Pedang Ini Tajam
Bayangkan tebasannya mengena
Andai aku sekeras besi, baja, dan logam lainnya
Aku sudi memanjakannya
Aku tahu mata pedang ini gemar mencabik
Tapi aku hanya kambing yang mengembik
Aku bukan besi, baja, dan logam lainnya.
Apa aku seperti mereka?
Bak besikah aku? Ya, tapi karatnya saja
Layaknya bajakah aku? Ya, namun beratnya saja.
Ataukah aku seperti logam lainnya? Ya, tak berguna.
Coba lihat.
Raba seksama.
Tendang sekeras-kerasnya.
Bukan kamu, tapi aku yang mengaduh.
Aku hanya otak yang diselimuti daging tak bertulang.
Aku hanya rokok tanpa cengkeh dikemas kertasnya tak berulang.
Aku hanya kepulan asap teh panas siap menmghilang.
Tak hinakah aku?
Gabriel pun enggan mencabut nyawaku.
Ibank pun bosan menikmati kadar nikotinku.
Bapak pun menenggak teh tak hiraukanku.
Mereka penuh asa mencemoohku, menolakku, meniadakanku.
Lihat puisiku.
Berhargakah aku?



aku dan ke-akuan kita semua ternyata sulit jugak untuk dijadikan pilihan berikutnya.
"Dia naikkan derajat yang hina..."
Tapi aku tidak percaya. hahaha...
inferiority complex atas dunia?
Hanya satu kata, "lawan!"
hehehe...
semangat saja kawan
bait2 awalmu asik sekali
sayang di akhir agak kendor
tapi, siip lah