Film Hanung Bramantyo: menyudutkan atau memberikan kritik konstruktif terhadap Islam?

4 balasan [Tulisan terakhir]
 gambar A.B. Prasetya
Luring
Bergabung: 02/03/2008
Tulisan: 53

Nah, para diatra yang berbahagia (karena cinta pada sastra   Love ), kalau topik-topik diskusi karya sastra sebelumnya menyoroti teks sastra dengan medium novel macam Laskar Pelangi-nya Andrea Hirata atau Saman-nya Ayu Utami (lihat http://mediasastra.com/ruang_diskusi/balairung/diskusi_karya/2477 dan http://mediasastra.com/ruang_diskusi/balairung/diskusi_karya/2283 ), kali ini saya coba mengetengahkan ‘teks’ sastra dengan medium lain, yaitu film. Dari sekian banyak film-film yang berseliweran di dunia perfilman tanah air, karya (dan sutradara) film yang satu ini jadi pilihannya: Hanung Bramantyo.

Bagi saya, nama Hanung Bramantyo cukup asyik kita bahas di forum ini karena beberapa alasan:

1) Karya (dan Sutradaranya) menjadi topik perbincangan hangat (populer) di kalangan masyarakat pecinta film di Indonesia paling tidak dua tahun terakhir. Karyanya dicekal dan dianjurkan, dikutuk dan dipuji oleh penikmat film tanah air.

2) Lantas, berbagai respon (baik pro maupun kontra) ini dapat memetakan dan membaca seberapa besar animo penikmat film dalam mengapresiasi karya, juga membaca latar belakang dan sudut pandang penikmat film di Indonesia, terutama (dalam konteks tema-tema film garapan Hanung) bagaimana kecenderungannya dalam memandang isu-isu agama, perbedaan, dan toleransi.

Dari beberapa film garapannya, paling tidak ada dua karya yang cukup kontroversial: Perempuan Berkalung Sorban dan Tanda Tanya.

Soal Perempuan Berkalung Sorban (PBS), pihak-pihak yang mengecam film ini menilai bahwa representasi PBS atas islam sangat menyudutkan, terutama islam seperti yang ada dalam kehidupan pesantren. Ayat-ayat al-Quran ditafsirkan oleh tokoh-tokoh antagonisnya (yang kebanyakan merupakan ulama atau pendidik di pesantren dalam cerita film) dalam bingkai yang sangat patriarkis, semisal bahwa perempuan tidak boleh keluar rumah, perempuan tidak boleh menunggang kuda, perempuan tidak boleh jadi pemimpin, dan lebih jauh lagi, bahwa ayat-ayat Al-Quran menjadi dasar tindak kekerasan suami terhadap istri, juga tindak kekerasan secara umum (hukuman rajam bagi pezinah).

Seorang penonton misalnya, Indra Jaya, dalam harian Republika, menyatakan bahwa “’Film ini telah membuat kalimat Allah atau hadis hanya untuk diperolok-olok dan menjadi pembenar perilaku yang buruk.” Selain itu, aktor senior Dedi Mizwar juga sejalur dengan pandangan ini, bahwa penafsiran-penafsiran atas fikih Islam di dalam PBS disoroti secara sepihak saja. “Sehingga, bisa menyudutkan pihak lain, terutama dari kalangan Islam Salafiah. Seharusnya dalam mengkritisi Islam dengan kearifan sehingga tidak menimbulkan mudharat,” ujarnya kepada reporter Republika.  (Republika, 3 Februari 2009).

Salah satu penafsiran yang paling ekstrim adalah dikaitkannya karya-karya film Hanung dengan kecenderungan (meminjam istilah pengecamnya) propaganda SIPILIS (Sekularisme, Pluralisme, Liberalisme) dan juga komunisme. Tabloid Suara Islam, menggunakan penafsiran ini dalam membaca karya-karya Hanung. Dalam rubrik wawancara tabloid ini,  Penyair Taufik Ismail pun tak mau ketinggalan mengecam PBS. Ia menganggap bahwa PBS merepresentasikan islam, apalagi kehidupan pesantren, dengan mengambil sisi negatifnya saja. “Di dalam film itu, semua pesantren dan semua Kiyai jelek. Situasi pesantren kumuh, Kiyai-kiyai dengan keluarga digambarkan buruk. Kelakuan tak terpuji. Terasa fikiran utama yang mendasari pembuat film ini adalah spirit mencari cacat, membuka noda, memberi tahu penonton, ini lho yang reyot-reyot, yang sakit-sakit, yang pincang-pincang dari ummat Islam, tontonlah.” Lebih jauh lagi, Bagi TI, Hanung juga menyajikan potret yang tidak ada sama sekali dalam kehidupan pesantren dan juga improvisasi ‘berlebih’ yang tidak ada di novel penginspirasi PBS, misalnya hukuman rajam bagi pelaku zinah, juga pembakaran buku. (Lihat selengkapnya di http://www.rullysyumanda.org/lifestyle/865-taufik-ismail-hanung-kau-keterlaluan-pesantren-dan-kiyai-begitu-kau-burukkan.html )

Di sisi lain, pihak-pihak yang menyambut baik PBS, justru memandang penilaian bahwa PBS timpang dalam merepresentasikan Islam adalah sebuah bentuk kesimpulan yang gegabah dan tidak kontekstual. Bagi pihak ini, justru perilaku-perilaku patriarkis, kolot, dan pro kekerasan ini diposisikan sebagai perilaku muslimin yang salah dan perlu dirubah. PBS justru menghadirkan permasalahan dalam konteks internal umat Islam yang justru harus segera diselesaikan: bahwa masih ada orang-orang atau oknum dari kaum muslimin yang mempraktikan budaya penindasan terhadap perempuan dengan ayat-ayat al-Quran sebagai pembenarannya.

Karya film Hanung lainnya yang baru dirilis, Tanda Tanya (TT), juga tak kalah kontroversial tanggapannya. Belum berapa lama dirilis, TT langsung dinilai ‘menyebarkan SIPILIS’ ‘merusak akidah umat Islam’, ‘sesat’, dan ‘mengajak orang murtad’ (lihat voiceofal-islam http://www.voa-islam.com/news/indonesiana/2011/04/06/14019/menyoal-film-pluralisme-tanda-tanya-garapan-hanung/

Selain itu, Ketua MUI Bidang Budaya, KH A.Cholil Ridwan, turut mengecam film garapan Hanung ini dengan menilai bahwa TT menyebarkan paham pluralisme agama yang dinilai syirik.

"Film itu menyebarkan paham syirik modern (Pluralisme Agama), mendukung orang murtad dari Islam, menyatakan semua agama menuju Tuhan yang sama, mencampuradukkan antara tauhid dan syirik, antara iman dan kufur, dan berlebih-lebihan dalam menggambarkan konflik antar agama. Film ini mencampuradukkan dan mengacaukan konsep toleransi dan kerukunan dengan konsep "Pluralisme" dalam hal teologis. Toleransi tetap bisa terjalin tanpa harus mengorbankan keyakinan keagamaan masing-masing, karena kerukunan umat beragama dapat terwujud bila masing-masing pemeluk agama tetap dengan klaim kebenarannya masing-masing" ujarnya. (lihat http://lintastanzhim.wordpress.com/2011/04/07/mui-film-tanda-tanya-hanung-sebarkan-faham-haram-dan-sesat/

Sementara bagi Hanung, TT merupakan sebuah kritik terhadap penganut-penganut Islam yang dinilainya cenderung tidak toleran terhadap perbedaan dan kurang terbuka terhadap kritik. "Ketika kita melakukan kritik sendiri terhadap agama kita, malah dianggap kafir dan munafik, sehingga kata-kata toleransi itu sendiri menjadi tidak sah. Kenapa? Karena ketika saya bilang orang Indonesia harus toleran, malah dianggap lucu . Kalau Islam agama yang toleran, kenapa tiba-tiba ada penusukan pastur, ada sekelompok orang yang melarang orang untuk pergi ke gereja oleh orang-orang yang mengaku dirinya sebagai Ormas Islam," tuturnya.

Lihat juga Tanya-jawab Hanung dengan salah seorang yang mengecam filmnya di http://www.kapanlagi.com/showbiz/selebriti/hanung-bramantyo-dialog-terbuka-film-tanda-tanya.html

Nah, bagaimana tanggapan para diatra yang berbahagia sekalian? Mari berdiskusi Cheers!   Beer

 

 gambar Maria Puspitasari Munthe
Bergabung: 03/04/2010
Tulisan: 11

wah, saya jadi diatra yang tidak berbahagia membaca tulisan ini. hahaha Laughing out loud

hmm...gimana ya. menurutku respon2 seperti itu biasa sih. masing2 pihak, baik produsen karya maupun mereka yang mengkritiknya memakai sudut pandang masing-masing dalam berkomentar. kalo hanung bilang, "mereka tidak toleran pada perbedaan dan kurang terbuka terhadap kritik", sepertinya ada benarnya juga. hanya saja, komentar yang menyudutkan film2 hanung jadi begitu dominan. alasannya, menurut saya, : 1. kontennya tentang isu agama (yaaah, tau sendirilah bagaimana populernya isu ini) 2. lebih banyak diekspos.

mungkin, tujuan hanung memproduksi film ini belum dimengerti secara jelas oleh para penontonnya. jika memang sebagai kritik atas implementasi ajaran agama, berarti kan tidak semua penganut agama kena, hanya mereka yang berperilaku seperti yang dikritik saja. haha *nggak mutu Tongue

 gambar richardpoeh
Luring
Bergabung: 01/19/2011
Tulisan: 2

Sayang saya belum sempat menonton filmnya. Namun pertanyaan yang dimunculkan disini saya rasa dapat di jawab dengan tanpa menonton filmnya.

Menyudutkan: v 1 menempatkan ke sudut; 2 ki berusaha agar orang lain tidak dapat melawan (menjawab); memojokkan.

Saya rasa tak mungkin Islam tersudut, karena tidak jelas Islam mana yang dimaksud. Hanung mengaku Islam, yang mengkritik mengaku Islam. Bagaimana bisa seseorang menyudutkan dirinya sendiri, sampai-sampai ia tidak mampu melawan dirinya sendiri yang menyudutkan dirinya sendiri?

Maka, saya lebih setuju dengan posisi kedua, bahwa setiap ungkapan pemikiran (dalam hal ini film "?") selalu bisa menjadi kritik konstruktif.

Ini kritik konstruktif  karena mereka yang mengaku Islam bisa mendapatkan contoh (lagi) bagaimana perbedaan itu tak terhindarkan di dalam Islam. Keduabelah pihak mengaku Islam, sama-sama merujuk kepada kitab suci. Tentu saya percaya bahwa tidak mungkin 2 pandangan yang bertolak belakang benar semuanya. Salah satu pasti salah, atau malah keduanya salah. Tapi tak mungkin keduanya benar. Contoh ini bisa mendorong Umat Islam untuk kembali (lebih) melihat bagaimana perbedaan ini, dan berpikir bagaimana menyikapinya. Diharapkan nantinya akan muncul konstruksi sikap yang lebih kokoh ketika menghadapi hal serupa. 

Akan menarik melihat bagaimana lanjutan dari kritik 'mentah' terhadap film ini. Kritik 'mentah' yang saya maksud adalah kritik yang tanpa bukti dan argumen, sekadar berteriak-teriak tanpa alasan yang jelas. Film ini akan menjadi kritik konstruktif bagi mereka yang sekadar berteriak-teriak tak jelas, menghina film ini. Saya membayangkan akan ada orang-orang, yang merasa film ini menyimpang dari Islam yang sebenarnya, yang melakukan kajian mendetail terhadap film ini, dari sisi adegan, dialog, maupun cerita secara keseluruhan, sehingga sampai pada kesimpulan bahwa film ini menyimpang dari Islam. Kemudian muncul pandangan tandingan tentang film ini, yang menyatakan bahwa film ini tidak menyimpang dari Islam. Dan seterusnya, dan seterusnya. Bukankah ini sangat konstruktif bagi umat Islam? Mereka akan diajak untuk bergumul dengan apa yang mereka imani, menganalisa setiap bukti dan argumen, melihat realita yang muncul, sehingga apa yang mereka imani benar juga dibenarkan dari bukti dan argumen yang ada. Ini, saya rasa, akan sangat membangun dunia Intelektual Islam di Indonesia.

Teringat saya bagaimana novel dan film 'Da Vinci Code' menjadi begitu populer setelah ia menampilkan kekristenan yang berbeda dari yang selama ini diyakini oleh banyak orang Kristen. Hasilnya, begitu banyak buku dan ulasan-ulasan tertulis maupun tak tertulis yang disampaikan oleh mereka yang berkeberatan dengan apa yang diklaim di karya Dan Brown ini. Dari buku dan ulasan-ulasan sanggahan ini, banyak orang, terutama orang Kristen, yang mendapat pengetahuan lebih mengenai sejarah Kekristenan, yang mungkin selama ini tidak mereka perhatikan dan bahakan pedulikan. Pengetahuan mengenai keyakinan menjadi kaya dengan adanya Novel dan Film ini.    

Jadi, jikapun ini dianggap sebagai kritik, maka balaslah dengan kritik, karena ini akan sangat membangun, setidaknya dari sisi intelektual. Namun akan sangat tidak membangun jika reaksi yang dimunculkan terhadap film ini lebih bersifat menghancurkan eksistensi orang lain. Sangat menyedihkan seandainya ada orang-orang yang sampai berpikir untuk 'memusnahkan' pihak yang dianggap berbeda. Ini hanyala sikap mereka yang tidak terima kritik dan tidak mau dibangun sama sekali.

"We may disagree on several things, but we should not be disagreable" -Ravi Zacharias

 gambar Johnny Wirjosandjojo
Bergabung: 10/18/2010
Tulisan: 91

PBS sudah saya tonton dahulu... TT belum dan tidak akan saya tonton. PBS hanya mengentalkan emosi dan sebuah karya yang tidak seimbang. Sempit. 

 

Referensi lain:

http://www.eramuslim.com/berita/tahukah-anda/skenario-film-hanung-ternyata-ditulis-oleh-fritjof-schuon-tahun-1932.htm

 

Johnny Wirjosandjojo

 gambar A.B. Prasetya
Luring
Bergabung: 02/03/2008
Tulisan: 53

Johnny, boleh dong kasih penjelasan kenapa PBS dirimu istilahkan sebagai karya yang 'sempit' n 'tak seimbang'?  Wink