Bagaimana Kita Menyikapi Sastra Instan ini?

12 balasan [Tulisan terakhir]
 gambar hilda_in_palu
Luring
Bergabung: 03/26/2011
Tulisan: 89

Saya menulis tulisan yang terus terang banyak terilhami dari laporan sebuah perhelatan sastra di tahun 2006 dan salah satu narasumbernya menelaah tentang fenomena sastra instan saat itu yang berkembang.

Menurut saya sastra instan itu masih ada dan mungkin semakin berkembang sampai saat ini, sehingga saya kemudian membuat tulisannya di salah satu media jurnalis warga dan menuai banyaaaaaak sekali kontra dan secuil pro hehehe...

Nah ini tulisan menghebohkan tersebut, yang saya ingin diskusikan, apakah kita tidak dibenarkan utk menilai suatu karya sastra jika sudah dipublish di umum (bukan menghakimi loh...)

__________________________________________________________________

 

“…. Ketika Sastra tidak lagi dimasuki lewat pergulatan jalan sunyi yang penuh kesabaran, pergulatan kreatif yang merupakan sebuah jalan sunyi, ia akan menjadi sastra instan….”


 Demikian beberapa penggalan tulisan yang saya kutip dari sebuah artikel laporan tentang penyelenggaraan Temu Sastra beberapa tahun yang lalu yang menyoal fenomena Sastra Instan (oleh penyair Joko Pinurbo).

Isu Sastra Instan ini semakin hari semakin merebak saja, terutama di wilayah perkotaan yang dilakukan oleh pelaku-pelaku sastra kini, entah itu di jejaring sosial semacam Facebook maupun Kompasiana dan blog-blog sosialita lainnya.

Mengapa dinamakan sastra instan? Karena karya-karya yang dihasilkan tidak lagi dilewati dengan pergulatan jalan sunyi yang penuh kesabaran itu. Namun dikarenakan tuntutan kepentingan-kepentingan yang pragmatis di lingkungan kita yang akhirnya menelurkan budaya instan (cepat saji) dalam melahirkan kesusastraan.

Kualitas sastra yang dilahirkan dalam pergulatan jalan sunyi itu akhirnya disisihkan oleh banyak kepentingan termasuk untuk tuntutan industri korporasi, eksistensi dan popularitas. Karya-karya baru banyak yang dihasilkan namun sangat sedikit yang bertahan, dan dengan cepat pudar dan hilang alias tidak diingat orang lagi, hanya sedikit sekali yang akan mengendap di hati para pembaca dan penikmat sastra.

Sastra Instan, ya..fenomena sastra yang terjadi belakangan ini di negeri Kompasiana kelihatannya telah merebak dan melebur ke dalam penciptaan karya-karya sastra (dalam genre puisi, cerpen, novel, cermin…name it, semuanya menyatupadukan diri di kolom Fiksiana tercinta kita). Setiap hari kita disuguhi karya-karya sastra baru (entah itu yang benar-benar orisinil ataupun kutip sana kutip sini atau malah ada yang saduran langsung ataupun kopas langsung), entah sudah puluhan atau ratusan ribu karya sastra lahir di Kompasiana ini, dan apakah para Kompasianers ada yang benar-benar ingat katakanlah, 10 karya sastra Kompasianers lainnya dengan jelas dan penuh makna? Setidaknya nyantol 5 karya saja sudah lumayanlah…tapi saya sangat khawatir jawabannya tidak

Kecemasan yang akhirnya muncul, akhirnya aktivitas-aktivitas lanjutan dari sastra instan yang berkembang seperti launching buku kolaborasi atau penulisan kolaborasi sastra (berbagai genre) bermunculan dan membludak dengan peserta yang ada dan kerap hanya menjadi tradisi seremonial untuk eksistensi yang tujuannya karena kepentingan-kepentingan di luar sastra, bukannya menggali lebih dalam dengan berdiskusi dan menghadirkan pembacaan secara kritis pada buku atau karya sastra tersebut.

Lalu ditengah-tengah fenomena eksistensi dan popularitas macam ini, adakah individu, lembaga ataupun kelompok pecinta sastra yang benar-benar terpanggil dan mengkritik karya-karya itu sesuai dengan kaidah-kaidah sastra yang ada? Ataukah kritik yang muncul kemudian juga akhirnya tidak mampu melepaskan diri dari hal-hal pragmatis, eksistensi dan popularitas yang terjadi saat ini?

Mari kita refleksikan saja, secara jujur dan kritis, apa yang terjadi sebenarnya dengan karya-karya sastra kita saat ini, minimal di dunia Kompasiana?

Apa refleksimu wahai para pecinta dan pelaku Sastra?

___________________________________________________________________

 

Ini linknya:

http://fiksi.kompasiana.com/drama/2011/11/05/ketika-produk-sastra-instan-membanjiri-kompasiana/

 

salam sastra teman2ku... Wink

 gambar doni agung setiawan
Bergabung: 07/04/2011
Tulisan: 113

gimana ya...tidak salah juga kalo banyak sekali bermunculan "sastra yang instan"

 

suatu hari saya ngobrol dengan Afrizal Malna, satu hal yang menarik dari beberapa hal menarik lainnya, dan saya bahasakan ulang: sastra instan = sastra alien (ucapan bang Afrizal)

 

apa itu? karya sastra yang isinya "asing" dari yang dialami penulis. analoginya: mahasiswa botani yang menulis sastra, misalnya, dan saya lebihkan: tidak ada bab ke-botani-an yang tertuliskan, atau menjadi bahan yang ditulis/dinarasikan melalui sastra. analogi sederhana lainnya, jika sastra berisi refleksi kehidupan (salah satunya adalah masalah kemanusiaan) yang bisa dikatakan sebagai kepingan sejarah, kecenderungan karya sastra yang saya pahami sebagai karya 'instan', ibarat ia adalah mata bor, ia mengebor dunia yang instan; dunia yang telah lupa sama sekali asal muasal kelahirannya, akarnya.......sekali lagi itu tidak berarti 'salah'. itu variasi, itu adalah parole yang mencoba lepas menyatakan kediriannya sendiri, yang mencoba hadir, yang megelak dari tekanan, dari kegilaan.........

 

tanga tanda

 gambar Wahmuji
Luring
Bergabung: 01/22/2008
Tulisan: 262

1. Linknya kok gak bisa dibuka, yak.

2. Aku bukan pembaca rutin dan penulis di Kompasiana. Bagaimana karya2 sastra di sana jelas aku gak tahu, kecuali satu dua. dan itu pun aku sudah lupa karya tentang apa ditulis siapa.

3. Tulisan yang membahas "sastra instan" itu diawali dengan pengertian yang cukup abstrak mengenai sastra instan, yaitu dengan melawankannya dengan sastra bukan-instan. “…. Ketika Sastra tidak lagi dimasuki lewat pergulatan jalan sunyi yang penuh kesabaran, pergulatan kreatif yang merupakan sebuah jalan sunyi, ia akan menjadi sastra instan….”

4. Pengertian abstrak itu dilebih-konkretkan dgn ini:

Kualitas sastra yang dilahirkan dalam pergulatan jalan sunyi itu akhirnya disisihkan oleh banyak kepentingan termasuk untuk tuntutan industri korporasi, eksistensi dan popularitas.

5. Secara sederhana, industri korporasi (tulisan harus naik cetak dalam waktu 1 bulan, misalnya),  hasrat eksis dan menjadi terkenal adalah orang tua sastra instan. kemenangan mereka adalah kelahiran banyak anak berupa sastra instan.

6. Sampai di titik ini, aku setuju. tak ada yang aku bantah.

7. Dan mungkin di mediasastra.com sendiri, sastra instan itu mendominasi Sad

 gambar hilda_in_palu
Luring
Bergabung: 03/26/2011
Tulisan: 89

mas Wahmuji,

hehehe..ini link barunya, karena banyak yg protes sama admin, jadi dipindah2 tulisan itu...

sekarang disini:

http://filsafat.kompasiana.com/2011/11/05/ketika-produk-sastra-instan-membanjiri-kompasiana/

tapi setidaknya saya senang, banyak yg tertarik akhirnya dengan apa itu sebenarnya sastra itu, dan banyak jg yg membenci krn disebut sastra instan..hehehe

meskipun saya tahu, bhw sebenarnya...ketersinggungan itu adalah karena penggangguan diri yg terjadi (sbg apresiator dlm satu bacaan tentunya berhak mengapresiasi tulisan tsb baik scr setuju ataupun tdk setuju) coba deh dinikmati ratusan komentar2nya...wkwkkwkwkw Laughing out loud

 

cheers Beer

 

 gambar Alwi Atma Ardhana
Bergabung: 02/03/2008
Tulisan: 213

aku kok yakin 'sastra instan' ini adalah label (yang jelas hasil dari penghakiman dengan standar tertentu dan cenderung ditutup-tutupi) yang diberikan pada beberapa karya sastra tertentu dengan media tertentu. Itu dulu seh yang menurutku yang harus dicari baru diskusi bisa lanjut.

 gambar hilda_in_palu
Luring
Bergabung: 03/26/2011
Tulisan: 89

semuanya tertentu...duuuh...

terus nyarinya dimana???

Puzzled

 gambar Alwi Atma Ardhana
Bergabung: 02/03/2008
Tulisan: 213

Nyarinya dari asal muasal definis instan milik Jokpin atau siapa yang mengeluarkan wacana itu. Sebenarnya Jokpin itu tadi ngomentari puisi yang mana. Standar apa sih yang digunakan jokpin ketika mengatakan bahwa sebuah karya sastra telah melewati proses pergulatan dengan kesepian atau belum? ini penting untuk mulai diskusi ini. Ada fenomena yang namanya Slam Poetry di Amerika yang mana puisi-puisi ini ditulis dengan cepat dan memang ditulis untuk mendapatkan respon langsung dari penikmatnya sehingga bahasa-bahasa yang digunakan di dalamnya terkesan sepele. Hingga ditaraf pemanggungannya, pembacaan puisi dengan gaya Slam ini malah lebih mirip standing comedy. Ini mungkin bsa disebut instan dengan definisi Jokpin tapi tidak sepele karena keinstanan proses produksi memiliki maksud seperti di atas. Definisi yang diberikan Jokpin memberi kesan sepele atas yang instan tadi padahal ada banyak sekali genre puisi yang memang proses penciptaannya dibuat cepat dan puisi-puisi tersebut malah dianggap progresif. Kaum penyair surealis tahun 60-an di Eropa menemukan satu teknik penulisan yang dinamakan Exquisite Corpse yang mana puisi-puisinya berisi comotan-comotan dari hal-hal (biasa gambar) yang saat itu ada di sekitar mereka ketika nongkrong. Bukankah ini juga instan (dengan definisi Jokpin)? Tapi, sekali lagi, tidak sepele karena maksud dari kaum surealis ini adalah untuk menyerang selera seni kaum borjuis. kira-kira gimana ya tanggapan Jokpin dengan dua jenis puisi yang aku omongin ini ya? Tongue Tongue Tongue

 gambar doni agung setiawan
Bergabung: 07/04/2011
Tulisan: 113

kalau mie instan aku paham, dan memang gampang dimasak, cepat saji; kalau lapar enak juga kok. entah mie instan setara dengan puisi atau tidak, tapi mie instan itu buatan pabrik; dampaknya bikin saya tidak kreatif dalam membikin mie, bahkan tidak tahu bahannya, atau kenapa mie instan itu kebanyakan keriting...puisi itu bahan dasarnya bahasa dan wacana yang disampaikan sedemikian rupa sehingga jadilah puisi (mungkin). kalau dijadikan instan, mungkin, bahasanya dan wacananya kira-kira seperti mie instan; buatan pabrik yang entahlah asal-usulnya. tapi pada jaman sekarang apa sih yang bukan buatan pabrik? apa sih yang tidak instan? atau apa sih instan itu?

tanga tanda

 gambar Stevano Yusuf
Luring
Bergabung: 10/18/2011
Tulisan: 66

setiap orang punya daya kreatif dan prespektif terhadap dunianya. Ke-MENGGIGITAN-an karya terhadap pembacanya boleh jadi diukur pada seberapa besar karya meninggalkan kesan di hati para pembaca dan membangkitkan energi transformatif, destruktif, atau boleh juga lokomotif kreatif yang di masa mendatang akan menjadi super massive black hole atau hanya menjadi hiasan bunga di pojok kamar. Mau cepat atau lambat atau sedang menurutku itu tergantung dari seberapa banyak pengalaman dan latihan seorang penulis mengasah gigi-gigi karyanya yakni teknik penulisan dan jangan lupa pasta gigi dan minum susu untuk pertumbuhan gigi dan gusi yang kuat yang adalah bacaan dan pengalaman... biarkan kang jokpin merasa lebih karena dia melalui proses sunyi dan merenung. Tapi para penyair slam poetry seperti misalnya Amir Sulaiman yang secara spontan membawakan puisi berjudul Danger mengungkapkan secara mendalam bagaimana kaum Muslim di Amerika menjadi korban diskriminasi pasca bom 11 september menjadi lebih efektif membuka keadaan Kaum Muslim yang bungkam pada tahun 2001-2005. Dan daya-daya tadi bahkan bisa dirasakan saat menontonya... Coba rasakan sendiri... Beer Beer Beer

 gambar Stevano Yusuf
Luring
Bergabung: 10/18/2011
Tulisan: 66

Ginsberg, Kerouac, dan teman2 dari Beatniks sering membuat puisi spontan yang tidak ditulis tetapi direkam... trus? siapa yang berani mengatakan kalau puisi2 mereka ini jelek atau tidak membekas di hati pembacanya di Amerika?

 gambar ShadySant
Luring
Bergabung: 12/12/2011
Tulisan: 3

ehm Laughing out loud :beer:  untuk mbak hilda.. saya termasuk orang baru di kompasiana juga di sini... melihat dan mengamati....untuk yg di kompasiana...mungkin mbak-nya terlalu keras dalam "memvonis" jadi secara reflek..ada daya bela untuk setiap mereka yang merasa...apalagi mereka yang sudah susah susah nulis eh di bilang begitu... tentu mereka  jadi....  Evil sehingga membunuh semangatnya dan terinjak inj keringat/peluh dalam bersusah payah menuangkan ide ke tulisan. Karena banyak di antara mereka yang belajar berkarya dengan otodidak..Smile

....simak kembali.....

 gambar doni agung setiawan
Bergabung: 07/04/2011
Tulisan: 113

Wink iya, dalam hal ini saya sepakat dengan shadysant: banyak diantara mereka yang belajar secara otodidak.....sehingga?

menulis itu hanya masalah waktu; kapan akan matang atau tidak sama sekali, alias sekali menulis setelah itu menghilang. saya rasa semua penulis otodidak, mereka belajar dari membaca orang lain, mendengar kritik orang lain, lalu kembali menulis. berulangkali menulis.

selamat menulis Innocent

tanga tanda

 gambar Stevano Yusuf
Luring
Bergabung: 10/18/2011
Tulisan: 66

setuju bung Don... semua penulis belajar dari proses menulis membaca mendengar dan menulis lagi... terus sampai menemukan gaya yang asik dan menarik menurut dirinya menjadi tempat luapan jiwanya.... tapi ada juga nih menurutku, karya yang menemui penulisnya. Ketika penulisnya ga mau atau ga mampu menuliskannya maka dia menemui orang lain untuk menuliskannya. Karna karya itu berangkat dari perjumpan realitas dan roh penulis yang mencerap informasi dari indra-indranya.... Jadi siap-siap saja karena kadang-kadang ada ide besar datang dan kemudian dia pergi dan menghilang.... Evil Evil Evil

Siap Siaga dan Berjagalah sebab kita tidak tahu kapan dia akan datang.... 

Evil Evil Evil