Page copy protected against web site content infringement by Copyscape

 

Karma

ginting's picture

          Sembari mencecap tembakau di bibir monyongnya, nenek nanar menatapku yang menangis tersedu karena mimpi buruk saat tidur siang tadi. Derit kursi goyang yang sudah setengah mati menahan berat badan nenek selama delapan belas tahun ini adalah satu-satunya bunyi yang bersorak di ruang tamu sempit berdebu di rumah tua besar peninggalan kakek ini. Meskipun tua, rumah ini selalu memanjakan penghuninya dengan hawa sejuk yang selalu memenangkan pertempuran dengan panas, walaupun matahari sedang terik-teriknya. Tidak ada suatu pirantipun di rumah ini yang terhubung dengan listrik. Sengaja dari dulu kakek menolak perluasan wilayah cakup listrik dari PLN di kampung kami menyentuh rumahnya. Orang-orang mencibir kakek pada saat itu. Mereka bilang kakek aneh karena menolak fasilitas berteknologi mutakhir yang menjadi hak dari setiap penduduk. Dengan tenang kakek hanya menanggapi, “Lihatlah nanti. Sebentar lagi listrik-listrik itu akan menjajah kalian! Aku tak mau hidupku bergantung pada sesuatu yang tidak berasal dari tanah moyangku ini.”

            Nenek masih mengunyah tembakaunya. Doyan dia melihatku sesugukan tersedu karena ketakutan. Aku selalu ngeri melihat isi mulut nenek. Apalagi saat dia habis mengunyah sirih lalu mengepel sisa-sisa sirih itu dengan tembakau yang dipuntir-puntir diselipkan diantara dua belah bibirnya yang tebal.
***
Dulu, dulu sekali, saat aku masih kelas satu sekolah dasar, aku pernah tak sengaja melihat kakek mengulum bibir nenek. Saat itu kakek sedang terbaring tak berdaya di tempat tidurnya. Pada usianya yang ke tujuhpuluh lima, kakek terkena Alzheimer. Jaringan saraf otaknya kacau. Dia bisa tiba-tiba tidak mengenali kami semua, dan kadang-kadang dia berhalusinasi bahwa orang-orang yang ada di dekatnya merupakan orang-orang lain yang mungkin pernah tinggal di dunia khayal bawah sadarnya dulu – begitu penjelasan ibu ketika aku bertanya tentang hal ihwal penyakit kakek, tentunya setelah aku bisa berpikir. Setelah mengulum bibir nenek yang dulu belum dilumuri liur bersirih dan bertembakau itu, kakek langsung terlelap lagi. Kakek terlelap dengan mata terbuka dan tidak berkedip-kedip. Seringkali ibu harus meneteskan cairan penyegar mata agar mata kakek tidak memerah luka. Nenek yang bibirnya habis dikulum kakek terbahak setelah keluar dari kamar. Setelah ditanya ibu, nenek bilang, “Dia pikir aku si Marni, bunga desa pujaannya dulu. Pantasan semangat sekali dia menciumku. Seumur-umur baru sekali ini bibirku dilumat dengan penuh gairah seperti itu.”
Aku tak pernah mengerti kenapa nenek begitu terkekeh di hadapan kami. Padahal, setengah jam sesudahnya, tak sengaja aku mendengar nenek tersedu-sedan sambil memaki terus-menerus di kamar mandi, “Bajingan kau, Misdi!! Masih juga kau ingat dia. Apa yang belum kuberikan padamu? Semuanya, Misdi. Semuanya sudah. Bahkan aku sampai mau dulu mengulum kontolmu yang hitam keling itu! Tapi, ternyata kau masih saja memelihara kenaganmu dengan si Marni itu. Kau pasti selalu menyetubuhinya dalam khayalanmu. Terkutuk kau, Misdi!”
Saat itu, aku sama sekali tak mengerti kata-kata yang terlontar dari mulut nenek. Pernah sekali kutanyakan pada bapak, aku malah ditampar sampai berdarah bibir atasku. Aku mengadu pada ibu. Ibu langsung melabrak ayah yang sudah kasar kepadaku. Di dalam kamar mereka adu mulut. Aku hanya bisa menonton suara bising perkelahian mereka. Pintu kamar tertutup. Ayah yang membanting pintu dan kemudian menguncinya. Aku cuma melongo. Terduduk dengan kaki terbuka sambil menjulurkan lidah, mengejek pintu kamar yang tak membiarkanku melihat peristiwa yang sedang terjadi di dalam. Lamat-lamat terbentuk sebayang wajah di pintu itu. Wajah itu tersenyum damai, menyuruhku menutup telinga dan pergi. Akupun bangkit beranjak ke halaman rumah. Kulihat ada dua butir gundu milik kakak terlantar disana. Karena tak ada kerjaan, akupun memainkannya. Lama aku bermain gundu, belum juga ayah dan ibu selesai bertengkar. Sesekali kuintip-dengar. Hanya sunyi yang diselingi sesugukan ibu. Namun lalu, menggelegar lagi perdebatan mereka. Sampai akhirnya maghrib menyapa, dan permainan gundu telah menjadi membosankan. Akupun beranjak masuk. Niatku hendak mandi membersihkan diri – terutama kerak darah di bibir atasku yang sekarang sudah tidak terasa seperih tadi. Tak sengaja, sayup kudengar suara orang mendesah dari kamar tempat ayah dan ibu bertengkar tadi. Kali ini si pintu berbaik hati karena tersedia sedikit ruang buat mataku mengintip apa yang berlangsung di dalam. Bola matakupun menelusup masuk tapi aku tak melihat ayah dan ibu. Hanya ada dua pasang paha, sepasang pantat bulat ayah, dan kontolnya yang keluar-masuk kelamin ibu yang licin berkilat dan berambut lebat. Ayah sampai mendengus-dengus. Tak lama, dia mengejang. Dicabutnya batang lingganya yang hitam itu dari liang rahim ibu. Dengan cepat dikocoknya, dan tersemburlah air mani yang kemudian menggenang di paha ibu. Setelah itu, ayah berbaring di sebelah ibu. Dan ibupun bangkit untuk menjilati sisa-sisa mani di kontol ayah. Saat itulah mata ibu bertemu mataku yang tanpa izin menelusup masuk tadi. Bisa kulihat betapa kagetnya ibu melihat wajahku yang memerah dan basah karena tanpa kusadari airmataku meleleh deras. Aku bisa merasakan perasaan yang bergemuruh di hatiku. Aku marah pada ayah. Aku cemburu. Secepat kilat aku berkelebat pergi dari celah pintu itu. Aku menuju kamar mandi. Kubasuh tubuhku dengan air dingin yang entah kenapa terasa panas di kulitku. Samar kudengar pintu kamar tidur mereka terbuka. Seseorang dengan langkah tegap dan panjang sedang menuju ke arah kamar mandi. Aku tahu itu ayah. Dan aku teramat sangat ketakutan. Berteriak-teriak ayah memakiku sambil menggedor-gedor pintu kamar mandi. Sumpah-serapah dan ancaman muncrat dari mulut ayah. Aku tak berani keluar. Pasti aku bisa dibunuh oleh ayah karena telah lancang melihatnya bersetubuh dengan istrinya, ibuku. Untung ibu berhasil meredam luapan murka ayah. Biarpun begitu, ayah yang merasa sudah kehilangan muka langsung pergi dan tiga hari tidak pulang. Semenjak kejadian itu, aku tak bicara selama sebulan lamanya dengan ibu.
Sampai sekarang, peristiwa itu tidak pernah diketahui oleh nenek. Setelah kami berbaikan, ibu memintaku untuk tidak menceritakannya, terutama kepada nenek dan juga kakek, yang kebetulan menghembuskan nafas terakhirnya dua hari setelah aku dan ibu berdamai.
***
Kakek meninggal dalam keadaan telanjang ketika sedang dibasuh tubuhnya oleh nenek. Saat itu nenek menyangka kakek sedang tidur. Seperti biasa matanya terbuka. Setelah memakaikan baju kakek, barulah nenek tersadar kalau tak ada lagi udara yang terhirup oleh kakek. Tetangga bilang, nenek menjerit sejadi-jadinya, memanggil-manggil nama kakek. Ketika orang-orang berdatangan, nenek tengah mengguncang-guncang tubuh kakek yang sudah diam beku. Nenek hampir tidak bisa ditenangkan. Nyaris tak ada yang berani menarik tubuh nenek agar terlepas pelukannya yang mencengkram jenazah kakek dengan buas. Hanya paman Kardi yang berani. Itupun paman Kardi harus merelakan hidungnya mimisan karena ditanduk nenek, dan wajahnya berdarah karena dicakar nenek kuat-kuat dengan kukunya. Nenek dibopong ke ruang tamu. Banyak orang yang menonton nenek yang seperti orang kesurupan. Aku sendiri masih heran, kenapa nenek begitu terpukul dengan kepergian kakek yang dua bulan sebelumnya dimaki-makinya. Bahkan, saat upacara penguburan berlangsung, nenek hampir saja ikut melompat terjun ke liang kubur kakek kalau saja, lagi-lagi, paman Kardi tak dengan cekatan segera merangkulnya dan membawanya menjauh dari liang.
Sejak kematian kakek, nenek jadi agak pendiam, terutama pada anak-anaknya. Namun, nenek masih mau bercakap-cakap agak lama dengan kami cucu-cucunya. Nenek sering bercerita tentang bagaimana dia dan kakek bekerja begitu keras ketika mengolah tanah di bukit belakang rumah mereka, jauh sebelum akhirnya terbentuk kampung di daerah tempat mereka tinggal itu. Kakek dan nenek adalah laki-bini pertama yang tiba di tanah itu. Mereka bertransmigrasi dari Jawa. Saat itu, cerita nenek, masih banyak hewan-hewan buas berkeliaran. Kakek juga pernah hampir terbakar hidup-hidup ketika membantu seorang transmigran baru membuka lahan di hutan sebelah selatan bukit. Karena sudah terjebak api, kakek memanjat pohon yang sudah lapuk batang bawahnya sebab dilalap api. Akhirnya pohon itupun rubuh. Untungnya pohon itu tumbang ke tanah yang tidak dibakar api, melainkan ke sekumpulan semak duri yang hanya beberapa meter dari api yang sedang meraja-lela. Kakek tak jadi terpanggang. Hanya saja kakinya patah, dan kulit di sekujur tubuhnya dicerabuti duri-duri. Butuh setahun lebih sampai kakek bisa berjalan dengan baik lagi. Dan selama setahun itu, neneklah yang merawat kakek seorang diri sambil mengurus ibu yang pada saat itu masih baru belajar berjalan. Dari semua cerita nenek tentang kakek, cerita itu yang paling membuat hatiku meringis.
***
Begitulah, sekarang di ruang tamu rumah peninggalan kakek yang sejuk ini, aku menangis sambil memunggungi nenek yang pastinya sedang asyik mengecap ludah tembakaunya sambil menonton aku yang sedang sesugukan, tersedu-sedan karena ketakutan pada mimpi saat tidur siang tadi.
Akhirnya nenek angkat bicara, “Coba ceritakan mimpimu tadi, Cu.”
Mengkhayalkannyapun aku tak pernah. Tapi kenapa mimpi seperti itu bisa sampai singgah di alam tidurku? Dalam mimpi, kembali aku teringat adegan setubuh ayah dan ibu yang pernah kupergoki dulu. Setelah itu, aku pergi ke kamarku sediri. Aku meracap. Aku meracap sampai puas membayangkan ayah bercinta dengan ibu. Pejuhku kusemprotkan ke kain lap meja yang kuambil dari rak serbet. Setelah itu, kuselipkan kain berpejuh tadi di bawah bantal. Lalu, aku meninggalkan rumah menuju halaman. Tiba-tiba saja ada seseorang yang seperti sudah menungguku di halaman. Dia menantangku bermain gundu. Akupun menyambut tantangannya. Dengan sigap kukalahkan dia. Hanya dalam satu jam kuhabiskan semua gundu yang bisa dipertaruhkannya. Karena kalah telak, orang itu pergi dengan wajah tertunduk malu. Aku mengawasinya sampai dia tidak terlihat lagi setelah berbelok di ujung gang. Kemudian aku berbalik masuk ke dalam rumah. Aku teringat kain lap tadi seharusnya kucuci bersih agar tidak ketahuan ibu kalau aku maracap membayangkannya bersetubuh dengan ayah. Aku masuk ke kamarku. Lalu kuangkat bantal yang menutupi kain lap tadi. Tak disangka, aku malah disuguhi pemandangan yang membuatku mual dan ingin sekali muntah. Kain lap tadi kini telah penuh dengan belatung putih yang bertengkar dengan semut merah karena memperebutkan sisa-sisa kerak maniku. Dalam keadaan hampir pingsan karena pitam, aku bisa mendengar suara adik perempuan bungsuku mencari-cari kain lap yang kuambil dari rak serbet tadi. Rupanya ibu menyuruhnya membersihkan meja makan karena akan ada jamuan makan malam ini, menyambut ayah yang akhirnya kembali juga dari entah.
***
Senyum nenek menghilang begitu aku selesai menceritakan mimpi yang membuatku menangis siang ini. Aku bisa lihat nenek menahan sesuatu di matanya. Lalu entah mengapa nenek permisi pergi ke kamar mandi.
“Mau kemana, nek?” tanyaku.
“Nenek mau berak,” jawabnya tak acuh.
Aku melihat punggung nenek yang bungkuk ketika dia membuka pintu kamar mandi. Entah mengapa aku merasa kasihan sekali kepada nenek yang tulang punggungnya sudah tak kuat lagi menahan bobot badannya sendiri. Entah mengapa pula aku merasa umur nenek sudah tak lama lagi.
Setelah lima belas menit nenek tak keluar dari kamar mandi, aku mulai curiga. Aku bangkit dan berjalan menuju kamar mandi. Sayup-sayup kudengar nenek merepek sambil menyiram lubang kakus, “Lihatlah, Misdi. Ini pasti gara-gara kau! Lihatlah apa yang telah terjadi pada satu-satunya cucu laki-lakimu. Dia pasti akan mandul, Misdi. Pasti itu. Ini semua karena kau. Siapa suruh kau menyetubuhi si Marni itu dalam khayalmu?”
Kudengar suara serak nenek sedikit demi sedikit terkubur dengan suara siraman air di lubang kakus. Nenek terus menyiram. Terus menyiram. Terus, sampai habis air di bak. Sampai bersih lubang kakus. Nenek terus menyiram.
 
 
Yogyakarta, 23 Juni 2007
Setelah ditinjau ulang, 24 Juni 2007
G in Think
(anggota sastramungil)

8.5
Members Opinions
8
nyaman

ya sejauh aku membaca karya orang, mmm kayaknya ini sudah memiliki kriteria nyaman untuk dibaca kalayak



9
menyenangkan

menyenangkan sekali membacanya.


 

Highest Points

UserPoints
durgadurga1101
molen574
wahmuji421
mbik410
ginting335
sedik317
dalangpotehi282
sescoplo265
titiknol177
otakudang168