Pesan yang Kau Lupa
Karena cintaku padamu, biar kutulis lagi dengan huruf-huruf kapital pesan yang kau lupa
Biar tak ada lagi alasan tuk melenakannya apalagi sekadar tak sempat membaca
Sengaja kutulis dengan huruf-huruf kapital biar pesan dapat menjelma kata dengan makna yang utuh apa adanya
Sengaja kugores dengan tangan yang lebih bertenaga agar sekali baca dapat kau rasa betapa tajam makna yang harus kau cerna bahwa selagi hidup kau tak bisa lupa menghirup udara, meski hanya sesaat sebelum kau kembali menghembuskannya, bahkan sebelum sempat kau sadari siapa yang mendatangkannya dan dalam sekejap menjelma nyawa dan jiwa yang selalu kau bawa entah kemana
Sengaja kutoreh pesan dengan huruf yang lebih tebal agar lebih mudah kau cerna bahwa selayaknyalah sekali hirup dua tiga ingatan segera menyala; ada Tuhan selalu di sana. Yang tidak semestinya mudah kau lupa, apalagi di saat kau sendiri sedang duduk bersimpuh di depan mihrab-Nya dengan jalan pikiran yang terus kau biarkan mengembara
Sengaja kutulis apa adanya agar kau selalu terjaga dari ingatan saat pertama kau keluar dari rahim ibunda
Di sanalah seharusnya, kau ingat akan segala bahwa dulu kau tak bisa apa-apa
Tak juga membawa apa-apa, tak akan pula membawa apa-apa
Kelak jika waktu yang ditentukan telah tiba, kau tak akan bisa menunda atau memajukan kedatangannya
Sekali saja dan putuslah sudah urusanmu dengan segalanya
Apapun juga yang menyebabkanmu melupakan segala pesan-Nya
by : a kholily
ciputat, 28 desember 2010




Puisi ini penulisannya seperti prosa. Kalimat-kalimatnya lengkap dan tidak bermain dengan imagery yang kental. Sayangnya, tanda bacanya kurang lengkap jadi sempat tersendat-sendat bacanya. Aku suka susunan idenya. Masing-masing bagian punya penutupnya seperti di bagian ini yang menurutku adalah penutup bagian isi: "Di sanalah seharusnya, kau ingat akan segala bahwa dulu/ kau tak bisa apa-apa/ Tak juga membawa apa-apa, tak akan pula membawa apa-apa". Penutup di tiap bagian ini jadi semacam lonjakan emosional yang mengajak pembacanya merenung. Penutup-penutup per bagian ini menyediakan kelegaan bagi pembacanya di setiap bait dan menjadikan para pembaca sabar hingga puisi ini benar-benar selese. Rapi sekali. Gaya ini mirip dengan puisi-puisi Neruda; sederhana dan mampu mengantar para pembacanya mencari referensi perasaan atas alat-alat puitika yang digunakan. cheerssss....