Oleh kawan AL, Kamis 05-03-09 00:41
Could
The meaning of being 'good'
be complete in-it-self
and
avoiding
that of being 'evil'?
Could one stand
without
another?
(1 Apresiator)
Could
The meaning of being 'good'
be complete in-it-self
and
avoiding
that of being 'evil'?
Could one stand
without
another?
Menurut saya, puisi kawan AL ini menawarkan satu kegelisahan tentang kesalingrasukan akan hal-hal yang menjadi pembangun dunia. Bermain dengan kata (bahasa) memang dapat menjadi cara asyik untuk menalar masalah kebertautan makna. Maklum, dunia hal terejawantahkan, salah satunya, lewat alat sambung-wicara manusia: bahasa.
Lema inggris 'good' dan 'evil', pada hemat saya, saling menentukan makna masing-masing. Kendati secara pribadi saya kurang begitu sreg dengan pemilihan 'contoh' yang ditawarkan kawan AL, karena saya sendiri saja yang malas melihat lema-lema yang berbau budi-pekerti itu, namun harus saya akui kawan AL cukup sederhana dan cerdik dalam memilihnya. 'Good' dan 'evil' adalah dua lema yang tak pernah rompal habis dibahas.
Nah, saya ingat dulu pernah bersilat-lidah seru dengan kawan AL: perihal sambung-pikir tentang 'Bentuk dan Isi dalam Karya Sastra'. Silat-lidah itu sudah lewat hampir setahun lalu, kalau tidak salah. Saat itu kawan AL juga terlihat, setidaknya dari tabiat tutur yang dibawakannya, sangat gelisah (dan mungkin cenderung gerah), atas penyekatan makna yang kaku.
Saya mahfum dengan kegelisahan kawan AL. Saya sepakat bahwa tak ada satu pun hal yang dapat memiliki makna sendiri tanpa terkait dengan sesuatu apapun. Semangat pemikiran yang cenderung memecah-mecah penalaran ke dalam laci-laci kecil yang tak saling berhubungan, menurut saya, membuat orang menjadi mendewakan 'titik berat' alias 'titik pusat', dan khilaf lupa pada unsur pembentuk yang sahih hadir. Bagaimana kita bisa meyakini sesuatu itu 'baik', misalnya, kalau kita tidak punya rincian makna tentang nalar 'buruk'? Bahkan, tidak musti kosokbali macam ini saja yang memunculkan bau kesalingterkaitan. Saya berani bilang kalau semua hal bergantung pada hal lainnya. Ini yang membuat saya yakin bahwa puisi gelisah kawan AL memecah pusat, tersenyum pada rincian renik. Interaksi macam ini akan membuat sebuah kesalingtergantungan yang asyik untuk dihidupi. Semua jadi adi, maka semua juga bukan adi.
Akh, kalau begini, saya jadi ingat kucing bernama 'asu' yang saya dan teman-teman sekontrakan pelihara sejak sekitar dua bulan lalu.
Salam,
Ginting