Pamanku telah Wafat

Jakarta - Bekasi, Rabu, 10 Juni 2009

Siang itu aku mendapat kabar buruk dari saudaraku, bahwa pamanku wafat. Beliau sempat dirawat beberapa hari di rumah sakit. Aku memang belum sempat menjenguknya. beberapa hari sebelum pamanku wafat, aku tak tahu kenapa, jika aku membayangkan wajahnya, aku teringat pada nenekku yang telah wafat jauh sebelumnya. Kalian tahu betapa hancur hatiku pada saat itu, sebab ia-lah satu-satunya yang tersisa dari keluarga yang banyak memperhatikan kami dan keluarga. aku berusaha menahan kesedihan yang amat. aku tahu selama ini, aku tak pernah bisa menangis adanya berita tentang kematian. walaupun itu dari keluargaku sendiri. tentu saja pasti ada efek terhadap kesehatan diriku. Hampir pasti, setiap hal itu terjadi badanku merasa kurang sehat.

Menjelang sore aku bersiap-siap menuju rumah pamanku. Di rawa lumbu, Bekasi. Aku janjian dengan abang ku untuk pergi ke sana bersama. Naas sekali, lama abangku tak kunjung datang juga. Aku telpon dia, ya Allah, motor yang dikendarai abangku ternyata mogok, bro!. aku hanya menelan ludah. Beberapa kali ia ku telepon karena aku tak sabar ingin melayat ke rumah pamanku.

Akhirnya pada pukul 5 sore lebih seperempat, abangku menelepon. Dia sudah di seberang jalan, depan kantorku. Kami pun bergegas untuk meluncur ke rawa lumbu. Sepanjang jalan aku hanya termangu. bisu. tapi pikiran hanya fokus pada satu hal, yaitu pamanku beserta keluarganya. aku terus memanjatkan doa untuk pamanku agar ia mendapat tempat yang layak untuk peristirahatan sementara menuju gerbang akhirat sebenarnya. Semua makhluk yang bernyawa pasti akan meninggal. Semua yang telah meninggal tak akan pernah kembali.

Pikiranku terus berputar pada paman dan keluarganya. Tahukah kalian apa yang lebih membuat pikiran ini tak kunjung henti resahku. Anak yang ditinggalkan pamanku, mereka masih sekolah di bangku smp dan sma. Aku tak tahu kelanjutan sekolah mereka. Terlebih lagi mereka sedang ujian. Batin dan otakku terus berpeluh dengan resah dan kesedihan. Sampai-sampai, aku tak mendengar adzan maghrib telah berkumandang. Astaghfirullahal adzim. ya Rabb ampunilah dosa hamba.

Lama juga pikirku untuk sampai ke rumah beliau padahal abangku sudah tancap gas kencang, Akhirnya kami tiba di rumah paman sekitar pukul 6 sore lebih dua puluh menit. Langsung kami melihat jasad yang terbaring di ruang depan rumah pamanku. yaitu jasad beliau sendiri. sekali lagi aku hanya terdiam. tak ada kata yang keluar dari mulutku. hanya hatiku terus berdoa untuk kemudahan beliau di alam barzahnya. sepuluh menit terus berlalu, aku masih terus memandangi jasad tak bernyawa itu. teringat akan kenangan dengan beliau baik di rumahku, di rumahnya, di rumah nenekku yang telah di jual sekarng, atu di tempat saudaraku yang lain. tapi yang pasti hanya beliau yang sering mengunjungi gubuk renta kami, di pondok kopi.

Aku tak tahan terus berada di sana. Sejenak aku pergi ke rumah sepupuku yang tak jauh dari rumah pamanku. aku istirahatkan sebentar otak dan tubuh ini. Meskipun batin terus gundah. ku coba menonton pertandingan sepak bola untuk menghilangkan rasa gundah. Alhamduillah gundah itu sedikit reda. Masalah lain timbul dari kebutuhan makanan untuk tubuhku, alias rasa lapar menyerangku. Selesai menonton pertandingan sepak bola. aku keluar bersama abangku mencari warung makan. kami akhirnya makan malam dengan nasi goreng yang di jual di pinggir jalan.

Aku kembali ke rumah pamanku pukul 9 malam. Ramai orang di sana, tapi suasana bernuasa hening dan sedih menyerbak sukma dan raga ini. Rasa kantuk mulai hinggap di mataku, tapi aku tak bisa tidur juga. aku pergi ke warung untuk membeli kopi, berharap bisa meredakan rasa kantuk ini. Malam itu dengan berasal dua karpet, aku banyak berbicara dengan suami sepupuku sampai larut kami baru tidur.

Bekasi, Kamis, 11 Juni 2009

Aku dibangunkan oleh kumandang adzan Subuh. kami pun bersegera untuk ke masjid. Mengambil air wudhlu lalu shalat berjamaah. Sepanjang shalat, aku terus bermunajat mengharap ampunan atas dosa yang telah diperbuat oleh pamanku.
Sampai selesai shalat. Alhamdulillah, shalat Subuh telah ku tunaikan. seperti biasa, aku berzikir memuja kebesaran rahmat Allah diiringi doa kupanjatkan.

Pukul tujuh pagi, kami menyiapkan segala keperluan untuk proses memandikan jenazah pamanku. Begitu juga kain kafan sebagai pakaian setia untuk terakhir kali yang melekat di tubuh almarhum. Lalu kami membawa jenazah paman, ke masjid terdekat dari rumah paman tentunya. Kami berangkat bersama-sama membawa jenazah ini ke tempat peristirahat sementaranya. Di alam barzah. Galian kubur telah selesai. Jauh sekali tempat pemakaman untuk paman dari rumahnya. Aku tak ingat jalan yang kulalui, lagi pula tak sempat menghafal jalan. pikiranku masih terus berputar tentang keluarga paman. bagaimana nanti anak-anak paman melanjutkan sekolah? masih adakah keluarga yang mau mengunjungi kami? tak terasa berlinang air mata hatiku. Meski mencoba untuk melawan, tapi tetap saja tak bisa.

Kurang lebih, setelah satu jam, barulah kami sampai di pemakaman. Bergegas kami untuk menguburi jenazah beliau. sesuai dengan sunnah Rasulullah.
Kau tahu wahai paman. aku memang tak bisa menangis, tapi kesediahan terus menyelimuti hatiku. Aku teringat akan puisiku yang belum lama ku buat. aku akan mencoba membacakannya untukmu paman. Aku tahu, kau tak bisa mendengar kami lagi. Tapi satu hal yang bisa ku lakukan. ya hanya ini. Tak seberapa-lah dibanding dengan jasamu pada keluarga kami

Nyanian Sunyi
Karya Roil Muhtadin
Jakarta, 9 Juni 2009

Kemana gerangan dirimu
Lukisan dalam bingkai indah
Penghias dinding langit hatiku

Nafas seakan terhenti
Senjenak ku terdiam
Membungkam semua kenangan
Mengikis semua harapan
Menepikan semua rencana kita

di balik pusara ini
Tubuh yang menemani hariku
telah disandarkan sebuah nisan

Tergores namamu nan indah
Terukir masa kelam kemudian
Menikam nadiku
Meleburkan otakku
bersama jiwa telah padam

Takdir telah digariskan
Yang Maha Kuasa telah menetapkan
Hidup yang kini kujalani
Sepi
Hampa
Hati telah menuai luka

di pusara ini
Bersama karangan bunga melati
Berharap menemani harimu
yang gelap sendiri
telah jauh dirimu dari lingkupku
jasadmu telah memenuhi tanah pekuburan

ku kirimkan nyanyian sunyi
selalu setia ku nyanyikan
di separuh jiwa yg terasing
hanya untukmu seorang

Kini ku arungi samudara membentang
dihadapanku seorang
tiada awak
tiada layar
bahkan tak ada rasi yg berarah
hanya diriku
aku nakhoda kehidupanmu
dapatkah nakhoda tanpa rasi?
Aku letih
Hanya nyanyian sunyi
Menemaniku kini

ironis sekali paman. ku buat satu hari sebelum engkau wafat, meninggalkan kami semua untuk selamanya. ku harap kita bisa berjumpa di syurga. bersama keluarga semuanya. aamiin.

 gambar murni

turut berduka cita ya,aku jadi teringat saat aku kehilangan satu satunya orang yang menyayangi ku yaitu mama susuanku,saat itu aku merasa tak ada lagi yang menyayangiku dan aku melupakan bahwa allah menyayangi semua hambanya termasuk aku

 gambar murni

:SS

 gambar Jiwang Muhtadin

Thanks banget ya atas simpatinya...