perhitungan jarak,waktu,dan perkiraan-perkiraan tempat bermain-main di kepalaku. Lelah yang melekat seperti bagian dari kulitku kadang muncul dan menggigit-gigit menunjukan keberadaanya yang pasti meski kadang ia terlupa sebentar dalam lamunan.
Pejalanan ini,untukku,cukup panjang.
Semoga orang itu,si hitam legam tadi, benar soal arah yang di beritahukannya padaku. Entahlah, aku agak kurang yakin dengan manusia-manusia hitam legam itu. Mereka begitu suka tertawa,memamerkan gigi mereka yang berderet rapih dan putih. Latar hitam wajah mereka membuat tampang senyum itu seperti berlian yang dijejer di atas tanah gelap pekat. Aku belum menemukan alasan kenapa mereka begitu suka tertawa dan bercanda-canda seolah tak ada yang perlu di khawatirkan dan semua akan baik-baik saja. Padahal melihat tanah mereka yang kering kerontang ini,dengan sabana berumput tipis,dan hamparan tumpukan bebatuan karang yang kadang mengumpul menjadi onggokan-onggokan bukit yang sama sekali tidak menarik apalagi menghibur maka siapapun akan tahu betapa jauhnya suasana kehidupan di sini dari kenyamanan. Tapi orang-orang yang gaya hidupnya mungkin belum mengalami banyak perubahan dari nenek moyang mereka, yang berburu mengejar rusa atau kambing gunung dengan kaki telanjang di padang-padang berkarang itu, selalu saja penuh keceriaan yang tampak begitu lugu mengalir dari mata mereka dan begitu aneh dan ganjil di mataku.
Bila perjalanan ini menjadi sesuatu yang dapat di ceritakan maka hal tentang suku hitam legam dengan senyum mutiara tadi adalah satu dari serangkaian pengalaman yang rumit membelit-belit satu sama lain dalam hubungan tak jelas,dan meninggalakan tak lain berupa rasa yang meningkahi imajinasi untuk menari-nari . Hal yang ku temui dalam perjalanan menuju desa kecil,kampung jauh,udik terpencil di atas tanah gugusan pulau-pulau Melanesia yang di berkahi Tuhan dengan sinar matahari benderang dan membakar ini.

***

Sebuah hasil dari sistem atau apapunlah itu membawaku dalam semua ini. Tapi lebih banyak lagi penyebab perjalanan ini adalah niat diri sendiri. Apa yang bisa lebih kuat dari itu. Meski niat itu jauh di bawah gelap jurang pikiran bawah sadar sana.
Divisi Pengembangan Seni Anak adalah sebuah bagian dari departemen urusan pendidikan seni dan olahraga di Negara belia ini yang sebagian besar lembaga-lembaga pendidikannya bersifat nonprofit dan mendapatkan hampir seluruh pendanaan dari bantuan lembaga kemanusiaan asing. Di situ tempatku bekerja. Sebuah tempat yang isinya beberapa orang pelukis yang baru tamat sekaligus angkatan pertama dari sebuah institut seni. Sekolah mereka itu kini makin percaya diri seolah-olah seorang perempuan yang benar-benar merasa menjadi wanita setelah melahirkan untuk pertama kalinya. Pekerja yang lain lagi adalah pegawai-pegawai yang sedikit lebih tua masa kerjanya ,mereka dulu mungkin adalah mahasiswa yang saat kuliah di eropa atau di jawa terpengaruh dengan atmosfer bohemian ala street performance di paris atau pengamen-pengamen,dan seniman-seniman di yogya. Lalu memutuskan untuk hidup tak jauh-jauh dari suasana itu,sisanya lagi adalah orang-orang tua,para senior yang sudah mengenal kantor itu seperti rumah mereka sendiri,mereka sudah menjadi pegawai dari masa-masa pemerintahan sebelum Negara ini lahir.Dan di sinilah kami semua di sebuah kantong sistem yang menurut program resmi tujuan dan misinya adalah mengenalkan seni pada anak-anak melanesia supaya di umur muda orang-orang yang nenek moyangnya sangat mengeramatkan buaya itu bisa punya kepribadian yang lebih beradab,entahlah aku tak ingat bagaimana jelasnya kutipan progam-program itu. Intinya, menurutku sendiri, membuat anak-anak ini mampu melihat banyak pilihan-pilihan dalam hidupnya,menjadi kreatif di tengah-tengah suasana ketidakpedulian yang muncul dari semua di sekitar mereka.
Kendaraan yang membawaku menurunkanku di pinggir jalan di tepi sebuah hutan yang oleh kondekturnya di sebut terminal. Ada beberapa orang di situ,orang dari desa-desa di sekitar daerah ini mungkin. Desa-desa itu pasti jauh karena sejauh mata memandang hanya ada bukit-bukit kuning kering dan satu dua pohon kurus yang seperti malas bergerombol.
“kita berjalan saja terus lewati jalan ini sampai melewati dua desa dan pada desa ketiga,(yang entah berapa jauhnya),bertanya saja lagi”jelas orang yang ku tanyai tentang jalan ke tempat yang ku tuju. Dengan gaya bahasa santun khas penduduk asli yang menyebut lawan bicara dengan kata “kita” orang tua dengan wajah gelap abu-abu penuh keriput itu menyebutkan nama tempat asing yang sudah pasti kulupakan kalau tidak ku catat dalam peta seadanya di notesku.
“Tiago sialan” umpatku dalam hati sambil melanjutkan perjalanan,berjalan menyandang ransel yang sisa-sisa tali-tali pengikatnya bergantungan seperti menawarkan sedikit hiburan yang tetap sia-sia. Berdua akan lebih baik pikirku. Tiago rekan kerjaku yang seharusnya hari ini bersamaku harus istirahat karena Malaria. Ia memandangku seperti minta maaf waktu ku jenguk, wajahnya pucat kurang tidur,dan keringat dari demam tinggi yang mengering membuat baunya sama persis seperti halusinasi yang di bawa penyakit tropis itu padanya di dalam tidur-tidur tak tenangya. Bukan salahmu, jawabku. Tapi salah hobi bodohmu, kesukaanmu memancing di kali-kali jauh di bawah perbukitan tandus itu, sambungku dalam hati.
Semua kendaraan operasional sedang di pakai. Daerah tujuan ini adalah wilayah baru dalam pemetaan kerja. Sistem kerja simpang siur membuatnya seperti anak bungsu yang terlupakan. Maklum, Republik muda,segalanya kadang masih tergagap-gagap. Dan inilah hasilnya, semuanya di tempuh dengan jalan kaki. Keadaan agak memaksa. Pekerja-pekerja yang ada di sana membutuhkan beberapa barang & bahan. Harus hari ini. Penundaan-penundaan yang sering terjadi membuat mereka gusar dan protes Dan inilah hasilnya,aku menjadi kurir.
Tak ada apa-apa di jalan selain aku, sepatu boot kumal berdebuku,ransel butut, dan keringat yang derasnya agak mengkhawatirkan. Tak ada pejalan kaki lain yang kutemui. Kupikir orang-orang yang satu bis denganku tadi ada yang bertujuan sama sepertiku. Ternyata tidak. Panas di siang hampir pukul 12 menyambutku seperti seorang ayah gemuk besar yang erat memeluk anak durhakanya yang bertobat dan pulang.
Jalanan itu berdebu kuning dan rumput -rumputyang tumbuh di sela-sela dan beberapa bagiannya seolah ingin juga menjadi sewarna dengan membiarkan debu itu membalut hijau tubuh mereka. Paling tidak tak ada angin yang hanya akan menambah satu lagi masalah dari debu-debu ini. Ujung jalanan belum jelas kelihatan, di sisi-sisi jalan tumbuh pohon-pohon duri yang membosankan atau pohon tuak yang pelepah daun-daunnya yang mati hitam membusuk namun belum terlepas dari batang pohonya. Kelelawar-kelelawar pasti sedang tidur di balik batang pelepah itu,berlindung dari panas ini.
Pemandangan ini membosankan, dan aku tetap saja mengambil beberapa gambar dengan kamera. Mungkin temanku di luar sana,koneksi-koneksi yang dari negeri-negeri makmur itu akan tertarik dengan pemandangan yang tak kalah ganjil dan unik dibandingkan dengan suasana di film-film Tim Burton ini.
Hampir pukul dua dan Desa pertama sudah ku lewati,tempat di mana aku makan siang dan mengisi perbekalan air. Orang-orang di tempat itu terutama anak-anak menyambutku dengan baik, pekerja-pekerja dari divisi kami pasti sudah menjamah tempat ini. Mungkin T-shirt yang kupakai, seragam lapangan tim kami, tak asing bagi orang-orang itu. Dari mereka aku tahu,perjalananku masih jauh. Dengan rute padang-padang kosong bukit-bukit karang ,semua itu belum bisa atau akan susah di jangkau kendaraan.

“Apa yang kau kerjakan?”
“hmm?” aku bingung.
“maksudku programmu?” Tanya seorang teman, staff dari kantor pusat yang mendanai Divisi kami. Kantor itu jauh di spanyol sana. Waktu itu aku ikut dalam perwakilan kontingen Negara untuk divisi kami dalam konferensi international yang di adakan kantor pusat itu di coimbra, kota pelajar di Portugal. Ya, begitulah,konferensi Negara-negara kecil yang mengharapkan uluran tangan untuk masalah pengembangan seni anak-anak mereka.
“Puppet Show” jawabku.
Ia mendengarkan ceritaku dengan serius, dan matanya yang coklat itu berkilat-kilat. Wajahnya yang tipikal Perempuan hispanik itu tampak serius. Ia menjawab “ya zing,ya zing” di sela-sela ceritaku seperti mahasiswa-mahasiswa di kampusku saat mengikut arahan dari dosen terbang mereka yang kebanyakan orang barat. Penjelasanku kuusahakan seterang mungkin,beruntung ini bukan wawancara resmi hanya obrolan biasa di sela-sela break konferensi ini. Dengan nada entah ingin menghibur dan meyakinkan siapa kukatakan kalau mungkin divisi kami mau dan semoga bisa membuka apresiasi seni baru untuk orang-orang di tempatku yang lebih banyak punya tarian tentang perang daripada tari hiburan. Dengan sendirinya kurasakan kata-kata itu kembali masuk padaku. Dalam. Begitu dalam.
Ia hanya itu tersenyum .Kemudian darinyalah kuperoleh banyak bantuan. Referensi karya dan seniman yang membuatku makin yakin dengan usaha ini. Kesulitan terbesarku adalah kebuntuanku sendiri. Menurutku pencarian diri memang membingungkan dan siapapun pasti pernah hilang keyakinan akan segala atau paling tidak ragu-ragu. Aku sudah mulai dibawa rasa ketidakpedulian tentang semua itu dan agak percaya kalau sampai ini semua selesai pencarian tetap akan tak berujung.

Aku berjalan lagi dan di sebuah tempat di jalanan itu yang tentu saja tetap akan kugambarakan tak jauh beda dari suasana yang kulewati tadi. Ya,batu dan rumput beredebu kuning di atas jalanan dengan warna yang sama. Di situ ku temui mereka berdua. Seorang Ayah dan anaknya. Mereka menyapaku, awalnya dengan lambaian tangan lalu mereka mendekatiku. Bahasa mereka tak karuan, bahasa daerah yang asing bagiku. Kujawab dengan Lingua franca kami. Ia paham dan menjawab dengan kadang ada campuran satu dua kata-kata sengau khas latin Portugis.Agak berbeda tapi dapat di tangkap artinya.
Ia pikir aku wartawan. Mungkin karena aku membawa kamera. Mau ke mana? Tanyanya dengan dialek aneh itu. Mungkin ia orang dari tempat paling ujung di pulau ini. Katanya di sana para penduduknya terutama yang berdarah campuran colonial ,messtiso-mestisso yang bekerja di kebun kopi dan messtisa-messtisa yang cantik itu, hanya bisa berbahasa asli mereka dan satu bahasa lain,portugis.
Dari penampakannya ia orang asli. Anaknya terus berdiri di samping kirinya matanya menatapku seolah aku adalah hal biasa,batu karang biasa yang ia temui dalam perjalanan-perjalanan panjangnya di daerah ini. Tak ada rasa takut di matanya atas keasinganku. Perangai biasa yang di miliki orang-orang ini yang kadang membuat mereka lebih terlihat seperti kurang banyak perhitungan.
Tujuan kami sama.
Ia banyak bicara. Cerita-cerita tentang perang. Ia pernah jadi prajurit rupanya. Baru kuperhatikan kalau baju hijau dekil yang di kenakannya itu adalah semacam seragam berpotongan militer.Bekas gerilyawan mungkin. Bayangan-bayangan yang muncul di dalam kepalaku karena cerita orang itu mebiusku dan campuran kesunyian tempat itu serta suasana panasnya yang menambah lelah di tiap langkah membuat angan-angan merambat seliarnya.

“kenapa Naga ini warnanya merah?”Tanya Alexio, suatu hari saat aku sedang bertugas mendampingi ia dan anak- lainnya. Waktu itu kami sedang bersiap untuk pertunjukan cerita drama boneka yang kisahnya di pecah-pecah dan tiap bagian cerita itu di kerjakan oleh beberapa kelompok secara bergiliran. Tiap kelompok menyambung cerita dari kelompok sebelumnya sebebas mungkin untuk kemudian akan di sambung lagi oleh kelompok yang lain.
“menurutmu warna apa yang sesuai?”tanyaku
“aku terserah saja sesuai suruhan”
“tak ada yang menyuruhmu di sini”
“iya?”
“bahkan kau bisa ganti naganya dgn tokoh-tokoh boneka lain”
“hmm…batu bisa?”
“batu?”
“ya batu yang bisa bicara, akan kupikr soal warnanya nanti”
Kami semua berharap keadaan akan tetap stabil dan semangat yang sudah ada di tengah anak-anak ini terus terjaga. Sekalipun semua tahu banyak hal yang tidak pasti di tempat ini.
Alexio. Aku kenal ayahnya. Juga sepupu-sepupunya yang pemusik, suatu hari nanti kami mesti duduk-duduk minum bersama di beranda rumahnya yang teduh itu.

Kami tiba di desa ketiga. Tempat di mana aku harus bertanya lagi. Tempat itu sedang ramai. Ada perayaan,pesta mungkin. Di luar hingar-bingarnya keadaan desa ini sama seperti desa lain . Rumah-rumah dengan atap dari daun tuak,dan di bangun dengan balok-balok kayu pohon kelapa. Coklat, warna seluruh penampakannya. Tempat itu kering. Debu putih terbang karena orang-orang yang ramai hilir mudik. Ayam-ayam berkotek-kotek kaget entah karena terinjak orang atau di buru anjing-anjing kampung kurus yang bermata liar.

Di tengah-tengah desa itu segerombolan orang tengah menari. Tetabuhan,gong,bertalu-talu. Iramanya ritmis dan kadang berubah pola untuk beberapa waktu. Suasana menjadi terpusat ke arah keramaian.

“ada pesta sepertinya” kata orang tua teman seperjalananku.
“perayaan adat mungkin…”sambungnya lagi.

Suara musik yang ritmis membuat suasana berubah. Rasa ketercekaman muncul seiring dengan penasaran dan kemeriahan yang aneh. Kami mendekat. Dan terlihatlah para penari itu. Mereka berpakaian lengkap. Penuh aksesoris adat,dan melapisi tubuh dengan perhiasan-perhiasan dan kain-kain tenun. Pakaian lengkap untuk berperang. Tarian yang mereka lakukan menangkap kesadaran mereka dalam hentakan-hentakan ritmisnya. Beberapa tampak menari dengan wajah yang seolah menebal,dan menghitam kaku. Seluruh desa terbawa. Semua orang seperti menari. Ruas-ruas bambu yang berisi tuak beredar ke sana-sini.Membuat semua orang kelihatan makin menyatu.
Orang tua,kenalanku, ikut pula dalam tarian yang bergerak dalam pola-pola melingkar dan kumpulan-kumpulan kecil. Wajahnya memerah. Ia sudah mabuk. Anaknya berdiri tak jauh darinya menunggui ayahnya.
Tarian selesai agak lama kemudian, senja oranye memburat di barat membuatku bergegas pergi. Semua orang sudah terlalu mabuk di desa itu. Tak ada yang bisa kutanyai. Si Orang tua sudah terlelap di bawah pohon dan masih di tunggui anaknya, bocah yang tak punya banyak ekspresi di wajahnya itu. Beruntung, di pinggir desa ada sekumpulan orang. Lelaki-lelaki berkulit hitam. Amat hitam bahkan. Mereka mungkin pengembala yang baru pulang. Tentunya mereka tak mabuk.
Kutanyakan arah ke tujuanku.
“kita berjalan terus lewat jalan ini,tak usah belok ke manapun,lurus saja,tanda desa itu adalah di depannya terdapat penampung air besar yang terbuat dari fiber berwarna putih.”
“Terimakasih,Terima kasih banyak”
“kami sering ke sana”sambungnya, “orang-orang itu baru mengenal permainan kartu remi belakangan ini.”katanya sambil mulai tertawa. “dan suatu hari, kami ke sana untuk membeli tuak,dan sepupuku ternyata membawa dua set kartu, coba bayangkan ada orang yang ke mana-mana selalu membawa kartu, dua set lagi”Ia dan kelompoknya pecah dalam tawa yang besar dan panjang. Beberapa sampai terduduk-duduk di tanah. Aku ikut tertawa lebih karena reaksi mereka yang meriah itu.
Orang yang berbicara itu lalu mulai bercerita terus. Satu dua temannya ikut menimpali. Lelucon2 yang bertambah panjang dan mungkin akan menggila di ujungnya. Aku pamit karena kalau menunggu cerita mereka selesai mungkin aku harus menginap.
Perjalanan kulanjutkan, senter sudah kusiapkan. Gembala-gembala legam di belakangku masih saja tertawa-tawa. Saat ku berbalik,bisa kulihat putih gigi2 mereka yang makin kelihatan karena sore beranjak gelap. Tanah itupun masih berdebu.

SELESAI

Yogya,22-3-‘08
Untuk debu

 

Highest Points

UserPoints
durgadurga1101
molen574
wahmuji421
mbik410
ginting339
sedik317
dalangpotehi289
sescoplo265
titiknol177
otakudang168