Riska in Memoriam

 gambar Hakim
0
Penilaian Anda: tidak ada

Hidup itu selalu pilihan, kata seorang ustad.
Pilihan antara baik dan buruk, dan seterusnya.
Kita paham, Ustad harus seperti itu, mengingatkan tentang surga dan neraka, mengingatkan tentang pilihan.

Tapi hidup tidak selalu pilihan. Seringpula tragedi.

Riska, 7 tahun, tidak punya banyak pillihan dalam hidup.
Ia tidak memilih hidup dengan Om Ambo Ase yang bejat, yang sering memerkosanya berkali-kali.
Terakhir, si om menggunakan jelantah ke kemaluan dan duburnya. Memerkosa dan menyodominya berkali-kali.

Riska memilih untuk berteriak, tapi mulutnya dibekap dengan guling kecil.
Hidup tidak selalu pilihan, ustad.

Karena kesakitan, ia mengerang.
Apa lagi hak anak kecil, yang telah diperlakukan begitu rupa, selain mengerang?
Mungkin dalam erangannya, ia berdoa, meminta keadilan.

Tapi erangan itu berisik. Ibunya, Idawati, naik pitam.
Dalam rumah yang begitu sempit, setelah bertengkar dengan suaminya. Amran yang sering mabuk, ia marah dan membentak Riska, menyuruh diam.

Apa Riska memilih, hidup dengan Ayah pemabuk dan ibu tak sabaran, dalam rumah yang sempit ?

Erangan, merupakan hak terakhir Riska. Tapi itu pun direnggut.
Saat ia terus mengerang, keperihan,
Idawati pun pitam.

Ia mencekik, merenggut hak terakhir gadis itu, hingga Riska mati.
Tapi ia tak peduli, dilanjutkannya tidur, hingga esok pagi.
Mayat Riska pun, terlalai semalaman.

Tapi aku sedikit lega, Ika mati,
setidaknya Tuhan akan memberi apa yang tak ia terima saat hidup.
Januari 2006

Lalu, di mana, letak pilihan, dan keadilan
saat kebanyakan kami, sudah lupa.

Kami tak lupa, ika.
Kami tak diam,
dan Kami tak hanya menulis.

 gambar brilian kusuma ardi

aku suka ini, engkau ajarkan hidup juga digariskan.