Yang Hilang di Simpang Empat Negeriku

 gambar kotakata
3.5
Penilaian Anda: tidak ada Rata-rata: 3.5 (2 suara)

merah
dihampiri perempuan kering tanpa susu
lelaki berkaki satu berbau nanah diantara kulit tipis tanpa daging
tangan kecil lemas gizi buruk umur sisa seminggu

kuning
berfikir sejenak

hijau
siapa kamu?
tancap gas apa maumu bukan urusanku !

 gambar Wahyu Adi Putra Ginting
2

puisi yang cukup menarik. tapi, bagi saya, tidak ada kejutan di sana sama sekali. alurnya terbaca terang, simbol-simbolnya sederhana, dan penggunaan bahasanya juga mudah dimengerti, apalagi kalau sudah menghubungkan isi puisi dengan judulnya (Yang Hilang di Simpang Empat Negeriku).

meski begitu, saya tidak menganggap puisi ini gagal. saya akan mengomentari sisi yang menggelitik mata saya ketika membacanya.

"Merah", "Kuning", "Hijau", "Simpang Empat", ini dapat dengan mudah dimengerti sebagai latar tempat dari narasi puisi ini. kata "Negeriku" dan penggambaran tokoh-tokoh "perempuan kering tanpa susu" dan "lelaki berkaki satu berbau nanah" dengan mudah dapat ditangkap sebagai bangunan suasana latar tempat: pengemis di perempatan jalan.

yang cukup menarik adalah kronologi waktu yang ditandai dengan "merah", "kuning", dan "hijau", yang kesemuanya adalah warna lampu lalulintas. pada kala "merah", ada sebuah cerita yang dielaborasi dengan porsi penceritaan yang cukup teliti.

perempuan kering tanpa susu
lelaki berkaki satu berbau nanah diantara kulit tipis tanpa daging
tangan kecil lemas gizi buruk umur sisa seminggu

penokohan di atas membawa saya ke suatu ruang yang lebih luas dari sekedar perempatan jalan. saya merasa ada bayangan-bayangan lain yang hinggap. saya membayangkan kisah hidup tokoh lelaki dan perempuan itu, saya membayangkan faktor apa saja yang membawa hidup mereka ke kondisi demikian, saya membayangkan kondisi ruang-lingkup hidup yang lebih luas: negara, saya membayangkan kondisi kejiwaan masyarakat dalam konteks memaknai fakta keberadaan kaum perempuan kering tanpa susu
lelaki berkaki satu berbau nanah
di komunitas terbayang mereka, bahkan saya sedikit mengintip bahwa ada ideologi atau paham tertentu yang membuat masyarakat mungkin menciptakan penghakiman tertentu.

namun, tampilan dan panjang rangkaian kosakata di kronologi waktu berikutnya: "kuning" dan "hijau", menohok. tampilan bahasa yang singkat ini sangat "merusak" suasana yang terbangun di awal. tapi, justru di situlah letak pesannya. narasi kejadian yang ada pada waktu "kuning" dan "hijau" lah yang menjadi kelanjutan kisah dalam puisi ini. maka, bayangan yang saya punya ketika membaca bagian "merah", terjawab sudah. dan tidak mengejutkan sama sekali.

salam,
ginting

 gambar TOILET KATA
5

metafora yang sederhana justru membuat pesan puisi ini tersampaikan

kronologinya unik..

nice poem...

salam..