konvolusi dua hati
elemen kecil cinta yang terserak dalam luasan tertutup kehidupan tak mungkin bergerak diluar teori medan. begitulah tentang semua benda yang pernah kita jadikan tanda akan adanya rasa. bahwa nyatanya, sayang memang bukanlah lintasan lurus tanpa jeda. bahwa nyatanya, ada ketidaksetiaan yang pernah hidup disana. tidak seperti lintangan fajar shaddiq yang tak lekang mengingatkan dua raka'at shubuh bagi umatnya, atau dentangan genta menemani kidung kemuliaan yang menjadi tanda bahwa ekaristi mulai menyapa.
pergeseran tentang makna cinta imbas dari putaran hidup yang semakin cepat, atau cakupan sabar yang rasa rasanya berskala logaritmik dimana semakin jauh akan semakin menyempit adakah menjadi satu satunya setapak untuk berjalan dengan sepasang kaki yang telah sama sama terluka. mungkin ini konvolusi dua hati, tapi benarkah akan menjadi konklusi tentang aku dan kamu yang harus berakhir di sebuah irisan himpunan hati yang diatasnya aku memanjat tiang pancang, melihatmu pergi



