Kepada Puisi
aku menulismu sebagai pecahan zaman,
kau adalah yang berkeping-keping,
yang berserak tak sempat berarak,
aku memamerkanmu disatu sudut terasing,
yang tak diinginkan terlihat
atau sekadar ingin diingat,
seperti pemberontakan senar putus di satu resital biola,
seperti lupa naskah di satu peristiwa teatrikal,
aku menulismu sebagai pecahan zaman,
karena kau tragedi adanya,
yang tak ingin terlihat,
atau sekadar ingin diingat,
tapi aku ingin menulismu
sebagai tragedi yang utuh, hai puisiku!



