Ke Atas ^
  • Mengenal Akhmad Zailani & Puisi Puisinya

    SEKALIPUN kurang dikenal, sastrawan asal Kalimantan Timur ini juga memiliki karya puisi dan cerpen, yang tak kalah dengan penyair dan penggarang senior lainnya. Puisi puisinya kerap kritis, menusuk tajam ke pemerintah, namun di bagian lain, puisi ketuhanannya juga tak kalah bagus dengan puisi puisi sastrawan Indonesia lainnya. Aktifis wartawan ini lebih banyak mengirimkan karyanya ke media media cetak ke daerah yang dekat dengan daerahnya, yaitu Sabah, Sarawak, Malaysia. Bersama dengan sastrawan Malaysia, Brunai Darussalam, Singapura, Thailand yang terhimpun dalam penyair serumpun Borneo, dia mempelopori “Dialog sastra Borneo” (Indonesia, Malaysia dan Brunai Darussalam). Sudah ada 2 buku, yang dibuat perhimpunan sastrawan Borneo plus ini. Yaitu Kitab puisi Suara 5 Negara (Indonesia, Malaysia, Brunai Darussalam, Singapura, Thailand) dan antologi cerpen pilihan terbaik 2012, Aminah Sjoekoer di Atas Kapal Nederland. Siapa Akhmad Zailani? Akhmad Zailani dilahirkan di Samarinda Kalimantan Timur, 24 Pebruari 1969. alumnus Fakultas Pertanian Universitas Mulawarman Samarinda. Menulis sejak sekolah dasar. Puisi dan ceritanya pertama kali dimuat di majalah anak Bobo dan Kuncung. Ketika remaja, cerpennya pernah dimuat di majalah Anita Cemerlang, Aneka dan Hai. Sambil kuliah sempat bekerja sebagai wartawan majalah FAKTA Surabaya. Sempat berpindah-pindah sebagai wartawan hingga sempat menjadi redaktur pelaksana Surat Kabar Harian (SKH) daerah. Di antaranya SKH Suara Kaltim, SKH Poskota Kaltim, SKH Kaltim Times dan SKH Matahari Kaltim. Hingga akhir tahun 2001, mengelola media sendiri yang bernama tabloid Habar Samarinda Baru. Tabloid Habar Samarinda adalah Koran yang sebelumnya dikelola bagian Humas Pemerintah Kota Samarinda (Pemkot) sejak tahun 1970-an. Bekerja sama dengan Humas Pemkot Samarinda, tabloid Habar Samarinda Baru terbit hingga tahun 2010. Wartawan senior Kaltim H Oemar Dachlan sempat membantu menyumbangkan artikel untuk media ini. Selain Habar Samarinda Baru, dia juga sempat membuat majalah Metro, yang terbit bulanan dan hanya sempat bertahan 5 tahun. Tabloid Info, kerjasama dengan Dinas pendapatan Daerah Kota Samarinda. Tabloid lainnya, yaitu tabloid kegamaan Qalam dan tabloid Qolbu dan banyak media cetak lainnya. Di majalah dan tabloid yang didirikannya, Akhmad Zailani merangkap jabatan Pimpinan Umum dan Pimpinan redaksi. Selain aktif dengan koran sendiri, juga sempat membantu menerbitkan lahirnya Koran Sentawar Post (Koran Kabupaten Kutai Barat) yang didirikan Korrie Layun Rampan (alm), yang saat edisi awalnya dicetak di percetakan Suara Kaltim. Selain menulis berita, artikel, juga sempat menulis cerita bersambung di SKH Suara Kaltim. Di antaranya, Opera Pak Karto (1997), Ah (1997) dan Dinasti Su Hat Su (1998), cerita silat politik, dengan latar belakang pemerintahan Presiden Soeharto, saat runtuthnya era orde baru. Puisinya selain dimuat di Koran harian daerah Kalimantan, juga dimuat di SKH Utusan Borneo, Sabah Malaysia. Puisi-puisinya di antaranya dimuat dalam buku antologi puisi penyair 5 negara Sinar Sidiq yang diterbitkan sempena Mahrajan Persuratan dan Kesenian Islam Nusantara 2012 di Membakut Sabah pada 8-11 Februari 2012, Kepada Sahabat (antologi puisi Malaysia, Brunei Darussalam, Indonesia, yang diterbitkan Dewan Bahasa dan Pustaka Cawangan Sabah), kitab puisi Suara 5 Negara (prakata Korrie Layun Rampan), antologi puisi Negeri Sembilan Matahari (Sastra Welang Pustaka, Bali 2013) dan Langit Terbakar Saat Anak-anak Itu Lapar (Sastra Welang Pustaka, Bali 2013) . Cerpennya dijadikan judul buku 22 Cerpen Borneo Pilihan 2012; Aminah Sjoekoer di atas Kapal Nederland (Metro, 2012) bersama pengarang Malaysia dan Brunei Darussalam. Cerpen direktur LSM Lembaga Informasi Kerakyatan (LINK) ini bisa dibaca di buku;Kalimantan Timur dalam Cerpen Indonesia (editor Korrie Layun Rampan, ), antologi cerpen jurnalis Kaltim, Para Lelaki (Sultan Pustaka, 2010 ), antologi cerpen Semangkuk Nasi dan Presiden (Sastra Welang Pustaka, Bali 2013). Selain buku sastra, juga menulis buku lainnya sejarah, politik dan lainnya, di antaranya Wajah Parlemen Samarinda (diterbitkan oleh DPRD Samarinda, 2006), Catatan Kecil Tentang Kerja Besar Achmad Amins membenahi Samarinda (Pemkot Samarinda, 2005, Melawan Banjir di Kota Air (Pemkot Samarinda) dan buku-buku lainnya. Samarinda (Pemkot Samarinda, 2005, Melawan Banjir di Kota Air (Pemkot Samarinda) dan buku-buku lainnya. Lelaki yang juga menjabat sebagai Ketua Forum Kepedulian Kota (Forkkot) Kalimantan Timur ini pernah memiliki prestasi. Di antaranya mendapat penghargaan dari Perpustakaan Kalimantan Timur, sebagi Juara pertama dalam lomba menulis resensi buku memperingati Indonesia merdeka (1995), Juara Pertama lomba menulis cerpen daerah, yang diselenggarakan Dharma Wanita Kaltim (1996), Juara ke 2 lomba tulisan popular tentang lingkungan hidup, yang diselenggarakan VICO (1995), juara ke 2 lomba menulis puisi lingkungan hidup yang diselenggarakan AMPI Kaltim (1996), juara pertama lomba karya ilmiah yang diselenggarakan BKKBN Kabupaten Kutai (1995). Puisi puisi Akhmad Zailani di antaranya, yaitu : SEPERTI ANJING ANJING LIAR TERPERANGKAP oleh : Akhmad Zailani tak ada yang berbeda dari kita kadang seperti anjing anjing liar yang terperangkap di dalam penampungan dan dikurung dalam kandang tak bisa keluar dan terus menggonggong kadang juga seperti ikan ikan yang berenang ke sana kemari dikurung dalam akuarium dan berdoa semoga ditempatkan di lautan yang luas kita kurang lebih sama saja tanah hidup yang kerap menyimpan anjing anjing yang menggonggong di mulut busuk yang terbiasa memelihara kerbau kerbau di kepala kita rajin memberi makan ular ular yang mendesis desis dari kedua telinga merawat tikus tikus di dalam kedua lubang hidung dan melahirkan mereka melalui dubur anjing anjing ular ular atau tikus tikus sama memiliki cinta berbeda cara mengungkapkan anjing anjing ular ular tikus tikus sama membunuh tapi berbeda tujuan tak ada yang berbeda dan sama saja tidak menggunakan otak untuk memikirkan-Nya tidak menggunakan hati untuk mencintai-Nya atau tak menggunakan tangan untuk meraba-Nya dan kaki kaki tak melangkah di jalan-Nya tak ada yang berbeda dan sama saja bila cara mengungkapkan dan tujuan hidup seperti binatang bahkan terperangkap di dalam kandang seperti anjing ajing liar yang mencari jalan keluar AWAN YANG MEMBENTUK GELOMBANG BABI awan awan bergerak gerak disetubuhi angin membentuk adegan per adegan cerita tentang drama istana sekalian sandiwara gedung perwakilan yang membentuk gelombang babi kau awan sekaligus babi babi itu kau memakan kotoran sendiri bangkai kursi kedua hampir habis dijilati dan dilahap tapi tak ada yang berubah juga ya, janji tergeletak di tanah dan dijilat jilat kembali lalu aku mau apa? lalu aku bisa apa? aku tetap saja dijadikan biduk kecil yang dipermainkan gelombang besar aku biduk dan kau gelombang dan aku tenggelam kau tertawa kau tiada henti menjadi gelombang babi yang dibentuk dari awan awan dan terus saja memakan kotoran sendiri BABI YANG BERKELIARAN DALAM DIRIMU I Kau tak hanya memelihara babi di banyak bagian kandang dalam dirimu tapi kau telah menjadi babi itu sendiri tapi kau telah menjadi babi itu sendiri dan yang aku takutkan adalah kelak kau akan melahirkan babi dari otak melalui pikiranmu. dari mulut melalui perkataanmu. dari telinga melalui melalui pendengaranmu. dari mata melalui penglihatanmu Setelah babi babi itu kau lahirkan akan semakin banyak lah babi babi yang berkeliaran. Itu yang aku takutkan. II bayi babi yang dilahirkan dari mulut, mata, telinga, hidung sudah berkeliaran di berbagai tempat. tidak menunggu besar masuk melalui pikiran dan kemudian dilahirkan kembali melalui mulut, mata, telinga, hidung. babi babi terus berkembang biak tak hanya memakan kotorannya sendiri, tapi juga memakan sel sel otak. babi juga memakan suara, memakan penglihatan, memakan pendengaran, memakan penciuman semua sudah dimakan babi termasuk dirinya tapi babi babi belum mati juga. III kau bertanya, “apakah babi babi itu juga sudah memasuki eksekutif, legislatif yudikatif dan lembaga lembaga lain?” aku tak menjawab, karena aku tak ingin kau ikut menjadi babi aku tahu pertanyaanmu hanya untuk menyakinkan saja babi memang sudah berkeliaraan di mana mana termasuk di dalam dirimu dan aku tak ingin mengatakannya kepadamu. TENTANG DAUN DAUN YANG MERINDUKAN HUJAN Daun daun merindukan hujan bukan berarti membenci kemarau daun daun rindu dengan jari jemari hujan yang menyentuh dan mengajaknya menari kemana hujan, kok lama tak datang. tidak lah mungkin hujan merajuk, hujan tak seperti itu. atau awankah yang merajuk sehingga angin mengusir jauh jauh,” daun daun sedih. daun daun sudah hampir mati rindu tapi hujan kok belum datang datang juga “kemana hujan, kemana hujan?,” daun daun berteriak teriak bila kali ini hujan datang, daun daun tak ingin sekedar menari. daun daun ingin mendekap lama lama sambil melepas pelan pelan tangan jari jemari hujan bila kali hujan datang, daun daun ingin lebih banyak mendengar cerita dari hujan tentang cerita langit tapi kok hujan lama sekali datang? daun daun sudah mati rindu AKU INGIN MENGAJAK KAU KE HUTAN I I Aku ingin mengajak kau ke hutan. Berkelana menulis puisi yang indah. Puisi tentang hutan. Mumpung belum punah. Sekalipun keindahannya hanya sedikit. Tentang pohon pohon yang kita lihat di sepanjang langkah. Jangan takut ada harimau, ular, beruang atau binatang buas lainnya. Ada aku. Aku bisa menjadi lebih dari harimau untuk membunuh harimau atau aku bisa lebih menjadi ular dan beruang untuk membantai ular dan beruang. Untuk mengusir rasa takut kau. Tapi tentu saja, binatang binatang itu sudah tak ada lagi. Orang orang telah memelihara di dalam diri. Ya, aku berharap di dalam hati. Bila aku dan kau beruntung; kita akan mendapati kupu kupu yang terbang , mungkin akan ada bunga anggrek hutan, yang tumbuh liar di antara pohon pohon besar, yang aku pun tak tahu namanya, lalu kau berteriak girang ; “ oh indahnya”. II Seorang kenalan menawarkan kelezatan hutannya. Mungkin dia bercanda. Mungkin masih hutan. Tapi aku kurang terpikat, dan berpikir; hutan dia, hutan ku dan hutan kau, tidak berbeda jauh. Sudah dijamah. Aku dan kau memang bisa saja mencari hutan di daerah lain, berkelana untuk menulis puisi. Mencari kupu kupu dan inspirasi pun muncul berterbangan ke luar lewat telinga, mata dan mulut. Tapi cukup lah sementara hutan yang ada di pikiran ku saja. Atau hutan di kepala kau saja, yang belum dijamah. Tapi tidak menutup kemungkinan, bisa saja kita diam diam sambil mengendap ngendap menengok hutan kenalan itu, lalu merasakan aromanya. Seperti menghirup secangkir kopi nikmat di hari dingin dan kita rasakan perbedaannya ; “oh lezatnya” III Hutan perlu buru buru diubah menjadi puisi, karena mimpi mimpi dari tidur aku dan kau tentang hutan telah habis dimakan babi babi, yang berdatangan dari jauh. Hutan perlu segera diberi sayap, agar segera terbang bersama kupu kupu, dan tidak merasa kesepian. Karena kupu kupu bukan sepenuhnya asesoris hutan. Bila suatu ketika aku dan kau beruntung, akan ketemu kupu kupu yang terbang bersama hutan hutan secara terpisah. Bila hutan sudah beterbangan, babi babi hanya bisa memakan kotoran sendiri secara berulang ulang, tiada habis. Hutan hutan berterbangan, bersama kupu kupu, lalu ada bunga anggrek yang menuliskan harapan di pohon pohon besar, dan kau pun terkagum kagum melihatnya;” oh mari buru buru kita lukis kenangan” IV. Tapi terlambat. Aku dan kau gagal membungkam waktu. Babi babi tak bisa ditahan, terus berdatangan seperti hantu. Mungkin berkendaraan angin. Tidak tampak, namun terus mencukur hutan hingga botak. Kau pun menangis sejadi jadinya. Hutan hutan beberapa di antaranya tak sempat diterbangkan. Hutan hutan yang tak sempat diberi sayap, lenyap dimakan babi babi hingga tak bersisa. Bukan sekedar mati. Bahkan hingga ke dalam jantung hati. Tersisa galian lubang lubang besar seperti mulut raksasa. Air mata kau menetes, tertampung di dalam lubang yang telah memakan anak anak pewaris mimpi mimpi aku dan kau. Lalu dari lubang lubang berlarian babi babi. Kau pun makin menangis sejadi jadinya. “ Oh …” CERMIN BERDEBU ::kepada Akhmad Zailani Akhmad, masih saja kau seperti itu ; hilir mudik ke hulu ke hilir. kau seperti terburu-buru, mengejar sesuatu dengan kepala penuh batu. kau selalu memohon-mohon sorga kepada Tuhan . tapi kau takut mati dan tidak takut sama Tuhan. kau berharap didoakan ; semoga kau tenang di sorga-Nya? sementara kau enggan mati dan masih saja sibuk hilir mudik ke hulu dan ke hilir Akhmad, kau takut pada Tuhan? tapi kenapa bersujud hanya sesekali? kenapa kau tidak mematuhi perintah-Nya. aku tidak mencampuri urusan kau dengan Tuhan atau urusan kau dengan ciptaan-Nya yang lain. aku tak bilang kau sungguh rakus; mau sorga di bumi mau pula sorga di akhirat. aku hanya mengingatkan kau untuk merenung diri. Akhmad, aku tahu, kau pasti akan beralasan begini; “Tuhan itu Maha Pemaaf, dan nanti juga semua akan dimasukkan ke sorga”. begitu mudahnya. apa sebenarnya yang kau cari? sorga di bumi, dengan harta yang banyak sekali. atau wanita yang cantik sekali agar nafsu bisa terpuaskan. atau kekuasaan yang banyak sekali agar kau dihormati dan disembah-sembah seperti Tuhan? bila itu yang kau inginkan, sungguh kasihan. ternyata kau tak merasa memiliki apa-apa. memiliki Tuhan sekalipun. Sajak Ramadan Puisi : Akhmad Zailani Aku kotor dan hidangan ramadan-Mu tersaji ketika pintu pintu rahmat dibuka dan pintu pintu neraka ditutup terimalah puasa mataku agar baik melihat Mata-MU terimalah puasa telingaku agar baik mendengar Suara-MU terimalah puasa hidungku agar baik mencium Wangi-MU terimalah puasa mulutku agar baik menyebut Nama-Mu terimalah puasa tanganku agar baik menyambut Hadir-Mu terimalah puasa kakiku agar baik melangkah di Jalan-MU terimalah puasa pikiranku agar baik selalu mengingat Diri-Mu terimalah puasa kelaminku agar baik merasakan Nikmat-Mu terimalah puasa hatiku agar baik merasakan Cinta-Mu terimalah puasa semua yang ada di diriku agar bisa mendekap erat Diri-Mu Aku kotor dan hidangan ramadan-MU tersaji ketika pintu pintu rahmat dibuka dan pintu pintu neraka ditutup berkahi mataku lewat puasaku berkahi telingaku lewat puasaku berkahi hidungku lewat puasaku berkahi mulutku lewat puasaku berkahi tanganku lewat puasaku berkahi kakiku lewat puasaku berkahi pikiranku lewat puasaku berkahi kelaminku lewat puasaku berkahi hatiku lewat puasaku dan berkahi semua yang ada didiriku memang tidaklah bersih sempurna dan suci sempurna mohon pelukkan diriku bawalah ke Ramadan-Mu lagi, untuk kembali mandi dengan air ramadan-Mu agar sejuklah diri dan hatiku untuk siap bertemu dengan diri-MU Samarinda, 13 Ramadan 1437/18 Juni 2016 Puasa Puisi Puisi : Akhmad Zailani puasa puisi ada yang makan nasi tampak kaki di siang yang basi mengaku puasa sama mami papi tak tahunya makan sembunyi sembunyi di warung yang sepi ini bulan suci jaga hati jangan biarkan hati berdaki buang sifat iri dengki atau masukan dalam laci dikunci rapi Ini bulan suci jangan persulit birokrasi mulut penuh tahi karena caci maki wajah penuh tahi karena senyum telah mati ini saatnya berhenti untuk merehabilitasi diri puasa puisi ini bulan suci jangan tidak tahu diri perbanyak berbagi jangan makan sendiri saatnya mulai berhenti untuk tidak lagi korupsi Samarinda, 13 Ramadan 1437/18 Juni 2016

    | Link | Dibaca 810 kali
memuat Disqus ...

Diatra Bulan Ini



Almanak