Puisi
tak tahu mengapa ku menangis
yg kurasa hanyalah bebanku teramat berat
dadaku terasa sesak
tubuh ku terasa panas
dan otakku tak bekerja sebagaimana mestinya
Sungguh aku tak tahu mengapa ku menangis
yg aku tahu
aku bingung
tak tahu apa yg hatus kulakukan
aku hanya pasrah pada sang pembuat rencana
Tanggal Publikasi: 29 Januari 2012
- Genre: Puisi
- Bahasa: Indonesia
- Label: puisi Selendang
Malam Menggigil Dalam Suaraku
Tanggal Publikasi: 29 Januari 2012
- Genre: Puisi
- Bahasa: Indonesia
- Label: puisi Selendang
Tanggal Publikasi: 29 Januari 2012
- Genre: Puisi
- Bahasa: Indonesia
- Label: mbug maninglah
Idiot I
Untuk bulan,
satu di antara tiga lentera
yang selalu beredar di pekat malam:
Pergilah turun ke dalam semak!
Kami jenuh – kami muak!
Pada cahayamu yang itu-itu juga
Awan boleh saja kau dorong ke tepi,
tapi kami akan terus melawan
hingga terangmu hilang arti
Ombak boleh saja kau tarik-hempaskan ke bumi,
Mengawini sepuh hati tanpa engkau,
engkau tak akan menengok liang lukaku,
engkau luput dari doaku,
telah menjelma lalu bagi hidupku.
engkau.
Aku tak akan teriak merdeka
sampai kita bebas saling mencinta,
tanpa mengetuk-ngetuk pintu
mencuri-curi waktu,
yang bukan milik siapa-siapa,
kecuali,
aku.
Usai sudah revolusi
dan kita hanya pejuang berkalang pasrah dan berkalung marah di tengah perang
dan tak akan kau dengar aku teriak merdeka
Tanggal Publikasi: 23 Januari 2012
- Genre: Puisi
- Bahasa: Indonesia
- Label: Sondang Hutagalung, Puisi Sosial
puisi nanangrusmana
Politikus menganyam jeruji besi
mencari simpul hindari tali mati
dan kau?
menganyam jemari tangan dengan luka bakar !
Bekasi; Des 12
nanangrusmana
# Salam padamu PAK SAPARDI #
(untuk HUJAN BULAN JUNI)
aku ini hujan bulan juni,
tapi aku tak setabah yang kau kira.
aku tak pernah merahasiakan rintik rinduku
pada pohon berbunga itu.
hanya sebuah kata yang tak pasti
Sepintas tatap menerawang
Sebatas tapak menggapai
Dan sejauh jejak yang membekas
Seperti itulah janji yang tak pernah terucap
Kubiarkan waktu mengartikan yang telah terbaca
tentang diam yang tak sekedar kosong
Namun tak selalu ada tuk dipahami
Rinduku terjebak kesendirian
bernafaskan cinta yang tak lagi utuh
sepi menyayat membunuh mimpi yang tak lagi bercerita
tiada jeda lelah meracau tajam
hidupku hanya serupa bayang yang mengawang
semuanya menjadi tiada dlm genggamanku
seperti jejak milikku yang membekas, tapi bukan inginku
sungguh ini yang terdalam
Tanggal Publikasi: 21 Januari 2012
- Genre: Puisi
- Bahasa: Indonesia
- Label: sarpa 2009
Sajak-sajak Selendang Sulaiman
Suara Karya Sabtu, 11 April 2009
TENTANG SEORANG BERNAMA PIA
Sekian musim yang kau setubuhi menempuh jalan becek
Tanggal Publikasi: 21 Januari 2012
- Genre: Puisi
- Bahasa: Indonesia
- Label: Toilet Emas, Puisi nanangrusmana, DPR, Korupsi, Renovasi Toilet DPR
Oi.....................
Orang senayan
kotoranmu begitu berkilau cahaya pendar ke emasan
kotoran kami hindari cahaya
bahkan apalah lagi pendar kilau emas berlian
untuk apa?
kotoran kami disumpel di celah tembok retak tanpa plesteran membuat senyum
lega
kotoran kami lebih suka gelap gulita
Oi
Apa yang telah kau catat
Disetiap lembar demi lembar buku harianmu
Adakah namaku tertoreh dalam lembaran itu
Sebuah nama yang dulu engkau tulis dengan tinta kasih dan sayangmu
Sebuah nama yang pernah menghiasi hari demi harimu
Dengan sebuah kisah yang bernoda nada dahaga
Apa yang telah kau rangkum
Simpan saja bibir penuh gincu itu, dik
juga rupamu yang kau pupuri
Simpan sampai besok pagi atau mungkin sampai malam lagi
Karena malam ini,
aku tak akan pulang, dik
jangan tunggu aku
Sudah ku bilang berulang,
Jangan tunggu aku,
Cukup pada sunyi. Riuhku hendak bersembunyi. Dada lapuk. Tak sediakan peluk. Aku demam. Padamu saja lah kangenku berdiam. Laki-laki. Laki-laki. Aku berdiri dengan satu kaki.
Sebelah mataku melihat. Sebelah lagi tiada terlihat. Kenapa aku takut akan gelap. Ke mana Tuhan bawa kau dari lelap? Jauh. Jauh. Eratmu saja ingin ku rengkuh.
bulan januari, tanggal 19, tahun 2012, jam hampir selesai menandai hari ini: tubuhku serasa rumah bagi cemas dan gairah yang seringkali bertengkar, angan-angan yang seringkali terbagi dengan kenyataan-kenyataan yang ujung-ujungnya pahit. Hah! yang namanya mimpi memang selalu seperti itu, gratis seperti nonton iklan di tv, bayar kalau mau nyicipi.
aku berlindung padamu,
dari kcupan kcupan yg luruh.
kmana lagi harus ku ungsikan, birahi kecupan yg tibatiba.
kmana lagi harus ku susupkan, penggal demi penggal nafas yg meraja.
dari celah ingatan kau mnyusup.
pada tubuh. ruang. arah. segala kiblat yg ku cipta.
... ada baik nya aku menepi.
gerimis ini pilu.
disandarkan nya aku di sudut kelu.
di setubuhi nya aku bak tak ada malam lagi utk bercumbu.
rintik ini sakit.
di bawah nya aku menculik ingatan
yang bertubi tubi meninggalkan ku tanpa peringatan.
basah ini darah
.kau kah yang terluka di akhir kisah?
Diammu menyunting dikeheningan sunyi
memuja ragu dalam derap langkah sepi
kosong melahirkan nanar yang smakin kosong dan membekas luka
tak perlu kau menangis sendiri
tak perlu batinmu terus bergejolak tanpa henti
Ini hanya sepotong marah
Diantara berjuta tawa yang terselip waktu
Ketika hati mengaduh sumbang
Menyapa pikiran yang enggan melihat
Ini hanya sepotong marah
Dalam sandiwara yang trjebak ketiadaan
Sembari menyimak senyum diam sang lakon
Sepotong marah kian larut
Hari ini ....
aku mengingatmu kasih
kau kasih dari masa laluku
yg selalu hadir di setiap detik hidupku
Hari ini
aku rindu senyum dan tawamu
aku rindu tatap hangat matamu
kau kasih yg selalu mendiami relung hatiku
Hari ini.....
akh...hari ini hatiku resah
gelisah dan merana
Tanggal Publikasi: 12 Januari 2012
- Genre: Puisi
- Bahasa: Indonesia
- Label: mukhamad mikcoe, mukhamab mikcoe
Secawan arak asmara ku reguk pada bibir - bibir piala cinta
Rindu dendam yang menggoda kian melilit selubung jiwa
Dengan tali asmara
Gemulai meliuk di pusara Alur sukma yang terlena
Aku terlanjang di karenakannya
Tak sehelai benang menutup badan
Rani ku menggelinjang Atmaku pun melayung
puisi, aha, yang satu ini selalu bikin gemas, selalu, meski tak ada kata-kata mujarab malam ini, namun selalu saja ada hal yang ingin dikatakan, secara tidak sungguh-sungguh, namun penuh.
Tanggal Publikasi: 07 Januari 2012
- Genre: Puisi
- Bahasa: Indonesia
- Label: sajak huruf kecil, puisi, patah kita becinta, nino zulfikar
embun
samar
kemarau
angin bertiup abu-abu
: patah kita bercinta
hujan
terik
matahari merintik
: cinta patahkan kita
awan-awan
burung-burung
rerantingan
pepohonan rimbun bersyair
: patah cinta kita
panas
dedaunan
angin menggerutu
buta
: kita patahkan cinta
bulan
lembab
Tanggal Publikasi: 07 Januari 2012
- Genre: Puisi
- Bahasa: Indonesia
- Label: nino zulfikar, sajak huruf kecil, puisi, pertanyaan
aku berkumpul bersama tiga jiwaku yang lain
berpesta dalam diam yang pekat
malam ini bisu
seperti juga takdir saat kutanya
“mengapa sajak-sajakku pergi meninggalkanku?”
Jakarta, Desember 2011
Tanggal Publikasi: 07 Januari 2012
- Genre: Puisi
- Bahasa: Indonesia
- Label: nino zulfikar, sajak huruf kecil, puisi, hilang
aku hilang
sehilang-hilangnya
sajak-sajakku pergi
menceraikan penaku
membawa lari imajinasiku
terlalu buruk kesendirian ini.
Menteng Atas, Desember 2011
Tanggal Publikasi: 07 Januari 2012
- Genre: Puisi
- Bahasa: Indonesia
- Label: nino zulfikar, kepada malam, sajak huruf kecil, puisi
ku kumpulkan kembali berlembar kisah yang berserakkan di sudut-sudut kamarku
kala malam datang
dan kesunyian mengepul bagai asap rokok memenuhi dadaku.
Tanggal Publikasi: 07 Januari 2012
- Genre: Puisi
- Bahasa: Indonesia
- Label: sajak huruf kecil, puisi, nino zulfikar, kedugaanku atas cinta
*tertuju pada Fidelia Harris
kedugaanku atas cinta,
seperti menerka mendung
tak berarti pertanda langit akan menangis,
seperti juga : ia belum tentu tak akan menangis.
cinta, tertawalah.
lari takkan membawa kita kemana
mendung, setan, dan malikat tak punya rasa
lelah saja tempat kecemasan menuju
berhenti!



