kau dan poster di dinding kamarmu
KAU DAN POSTER DI DINDING KAMARMU
:wh
“aku ingin menulis” kau memulai percakapan, “tapi bukan tentang sebaris gerimis, apalagi tentang tangis yang mengiris” lanjutmu. Aku tak menanggapi, acuh menghisap kemudian menghembuskan asap rokokku. Kau keluarkan selembar kertas dan sebuah pena dari tas punggungmu. Tergesa, kau sulut rokok yang tadi kau beli di warung depan rumahmu. Asap rokokku kini menyatu dengan asap rokokmu. Kau terlihat serius menatap kotor poster di lembab dinding kamarmu. Di depanmu, selembar kertas dan sebuah pena siap kau garap. Seperti melihat sesuatu yang aneh, perlahan kau dekati poster itu, membiarkan kertas dan pena teronggok di tempatnya. Aku masih acuh, sebisa mungkin menikmati keintiman yang terjalin di antara aku dan rokokku. Mungkin, kau hanya terkejut setelah ingat bahwa dulu kau pernah memasang poster itu di dinding kamarmu, pikirku. “hei lihat, yang mengalir di matanya ini susu atau nanah?” tanyamu sambil mengusap debu yang mungkin lama tinggal di poster itu. “yud, yang tercatat di jidatnya ini amanat rakyat atau pinggul padat?” pertanyaan yang aneh, sungguh. Bangsat, makiku dalam hati, setan apa lagi yang merasuki temanku ini! Matamu makin lekat metanap poster kotor di depanmu. Segera kumatikan rokok dan mengambil pena yang tadi kau biarkan terkapar. TULIS! Kutulis kata itu di poster, tepat di tempat yang kau tatap lekat. Kau tersentak. Persis seperti orang baru sadar dari kesurupan, kau rampas pena dari tanganku lalu kembali mengambil selembar kertas dari tas punggungmu. Kau diam sejenak, menulis, dan pergi ke luar kamar. “aku beli kopi dulu” suaramu bercampur derit pintu kamarmu. Kubakar lagi rokok yang tadi kumatikan, mengambil kertas yang kau tinggalkan, dan membaca: DIAKAH YANG MEMBUAT KITA MERDEKA?
2009




bagus sekai, karya lima menit yang indah