Ke Atas ^
  • Bukan Sajak Menye-Menye

    Jika sebelumnya aku

    menulis sajak menye-menye, kini

    aku ingin menuliskan sajak yang tidak

    menye-menye.

    Aih, kasihku.

     

    Ah! Persetan dengan sang rembulan!

    Persetan dengan puisi cinta!

    Persetan dengan senja yang luruh!

     

    Aku tengah mendekap

    gelas berisi alkohol

    Di sisi lain, aku ingin mendekap tubuh indahmu

    yang hangat bagai

    sinar matahari telanjang

     

    Ah! Apalah yang baru saja kutulis itu!

    Bukankah itu adalah kata-kata menye-menye?

     

    Baiklah.

    Aku tidak akan mengulanginya lagi!

     

    Kasihku,

    aku tidak akan bermenye-menye lagi

    Kini aku akan berubah menjadi

    seorang bajingan yang mengumpat: bajingan!

     

    Aih! Kau mulai merengut, sayang...

    Bukankah itu yang menjadi kehendakmu,

    wahai dewi di ujung nafasku?

    Dulu kau bermimpi:

    Terbang melintasi awan-awan kelabu dan

    senja di awal petang.

    Sejujurnya, aku tak mau

    menjadi Gatotkaca; aku ingin

    memapas dedaunan yang rindang

    sambil mencumbui waktu bersamamu

    tanpa memikirkan bagaimana

    merebut sayap-sayap malaikat,

    lalu berenang mengarungi samudra hatimu.

     

    Bajingan!

    Bukankah itu juga menye-menye?

    2017


    | Link | Dibaca 66 kali
memuat Disqus ...

Diatra Bulan Ini



Almanak