BUKAN PECINTA
(2 suara)
BUKAN PECINTA
Di dalam sangkar emas
Penggemar andoan
Seekor merpati berkata kepada pasangannya
Manusia menganggap
Lebih pandai dari kita
Padahal menjelaskan makna sebuah cinta
Mereka tak mampu
Aku heran
Katanya mereka pecinta
Tapi, untuk mengerti cinta kita
Mereka tak bisa
Mereka pendusta
Bukan pecinta




Banyak kok yang mampu menjelaskan soal cinta. Tapi biasanya pake metafora. 'Cinta' itu sendiri kan sudah merupakan metafora..
Aku melihat ada kontradiksi pemaknaan hewan oleh kita, manusia: banyak yang bilang kalo kita musti belajar pada anjing tentang kesetiaan, pada cicak tentang anugrah Tuhan (cecak tidak bisa terbang tapi bisa memakan nyamuk), dll. di satu sisi, sedang kita tidak boleh bersikap layaknya hewan di sisi lain. Kenapa bisa seperti ini?
Sekilas adalah bahwa metafora punya keterbatasan, terutama bahwa ia mengacu pada domain makna yang spesifik yang ingin diacu, tapi melupakan keseluruhan sifat domain acuannya. Anjing misalnya. Selain ia setia, ia juga galak, suka menggigit, dan jalang.
Lalu, apakah makna-makna itu tidak sahih, tidak valid?
Aku pikir juga tidak begitu. Sesuatu yang abstrak memang hanya bisa diraba lewat metafora. Seluruh konsep adalah metafora, rekaan, fiksi. Metafora jadi usang, 'bukan metafora' lagi saat kita sudah lama hidup dengannya, dan tidak sadar bahwa kita hidup dengan perumpamaan. Kata 'menangani', misalnya, bukankah berasal dari kata 'tangan' yang fungsinya adalah melakukan sesuatu?
Usaha penulisan puisi yang dilakukan kawan Maswar ini sebetulnya menarik. Makna sebuah puisi tidak bisa ditentukan hanya dari pembacaan puisi tersebut saja. Ia perlu dilihat dalam satu jaringan intertekstual dengan teks-teks lain. Penggunaan 'merpati' di puisi ini sebagai metafora ini adalah usaha kawan Maswar menulis puisi dengan membaca teks lain, yaitu ungkapan-ungkapan cinta di masyarakat pada umumnya yang menganggap bahwa 'merpati' menyimbolkan kesucian cinta. Ia adalah metafora yang diterima pandangan umum. Sayangnya, usaha membaca teks lain ini tidak dibarengi dengan mengkritisi ide (makna) pada teks yang dibaca sehingga puisi biasanya menawarkan bahasa yang segar, karena proses pembacaan atas teks yang bersifat personal, tidak ditemukan. Puisi ini lantas hanya mengekor makna metafora 'merpati' yang ada di masyarakat umum. Padahal ketika satu metafora sudah digunakan secara luas, dan disetujui maknanya, ia sudah menjadi milik umum. Sehingga, ketika dipakai dalam puisi, apalagi liris, ia harus mengalami semacam revisi agar mampu sesuatu yang benar-benar asli milik si penulis.