Ke Atas ^
  • ELEGI ROMANTIK

    merona merah wajah senja

    menatap senyummu merekah

    membiaskan nyala lampu dan sedikit harapan di sudut kamar

    dari sentuhan demi sentuhan jemarimu yang menari

    di gelinjang tubuhku.

    aroma wangi tubuhmu larut di udara sekitar kita

    desah napasmu memacu degup jantungku

    saat remasan tangan kecilmu meregangkan urat-urat nadiku

    dari pijatan ke pijatan

    cengkraman halus mengalirkan darah di sekujur raga rapuhku.

    usai pulihkan bugar fisikku

    perlahan...kaucoba merayu, berbisik, mengajakku bercumbu,

    “Sekarang kita lakukan yang lebih dari biasa!”

    seketika aku gugup terkesima, dengan ragu kujawab,

    “Tidak. Pijatanmu sudah lebih dari cukup. Terima kasih.”

    Lalu kaucoba membuka pintu ruang batinku yang masih terkunci,

    “Kita nikmati malam ini...”

    “Maaf tidak. Lebih baik kau pergi setelah kubayar jasamu.”

    “Mengapa? Kau jijik kepadaku?”

    “Tidak.”

    “Kau.. lelaki normal?”

    “Ya. Sekarang pergilah!”

    “Tidak.Malam ini aku ingin bersamamu. Menemanimu.”

    Kau paksa aku membenamkan dua pasang mata dalam kemesraan

    sandarkan dirimu di bahuku

    kau coba memetik buah cinta yang tak mungkin terpetik

    dari pohon norma peradaban

    renyah tawamu menggeletarkan hatiku

    menghanyutkan gelora derunya kepadamu

    rebah aku mabuk tersiram gairah asmara

    sementara di sebrang jendela,  di langit timur,

    kejora, dewi cinta, masih menyimpan rahasiamu

    yang tak usah orang tahu

    namun sekilas sayu liar tatap matamu seolah ingin berbagi cerita,

    kaupun mengajakku terbang ke sana untuk menyibaknya,

    “Siapa kau?”

    “Aku hanya perempuan hina, pelacur yang dari waktu ke waktu

    jatuh dari pelukan satu lelaki ke pelukan lelaki. Mengapa? Kau

    jijik kepadaku?”

    “Tidak. Mengapa kaujual diri?”

    “Untuk membayar hutang-hutang kakakku.”

    “Untuk apa lagi kaulakukan itu?”

    “Untuk membiayai sekolah adik-adikku.”

    “Untuk apa kaujalani semua itu?”

    “Untuk meringankan beban hidup kedua orang tuaku.”

    seolah kaujentikkan jarimu

    sekejap semua berganti menjadi simpati yang kupendam

    dan begemuruh di lubuk hatiku.

    dengan bijak kauungkap,

    “Kasih sayang itu sangat luas arti dan maknanya, jika kau-

    bentangkan ke dunia dan langit luas...”

    membuat lidahku semakin kelu bergetar dan tak bisa berucap

    (“Betapa mulianya kau.)”

    tetapi tiba-tiba kabut duka meredupkan pancaran wajahmu,

    dalam rintih tertahan kau mengeluh,

    “Sampai kapan aku bisa bertahan? Dalam kerja, dalam sakit,

    lalu menjadi sampah. Terbuang. Hingga satu per satu saudara

    dan teman pergi menjauh.”

    tegar kausimpan perih lembut luka

    di ruang hampa hatimu yang sepertinya kauharap segera terisi,

    meski dengan tanya meragu kepadaku,

    “Akankah aku menjadi kenangan manis untukmu? Biar hanya

    Setitik? Biar hanya sejenak di hidupmu?”

    aku hanya diam,

    tak mengerti harus bagaimana menjawab kenyataan

    dan tetap membisu sampai mengulum pertanyaan terakhirmu,

    “Apa kau punya hati? Perasaan?”

    lalu kaupun diam

    seakan terus berpikir, berpikir, dan berpikir

    sepertinya kau ingin menjerit keras-keras

    tapi tak pernah bisa, hanya bisa menelan marahmu dalam-dalam.

    malam panjang yang kita rajut berdua begitu cepat berlalu

    menyisakan gelisah pada rinai rintik hujan

    yang memisahkan bayang-bayang kecil kita di kegelapan.

    setelah kau pergi

    sepi membuahi kelam

    gundah menikami jiwaku yang lelah dan berbeban

    kutertegun, kepayang, galau tak berdaya

    tak ada sandaran untukku.

    sampai saatnya tiba kuinging obati luka

    meski nurani terlambat memberi arti

    membeli cintamu yang tak bisa kutawar di keranda waktu.

     

    Bandung, 5 Februari 2012.

     

                                                                      (Wahyu Barata)

     

     

     

     

     


    | Link | Dibaca 677 kali
memuat Disqus ...

Diatra Bulan Ini



Almanak