Lamunan Kebencian Yang Bodoh?
Coba Kau tanyakan kepada rumput yang kau sabit semalam...
Apa yang kau goreskan memotong hijau kemansyurannya...
Tanyakan Padanya “Apa Rasanya?”
Coba Kau dengarkan gumaman nyamuk yang menyengit...
Ketika kau tepuk badan kecilnya yang beterbangan...
Dengarkan darinya “Suara Rintihnya?”
Coba kau lihat ke lintah yang kehausan...
Saat ku beri ia segumpal garam yang memutih bersinar...
Lihat kearahnya “Apa yang dia lakukan?”
Begitulah lamunan bodoh yang kurasakan, kubayangkan, kukhayalkan, kuimpi-impi sebelum ku goreskan sebuah atau beberapa kebencian pada nya yang akan menangis nanti...
Karena kebodohan lamunan lah yang menyadarkan...
Aku tak harus menangis demi Keperihan, Kebencian, dan Kemelaratan...
Karena kebodohan lamunan lah yang menyadarkan...
Aku tak harus memiliki, walau perih mengujam terus berkala...
Karena kau harus tau lamunan bodoh itu yang mewakili hati ini...
Seperti Rumput yang tersabit semalam...
Seperti Nyamuk yang tertepuk berdarah...
Seperti lintah yang mencair kesakitan...
Biarlah...
Biarlah tangis kencian ku puas meluluh lanta pada mu yang tak pernah sadar...
Biarlah...
Ku tunggu hatimu menjadi dewasa dan wajahmu menua...
Biarlah...
Aku mati terterkam kejam mu yang meraga...




wjahmu bagai rembulan
yang menyerap cahya mentari
dikegelapan malam
yang gulita
suaramu bagai pasir pantai yang lembut
menyentuh hingga lubuk hati
karna kata-katamu yang lembut
bagai salju di gunung puji
namun hatimu bagai sebongkah tanah
yang renta dimakan usia
lumpuh tak bertulang
andai hatimu seterang wajahmu
seindah eloknya wajahmu
selembut suaramu
semua lelaki kan tunduk padamu
memohon cinta darimu
mendampa hadir dirimu
di setiap kealfaanmu
biarkan wanita shalehah
mengisi bumi ini
sebagai hiasan dunia
meski hanya yang fana