Akhir-akhir ini saya seringkali menemui gelagat mahasiswa sastra tapi tidak suka sastra. Mungkin terdengar sangat 'biasa', karena tak sedikit juga mahasiswa dalam bidang ilmu yang lain juga tak menyukai apa yang dipelajarinya. Tapi, yang lebih membuat saya terusik adalah bahwa ketidak-sukaan pada sastra ini malah kerap kali dijadikan semacam mekanisme perlindungan diri kala berhadapan dengan mahasiswa-mahasiswa yang sedang mencoba atau sudah bergelut dan pada akhirnya menyukai sastra cukup lama.
Yang saya maksud sebagai 'tidak menyukai sastra' dalam tulisan ini adalah bahwa mahasiswa sastra kerapkali tidak suka membaca buku-buku sastra (bahkan ada juga yang tidak suka membaca) dan menghindari perbincangan-perbincangan ranah sastra. Saya sempat terperangah saat saya dan beberapa teman sedang membicarakan masalah sastra, lalu salah seorang mahasiswa sastra yang mendengar obrolan kami lantas berkomentar, "Waduh, tinggi banget bahasanya! Serius amat sih!" diikuti tawa dan senyum dari teman-temannya yang lain yang menandakan bahwa mereka sepakat dengan tanggapan 'mahasiswa yang tidak suka sastra' ini.
kalau ketidak-sukaan pada sastra ditemui pada mahasiswa-mahasiswa baru, mungkin masih ada celah pembenaran bahwa lazimnya mahasiswa baru memang belum mengenal dunia akademis yang digelutinya. Namun, fenomena ketidak-sukaan pada sastra ini kerap terus ada bahkan hingga mahasiswa sudah berada di semester akhir.
Hehmmm.. Kenapa Yaaaa? 









