Sebuah surat dan aku membahasakanmu
pada pergantian udara pagi ini, mentari menghangatkan kulit kita, jari yang terasa kaku petang tadi kini kembali menari. Pagi itu aku baru bisa mengsketsa jelas wajahmu, tanganmu, bibirmu, gerak matamu yang sedari malam tadi hanya sebagai bayangan di sampingku. Matamu yang telaga, bibirmu yang tipis senja, kulitmu yang sempat aku sentuh tak sengaja mengalahkan indahnya telaga warna yang kita sambangi. Aku membenarkan kalau Tuhan mengatakan manusia itu mahluk sempurna karena aku mendapati itu padamu.
Sebungkus rokok dan sekumpulan kacang, sebagai teman menikmati keindahanmu. Langkah kaki pada jalan setapak yang agak rusak. Sebenarnya aku memiliki harapan bahwa keindahan itu bisa aku resapi dan miliki,tetapi aku sadar bahwa jembatan diantara kita terlalu terjal.
Senja terbuka setelah perjamuan kita dan harapan itu cita, cinta!!. Aku paham resiko dari berharap adalah memperjuangkannya. Kini aku pejuang yang membahasakanmu tak hanya lewat kata tapi juga cinta, tentu bukan cinta yang sekedarnya!!,aku tak mau cinta yang sekedarnya, cinta yang hanya ada kalau fisik itu bersedia dan akan hilang ketika tubuh telah tiada. Cintaku padamu adalah embun yang membasahi daun, mentari yang menghangatkan bumi, karang yang memecah ombak.
Kalau cintaku padi, aku akan memupuknya agar tumbuh sempurna. Biar nanti engkau bisa mengambilnya di kala tua. Menjadi beras yang menghidupimu melanjutkan usia.
Sebuah puisi aku sampaikan, semoga harapan ini terbahasakan.
Laut aku akan berbicara
Hatiku telah hilang di tingginya gunung
Bersama pagi dingin satu hari kemarin
aku sudah tau siapa pencurinya
tak mau juga aku menangkapnya
sebab aku sudah paham bagaimana ia memaknai aku dan aku memaknai dia




judulnya bagus..