Haloha, para diatra yang berbahagia (karena masih cinta pada Sastra)! 
Kali ini saya pilih sebuah karya monumental seorang tokoh raksasa Sastra Indonesia: Tetralogi Buru (TB) Pramoedya Ananta Toer. Hayo, diatra sekalian sudah baca belum? Hehe.
Sengaja saya pilihkan karya ini karena beberapa tahun belakangan TB (terutama Bumi Manusia) cukup ramai digunjingkan publik Indonesia. Salah satunya disebabkan oleh rencana dirilisnya film Bumi Manusia garapan Riri Riza dan belakangan ini karya-karya Pak Pram lebih sering terlihat di toko-toko buku daripada beberapa tahun sebelumnya.
Arah diskusi kali ini juga lebih terbuka. Kalok sebelumnya topik diskusi biasanya diarahkan ke dikotomi setuju/tidak setuju, nah kali ini saya membuka kemungkinan diatra sekalian untuk berbagi pembacaan/penafsiran terhadap tokoh-tokoh dalam TB, dengan kacamata penafsiran apapun dan pengalaman diatra sendiri tentunya! Dengan bentuk dan gaya apapun! 


Di bawah ini, saya akan mengawali menafsirkan salah satu tokoh utama favorit saya, yaitu MINKE. Alasan saya memilihya karena Minke merupakan salah satu tokoh paling nyata dan kompleks dalam TB, di samping sederetan tokoh lain tentunya. Singkatnya, Minke, buat saya, merupakan salah satu hasil kejeniusan dan komitmen besar Pak Pram dalam penokohan dalam karya sastra realis. 
Sifat-sifat dan identitas Minke betul-betul mencerminkan secara historis geliat manusia pribumi yang tumbuh dalam sistem pemerintahan kolonial. Penokohan Pak Pram atas identitas Minke, buat saya, benar-benar mengagumkan karena bisa ditemukan juga dalam identitas manusia pribumi di tanah-tanah jajahan lainnya, seperti Afrika, India, Australia, atau Amerika Latin, yang latar-belakang dan situasi hidupnya (kurang-lebih) sama. Kehidupan manusia pribumi yang dicitrakan Pak Pram lewat Minke dapat ditemui dalam sistem dan/atau manusia pribumi masa kolonial di belahan bumi lain yang dikonsepkan oleh pemikir macam Ngugi wa Thiong’o dari Kenya, Admiral Cablar, atau Homi Bhabha dari India.
Ini dia pembacaan atas Minke, tokoh favorit saya. Dengan menggunakan secuil data sejarah, juga konsep-konsep tentang sistem dan/atau identitas manusia pribumi selama penjajahan, mudah-mudahan kita bisa melihat Minke berbeda, dibandingkan dengan saat kita melihat Minke dari informasi intrinsik dalam ceritanya saja. Hehe. Cheers!

Minke: pribumi dalam sistem pendidikan kolonial.
Novel pertama dalam TB, Bumi Manusia, kebanyakan memperlihatkan bagaimana Minke, sebagai pribumi Jawa yang kelas sosio-ekonominya tinggi, tumbuh dalam kekaguman atas kemodernan Eropa. Minke muda mengaggumi teknologi Barat macam mesin cetak, kereta, dan juga telegraf yang baginya merupakan penemuan yang menghubungkan bangsa satu dengan bangsa lain. Pendidikan formal Barat yang dijalaninya juga menjadi salah satu kebanggaan dan harapan pencapaian keinginannya bekerja di kantor pemerintahan Belanda di Hindia-Belanda.
Melihat Minke dari aspek historis, Minke adalah produk sekolah-sekolah Belanda di daerah jajahan yang sejarah penyelenggaraannya drintisi pada 1842 ketika Dellfthsche Academie didirikan di Delft, Belanda, sebagai pusat Indologi juga sebagai tempat pendidikan kandidat yang bakal bertugas di tanah-tanah jajahan. Setelah 1848, pemerintah kolonial mulai serius membukan kesempatan pendidikan untuk orang pribumi, yang banyak dikelola juga oleh para misionaris. Pada 1863, Fransen van de Putte, Menteri untuk Daerah Jajahan, mendorong bantuan dana pendidikan dari pemerintah Belanda tanpa memungut dana wajib dari komunitas-komunitas Pribumi—sebuah kebijakan yang mencerminkan dimulainya sistem pendidikan liberal. Dari kebijakan ini, sekolah-sekolah yang disponsori oleh pemerintah tidak melulu ditujukan untuk menciptakan pekerja pemerintahan, tapi mulai ada porsi untuk mengembangkan komunitas pribumi.
Masa transisi menuju abad ke-20, Politik Etis, yang disandingkan dengan kebijakan asosiasi, dijalankan. Dengan slogan “pendidikan, irigasi, dan emigrasi”, kebijakan ini dijalankan demi memperbaiki cara-cara pemerintahan penjajahan Belanda era sebelumnya yang dengan gila-gilaan telah menghisap kehidupan ekonomi masyarakat pribumi dan melahirkan penderitaan yang mengerikan.
Selain di bidang sosial dan ekonomi, Politik Etis juga menjamah ranah etika dan moral. Salah satu programnya adalah memberikan kesempatan yang luas bagi para pelajar Hindia-Belanda untuk menikmati sekolah modern Barat sehingga mampu berkembang dan mengelola sumber daya alam dan sumber daya manusia di Hindia-Belanda. Ini berarti bahwa nilai-nilai Barat akan disuntikan dalam hidup dan kebudayaan masyarakat pribumi. Itulah mengapa kebijakan ini disebut kebijakan asosiasi. Namun, tetap ada ideologi penjajah dalam kebijakan ini. Penanaman nilai-nilai barat ditujukan juga untuk menjaga keberlangsungan penjajahan dengan pendidikan sebagai alat kontrol mental yang utama.
Kebijakan politis pemerintah Belanda ini menemui wajah yang sama dalam kebijakan pemerintah Inggris pada pribumi di tanah jajahannya, terutama di India. Pendidikan kolonial untuk kaum pribumi diarahkan untuk menghasilkan sebuah kelompok pribumi yang mampu menjadi sekrup pelaksana pemerintahan kolonial. Sebuah kelompok elit yang mampu menjadi jembatan, menjadi penafsir, antara apparatus pemerintah kolonial dengan jutaan orang jajahan yang diperintahnya. Kelompok yang berkarakter India dalam warna kulit dan darah, namun berselera, bermoral, memiliki cara pandang, dan berpikiran layaknya seorang Inggris.
Dalam kerangka pikir dan latar belakang historis inilah, Minke sebagai tokoh fiksi saya tafsirkan. Ia adalah hasil pendidikan kolonial, yaitu HBS. Tentu saja, kebanyakan kaum terpelajar pribumi macam Minke memperoleh indoktrinasi penjajah dari sekolah kolonial. Dalam kasus Minke, tokoh Magda Peters lah yang cukup berpengaruh dalam memberikan ide-ide superioritas Barat. Novel pertama tetralogi cukup jelas membahas tentang misi pemberadaban Hurgronje terhadap pribumi Jawa macam Minke dan dampak-dampaknya pada masalah identitas.
Salah satu tanda yang dianggap ibunya sebagai masalah identitas Minke sebagai pribumi adalah “ketidak-hormatannya pada yang lebih tua”. Ia menyebut Minke “orang belanda berkulit coklat”—individu hasil didikan Belanda yang tak lagi pribumi.
Selain itu, dampak indoktrinasi lain yang paling terlihat dari Minke adalah saat Ia diminta untuk melakukan sembah, dia merasa terhina dan malu melakukan ritual tradisional semacam itu. Pandangan Minke tentang budaya asalnya kini telah berubah, Ia memandang identitas budaya pribuminya dalam perspektif yang sama sekali berbeda, Ia memandang salah satu aktivitas kebudayaannya sebagai sebuah inferioritas.
Pengaruh pendidikan Belanda juga berpengaruh dalam aktualisasi intelektualnya: menulis. Dalam cerita pendek-cerita pendek dan artikel-artikel yang dipublikasikann lewat media massa, pilihan bahasa Minke adalah Bahasa Belanda. Teman dekatnya, Jean Marais, seorang Perancis yang bersimpati pada pribumi di Hindia-Belanda, bahkan memandang Minke tercerabut dari akar kebudayaannya sendiri. Ia menyesalkan betapa tulisan berbahasa Belanda yang dibuat Minke hanya mampu dimengerti kebanyakan orang Belanda saja. Saat disarankan untuk menulis dalam bahasa Melayu, Lingua Franca di Hindia Belanda pada saat itu, supaya lebih banyak orang pribumi yang memahami tulisannya, Minke pun merasa terusik. Ia menolak karena memandang bahwa bahasa Belanda tak terpisahkan dari dan membawa identitasnya.
Pengalaman Minke ini dapat dibaca lewat konsep Ngugi wa Thiong’o dari Kenya, yang menyatakan bahwa penyanjungan bahasa tulis Penjajah di atas bahasa pribumi di kalangan kaum terjajah—terpinggirkannya bahasa kaum terjajah oleh bahasa bangsa penjajah, merupakan bukti hasil kontrol mental oleh pemerintah kolonial: kaum terjajah mendefinisikan identitasnya dalam bahasa mereka yang menjajahnya.
Minke megalami proses yang disebut dengan kesadaran-ganda, di mana Ia melihat kebudayaan pribuminya sama seperti sang penjajah melihat kebudayaannya: inferior.
Amilcar Cabral menekankan bahwa sistem penjajahan tak hanya menciptakan peminggiran kehidupan mental kaum terjajah, namun juga memecah-mecah kaum pribumi dan menciptakan golongan yang terasing dan merasa lebih unggul dari kaum pribumi kebanyakan beserta kebudayaanya.
Pak Pram dalam novel kedua, Anak Semua Bangsa, menggambarkan identitas Minke yang dapat ditafsirkan dalam kerangka pemikiran ini. Statusnya sebagai keturunan Bupati dan Priyayi yang menikmati pendidikan dan pembedaan perlakuan dari pemerintah kolonial membuat Minke merasa unggul dari pribumi kebanyakan.
Namun, kerap kali, Minke juga terombang ambing dalam ketidak-pastian identitas dirinya: antara latar belakang nilai tradisional Priyayi-nya dan nilai barat yang diterimanya dalam pendidikan kolonial. Memandang dirinya sebagai hasil didikan Barat yang terinspirasi dari semangat egaliter Revolusi Perancis, Ia kerap mengidentifikasikan visinya dengan semangat ini. Namun, sebagai seorang keturunan Priyayi, Ia kerap kali masih menikmati keistimewaan statusnya yang kerap bertentangan dengan nilai-nilai egaliter yang dikaguminya. Misalnya, pertemuannya dengan Trunodongso, seorang petani miskin, mengungkap sisi ini. Saat Trunodongso menggunakan bahasa Jawa Ngoko (rendah) untuk berbicara dengannya, Minke berpikir seharusnya petani miskin itu menggunakan Jawa Kromo (tinggi) karena Minke berstatus Raden Mas yang secara sosial lebih tinggi. Minke sendiri menyadari bahwa semangat egaliter yang diinspirasinya dari kebudayaan Eropa seringkali tumpang tindih dengan nilai tradisionalnya dalam kehidupan sehari-hari.
Kebimbangan, dan ketidak-pastian identitas yang diguratkan Pak Pram pada Minke ini juga mampu ditafsirkan dalam kerangka pikir Homi Bhabha yang asalnya nun jauh dari India. Menurut Bhabha, identitas kolonial (baik kaum terjajah maupun penjajah) tak pernah bisa dipastikan dalam skema dikotomi penjajah-terjajah. Selalu ada pergulatan dan pergeseran identitas terus-menerus dalam diri individu macam Minke, yang disebut hibrid.


Nah, para diatra sekalian, setidaknya itu dulu awal penafsiran saya atas Minke. Sebenarnya, masih ada perkembangan penokohan Minke lebih jauh di novel ketiga Jejak Langkah, dan novel keempat Rumah Kaca. Tapi, supaya saya tidak ngomel terlalu panjang di pengantar ini
, sebaiknya kawan-kawan segera menutup mulut saya dengan cara membagikan penafsiran kawan-kawan sendiri terhadap tokoh-tokoh yang ada di empat novel dalam Tetralogi Buruh. Silahkan, dengan opini kawan-kawan sendiri, dengan pengalaman intim kawan-kawan sendiri saat bersetubuh dengan TB yang tentu saja berbeda dengan pengalaman intim saya.
Dengan menafsirkan dan membagikan penafsiran kawan-kawan di sini, tentu saja kita sudah melakukan apresiasi sastra bersama terhadap karya monumental Pak Pram ini. Semoga dalam diskusi ini, muncul berbagai macam penafsiran atas tokoh-tokoh yang memungkinkan banyak cara pandang hadir dalam forum ini.
Mari menafsirkan tokoh-tokoh Tetralogi Buruh! Saya pilih Minke, kamu? 

dan kok kebetulan juga kok gw sering baca pascakolonial, jadi bingkai penafsiranmu ga terlalu asing buat gw.. 
kok sudah situ yang mbahas.. hehe. Tapi terimakasih sudah melanjutkannya! 
. Apalagi kan kemaren barusan aja geser server. Mungkin juga karena itu. Tapi, seharusnya mudah-mudah saja memasukkan apa aja ke mediasastra.com karena kan gak perlu nglewatin editor koran yang fetish dengan nama tertentu 


