Geliat
(1 suara)
Selalu saja muncul rasa itu
apa ini akan menjadi perjalanan terakhirku
tatapan ini selalu berat berpaling
kota ini...
semua kenangan itu...
kenyamanan yg dijajakan...
tidak
aku harus bergegas beranjak dari selimutku
mau dibawa kemana...
setiap persimpangan itu buatku takut..
ingin kembali...tp aku tak kenal lg tempat itu
tak ada lg celah
ku coba terus melangkah dan coba tuk s'makin cepat
hingga akan sampaiku di lahan itu
lahan yg menahan kedua kakiku dengan liatnya tanah
yang akan membenamkanku perlahan di tempat peristirahatanku




kau berwisata tapi tak menikmati perjalananmu
kau tak bisa nikmati indahnya sekitar jika jalanmu terlalu cepat
kadang kau bertemu jalan terjal
kau harus menghadapinya
karna kau harus pulang
hmmm...
perjalanan tiada henti...
karena kita harus selalu berjalan
menuju sebuah tanah lapang
Secara kejiwaanpun (karena perjalanan menelusur ke tempat yang selalu baru jarang aku lakukan), aku merasa pemberhentian tertentu di pesisir arus membawa perasaan yang mengindikasikan ke-akhir-an, selesai.
dan tentang membayangkan kematian: mungkin itu bagian tak terpisahkan dari kehidupan. aku malah kadang berpikir, justru bayangan-bayangan kematian dan peristirahatan membuat 'kita' merasa hidup, merasa punya ruang bergerak yang disadari.
dan sadar, bahwa percepatan ke 'peristirahatan terakhir' bisa saja dilakukan setiap saat (kalau memang sel-sel kita terurai dan jiwa kita juga ikut terurai 'beristirahat'..