Puisi

tak tahu mengapa ku menangis

yg kurasa hanyalah bebanku teramat berat

dadaku terasa sesak

tubuh ku terasa panas

dan otakku tak bekerja sebagaimana mestinya

Sungguh aku tak tahu mengapa ku menangis

yg aku tahu

aku bingung

tak tahu apa yg hatus kulakukan

aku hanya pasrah pada sang pembuat rencana

Baca selengkapnya »

Malam Menggigil Dalam Suaraku

Baca selengkapnya »

KE PADANG AKU MELIHAT

Baca selengkapnya »

Untuk bulan,
satu di antara tiga lentera
yang selalu beredar di pekat malam:
Pergilah turun ke dalam semak!
Kami jenuh – kami muak!
Pada cahayamu yang itu-itu juga

Awan boleh saja kau dorong ke tepi,
tapi kami akan terus melawan
hingga terangmu hilang arti

Ombak boleh saja kau tarik-hempaskan ke bumi,

Baca selengkapnya »

Mengawini sepuh hati tanpa engkau,

engkau tak akan menengok liang lukaku,

engkau luput dari doaku,

telah menjelma lalu bagi hidupku.    

engkau.

Aku tak akan teriak merdeka

sampai kita bebas saling mencinta,

tanpa mengetuk-ngetuk pintu

mencuri-curi waktu,

yang bukan milik siapa-siapa,

kecuali,

aku.

 

Usai sudah revolusi

dan kita hanya pejuang berkalang pasrah dan berkalung marah di tengah perang

dan tak akan kau dengar aku teriak merdeka

Baca selengkapnya »

puisi nanangrusmana

 

Politikus menganyam jeruji besi

mencari simpul hindari tali mati

dan kau?

menganyam jemari tangan dengan luka bakar !

 

 

Bekasi; Des 12

nanangrusmana

#  Salam padamu PAK SAPARDI  #

 

 (untuk HUJAN BULAN JUNI)

aku ini hujan bulan juni,
tapi aku tak setabah yang kau kira.
aku tak pernah merahasiakan rintik rinduku
pada pohon berbunga itu.

 

Baca selengkapnya »

hanya sebuah kata yang tak pasti

Sepintas tatap menerawang

Sebatas tapak menggapai

Dan sejauh jejak yang membekas

Seperti itulah janji yang tak pernah terucap

 

Kubiarkan waktu mengartikan yang telah terbaca

tentang diam yang tak sekedar kosong

Namun tak selalu ada tuk dipahami

Baca selengkapnya »

Rinduku terjebak kesendirian

bernafaskan cinta yang tak lagi utuh

sepi menyayat membunuh mimpi yang tak lagi bercerita

tiada jeda lelah meracau tajam

hidupku hanya serupa bayang yang mengawang

semuanya menjadi tiada dlm genggamanku

seperti jejak milikku yang membekas, tapi bukan inginku

sungguh ini yang terdalam

Baca selengkapnya »

Sajak-sajak Selendang Sulaiman
Suara Karya Sabtu, 11 April 2009

          TENTANG SEORANG BERNAMA PIA

 

Sekian musim yang kau setubuhi menempuh jalan becek

Baca selengkapnya »

Oi.....................

Orang senayan

kotoranmu begitu berkilau cahaya pendar ke emasan

kotoran kami hindari cahaya

bahkan apalah lagi pendar kilau emas berlian

untuk apa?

kotoran kami disumpel di celah tembok retak tanpa plesteran membuat senyum

lega

kotoran kami lebih suka gelap gulita

 

Oi

Baca selengkapnya »

Apa yang telah kau catat

Disetiap lembar demi lembar buku harianmu

Adakah namaku tertoreh dalam lembaran itu

Sebuah nama yang dulu engkau tulis dengan tinta kasih dan sayangmu

Sebuah nama yang pernah menghiasi hari demi harimu

Dengan sebuah kisah yang bernoda nada dahaga

 

 

Apa yang telah kau rangkum

Baca selengkapnya »

Simpan saja bibir penuh gincu itu, dik

juga rupamu yang kau pupuri

Simpan sampai besok pagi atau mungkin sampai malam lagi

Karena malam ini,

aku tak akan pulang, dik

jangan tunggu aku

Sudah ku bilang berulang,

Jangan tunggu aku,

Baca selengkapnya »

Cukup pada sunyi. Riuhku hendak bersembunyi. Dada lapuk. Tak sediakan peluk. Aku demam. Padamu saja lah kangenku berdiam. Laki-laki. Laki-laki. Aku berdiri dengan satu kaki.

Sebelah mataku melihat. Sebelah lagi tiada terlihat. Kenapa aku takut akan gelap. Ke mana Tuhan bawa kau dari lelap? Jauh. Jauh. Eratmu saja ingin ku rengkuh.

Baca selengkapnya »

bulan januari, tanggal 19, tahun 2012, jam hampir selesai menandai hari ini: tubuhku serasa rumah bagi cemas dan gairah yang seringkali bertengkar, angan-angan yang seringkali terbagi dengan kenyataan-kenyataan yang ujung-ujungnya pahit. Hah! yang namanya mimpi memang selalu seperti itu, gratis seperti nonton iklan di tv, bayar kalau mau nyicipi.

Baca selengkapnya »

aku berlindung padamu,

dari kcupan kcupan yg luruh.

 

kmana lagi harus ku ungsikan, birahi kecupan yg tibatiba.

kmana lagi harus ku susupkan, penggal demi penggal nafas yg meraja.

dari celah ingatan kau mnyusup.

pada tubuh. ruang. arah. segala kiblat yg ku cipta.

 

... ada baik nya aku menepi.

Baca selengkapnya »

 

gerimis ini pilu.

disandarkan nya aku di sudut kelu.

di setubuhi nya aku bak tak ada malam lagi utk bercumbu.

 

rintik ini sakit.

di bawah nya aku menculik ingatan

yang bertubi tubi meninggalkan ku tanpa peringatan.

 

basah ini darah

.kau kah yang terluka di akhir kisah?

Baca selengkapnya »

 

Diammu menyunting dikeheningan sunyi

memuja ragu dalam derap langkah sepi

kosong melahirkan nanar yang smakin kosong dan membekas luka

tak perlu kau menangis sendiri

tak perlu batinmu terus bergejolak tanpa henti

Baca selengkapnya »

Ini hanya sepotong marah
Diantara berjuta tawa yang terselip waktu
Ketika hati mengaduh sumbang
Menyapa pikiran yang enggan melihat
Ini hanya sepotong marah
Dalam sandiwara yang trjebak ketiadaan
Sembari menyimak senyum diam sang lakon
Sepotong marah kian larut

Baca selengkapnya »

Hari ini ....

aku mengingatmu kasih

kau kasih dari masa laluku

yg selalu hadir di setiap detik hidupku

Hari ini

aku rindu senyum dan tawamu

aku rindu tatap hangat matamu

kau kasih yg selalu mendiami relung hatiku

Hari ini.....

akh...hari ini hatiku resah

gelisah dan merana

Baca selengkapnya »

Secawan arak asmara ku reguk pada bibir - bibir piala cinta

Rindu dendam yang menggoda kian melilit selubung jiwa

Dengan tali asmara

Gemulai meliuk di pusara Alur sukma yang terlena

Aku terlanjang di karenakannya

Tak sehelai benang menutup badan

Rani ku menggelinjang Atmaku pun melayung

Baca selengkapnya »

puisi, aha, yang satu ini selalu bikin gemas, selalu, meski tak ada kata-kata mujarab malam ini, namun selalu saja ada hal yang ingin dikatakan, secara tidak sungguh-sungguh, namun penuh.

Baca selengkapnya »

embun
samar
kemarau
angin bertiup abu-abu
: patah kita bercinta
hujan
terik
matahari merintik
: cinta patahkan kita
awan-awan
burung-burung
rerantingan
pepohonan rimbun bersyair
: patah cinta kita
panas
dedaunan
angin menggerutu
buta
: kita patahkan cinta
bulan
lembab

Baca selengkapnya »

aku berkumpul bersama tiga jiwaku yang lain
berpesta dalam diam yang pekat

malam ini bisu
seperti juga takdir saat kutanya
“mengapa sajak-sajakku pergi meninggalkanku?”

Jakarta, Desember 2011



aku hilang
sehilang-hilangnya

sajak-sajakku pergi
menceraikan penaku
membawa lari imajinasiku

terlalu buruk kesendirian ini.

Menteng Atas, Desember 2011

ku kumpulkan kembali berlembar kisah yang berserakkan di sudut-sudut kamarku
kala malam datang
dan kesunyian mengepul bagai asap rokok memenuhi dadaku.

Baca selengkapnya »

*tertuju pada Fidelia Harris

kedugaanku atas cinta,
seperti menerka mendung
tak berarti pertanda langit akan menangis,
seperti juga : ia belum tentu tak akan menangis.
cinta, tertawalah.

lari takkan membawa kita kemana
mendung, setan, dan malikat tak punya rasa
lelah saja tempat kecemasan menuju

berhenti!

Baca selengkapnya »