biarlah doa menguap bersamanya
Tanggal Publikasi: 03 April 2010
- Genre: Puisi
- Bahasa: Indonesia
- Label: kritik sosial
aaah..
bukan .. bukan karna fatwa sudah diputuskan
lalu aku enggan membakar tembakau.
tidak juga karna tua nanti ,nafasku setali .
bukan itu teman ...
aku masih menyalakan rokok kesukaanmu.
di atas tanah kering , tempatmu rebah ,
setelah akhirnya ..
kau berpulang ...
aku mengira kau pasti bertanya kenapa ..
lihatlah teman ..
bahkan rumput ilalang yang kokoh tiada ambruk
kini terbakar ,layu di atasmu ..
merunduk menderma hujan ..tiarap memeluk tanah
apa kau tahu ,kini manusia berlomba-lomba
membangun dinastinya,membuat porselen yang megah ditempat ia bertahta
lalu,waktu seakan berlalu praktis seperti roda-roda yang dipacu
menguap diaspal-aspal jalan..betapa eloknya .
dari dinasti yang megah itu ..
ditanam oleh mereka ketidakpedulian.
keacuhan,
angker sekali ,
pohon-pohon ditikam ,benar-benar kulihat pembataian
demi segepok uang ,demi segala hak kebebasan.
sedang bencana kesanakemari menghardik.
pesan-pesan bisu itu,tak jua sampai .
aku tak bisa berharap banyak.
tak juga ingin menyalahkan mereka.
maka hanya ini yang kubisa,
kuhisap rokok terakhirku.
sebagai hal kecil yang aku mampu,
dan biarlah ,asapnya menguap membawa doa.
ditempat Sang Pelukis Semesta Bertahta .




aku suka...
aku melihatmu hidup berdasarkan kemauan mu sendiri...dengan keyakinanmu...
dengan bahagiamu..gundahmu..dan sedihmu menyatu menjadi satu sosok..yaitu "apa adanya dirimu"..
lam knal...
terimakasih rhita ..
yang sudah menyambung nafasku , ..
menjadi bagian dari nada-nadaku.
salam kenal
Ponco Kusumo
bukankah berdoa melalui rokok sesuai dengan imaji yang anda bangun sama egoisnya dan sama tidak-menyelesaikan masalah-nya dengan "membangun dinastinya,membuat porselen yang megah ditempat ia bertahta lalu,waktu seakan berlalu praktis seperti roda-roda yang dipacu menguap diaspal-aspal jalan..betapa eloknya "?
Nadanya pesimis sekali puisi ini. Dalam paragraf pertama anda membicarakan pelarangan rokok yang saya asumsikan dengan pengeluaran fatwa haram rokok muhamadiyah, yang sebagai rasa 'hormat' dihadiahi Bloomberg ASU itu 4 milyar. Saya yakin si penulis puisi ini menyadari keadaan itu, namun gagal untuk melihat dalam sudut pandang yang lebih luas bahwa ada relasikekuasaan yang membangun hal yang anda ingin bicarakan melalui puisi ini. Sehinnga, jatuh pada kesimpulan sebagai hook kanan puisi yang sangat pesimistis dengan langsung begitu saja mengerahkan sisa tenaga dan pikirannya pada hal diluar sana yang disebut 'Sang Pelukis Semesta' ini. Seandainya saja si penulis puisi tidak dengan cepat menimpakan masalah kepada yang tak tampak, maka puisi ini, tentu dengan sudu pandang yang lebih luas, akan mampu mewacanakan penindasan' yang ada di negeri ini. Kegagalan pembacaan ini mungkin disebabkan kurangnya data pada saat penulisan puisi ini sehingga faktor emosi saja yang mengisi baris-baris puisi ini, berikt dengan imaji dan metafora yang ada didalamnya. Pertimbangan dalam hal pemilihan semua 'poetic devices' akan lebih manjur kalo didukung dengan data yang bagus dan tidak hanya luapan emosi melulu...
Salam...
puisi adalah bayi dari sebuah keadaan....bukan data yang menggiring manusia menjadi plagiat...sudut pandang penafsiran itu adalah sebuah hak untuk memaknai....bukan data...namun bagaimana memahami dan memaknai akan sebuah rasa yang ada, ya data bagi orang yang setuju....namun disini saya juga bukan pendukung fatwa ,juga bukan pembenci rokok..sebab rokok sudah menjadi bagian indah untuk saya..disini hanya ada rokok terakhir,sebab alam sudah mulai gelisah .. dari berbagai pendakian ,banyak pohon2 sudah digunduli ..ini kabar ,yang mungkin media pun tak mencapainya.tentunya saya bukan seorang pakar,yg bisa mengubah kendaraan minyak menjadi air ..tentunya saya tak bisa mengharap banyak pada pemerintah pada green force yg menjaga alam ..
tak bisa berharap banyak ..ini hanya hal kecil ,dan sangat jauh dari apa yang dibutuhkan.. terima kasih kritiknya...semoga ada solusi ,untuk bumi ini ..
untuk ibu pertiwi ,bukan hanya tumpah ruah kegelisahan ..namun juga akhirnya berujung pada sebuah tindakan ....
karna klo bukan kita lalu siapa lagi ...
salamkenal mas ..
Ponco Kusumo
kalo kita dah memuarakan semua rasa pada Sang Pelukis Semesta, ga ada yang bakal kerasa berat. Jangankan cuma sekedar 'berenti ngrokok', pengorbanan yang lebih besar pun ga akan bikin kita mental. Dan dengan kedekatan semacam itu,, bukan asap rokok yang bakal nganterin doa2 kamu ke tempat Nya...justru cinta-Nya yang bakal njemput doa2 kamu.
Slm kenal...