Surat Untuk Presiden

 gambar Wahmuji
8
Penilaian Anda: tidak ada Rata-rata: 8 (1 suara)

Di gelak emosi yang terkekeh-kekeh
Di bawah jajahan investor yang dimanjakan
Di atas petani yang kelelahan menawar harga pupuk dan pestisida
Di tengah-tengah inovasi korupsi tiada henti
Di antara konsumsi, konsumsi, dan konsumsi
Di rinduku atas kesederhanaan makan 3x sehari
Minum air putih masakan sendiri
Di pabrik-pabrik yang buruh-buruhnya mendapat long-shift
18 jam sehari mengejar order
Di senyum-senyum remaja yang sedang jatuh cinta
Di salamku lewat hujan pada perempuan yang aku cinta..
Di hati temanku yang merasa tentram ketika mendengar lagu kebangsaan…

Negaraku,
Beranilah Hidup!
Mandirilah!

 gambar Wahyu Adi Putra Ginting
8

sepuluh tempat, yang sederhana dan yang mendurjana, diteriakkan sebagai lahan hidup dan mandiri sesuatu yang negara. dari emosi, manjanya investor berlagak bak dewa, letihnya petani dengan harga, pencurian (yang kuno namun jenius), kerakusan,kerinduan, celikan mata atas nasib para pekerja yang diperas keringatnya untuk membuat perusahaan transnasional yang punya merek dagang mendunia semakin kaya (dan dengan bangganya kita memakai produk mereka), sampai pada cinta dan tentram akibat buaian lagu kebangsaan yang seakan hendak menjadi mitos saja, dari situ semua tulisan ini menghembuskan sebahnya. tempat, bukankan itu yang dibutuhkan semua kita? akh..seandainya presidenku membacanya. eh..lalu kenapa?

 gambar andri 28

bercurah limpah kekayaan negriku
mewah cara hidup negriku
megah bangunan negriku
strategis lokasi negriku

pernah ku terpikir
negriku tak pernah kikir
meskipun banyak yang fakir
namun tak pernah getir

bisakah kau berubah
belajar tuk tetep tabah
dalam setiap musibah
meskin harta melimpah

biar semua menunggu
kapan negeriku maju
mari kita bersatu
tuk menjadi INDONESIA yang maju