Seorang Kawan, Si Anak Elang

 gambar Hakim
0
Penilaian Anda: tidak ada

Kawan, kita tahu, tidak ada legenda yang hidup, dan nyaman, di satu tempat.
Kita ingat Che, Soros, Tan Malaka, atau legenda lain yang bisa kita baca di biografi lusuh atau rapi berplastik. Rasanya, tidak ada satu pun yang hidup nyaman, di satu tempat, pada masa mudanya.
Mereka perlu pergi, mungkin ke Amsterdam, mungkin ke tempat lain.

Tapi mungkin, kita tidak perlu jadi legenda, yang hidupnya amat melelahkan itu.
Namun, saat Tuhan beri pilihan, jadi ayam atau elang, mengapa pilih ayam ?
Untuk berputar-putar sekitar kandang, mematuk-matuk pada pagi-siang-sore, kembali ke kandang, lalu bertelur untuk diambil ?
Si ayam, pada akhirnya, berakhir di sebilah pisau dapur: digorok, dipotong-potong, untuk disantap di meja makan.
Bagian terburuknya, semua keturunan bernasib sama: dieksploitasi oleh kekuatan yang tidak ayam mengerti.

Jika Tuhan beri pilihan, kita tidak boleh menjadi “ayam”.
Para mediocre yang puas dengan hidup, tapi tidak pernah bersyukur dengan bagian dan pekerjaannya. Terus mematuk-merutuk, pagi-siang-sore, mengisi tembolok-gondok.
Para mediocre yang nyaman dengan hidup lalu berakhir dieksploitasi tuan.

Kawan, kita, berharap jadi legenda.
Mereka yang tahu di mana tempat hidupnya. Mungkin tidak selalu di atas, bisa juga di toilet, tapi selalu dengan dedikasi. Penjaga toilet yang menggosok kuat-kuat lantai pispot hingga terkenal bersih, melegenda.

Kita berharap jadi elang, kawan.
Elang yang tahu, meski sarangnya hangat dan nyaman, ia harus terbang juga.
Mungkin ke Amsterdam. Mungkin ke tempat lain.

Dan kawan, seperti kita, semua legenda punya rasa takut.
Toh Che harus merunduk juga saat ditembak tentara Batista.
Ia toh menyerah hidup-hidup, untuk dieksekusi, di Bolivia.

Kita punya takut kawan,
Tapi, seperti elang, kita tahu peran kita.
Tanggung jawab bukan soal diri sendiri, tapi, terutama, untuk bangsa ini.
Cukup tak cukup, itu harus cukup untuk menghapus takut.

Dan kawan, tidak ada legenda yang terlalu banyak bermain.
Mungkin, 30an tahun lalu, saat si Boy, Catatannya, dan sutradara Nasri Cheppy membuat film,
kalimat “baru pulang dari sekolah di Amerika” cukup membuat lunglai lutut Tante berkonde dan Om berkumis yang berharap jadi mertua.
Tapi si Boy tidak lebih dari si Emon, yang terlalu banyak bermain-main.
Dan sekarang, kalimat seperti itu akan menjadi bahan lelucon dan mengundang pertanyaan “apa hasilnya?”.

Namun kawan, legenda juga melakukan salah.
Sumitro ikut PRRI. Che dan Castro mengeksekusi ratusan, mungkin ribuan, orang.
Martin Luther King Jr bermain perempuan. Semua legenda melakukan kesalahan. Mungkin terlalu bersemangat, atau sebaliknya, kelelahan dengan hidup.

Kita, juga akan melakukan kesalahan.
Mungkin di Amsterdam, atau di tempat lain.
Dan itu hal biasa, dalam proses menjadi dewasa. Kesalahan, yang diambil pelajaran, jauh lebih baik daripada keraguan dan pilihan diam untuk mencari aman.
Toh kita bukan ayam, pencari aman, yang takut jauh-jauh dari kandang.

Dan kawan, kita diberi banyak pilihan baik.
Tuhan menjauhkan dari lingkungan dan nasib buruk.
Tidak seperti Yeyen, yang kawin muda, sakit hati ditinggal suami, lalu menjadi pelacur di Saritem. Pada tanggal-tanggal ini, ia menaikkan harga, 50 ribu, untuk persiapan puasa dan lebaran.
Kita juga tidak pula menjadi Anto, yang berbapak pemabuk dan berIbu-entahlah. Pada masa-masa ini, ia hanya punya pilihan untuk menyetir truk menyusuri Pantura, dan kadang mampir ke tempat Yeyen.
Kita, pada saat-saat ini, diberi banyak pilihan baik oleh Tuhan.
Mungkin ke Amsterdam, atau ke tempat lain, yang kelak ditanyakan Nya.

Dan kawan, pada akhirnya, sebuah harapan.
Satu saat, perut-perut kosong dan tarikan napas-napas sekarat di negeri ini akan menggugat peran kita. Bukan karena janji atau budi.
Tapi karena takdir peran kita.

Betul kawan, kita akan menjumpai banyak suara sinis.
“Masih muda dan idealis, saya juga dulu begitu” kata bapak-bapak tua di kantor kabupaten sambil menghembuskan asap rokok.
Dan kita paham, mengapa ia berada di sana, bersiap untuk pulang pada jam 3 siang, dan meminta 15 ribu di bawah pengumuman “Tidak dipungut Bayaran”.

Kita paham, seperti kata Rivai yang mengutip Prof Treub pada “Orang Indonesia di Negeri Belanda (1600 – 1950)”, dan ditulis ulang oleh Poeze:
“Seorang anak muda yang tidak menjadi sosialis merah pada masa muda, pada masa tuanya tidak akan menjadi apa-apa”, seperti pak tua di kantor kabupaten.

Pergilah kawan, si anak elang.
Dan seperti kata Mac Arthur, 1962, di hadapan taruna West Point yang tegap-tegap itu:
“Duty, Honor, Country”
Those three hallowed words, reverently dictate:
What you ought to be,
What you can be,
What you will be,

They are your rallying points to build courage, when courage seems to fail,
To regain faith, when there seems to be little cause for faith,
To create hope, when hope becomes forlorn.