Lidah Memelintir
(2 suara)
Di tepi dan ujung lidahku ada prayojana
bahwa lidahmu yang hendak memelintir lidahku itu
harus dulu disangkal dan disita
bukan hanya karena ingin muradif
tapi inilah harga
dari pelintiran lidah-lidah kita
Di tepi dan ujung lidahku ada kama
bukan untuk sekedar memintamu
memperkaya kosakata
tapi juga untuk mengertimu,
menyaringmu, mencari padananmu,
dan, kalau tak ada jalan lain,
mematikan lafal dan ejamu,
baru kuseruput liur itu
Di tepi dan ujung lidahku ada rasa mahardikka
bahwa ya lidah kita sama-sama liar
sama-sama binal
namun turutlah lidahmu pada lidahku
karena di rongga mulutku kita berada




saya baru nih di sini, mohon bimbingannya...
karya yang apik, tampaknya sang pembuat telah lama mengenal sastra, jika saya boleh menyangka
ayasajja
Wah ayasajja, kamu sudah berada di jalur yang tepat meminta bimbingan sama Bapak Ginting ini. Hehehe....
Buat Ginting, kenapa ya kok diksi mu itu susah2 ya? kayak (prayojana, kama dan muradif). Malah kata prayojana tidak ditemukan di KBBI versi online (http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi). Apa aku yang gak gaul ya hehehe... Mana cari kamus bahasa Indonesia susah lagi. Ada gak alasan kenapa pakai kata-kata itu? Kalau menyesuaikan rima, enggak, padanan kata yang lain juga setau saya ada kok. Atau cuma selera pribadi aja?
Ha-ha-ha. alih-alih mengatakan susah, aku lebih setuju untuk bilang kosakata itu tidak akrab di telinga penutur bahasa Indonesia kebanyakan. sebenarnya kata itu 'prayojana' ada di KBBI. Tapi, jangan lihat yang di KBBI online. lihat versi cetaknya saja. Artinya: "tujuan".
alasan kenapa aku memilih kosakata yang 'tidak akrab' itu ya agar kosakata tadi menjadi 'akrab'. aku tidak sedang melakukan akrobat kata. aku hanya ingin mendekatkan kembali banyak kosakata Indonesia yang terancam punah karena hanya sekelumit saja penuturnya yang tahu. menurutku sangat mubazir sekali perbendaharaan kata bahasa kita yang ratusanribu jumlahnya itu kalau tidak digunakan. kata menjadi terkesan susah karena tidak akrab di benak penutur. tapi, bukankah penutur memang selalu belajar untuk memperkaya persediaan lema/diksi? nah, kalau kebanyakan istilah yang memperkaya kosakata penutur bahasa indonesia sekarang adalah istilah-istilah serapan, yang seringkali nginggris dan kenes, maka, aku memilih untuk memperkenalkan (kembali) beberapa kosakata lain yang bahasa kita punya.
Iya, setuju aku dalang, bahwa cari kamus besar bahasa indonesia memang tidak semudah nemuin kamus Oxford. apalagi kalau mau cari yang edisi baru, wuih masih barang langka. padahal katanya sudah diluncurkan pas Kongres Bahasa Indonesia akhir Oktober kemarin. Kecewa juga aku.
ngomong-ngomong, masa sih kau tak akrab dengan kata 'kama', dalang? bukannya kau sudah khatam membaca Kamasutra? Huehuehuehue....
salam,
ginting
nb: kapan-kapan aku kirimkan suratkabar bahasa LIDAHIBU buatmu, dalang. Atau kalau kau mau bersabar sedikit, sebentar lagi sudah ada ruangnya di dunia maya.
Yah aku setuju sih jika itu yang jadi motivasi kau kenapa menggunakan kata2 yang jarang terdengar. Asal jangan motivasinya supaya dianggap "nyastra" aja seperti fenomena dalam filsafat yang disebutkan oleh penulis buku Socrates Cafe bahwa para profesor filsafat semakin sering menggunakan bahasa-bahasa akademis agar dilihat lebih filosofis dari pada filsuf jalanan. Bagiku, sastra pun sama seperti filsafat yang tidak terbatas dalam penggunaan bahasa yang rumit dan hanya terbatas untuk sebagian kalangan saja. apalagi kamu ting, tanpa kamu menggunakan bahasa yang jarang terdengar pun orang akan tahu seberapa "nyastra" sih dirimu.
Soal kamus bahasa Indonesia, mungkin orang2 penyusun KBBI itu lagi sibuk sama pemilu kali jadi masa bodoh sama bahasa Indonesia. Mungkin juga karena ketertarikan sama bahasa Indonesia juga sudah tidak populer jadi tidak menghasilkan uang sehingga pada males tuh bikin kamusnya. coba aja tanya berapa orang yang punya kamus bahasa Inggris dan berapa orang yang punya kamus bahasa Indonesia, pasti lebih banyak yang punya kamus bahasa Inggris. Belum lagi yang versi online, aku kira sangat sedikit orang yang tahu kalo KBBI ada versi onlinenya (termasuk kamu kali ya ting, hehehe), tapi kalo ngomong Oxford online dictionary, hampir kebanyakan orang tahu.
Yah mungkin kalo ketertarikan sama bahasa Indonesia masih minim seperti saat ini, mungkin beberapa puluh tahun lagi, bahasa Indonesia bisa punah kali ya.
siapa bilang sastra sama dengan filsafat?
apa dengan begini: saat kita kuliah di fakultas sastra, sastra apapun terserah kau menyebutnya, juga berarti kita kuliah atau belajar filsafat? atau seperti yang sudah (sering) terjadi, apakah juga kita sedang belajar budaya disana? atau bahasa?
banyak karya sastra indonesia, banyak sekali, yang ada dan memang banyak sekali karena mereka memakai bahasa indonesia dan untuk itulah mereka disebut karya sastra indonesia. dengan banyaknya karya-karya itu, apa yang sebenarnya yang "minim" disini?
itu urusan kalian ahli atau ahli palsu bahasa indonesia!
siapa penyusun KBBI yang sedang ngurusin Pemilu itu?yang mana sebenarnya yang kau kutuk disini? memang ada apa dengan bahasa-bahasa akademis? bahasa-bahasa filsafat?jawablah itu dulu sendiri sebelum ikut "lidah" orang lain yang tak mau tahu masalahmu!
jawablah sendiri!
karena tak ada urusan aku dengannya!
sampai ketemu, so long, see you, ciao, hasta la vista, au revoir, sek yo dab!