Kalau Indonesiaku tak pernah maju.
Tanggal Publikasi: 10 September 2009
- Genre: Puisi
- Bahasa: Indonesia
- Label: gelisah jogja 2001
Kalau Indonesiaku tak pernah maju.
Kalau Indonesiaku tak pernah maju
Bila semua keberhasilan di ukur dengan jabatan dan kekayaan.
Kalau Indonesiaku tak pernah maju
Bila orang sekolah mesti ditanya mau jadi apa, dan lihat saja jadi apa nantinya ?.
Kalau Indonesiaku tak pernah maju
Bila sering ditanya nilai atau IP kamu berapa saat cari kerja.
Kalau Indonesiaku tak pernah maju
Bila sumberdaya manusia tidak pernah ditanya kamu bisa apa ?.
Kalau Indonesiaku tak pernah maju
Bila mahasiswa hanya mencari nilai abjat semata.
Kalau Indonesiaku tak pernah maju
Bila politikus hanya berdebat kedudukan dan menghimpun massa.
Kalau Indonesiaku tak pernah maju
Bila seharus nya mereka bekerja sesuai ke trampilannya bukan demo dianggap kerja.
Kalau Indonesiaku tak pernah maju
Yogya 27 April 2001




lepaskan pikiran yang terpenjara.
mimpiku-mimpi mu
mimpiku, aku bermimpi.
ketemu kau dalam pesawat.
kau duduk, sudut paling belakang
pejam mata lalu bermimpi.
mimpimu, kau bermimpi.
ketemu aku dalam pesawat.
aku duduk, sudut paling belakang.
pejam mata lalu bermimpi.
mimpiku-mimpimu.
sama-sama ketemu dalam pesawat.
sama-sama duduk, sudut paling belakang.
sama-sama pejam mata.
lalu sama-sama bermimpi.
mimpiku-mimpi mu
mimpiku, aku bermimpi.
ketemu kau dalam pesawat.
kau duduk, sudut paling belakang
pejam mata lalu bermimpi.
mimpimu, kau bermimpi.
ketemu aku dalam pesawat.
aku duduk, sudut paling belakang.
pejam mata lalu bermimpi.
mimpiku-mimpimu.
sama-sama ketemu dalam pesawat.
sama-sama duduk, sudut paling belakang.
sama-sama pejam mata.
lalu sama-sama bermimpi.
Kalau Indonesiaku tak pernah maju
aku pun gelisah, pilu.
:?
KAWAN MIMPIMU BUKAN MIMPIKU
Maaf kawan mimpimu bukan mimpiku..
Aku hanya bermimpi sederhana biar besok punya asa...
Ku tak berani naik pesawat cukup angkutan darat...
aku masih takut terbang tinggi...
aku takut tak bisa berhenti..
aku takut tinggi anginnya tak pernah berhenti
aku ingat pesan diatas anginnya kencang..
aku ingat pesan semakin tinggi semakin bergoyang..
aku ingat pesan semakin tinggi susah sujut akhirnya tumbang..
mimpimu masihkah mimpiku kawan?
bila hariku tak seindah warnamu?
hariku masih diselimuti kabut..
karena beraspun aku harus berebut....
samakah mimpimu mimpiku kawan....
aku rela mati untuk bertemu demawan
yang memberi makanan dengan rebutan
Aku rela berhimpit hanya karena desakan kebutuhan
masihkan mimpimu sama dengan mimpiku?
Saya agak kesulitan untuk mengikuti logika kalimat puisi 'Kalau... bila...' ini. Saya kira, kata 'kalau', sebagai penanda syarat terjadinya sesuatu, lazimnya diikuti oleh 'maka', yang menerangkan sesuatu yang terjadi ketika syarat itu terpenuhi.
Lalu, bukankah 'kalau' sama dengan 'bila'? Dalam nalar bahasa Melayu, memang kata 'bila' dapat juga bermakna 'kapan'. Tapi, saya pikir bukan itu makna yang diinginkan dalam puisi ini.
Sekali lagi, saya tidak menemukan kesambung-rapatan logika dalam puisi ini.
wah, saya punya banyak pertanyaan nih.
1. untuk ayah, sys tanya apakah penyajian paragrap dalam puisi berpengaruh dalam keindahan puisi?
2.buat mas ginting, bagaimana cara untuk menganalisa puisi sehebat itu mas? ajari dong?
arjusa,
sebenarnya yang saya lakukan itu bukanlah sebuah analisis puisi. saya hanya bertanya pada penulis puisi Kalau Indonesiaku Tak Pernah Maju tentang logika tatabahasa yang digunakannya.
begitupun, mungkin saya bisa sedikit menjawab pertanyaanmu.
analisis puisi tentunya dapat dilakukan dengan memakai beberapa pisau kajian. pengkajian puisi lewat bentuk misalnya (formalisme), di situ pengkaji akan membongkar makna puisi yang diduganya muncul karena bentuk puisi tersebut (yang saya maksud dengan 'bentuk' adalah unsur-unsur dalaman puisi itu: bisa pemenggalan baris, pemilihan metafora, unsur sintaksis, unsur bunyi puisi (rima, repetisi, dkk.), dan lain sebagainya.
nah, tidak berhenti di sana, pengkaji puisi juga dapat menggunakan berbagai persepektif kajian sastra untuk menafsirkan puisi yang ingin dikajinya. disini, nalar aneka perspektif seperti feminism, marxisme, pascakolonial, dll. bisa diberdayakan. ini disebut unsur luaran puisi: konteks dan ko-teks yang mengiringi puisi tersebut (bisa berupa informasi kesejarahan, latar masyarakat (latar ruang dan waktu), latar penyair, dan macam-macam lainnya). hasil penafsiran yang didapat dari pengkajian lewat bentuk (formalisme) tadi dapat digunakan juga sebagai 'data-keras' untuk menjadi bukti-nampak atas pengkajian puisi yang menggunakan unsur luaran. jadi kedua cara pengkajian itu dapat saling melengkapi dan saling memaknai.
masih terlalu abstrak? wuaduh, mungkin ada baiknya kalau ada contoh. coba kamu klik disini
selamat membaca.
setahuku pusi merupakan suara yang tak bermakna.
armansyahputrabarus, sebuah "puisi" untukmu:
abalakasubagtafla
panisugatida
bebebe
ritsumbahtaching
tingalaschungtol
tamakartuskompul
arrrgiteioplam
tuntugplisdongah
(!)