^..Sajak Yang Hilang..^

 gambar Dhem
7.33333
Penilaian Anda: tidak ada Rata-rata: 7.3 (3 suara)
 

Bukan..
Bukan aku yang akan menorehkan pena ini
Bukan aku yang mengotori lembaran ini
Bukan,,
Bukan,,
Bukan aku


Semua telah beku
Menyatu dengan debu
Menghilang karena terlalu cepat melaju
Hempaskan langkah yang telah tepaku jauh


Hanya disajak ini aku tekulai
Menikmati kekosongan kata
Memuja hampa
Dalam derai lalai


Bukan..
Bukan aku yang mengotorinya
Bukan aku yang menyentuhnya
Semua terjadi begitu saja
Syairku hilang tertelan jenuh
Meski hati ini telah mengaduh
Tak ku temukan bait – bait itu


Nanti, Bila sudah saatnya
Akan kucari lagi bait yang hilang itu
Akan kurangkai lagi sajak – sajak ku
Agar kutemukan kembali sebagian jiwaku yang hilang itu


Nanti, suatu saat nanti
Sajakku takan pernah hilang
Sajakku takan pernah jauh dariku
Karna sajakku adalah bayangku
Menjejak tiap senti dikehidupanku

~dhem~

 gambar murni
7

senti itu maksudnya centi ya he he he bagusnya puisimu

 gambar Dhem
Dhem:

murni wrote:

senti itu maksudnya centi ya he he he bagusnya puisimu

atur nuhun mbak, tp saya msh prl belajar banyak dr mbak murni..

ho'o mbak maksudnya centi, salah y mbak ejaan q hehehhehe,, maklum mbak ane kan bkn org sastra Laughing out loud

terimaksih ats koreksinya

 gambar Wahmuji

Dhem wrote:

...maklum mbak ane kan bkn org sastra Laughing out loud

terimaksih ats koreksinya

 

Bukan orang sastra kok nulis puisi?

Maksudnya bukan orang yang kuliah di Fakultas Sastra, yak?

Aku kira, kalo sudah berani mengungkapkan dunia lewat puisi, orang telah

dan terus-menerus menguatkan daya ungkapnya, yakni bahasa. Mau tidak mau ya belajar bahasa..

meski ada licencia poetica. 

Dan orang yang telah berani menulis puisi ya orang sastra juga Wink

 gambar Dhem
Dhem:

Bukan orang sastra kok nulis puisi?

Maksudnya bukan orang yang kuliah di Fakultas Sastra, yak?

Aku kira, kalo sudah berani mengungkapkan dunia lewat puisi, orang telah

dan terus-menerus menguatkan daya ungkapnya, yakni bahasa. Mau tidak mau ya belajar bahasa..

meski ada licencia poetica. 

Dan orang yang telah berani menulis puisi ya orang sastra juga Wink

[/quote]

salam kenal brada..

ane cm mencoba dan msh prl belajar dgn org sperti anda,

mau tanya nie, apakah setiap org yg sdh menulis smacam puisi bs dkatakan org sastra???

 gambar Wahmuji
6

Secara sederhana, menurutku, iya.

Yang disebut orang sastra itu kan luas: bisa kritikus sastra, sastrawan, aktivis organisasi/paguyuban sastra, penerbit buku2 khusus sastra, atau bahkan, buruh sastra.

Cuma memang, untuk mendapatkan 'gelar' sastrawan atau kritikus sastra (dua posisi yang paling vital dan prestisius dalam sastra), ada banyak faktor. Misalnya, untuk sastrawan: pengakuan publik, luasnya distribusi karya, pengakuan kualitas karya dari para kritikus dan komentator, jaringan kekuasaan/posisi strategis (kalau kamu kenal orang-orang yang sudah 'besar' duluan, kamu akan cepat 'besar juga; kalau tulisanmu cocok dengan ideologi dominan, maka kamu akan diakui), dan faktor modal materi (kalau kamu punya duit banyak, kamu bisa mencetak bukumu sendiri & mempublikasikannya secara besar2an). Sebagai contoh, Andrea Hirata itu bisa dianggap sastrawan karena karyanya terjual banyak (pengakuan publik dan distribusi), mendapat pengakuan kualitas dari komentator (bukan kritikus; setahuku, salah satu buku kritik tentang Laskar Pelangi berjudul Laskar Pemimpi "menghabisi" karya itu), berada dalam posisi strategis (ideologi dominan massa sekarang adalah ideologi motivasi; karya Andrea Hirata dipromosikan di acara motivasi yang prestisius macam Kick Andy).

Untuk kritikus sastra: yang jelas, ia harus mendapatkan pengakuan dari lingkungan akademik, menguasai teori-teori sastra dan sejarah sastra, hasil penelitiannya (dalam bentuk apapun) telah terdistribusi dan dibaca orang.

Meskipun yang dsebut orang sastra itu sifatnya cair, tapi pembuktian-pembuktian diri lewat kuantitas dan kualitas karya adalah cara untuk mendapatkan pengakuan. Dan pembuktian2 itu memerlukan waktu, tenaga, pikiran..singkatnya hidup! Jadi, pada akhirnya, untuk disebut sastrawan, misalnya, orang memang harus bergulat dengan karya2 sastra lewat pembacaan, diskusi, dll. Pendek kata, ia harus jadi semacam profesi--sebuah dunia yang digeluti tiap hari. 

  Menurutku, orang-orang yang terlibat aktif dalam sebuah website sastra ya orang sastra.. cuma dimana posisi orang2 itu dalam peta kesusastraan nasional atau dunia adalah masalah lain.

 gambar Dhem
Dhem:

Wahmuji wrote:

Secara sederhana, menurutku, iya.

Yang disebut orang sastra itu kan luas: bisa kritikus sastra, sastrawan, aktivis organisasi/paguyuban sastra, penerbit buku2 khusus sastra, atau bahkan, buruh sastra.

Cuma memang, untuk mendapatkan 'gelar' sastrawan atau kritikus sastra (dua posisi yang paling vital dan prestisius dalam sastra), ada banyak faktor. Misalnya, untuk sastrawan: pengakuan publik, luasnya distribusi karya, pengakuan kualitas karya dari para kritikus dan komentator, jaringan kekuasaan/posisi strategis (kalau kamu kenal orang-orang yang sudah 'besar' duluan, kamu akan cepat 'besar juga; kalau tulisanmu cocok dengan ideologi dominan, maka kamu akan diakui), dan faktor modal materi (kalau kamu punya duit banyak, kamu bisa mencetak bukumu sendiri & mempublikasikannya secara besar2an). Sebagai contoh, Andrea Hirata itu bisa dianggap sastrawan karena karyanya terjual banyak (pengakuan publik dan distribusi), mendapat pengakuan kualitas dari komentator (bukan kritikus; setahuku, salah satu buku kritik tentang Laskar Pelangi berjudul Laskar Pemimpi "menghabisi" karya itu), berada dalam posisi strategis (ideologi dominan massa sekarang adalah ideologi motivasi; karya Andrea Hirata dipromosikan di acara motivasi yang prestisius macam Kick Andy).

Untuk kritikus sastra: yang jelas, ia harus mendapatkan pengakuan dari lingkungan akademik, menguasai teori-teori sastra dan sejarah sastra, hasil penelitiannya (dalam bentuk apapun) telah terdistribusi dan dibaca orang.

Meskipun yang dsebut orang sastra itu sifatnya cair, tapi pembuktian-pembuktian diri lewat kuantitas dan kualitas karya adalah cara untuk mendapatkan pengakuan. Dan pembuktian2 itu memerlukan waktu, tenaga, pikiran..singkatnya hidup! Jadi, pada akhirnya, untuk disebut sastrawan, misalnya, orang memang harus bergulat dengan karya2 sastra lewat pembacaan, diskusi, dll. Pendek kata, ia harus jadi semacam profesi--sebuah dunia yang digeluti tiap hari. 

  Menurutku, orang-orang yang terlibat aktif dalam sebuah website sastra ya orang sastra.. cuma dimana posisi orang2 itu dalam peta kesusastraan nasional atau dunia adalah masalah lain.

 

terima kasih atas pencerahan anda, ini adalah ilmu baru bagi saya sbg orang awam..

betewe mau nanya lg nie,,

1. kl mnurut sodara bagamana cara agar kita tidak terpaku / mati dgn kata2 yg tlh kita bikin sndiri..??

2. gmn biar kita mampu membuat satu karya sastra yg tak membosankan..??

3. ketertarikan org lain tuk membaca / ingin tau karya kita itu bs dpengaruhi oleh apa aja..??

maaf kl ane banyak tanya, maklun pengetahuan saya tentang sastra minim banget,, Laughing out loud