Mak !
Mak !
mak, jangan sekali kau berani lahirkan aku kalau kau melarat
kalau nasi dipiring tak cukup untuk berdua dengan suamimu
tak perlu kau ucap 'pak, ingin aku beranak'
pak, pasang kondommu erat
kalau gaji bulanan terhitung minus oleh tagihan
simpan rapat bayang memberi cucu pada ibumu
dengan tumbal kelahiranku
mak,
jika banyak anak banyak rejeki
mana mungkin panti asuhan jatuh melarat di negeri ini
pak,
jika anak titipan ilahi
mengapa tuhanmu biadab mencabut nyawa
gara gara sebagian daripadaku hidup kekurangan gizi?
beruntung jika dalam kepengapan gang
aku jadi preman
ikut rusuh, mati kebacok klewang
tapi tak kah bertanggung jawab engkau, mak
jika kemiskinan itu membebalkan pikirku
ikut laskar petamburan serasa ahli waris khayangan
atau keluar malam perkosa perawan di pinggir jalan
pak, tidakkah kau pikir jika kau kuli
akupun hidup tak jauh dari cara kuli
dan undang undang negeri ini hanya mimpi
mereka memayungi pengusaha, politikus,
tapi bukan kuli, apalagi aku anakmu pak,
anak kuli
mak, ibumu bebal
dan tak heran kaupun bebal
juga kau, pak,
bapakmu bebal
tak heran kaupun bebal
dan jangan aku kau ciptakan
untuk sekedar meneruskan kebebalan kalian
aku sudah enak disini
tak perlu lahir
hidup dalam timangan tuhan
(yang semoga tidak juga ketularan bebal, berumat seperti kalian)




Salut oy buat kamu kang!
Nak, salah siapa bapak-mamakmu itu miskin?
penggunaan lema "bebal" pada puisi ini cukup menarik karena lema ini seperti menandakan kesadaran. ya, kesdaran bahwa "kebebalan" ini bukan sesuatu yang datang begitu saja. terlihat ketika si karakter anak mempertanyakan "kebebalan"-nya pada bapak ibunya. dengan gugatan si anak bahwa ia sadar akan adanya semacam struktur tak terlihat yang membuatnya demikian (bebal) karenanya ia bertanya pada dua orang yang paling bertanggungjawab pada kehadirannya di dunia. dua orang yang tidak hanya membentuk kebebalan si anak namun juga sebenarnya juga merupakan korban dari kebebalan struktural ini. kesadaran si anak ini menjadi kekuatan utama puisi ini, karena dengannya puisi ini membantu para penikmatnya terus mempertanyakan kebebalan dalam masyarakat yang nantinya pada satu titik akan mempertanyakan sistem dan membuat perubahan pada sistem pembebalan ini.
Ciamik kawan Alwi! Kau telah memprosakan dengan sistematis apa yang kutulis sebagai komentar awalku terhadap puisi 'Mak!' ini.
akupun hidup tak jauh dari cara kuli
dan undang undang negeri ini hanya mimpi
mereka memayungi pengusaha, politikus,
tapi bukan kuli, apalagi aku anakmu pak,
anak kuli
bait ini adalah gerbang menuju apa yang kau sebut dengan 'strukutur' alias bangunan kemiskinan itu. Sebuah keadaan yang akhirnya mewujud lewat imbuhan 'di-kan' (di-miskin-kan). Kalimat kuncinya: 'undang-undang negeri ini hanya mimpi...'. Aku rasa puisi ini sudah menjawab pertanyaan penceritanya sendiri.
yang menarik perhatianku adalah pembalikan kronologi yang terjadi di bait akhir, bila dibandingkan dengan bait awal.
bandingkan dengan,
tak perlu lahir
hidup dalam timangan tuhan
Si pencerita ini, seakan-akan sudah pernah lahir. Dia bercerewetan dengan 'mak' dan 'pak'-nya yang sebenarnya mungkin masih calon saja. Aku sempat berpikir bahwa si anak ini 'belum lahir', karena dia sendiri bilang sudah 'enak disini' dan 'tak perlu lahir' --> (tapi!) kalau mak-nya melarat.
Keanehan bertambah parah ketika muncul kalimat ini:
anak kuli
Nah, lho! Dia sudah lahir apa belum, sih? Di satu sisi seakan-akan sudah sangat jelas bahwa si pencerita ini punya mak dan pak yang jelas. Tapi akhirnya dia mengaku
tak perlu lahir
hidup dalam timangan tuhan
Di luar itu, puisi 'Mak!' jelas sekali juntrungannya.
Aku juga mengendus bau 'narsisisme' dari tokoh pencerita itu, dia memposisikan diri benar-benar seperti 'calon jabang bayi tak berdosa yang murni dan bersih'. Tokoh mak, pak, undang-undang, politisi, dlsb, dicitrakan sebagai yang 'buruk-rupa'. Menariknya, orok yang suci bersih ini tahu dan mampu memaparkan banyak fenomena-fenomena kehidupan: dari kemiskinan, panti asuhan, semboyan Jawa 'banyak anak banyak rezeki', sampai konsep tuhan yang berumat.
Untuk tokoh tuhan, aku melihat ada kemenduaan juga. bandingkan:
mengapa tuhanmu biadab mencabut nyawa
gara gara sebagian daripadaku hidup kekurangan gizi?
dengan,
tak perlu lahir
hidup dalam timangan tuhan
(yang semoga tidak juga ketularan bebal, berumat seperti kalian)
Kontras sekali kelihatannya. Kalau tokoh tuhan di bait 4 itu sama dengan yang di bait akhir, bisa jadi timbul ketaklogisan. tapi, malah bisa jadi logis sekali. Bukankah tuhan itu memang begitu? Mahasegala kecuali mahasiswa. Ha-ha-ha...