Nah, para diatra yang berbahagia (karena cinta pada sastra
), kalau topik-topik diskusi karya sastra sebelumnya menyoroti teks sastra dengan medium novel macam Laskar Pelangi-nya Andrea Hirata atau Saman-nya Ayu Utami (lihat http://mediasastra.com/ruang_diskusi/balairung/diskusi_karya/2477 dan http://mediasastra.com/ruang_diskusi/balairung/diskusi_karya/2283 ), kali ini saya coba mengetengahkan ‘teks’ sastra dengan medium lain, yaitu film. Dari sekian banyak film-film yang berseliweran di dunia perfilman tanah air, karya (dan sutradara) film yang satu ini jadi pilihannya: Hanung Bramantyo.
Bagi saya, nama Hanung Bramantyo cukup asyik kita bahas di forum ini karena beberapa alasan:
1) Karya (dan Sutradaranya) menjadi topik perbincangan hangat (populer) di kalangan masyarakat pecinta film di Indonesia paling tidak dua tahun terakhir. Karyanya dicekal dan dianjurkan, dikutuk dan dipuji oleh penikmat film tanah air.
2) Lantas, berbagai respon (baik pro maupun kontra) ini dapat memetakan dan membaca seberapa besar animo penikmat film dalam mengapresiasi karya, juga membaca latar belakang dan sudut pandang penikmat film di Indonesia, terutama (dalam konteks tema-tema film garapan Hanung) bagaimana kecenderungannya dalam memandang isu-isu agama, perbedaan, dan toleransi.
Dari beberapa film garapannya, paling tidak ada dua karya yang cukup kontroversial: Perempuan Berkalung Sorban dan Tanda Tanya.
Soal Perempuan Berkalung Sorban (PBS), pihak-pihak yang mengecam film ini menilai bahwa representasi PBS atas islam sangat menyudutkan, terutama islam seperti yang ada dalam kehidupan pesantren. Ayat-ayat al-Quran ditafsirkan oleh tokoh-tokoh antagonisnya (yang kebanyakan merupakan ulama atau pendidik di pesantren dalam cerita film) dalam bingkai yang sangat patriarkis, semisal bahwa perempuan tidak boleh keluar rumah, perempuan tidak boleh menunggang kuda, perempuan tidak boleh jadi pemimpin, dan lebih jauh lagi, bahwa ayat-ayat Al-Quran menjadi dasar tindak kekerasan suami terhadap istri, juga tindak kekerasan secara umum (hukuman rajam bagi pezinah).


Seorang penonton misalnya, Indra Jaya, dalam harian Republika, menyatakan bahwa “’Film ini telah membuat kalimat Allah atau hadis hanya untuk diperolok-olok dan menjadi pembenar perilaku yang buruk.” Selain itu, aktor senior Dedi Mizwar juga sejalur dengan pandangan ini, bahwa penafsiran-penafsiran atas fikih Islam di dalam PBS disoroti secara sepihak saja. “Sehingga, bisa menyudutkan pihak lain, terutama dari kalangan Islam Salafiah. Seharusnya dalam mengkritisi Islam dengan kearifan sehingga tidak menimbulkan mudharat,” ujarnya kepada reporter Republika. (Republika, 3 Februari 2009).
Salah satu penafsiran yang paling ekstrim adalah dikaitkannya karya-karya film Hanung dengan kecenderungan (meminjam istilah pengecamnya) propaganda SIPILIS (Sekularisme, Pluralisme, Liberalisme) dan juga komunisme. Tabloid Suara Islam, menggunakan penafsiran ini dalam membaca karya-karya Hanung. Dalam rubrik wawancara tabloid ini, Penyair Taufik Ismail pun tak mau ketinggalan mengecam PBS. Ia menganggap bahwa PBS merepresentasikan islam, apalagi kehidupan pesantren, dengan mengambil sisi negatifnya saja. “Di dalam film itu, semua pesantren dan semua Kiyai jelek. Situasi pesantren kumuh, Kiyai-kiyai dengan keluarga digambarkan buruk. Kelakuan tak terpuji. Terasa fikiran utama yang mendasari pembuat film ini adalah spirit mencari cacat, membuka noda, memberi tahu penonton, ini lho yang reyot-reyot, yang sakit-sakit, yang pincang-pincang dari ummat Islam, tontonlah.” Lebih jauh lagi, Bagi TI, Hanung juga menyajikan potret yang tidak ada sama sekali dalam kehidupan pesantren dan juga improvisasi ‘berlebih’ yang tidak ada di novel penginspirasi PBS, misalnya hukuman rajam bagi pelaku zinah, juga pembakaran buku. (Lihat selengkapnya di http://www.rullysyumanda.org/lifestyle/865-taufik-ismail-hanung-kau-keterlaluan-pesantren-dan-kiyai-begitu-kau-burukkan.html )
Di sisi lain, pihak-pihak yang menyambut baik PBS, justru memandang penilaian bahwa PBS timpang dalam merepresentasikan Islam adalah sebuah bentuk kesimpulan yang gegabah dan tidak kontekstual. Bagi pihak ini, justru perilaku-perilaku patriarkis, kolot, dan pro kekerasan ini diposisikan sebagai perilaku muslimin yang salah dan perlu dirubah. PBS justru menghadirkan permasalahan dalam konteks internal umat Islam yang justru harus segera diselesaikan: bahwa masih ada orang-orang atau oknum dari kaum muslimin yang mempraktikan budaya penindasan terhadap perempuan dengan ayat-ayat al-Quran sebagai pembenarannya.
Karya film Hanung lainnya yang baru dirilis, Tanda Tanya (TT), juga tak kalah kontroversial tanggapannya. Belum berapa lama dirilis, TT langsung dinilai ‘menyebarkan SIPILIS’ ‘merusak akidah umat Islam’, ‘sesat’, dan ‘mengajak orang murtad’ (lihat voiceofal-islam http://www.voa-islam.com/news/indonesiana/2011/04/06/14019/menyoal-film-pluralisme-tanda-tanya-garapan-hanung/
Selain itu, Ketua MUI Bidang Budaya, KH A.Cholil Ridwan, turut mengecam film garapan Hanung ini dengan menilai bahwa TT menyebarkan paham pluralisme agama yang dinilai syirik.
"Film itu menyebarkan paham syirik modern (Pluralisme Agama), mendukung orang murtad dari Islam, menyatakan semua agama menuju Tuhan yang sama, mencampuradukkan antara tauhid dan syirik, antara iman dan kufur, dan berlebih-lebihan dalam menggambarkan konflik antar agama. Film ini mencampuradukkan dan mengacaukan konsep toleransi dan kerukunan dengan konsep "Pluralisme" dalam hal teologis. Toleransi tetap bisa terjalin tanpa harus mengorbankan keyakinan keagamaan masing-masing, karena kerukunan umat beragama dapat terwujud bila masing-masing pemeluk agama tetap dengan klaim kebenarannya masing-masing" ujarnya. (lihat http://lintastanzhim.wordpress.com/2011/04/07/mui-film-tanda-tanya-hanung-sebarkan-faham-haram-dan-sesat/
Sementara bagi Hanung, TT merupakan sebuah kritik terhadap penganut-penganut Islam yang dinilainya cenderung tidak toleran terhadap perbedaan dan kurang terbuka terhadap kritik. "Ketika kita melakukan kritik sendiri terhadap agama kita, malah dianggap kafir dan munafik, sehingga kata-kata toleransi itu sendiri menjadi tidak sah. Kenapa? Karena ketika saya bilang orang Indonesia harus toleran, malah dianggap lucu . Kalau Islam agama yang toleran, kenapa tiba-tiba ada penusukan pastur, ada sekelompok orang yang melarang orang untuk pergi ke gereja oleh orang-orang yang mengaku dirinya sebagai Ormas Islam," tuturnya.
Lihat juga Tanya-jawab Hanung dengan salah seorang yang mengecam filmnya di http://www.kapanlagi.com/showbiz/selebriti/hanung-bramantyo-dialog-terbuka-film-tanda-tanya.html
Nah, bagaimana tanggapan para diatra yang berbahagia sekalian? Mari berdiskusi Cheers! 






