MAHASISWA SASTRA TIDAK SUKA SASTRA. TANYA KENAPA?

16 balasan [Tulisan terakhir]
 gambar A.B. Prasetya
Luring
Bergabung: 02/03/2008
Tulisan: 53

Akhir-akhir ini saya seringkali menemui gelagat mahasiswa sastra tapi tidak suka sastra. Mungkin terdengar sangat 'biasa', karena tak sedikit juga mahasiswa dalam bidang ilmu yang lain juga tak menyukai apa yang dipelajarinya. Tapi, yang lebih membuat saya terusik adalah bahwa ketidak-sukaan pada sastra ini malah kerap kali dijadikan semacam mekanisme perlindungan diri kala berhadapan dengan mahasiswa-mahasiswa yang sedang mencoba atau sudah bergelut dan pada akhirnya menyukai sastra cukup lama.

Yang saya maksud sebagai 'tidak menyukai sastra' dalam tulisan ini adalah bahwa mahasiswa sastra kerapkali tidak suka membaca buku-buku sastra (bahkan ada juga yang tidak suka membaca) dan menghindari perbincangan-perbincangan ranah sastra. Saya sempat terperangah saat saya dan beberapa teman sedang membicarakan masalah sastra, lalu salah seorang mahasiswa sastra yang mendengar obrolan kami lantas berkomentar, "Waduh, tinggi banget bahasanya! Serius amat sih!" diikuti tawa dan senyum dari teman-temannya yang lain yang menandakan bahwa mereka sepakat dengan tanggapan 'mahasiswa yang tidak suka sastra' ini.

kalau ketidak-sukaan pada sastra ditemui pada mahasiswa-mahasiswa baru, mungkin masih ada celah pembenaran bahwa lazimnya mahasiswa baru memang belum mengenal dunia akademis yang digelutinya. Namun, fenomena ketidak-sukaan pada sastra ini kerap terus ada bahkan hingga mahasiswa sudah berada di semester akhir.

Hehmmm.. Kenapa Yaaaa? Crying

 gambar kenan fabri hartanto
Bergabung: 01/21/2011
Tulisan: 6

itu mungkin rasa sukanya dibarengi tidak mau tahu. jadi saat berhadapan dengan bahasa yang tinggi tidak mau mencoba bertanya agar tahu, kalo sdh tahu kan ga jadi tinggi bahasanya.

 gambar Galang Wijaya
Luring
Bergabung: 03/29/2009
Tulisan: 28

Mungkin temanmu itu terlalu serius melindungi diri  Laughing out loud

 gambar Alwi Atma Ardhana
Bergabung: 02/03/2008
Tulisan: 213

aku coba ngambil sudut pandang dari kampus. aku pikir kampus juga punya peran di fenomena ini. kampus2 kan mencitrakan sastra, baik melalui selebaran jurusan atau mata kuliah-mata kuliahnya, tidak menjurus pada 'pekerjaan' yg seharusnya dilakoni lulusan2 sastra; kritikus. selebaran2 dan mata kuliah-mata kuliah yg ditawarkan seringkali lebih menjuruskan mahasiswa2nya ke arah seperti jurnalisme atau (kalo yg sastra Inggris) guru bahasa inggris. ini membuat anak2 yg masuk sastra tidak membayangkan bahwa urusan mereka sebenarnya cuma dengan karya sastra.

 gambar hilda_in_palu
Luring
Bergabung: 03/26/2011
Tulisan: 89

dear all,

merefleksikan diri wkt kuliah sastra dulu...saya masuk sastra krn pilihan kedua, itupun banyak yg menentang krn tdk ada 'keuntungan' di masa depan katanya hahaha...tapi saya cuek aja, kenapa? krn saya dari kecil memang suka baca buku, saya suka baca2 puisi, saya sdh diperkenalkan kpd karya Mark Twain di kelas 5 SD (Huck Finn dan Tom Sawyer), saya terkagum2 dgn dongeng HC Andersen dan saya terpana menyaksikan lomba baca puisi Chairil Anwar di kotaku....

tapi sangat disayangkan...masuk ke fakultas sastra, kegairahan saya thd prosa dan puisi serta misteri2 di dalamnya dan bgmana kita bisa mampu menelaah karya sastra secara baik, terhapus pelan2 dan tergerus oleh cara para dosen mengajarkan ilmu2 sastra tsb, tdk ada passion di dlmnya..semua mengalir begitu normal, membosankan dan mjd spt mekanisme perkuliahan biasa...

kita tdk pernah diajarkan bgmana mengkritisi karya sastra scr benar, kita tdk pernah diajarkan bgmana melihat karya sastra baik secara akademis maupun dari sudut pandang lainnya sehingga yg dikejar oleh para mahasiswa dan para dosen...bgmana cara menyelesaikan mata kuliah itu dan mendptkan IP setinggi2nya spy cepat kelaar hahaa....

bertahun2 kemudian, baru setahun ini saya kembali ingin menekuni sastra itu spt apa, mengapa? saya berterima kasih kpd blog2 spt mediasastra, horison online, kompasiana, etc, yg memuat tulisan2 tentang sastra yg bermutu dan akhirnya menggugah saya kembali ke hal2 yg saya sdh tinggalkan sebelumnya...saya jadi tertarik kembali membaca karya2 sastra, teori2 literary criticism, puisi, drama, prosa...wah banyak deh, seakan dunia si Alice in wonderland terbuka lebar di depan saya...

hehehehe..jadi curhat deh, jadi intinya sih menurut saya, fakultas sastra di Indonesia memang tdk mendukung mahasiswa2nya (baik itu yg memang suka sastra atau terpaksa masuk ke fakultas ini) untuk benar2 tertarik mendalami sastra setelah ada di dlmnya...materi2 perkuliahan fakultas sastra hrs di ubah, dan dosen2nya pun seharusnya mempunyai passion ttg sastra itu sendiri (at least harusnya mereka adalah para penyair, kritikus sastra dan orang2 yg concern di bidang sastra-dan saya blm melihat itu sih...kecuali di faksas UI mungkin), lihat tuh negara2 lain fakultas sastranya udah maju sampai ke bulan, kita msh jalan di tempat, teori2 yg dipakai msh teori2 lama, kadaluwarsa dan akhirnya para mahasiswa mikir, yg penting gw selesai kuliah, cari kerja...beres!! gak ada kan yg mau punya impian, ah gw selesai dari sini mau terjun jadi penulis novel, penyair kek, kritikus sastra...pengen jd seperti Pram, atau Sanoesi Pane, atau Rendra atau Saut Situmorang itu....hahahhaa...terpaksa deh yg pengen jd seperti itu, perginya tdk ke faksas, tapi ke teater, institut seni, dll...jadi pertanyaanya..apa sih output dr fakultas sastra itu sendiri? sarjana sastra kayak apa ya??....

demikian sekilas curcol siang ini... Laughing out loud

 

 gambar Galang Wijaya
Luring
Bergabung: 03/29/2009
Tulisan: 28

Saya kuliah selesai, meski sempat kesulitan menyingkir keluar cepat-cepat dari akademi, lulus Sarjana Sastra, tubuh semampai nggak kadaluarsa, cari kerja belum beres dicari kerja belum beres, "as honest as Iago and Huck Finn," Output dari curcol saya ini: "to be literate or not to be, that is the question; teach well or not that is another."

 

Hi Hilda Love

 gambar Wahmuji
Luring
Bergabung: 01/22/2008
Tulisan: 262

Ada satu tulisan dari Gde Dwitya tentang kondisi Fakultas Sastra UGM, terutama mahasiswa-mahasiswinya. Tulisan ini dipasang di Jakartabeat lebih dari dua tahun yang lalu. Meski demikian, tampaknya isinya masih revelan untuk disimak.

Silakan akses tulisan itu di sini.

 gambar hilda_in_palu
Luring
Bergabung: 03/26/2011
Tulisan: 89

tulisan Gde Dwitya itu bagus sekali.... Laughing out loud

 

 gambar Nano Anggoro
Luring
Bergabung: 07/13/2011
Tulisan: 11

Mungkin karena nama Fakultasnya ganti, setahuku sekarang yang namanya Fakultas Sastra sekarang udah gak ada, yang ada Fakultas Ilmu (Pengetahuan) Budaya. Tongue

Saya bersyukur atas "keterbatasan" yang saya miliki sehingga saya tahu "batasan-batasan" dan mencegah saya untuk tidak bertindak di luar "batas"
 gambar hilda_in_palu
Luring
Bergabung: 03/26/2011
Tulisan: 89

ah saya kok jd sebel krn diganti jd fakultas ilmu budaya....

bagusan sastra sih kayaknya, kenapa jd meluas begitu ya? budaya...jd inget IBD deh...masih ada gak tuh Ilmu Budaya Dasar...

sediiih... Crying

 gambar Galang Wijaya
Luring
Bergabung: 03/29/2009
Tulisan: 28

Setahuku diantaranya adalah UGM dan UI, dua universitas besar di negeri ini, yang Fak.Sastranya jadi Fak.Ilmu Budaya. Sadhar belum ganti. Kalau itu kan cuma masalah disiplin, maksudnya: memang Ilmu Sastra itu Ilmu Budaya? Seingatku UI pernah bercerita tak begitu panjang lebar tentang alasan universitas itu mengganti nama tadi. Konon diganti karena banyak terpengaruh oleh persepsi sebagaian besar masyarakat Indonesia tentang "sastra," yang menurutnya secara istilah telah mengalami penyempitan sehingga disalah-artikan sebagai identik dengan "kesusastraan."

Bisa dilihat di profilnya Fak.Ilmu Budaya di web-nya UI. Maksudku, kalau istilah sastra yang identik dengan "kesusastraan" itu salah arti, lantas ke mana istilah "sastra" itu diidentifikasikan secara layak? Baca profilnya deh! UI punya segambreng jawaban untuk pertanyaanku ini, yang menurutku UI lah yang salah-kaprah tentang SASTRA. Jika "Sastra" yang identik dengan "Kesusastraan" itu salah-arti, menurutku, berarti tidak ada lagi yang lebih layak diidentifikasikan dengan "Sastra." Bahkan tidak perlu lagi merasa repot-repot dengan istilah "Sastra." Memang apa sih sastra itu tanpa kesusastraannya, tanpa karya sastranya (baik itu puisi,prosa,dan drama)?

Hal semacam ini adalah penyakit dalam dunia akademis Sastra di Indonesia. Gejala utamanya adalah perasaan malu mempelajari puisi, prosa, atau drama. Bagaimana cara melihat wujud nyata perasaan tsb.? Salah satunya lihat baik-baik persentase disiplin ilmu di dalam kurikulum universitas yang ada jurusan sastra di dalamnya, bandingkan antara sastra, kebahasaan (linguistics), budaya, dlsb! Ya, perasaan malu itu pun akan mengakibatkan kerakusan intelektual juga. Kalau ada satu orang mahasiswa yang memang ingin belajar puisi, prosa, dan drama kesusastraan tertentu secara serius, sebaiknya tak perlu lama-lama untuk lulus dan cari gelar. Karena dua hal terakhir ini saja lah yang menjadi respon mayoritas kampus sastra di Indonesia terhadap uang kuliah yang dibayarkan.

Chairil Anwar menuntut waktu pembacanya. Shakespeare? Sangat! Sejarah Sastra Indonesia atau Sejarah Sastra Inggris masing-masing dalam dua semester? Non sense!

Kalau masalah bagus atau tidaknya memang tidak bisa dinilai dari masalah penamaan fakultas saja. Tapi tentu dari hal yang terakhir ini kampus pasti punya visi yang melatar-belakangi penyelenggaraan pendidikan suatu disiplin ilmu. Visi ini paling tidak akan mempengaruhi kualitas pendidikan yang terselenggara di sana. Kualitas ini lah yang menentukan bagus atau tidaknya.

 

Menurutku.

 gambar hilda_in_palu
Luring
Bergabung: 03/26/2011
Tulisan: 89

hehehhee....bagus jg pandangannya mas Galang tuh, oh ya aku sempet nulis2 ttg sastra itu disini..

coba baca deh...

kasih komen ya kalo niat Love Innocent Smile

http://filsafat.kompasiana.com/2011/08/29/sastra-tulisan-i-menggugat-fakultas-sastra-di-indonesia-quo-vadis/

 

viva sastra Love

 gambar doni agung setiawan
Bergabung: 07/04/2011
Tulisan: 113

lha memangnya di fakultas sastra diajari apa hayo? lha wong jawab apa itu sastra aja masih glageban. sastra itu lain dengan karya sastra. karya sastra itu berlainan satu sama lain. kuliah sastra itu malah lain lagi. apakah ada mata kuliah mencintai sastra? atau metode mencintai sastra yang diajarkan?

tanga tanda

 gambar Galang Wijaya
Luring
Bergabung: 03/29/2009
Tulisan: 28

"Sastra itu lain dengan karya sastra"?!! Pantas...glageban! "Glageban" itu adalah suatu ungkapan yang dekat setidaknya dengan seseorang yang berusaha mati-matian supaya tidak tenggelam di dalam genangan air. Mencakup di dalamnya, kehendak untuk bertahan. Renang adalah suatu jenis cabang olah-raga yang sangat perlu dipelajari oleh seseorang untuk menghindari "the takdir of glageban." Sastra pun ternyata adalah suatu jenis cabang seni yang dipelajari dan diajarkan. "Gebyah uyah" punya kejutannya sendiri ternyata: Apakah seni itu lain dengan karya seni? Apakah seni pertunjukan itu lain dengan karya pertunjukan?

doni agung setiawan wrote:

lha memangnya di fakultas sastra diajari apa hayo? lha wong jawab apa itu sastra aja masih glageban. sastra itu lain dengan karya sastra. karya sastra itu berlainan satu sama lain. kuliah sastra itu malah lain lagi. apakah ada mata kuliah mencintai sastra? atau metode mencintai sastra yang diajarkan?

MAHASISWA SASTRA TIDAK SUKA SASTRA. TANYA KENAPA?

Coba ditanyakan pada Doni Agung Setiawan!

 gambar hilda_in_palu
Luring
Bergabung: 03/26/2011
Tulisan: 89

wkwkwkkww

dapet satu lagi bahasa unik: GLAGEBAN...kenapa gak dipake istilah GLUBGLUBGLUB (mengacu pada gelembung2 air pada waktu orang tenggelam) hahahaha...

atau BLUGUBLUGUBLUG... Laughing out loud

anyway, seneng loh baca komen2 mas Galang dan mas Doni, yang baca pastinya tau sinergi apa yg terjadi diantara Sastra dan Seni...

 

tapi tetep...saya sih lebih suka kita kembali ke Fakultas Sastra...karena di dalam sastra (puisi, prosa dan drama) tentang kehidupan dan filsafat itu sendiri...cieileee...

nah kalau jadi fakultas budaya, saya jadi bingung..ntar apa bedanya dng belajar di ISTI, teater2 kesenian, dll..? emang ada fakultas budaya inggris, budaya arab, budaya cina? hiihhiii..sorry kalo OOT ya... Cool Beer

 gambar Nano Anggoro
Luring
Bergabung: 07/13/2011
Tulisan: 11

kalo setau saya di UGM namanya di ganti karena di dalam Fakultas Ilmu Budaya (yang dulunya Fakultas Sastra) terdapat jurusan non-sastra seperti antropologi budaya, arkeologi, sejarah, kearsipan, bahasa korea, dan pariwisata. Jadi mungkin namanya diubah utk menghargai jurusan-jurusan non-sastra ini. Soal mahasiswa sastra yang tidak suka sastra(terutama sastra indonesia) mungkin gejala ini yang namanya cultural inferiority complexs, perasaan malu dan menganggap rendah budaya sendiri, termasuk juga sastranya. Selain iu, dari tulisan Pak Taufiq Ismail, minat sastra berkurang karena sejak kecil mindset kita sudah dibentuk untuk mendalami ilmu eksak dan ilmu yang praktiklal yang pada akhirnya akan melahirkan berbagai profesi seperti dokter, insinyur, ekonom dsb yang dianggap lebih berguna dan lebih prestisius sehingga keberadaan sastra justru diabaikan, padahal menurut beliau, sastra akan membentuk manusia menjadi mahkluk yang humanis, bukan mahkluk mekanis yang bekutat pada data statistik dan angka-angka. Demikian pendapat saya Smile

Saya bersyukur atas "keterbatasan" yang saya miliki sehingga saya tahu "batasan-batasan" dan mencegah saya untuk tidak bertindak di luar "batas"
 gambar Stevano Yusuf
Luring
Bergabung: 10/18/2011
Tulisan: 66

pelan-pelan dibangunkan lagi fakultas sastra yang berbasis komunitas dan bukan komoditas... Beer