Yuk, menafsirkan tokoh-tokoh Tetralogi Buru! Aku pilih Minke, kamu?

17 balasan [Tulisan terakhir]
 gambar A.B. Prasetya
Luring
Bergabung: 02/03/2008
Tulisan: 53

Haloha, para diatra yang berbahagia (karena masih cinta pada Sastra)!  Love

 

Kali ini saya pilih sebuah karya monumental seorang tokoh raksasa Sastra Indonesia: Tetralogi Buru (TB) Pramoedya Ananta Toer. Hayo, diatra sekalian sudah baca belum? Hehe. Wink  Sengaja saya pilihkan karya ini karena beberapa tahun belakangan TB (terutama Bumi Manusia) cukup ramai digunjingkan publik Indonesia. Salah satunya disebabkan oleh rencana dirilisnya film Bumi Manusia garapan Riri Riza dan belakangan ini karya-karya Pak Pram lebih sering terlihat di toko-toko buku daripada beberapa tahun sebelumnya.

Arah diskusi kali ini juga lebih terbuka. Kalok sebelumnya topik diskusi biasanya diarahkan ke dikotomi setuju/tidak setuju, nah kali ini saya membuka kemungkinan diatra sekalian untuk berbagi pembacaan/penafsiran terhadap tokoh-tokoh dalam TB, dengan kacamata penafsiran apapun dan pengalaman diatra sendiri tentunya! Dengan bentuk dan gaya apapun!  Cool

 



 

Di bawah ini, saya akan mengawali menafsirkan salah satu tokoh utama favorit saya, yaitu MINKE. Alasan saya memilihya karena Minke merupakan salah satu tokoh paling nyata dan kompleks dalam TB, di samping sederetan tokoh lain tentunya. Singkatnya, Minke, buat saya, merupakan salah satu hasil kejeniusan dan komitmen besar Pak Pram dalam penokohan dalam karya sastra realis.  Innocent

Sifat-sifat dan identitas Minke betul-betul mencerminkan secara historis geliat manusia pribumi yang tumbuh dalam sistem pemerintahan kolonial. Penokohan Pak Pram atas identitas Minke, buat saya, benar-benar mengagumkan karena bisa ditemukan juga dalam identitas manusia pribumi di tanah-tanah jajahan lainnya, seperti Afrika, India, Australia, atau Amerika Latin, yang latar-belakang dan situasi hidupnya (kurang-lebih) sama. Kehidupan manusia pribumi yang dicitrakan Pak Pram lewat Minke dapat ditemui dalam sistem dan/atau manusia pribumi masa kolonial di belahan bumi lain yang dikonsepkan oleh pemikir macam Ngugi wa Thiong’o dari Kenya, Admiral Cablar, atau Homi Bhabha dari India.

Ini dia pembacaan atas Minke, tokoh favorit saya. Dengan menggunakan secuil data sejarah, juga konsep-konsep tentang sistem dan/atau identitas manusia pribumi selama penjajahan, mudah-mudahan kita bisa melihat Minke berbeda, dibandingkan dengan saat kita melihat Minke dari informasi intrinsik dalam ceritanya saja. Hehe. Cheers!   Cool   Beer

 

Minke: pribumi dalam sistem pendidikan kolonial.

Novel pertama dalam TB, Bumi Manusia, kebanyakan memperlihatkan bagaimana Minke, sebagai pribumi Jawa yang kelas sosio-ekonominya tinggi, tumbuh dalam kekaguman atas kemodernan Eropa. Minke muda mengaggumi teknologi Barat macam mesin cetak, kereta, dan juga telegraf yang baginya merupakan penemuan yang menghubungkan bangsa satu dengan bangsa lain. Pendidikan formal Barat yang dijalaninya juga menjadi salah satu kebanggaan dan harapan pencapaian keinginannya bekerja di kantor pemerintahan Belanda di Hindia-Belanda.

Melihat Minke dari aspek historis, Minke adalah produk sekolah-sekolah Belanda di daerah jajahan yang sejarah penyelenggaraannya drintisi pada 1842 ketika  Dellfthsche Academie didirikan di Delft, Belanda, sebagai pusat Indologi juga sebagai tempat pendidikan kandidat yang bakal bertugas di tanah-tanah jajahan.  Setelah 1848, pemerintah kolonial mulai serius membukan kesempatan pendidikan untuk orang pribumi, yang banyak dikelola juga oleh para misionaris. Pada 1863, Fransen van de Putte, Menteri untuk Daerah Jajahan, mendorong bantuan dana pendidikan dari pemerintah Belanda tanpa memungut dana wajib dari komunitas-komunitas Pribumi—sebuah kebijakan yang mencerminkan dimulainya sistem pendidikan liberal.  Dari kebijakan ini, sekolah-sekolah yang disponsori oleh pemerintah tidak melulu ditujukan untuk menciptakan pekerja pemerintahan, tapi mulai ada porsi untuk mengembangkan komunitas pribumi.

Masa transisi menuju abad ke-20, Politik Etis, yang disandingkan dengan kebijakan asosiasi, dijalankan. Dengan slogan “pendidikan, irigasi, dan emigrasi”, kebijakan ini dijalankan demi memperbaiki cara-cara pemerintahan penjajahan Belanda era sebelumnya yang dengan gila-gilaan telah menghisap kehidupan ekonomi masyarakat pribumi dan melahirkan penderitaan yang mengerikan.  

Selain di bidang sosial dan ekonomi, Politik Etis juga menjamah ranah etika dan moral. Salah satu programnya adalah memberikan kesempatan yang luas bagi para pelajar Hindia-Belanda untuk menikmati sekolah modern Barat sehingga mampu berkembang dan mengelola sumber daya alam dan sumber daya manusia di Hindia-Belanda. Ini berarti bahwa nilai-nilai Barat akan disuntikan dalam hidup dan kebudayaan masyarakat pribumi. Itulah mengapa kebijakan ini disebut kebijakan asosiasi. Namun, tetap ada ideologi penjajah dalam kebijakan ini. Penanaman nilai-nilai barat ditujukan juga untuk menjaga keberlangsungan penjajahan dengan pendidikan sebagai alat kontrol mental yang utama.

Kebijakan politis pemerintah Belanda ini menemui wajah yang sama dalam kebijakan pemerintah Inggris pada pribumi di tanah jajahannya, terutama di India.  Pendidikan kolonial untuk kaum pribumi diarahkan untuk menghasilkan sebuah kelompok pribumi yang mampu menjadi sekrup pelaksana pemerintahan kolonial. Sebuah kelompok elit yang mampu menjadi jembatan, menjadi penafsir, antara apparatus pemerintah kolonial dengan jutaan orang jajahan yang diperintahnya. Kelompok yang berkarakter India dalam warna kulit dan darah, namun berselera, bermoral, memiliki cara pandang, dan berpikiran layaknya seorang Inggris.

Dalam kerangka pikir dan latar belakang historis inilah, Minke sebagai tokoh fiksi saya tafsirkan. Ia adalah hasil pendidikan kolonial, yaitu HBS. Tentu saja, kebanyakan kaum terpelajar pribumi  macam Minke memperoleh indoktrinasi penjajah dari sekolah kolonial. Dalam kasus Minke, tokoh Magda Peters  lah yang cukup berpengaruh dalam memberikan ide-ide superioritas Barat. Novel pertama tetralogi cukup jelas membahas tentang misi pemberadaban Hurgronje terhadap pribumi Jawa macam Minke dan dampak-dampaknya pada masalah identitas. 

Salah satu tanda yang dianggap ibunya sebagai masalah identitas Minke sebagai pribumi adalah “ketidak-hormatannya pada yang lebih tua”. Ia menyebut Minke “orang belanda berkulit coklat”—individu hasil didikan Belanda yang tak lagi pribumi.

Selain itu, dampak indoktrinasi lain yang paling terlihat dari Minke adalah saat Ia diminta untuk melakukan sembah, dia merasa terhina dan malu melakukan ritual tradisional semacam itu. Pandangan Minke tentang budaya asalnya kini telah berubah, Ia memandang identitas budaya pribuminya dalam perspektif yang sama sekali berbeda, Ia memandang salah satu aktivitas kebudayaannya sebagai sebuah inferioritas.

Pengaruh pendidikan Belanda juga berpengaruh dalam aktualisasi intelektualnya: menulis. Dalam cerita pendek-cerita pendek dan artikel-artikel yang dipublikasikann lewat media massa, pilihan bahasa Minke adalah Bahasa Belanda. Teman dekatnya, Jean Marais, seorang Perancis yang bersimpati pada pribumi di Hindia-Belanda, bahkan memandang Minke tercerabut dari akar kebudayaannya sendiri. Ia menyesalkan betapa tulisan berbahasa Belanda yang dibuat Minke hanya mampu dimengerti kebanyakan orang Belanda saja. Saat disarankan untuk menulis dalam bahasa Melayu, Lingua Franca di Hindia Belanda pada saat itu, supaya lebih banyak orang pribumi yang memahami tulisannya, Minke pun merasa terusik. Ia menolak karena memandang bahwa bahasa Belanda tak terpisahkan dari dan membawa identitasnya.

Pengalaman Minke ini dapat dibaca lewat konsep Ngugi wa Thiong’o dari Kenya, yang menyatakan bahwa penyanjungan bahasa tulis Penjajah di atas bahasa pribumi di kalangan kaum terjajah—terpinggirkannya bahasa kaum terjajah oleh bahasa bangsa penjajah, merupakan bukti hasil kontrol mental oleh pemerintah kolonial: kaum terjajah mendefinisikan identitasnya dalam bahasa mereka yang menjajahnya.

Minke megalami proses yang disebut dengan kesadaran-ganda, di mana Ia melihat kebudayaan pribuminya sama seperti sang penjajah melihat kebudayaannya: inferior.

Amilcar Cabral menekankan bahwa sistem penjajahan tak hanya menciptakan peminggiran kehidupan mental kaum terjajah, namun juga memecah-mecah kaum pribumi dan menciptakan golongan yang terasing dan merasa lebih unggul dari kaum pribumi kebanyakan beserta kebudayaanya.

Pak Pram dalam novel kedua, Anak Semua Bangsa, menggambarkan identitas Minke yang dapat ditafsirkan dalam kerangka pemikiran ini. Statusnya sebagai keturunan Bupati dan Priyayi yang menikmati pendidikan dan pembedaan perlakuan dari pemerintah kolonial membuat Minke merasa unggul dari pribumi kebanyakan.

Namun, kerap kali, Minke juga terombang ambing dalam ketidak-pastian identitas dirinya: antara latar belakang nilai tradisional Priyayi-nya dan nilai barat yang diterimanya dalam pendidikan kolonial. Memandang dirinya sebagai hasil didikan Barat yang terinspirasi dari semangat egaliter Revolusi Perancis, Ia kerap mengidentifikasikan visinya dengan semangat ini. Namun, sebagai seorang keturunan Priyayi, Ia kerap kali masih menikmati keistimewaan statusnya yang kerap bertentangan dengan nilai-nilai egaliter yang dikaguminya. Misalnya, pertemuannya dengan Trunodongso, seorang petani miskin, mengungkap sisi ini. Saat Trunodongso menggunakan bahasa Jawa Ngoko (rendah) untuk berbicara dengannya, Minke berpikir seharusnya petani miskin itu menggunakan Jawa Kromo (tinggi) karena Minke berstatus Raden Mas yang secara sosial lebih tinggi. Minke sendiri menyadari bahwa semangat egaliter yang diinspirasinya dari kebudayaan Eropa seringkali tumpang tindih dengan nilai tradisionalnya dalam kehidupan sehari-hari.

Kebimbangan, dan ketidak-pastian identitas yang diguratkan Pak Pram pada Minke ini juga mampu ditafsirkan dalam kerangka pikir Homi Bhabha yang asalnya nun jauh dari India. Menurut Bhabha, identitas kolonial (baik kaum terjajah maupun penjajah) tak pernah bisa dipastikan dalam skema dikotomi penjajah-terjajah. Selalu ada pergulatan dan pergeseran identitas terus-menerus dalam diri individu macam Minke, yang disebut hibrid.

 


 

Nah, para diatra sekalian, setidaknya itu dulu awal penafsiran saya atas Minke. Sebenarnya, masih ada perkembangan penokohan Minke lebih jauh di novel ketiga Jejak Langkah, dan novel keempat Rumah Kaca. Tapi, supaya saya tidak ngomel terlalu panjang di pengantar ini   Oups , sebaiknya kawan-kawan segera menutup mulut saya dengan cara membagikan penafsiran kawan-kawan sendiri terhadap tokoh-tokoh yang ada di empat novel dalam Tetralogi Buruh. Silahkan, dengan opini kawan-kawan sendiri, dengan pengalaman intim kawan-kawan sendiri saat bersetubuh dengan TB yang tentu saja berbeda dengan pengalaman intim saya. 

Dengan menafsirkan dan membagikan penafsiran kawan-kawan di sini, tentu saja kita sudah melakukan apresiasi sastra bersama terhadap karya monumental Pak Pram ini. Semoga dalam diskusi ini, muncul berbagai macam penafsiran atas tokoh-tokoh yang memungkinkan banyak cara pandang hadir dalam forum ini.

 

Mari menafsirkan tokoh-tokoh Tetralogi Buruh! Saya pilih Minke, kamu?  Wink

 

 gambar Dinda Tahrir Al-Nasiri
Bergabung: 05/24/2011
Tulisan: 2

Wah, Tetralogi nih.. Boleh2 dah kita sharing.. Kebetulan juga gw penggemar berat Mbah Pram..  Shy dan kok kebetulan juga kok gw sering baca pascakolonial, jadi bingkai penafsiranmu ga terlalu asing buat gw..  Wink

 

Bener, ada perkembangan Minke di novel ketiga dan keempat. Dan gw pikir, perkembangan dia di dua novel ini sekaligus menggenapi konsep hibriditas yang ditawarkan Bhaha.  Ini yang bikin gwmakin kagum ama Mbah Pram, karena penokohan beliau sungguh mampu di baca lewat teori banyak  pemikir pascakolonial, seperti Bhabha.

 

Hibriditas, sejauh yang gw tau, selain berarti bahwa subjek terjajahnya mengalami proses mimikri yang kamu singgung di atas (colonial doubling), juga berarti menjadi ancaman bagi sistem kolonial itu sendiri (menace)..  Sisi ini bisa dilihat lewat transformasi Minke di novel kedua dan keempat ke tahap kesadaran  nasionalis anti-kolonial, di mana cara pandang dan kebudayaan (yang datang) dari sang penjajah seperti 'bangsa', egaliter, jurnalisme, essay politis, menjadi senjata utama Minke dalam merongrong pemerintah kolonial selama masa transisi itu.. 

 

Kalo kita lihat dalam skema Frantz Fanon, mungkin bisa ditafsirkan bahwa Minke menyentuh tiga tahap perkembangan intelektual pribumi selama periode kolonial. Fase pertama, produk-produk intelektualnya menggambarkan sebuah proses asimilasi dengan kebudayaan bangsa penjajah. Fase kedua adalah munculnya kesadaran 'tak-nyaman' dalam diri si intelektual pribumi soal di mana identitas dirinya dapat ditempatkanm namun juga masih menemukan kebimbangan dalam melakukan itu. Minke tidak berasal sepenuhnya dari pribumi terjajah kebanyakan, tidak juga mau mengidentikan dirinya dari bangsa penjajah. Dan fase ketiga, adalah fase di mana menjadi pembangkit semngat perlawanan rakyat  pribumi kebanyakan (pencerah) dalam melawan sistem penjajahan.  Evil

 

  "Individu-individu kuat sepatutnya bergabung, mengangkat sebangsanya yang lemah, memberi lampu pada yang kegelapan dan memberi mata pada yang buta." Pramoedya

 

Hehhmmm.. Ngebir dulu yaw...    Cool Beer

 

 

 

 

 gambar A.B. Prasetya
Luring
Bergabung: 02/03/2008
Tulisan: 53

Waduh, colonial menace! padahal saya mau mbahas itu..  Crying kok sudah situ yang mbahas.. hehe. Tapi terimakasih sudah melanjutkannya!   Cool Beer

 

Gemar pascakolonial juga?  Quest

 

Ayo, kawan-kawan yg lain, mari sharing tokoh-tokoh lainnya!   Innocent Beer

 

 

 

 gambar Dinda Tahrir Al-Nasiri
Bergabung: 05/24/2011
Tulisan: 2

haha. colonial menace! Cool Beer

Ya maabh, om.. Gw kan ga tau kalo situ mau bahas... :D  Iya, gw lumayan kesemsem sama poscakolonial soalnye secara negare kita kan negara pascakolonial gitu ye.. Jadi berasa gitu relevansinya... walo rada beda sama bekas koloni negara lainnya macam Inggris, Spanyol, Portugis, atw Perancis...

 gambar hilda_in_palu
Luring
Bergabung: 03/26/2011
Tulisan: 89

hebat...

tapi saya blm baca, dan ingin baca tetralogi Buru ini...hiksss...kapan yaaa...

saya baru baca Perburuan karya Pram, dan ingin sekali membaca 3 buku ini...semoga sempat nyari n beli....hehehe

lanjuuut (bukan SBY!)

 

salam... Wink

 gambar A.B. Prasetya
Luring
Bergabung: 02/03/2008
Tulisan: 53

Hai halo Hilda in Palu!   Cool   Beer

Sebenarnya TB terdiri dari 4 novel bukan 3 (baca: TETRA-logi). Hehe. Ayo, segera cari dan dihabiskan novel-novelnya! Namun, karena kemungkinan besar TB yang halamannya begitu tebal tak mungkin dirampungkan dalam jangka watu 1 minggu, bagaimana kalo dirimu sharing aja tentang pengalaman intimmu saat membaca roman Perburuan? Kan mantab tuh! hehe.  Cool

Kebetulan aku juga sudah baca Perburuan, jadi sedikit-banyak aku mungkin nyambung kalau dirimu membahas aspek-aspek roman ini... 

Gimana pendapatmu tentang Perburuan? Tentang Hardo, Protagonis di roman ini yg adalah seorang pejuang bawah tanah dan diburu pemerintah kolonial Jepang?  Quest

 

Hai halo Dinda Tahrir Al-Nasiri,  Cool Beer

Wah, aku setuju itu. Memang fakta bahwa Indonesia sebagai negara bekas koloni memang menambah mantabh rasaa saat kita mempelajari teori pascakolonial. Ada relevansi yg bisa kita aplikasikan langsung saat membaca fenomena2 di negara kita. Btw, karakter apa sih yg secara signifikan membedakan Indonesia dengan negara-negara bekas koloni lainnya?  Quest

 

 gambar hilda_in_palu
Luring
Bergabung: 03/26/2011
Tulisan: 89

aku tuh bulan lalu kalo gak salah pernah masukan review "perburuan" di media sastra, tapi kayaknya gak bisa masuk loh, aku gak tau apa yg salah...maklum gaptek jg hehehe

ok, pengen banget beli tetralogi ini (iya 4 dink bukan 3 hehehe), ntar kalo ke jkt aku pasti beli dweeeh hehehee....

keren lah pokoke, btw gimana caranya masukin resensi buku disini?

thanks a lot, bro Wink senang bisa diskusi ttg bukunya Pram disini Wink

 gambar Wahmuji
Luring
Bergabung: 01/22/2008
Tulisan: 262

Tokoh Minke memang sangat klop dengan pemahaman teoretikus pascakolonial, khususnya Frantz Fanon dan Bhabha. Mungkin karena itu, dengan menganalisis Minke saja, kita bisa mendapatkan gelar Doktor atau Profesor. Wink

Namun, menganggap kecocokan ini sebagai kehebatan Pram mungkin bisa menjebak kita untuk: pertama, menganggap teori lebih tinggi daripada karya sastra; kedua, cenderung menganggap teori sebagai satu-satunya basis menilai kehebatan karya sastra, dalam arti bagus tidaknya karya sastra bergantung pada cocok tidaknya dengan sebuah teori. Aku katakan mungkin bisa menjebak karya kecenderungan analisis akademis pada karya sastra, khususnya yang pernah aku baca, demikian adanya.

Selain Minke, tokoh yang melekat erat di pikiranku adalah Siti Soendari. Tokoh ini, meski bisa dibaca sebagai 'anak' Minke karena kesadarannya disebabkan oleh Minke, merupakan hasil telaah Pram yang memukau mengenai perjalanan kesadaran perjuangan perempuan di Indonesia, atau pra-Indonesia -- Pram tidak sekalipun menyebut 'Indonesia' dalam Tetralogi Buru karena, menurut Max Lane, Indonesia memang baru berupa imajinasi yang belum terungkapkan secara utuh, atau Phantasma, menurut Benedict Anderson. Siti Soendari, bagiku, berjalan satu langkah di depan Kartini--cocok dengan waktu hidup keduanya: Kartini hidup di generasi sebelum Siti Soendari. Secara sederhana, simbol kemajuan itu mungkin bisa dilihat dari hubungan keduanya dengan ayah masing-masing. Kalau gelora pembebasan perempuan dalam diri Kartini bertentangan keras dengan cintanya pada ayahnya yang sadar-pendidikan tapi feodal, dalam diri Siti Soendari, pertentangan itu mampu diatasi dengan radikal pada masanya: pergi dari orang tua, bergerak berkelana sendiri..

 gambar Alwi Atma Ardhana
Bergabung: 02/03/2008
Tulisan: 213

Hilda, mungkin ada yang sesuatu yang salah Laughing out loud . Apalagi kan kemaren barusan aja geser server. Mungkin juga karena itu. Tapi, seharusnya mudah-mudah saja memasukkan apa aja ke mediasastra.com karena kan gak perlu nglewatin editor koran yang fetish dengan nama tertentu Laughing out loud . Coba aja sekali lagi karena klaryamu bakalan membantu kawan-kawan yang pengen diskusi tentang Pak Pram yang udah dimulai di ruang diskusi Beer   cheers...

 gambar A.B. Prasetya
Luring
Bergabung: 02/03/2008
Tulisan: 53

Hilda, nah itu sudah diprovokasi sama Alwi Atma Ardhana.. Jiaha.    Cool Beer   Kirim aja lagi, mungkin penjelasan mengenai kiriman resensi Perburuan yg kemarin akan dijelaskan oleh Wahyu Adiputra Ginting sebagai pengelola rubrik resensi, atau Wahmuji... Selain Perburuan, kamu sudah baca karya Pram yang mana lagi? Innocent

 gambar Dionisius Sony.
Bergabung: 05/19/2011
Tulisan: 3

Mas A.B Prasetya, saya tertarik dengan ulasan dikau dan saya mau tanya mengenai konsep kesadaran-ganda seperti dalam kutipan paragraf berikut ini...

 

Minke megalami proses yang disebut dengan kesadaran-ganda, di mana Ia melihat kebudayaan pribuminya sama seperti sang penjajah melihat kebudayaannya: inferior.

 

apa itu kesadaran-ganda dan bagaimana munculnya ia dalam karakter Minke?

mohon penjelasannya ya... thanks. ^^ Smile

 

 gambar A.B. Prasetya
Luring
Bergabung: 02/03/2008
Tulisan: 53

Hai halo, Cemarakota!    Cool Beer

Pengertian kesadaran ganda (double consciousness) saya ambil dari konsep yg dikembangkan oleh Du Bois, seorang aktivis pan-Afrika. Du Bois menggunakan istilah ini untuk menjelaskan fenomena psikologis (atau paling tidak menyangkut 'identitas') orang-orang kulit hitam dalam masyarakat Amerika yg pada waktu itu (bahkan mungkin masih ada sampai sekarang) rasis. Konsep ini pun cukup terkenal dan sering digunakan untuk menjelaskan permasalahan identitas orang-orang terjajah pada umumnya.

Rasisme, salah satu ideologi yg digunakan untuk membenarkan penjajahan orang kulit putih terhadap kulit hitam terutama sampai akhir perang dunia ke-2, menyebabkan orang terjajah (pribumi, atau biasanya orang berkulit gelap) melihat dirinya pantas mendapat perlakuan yg tak setara dari kaum lain. Rasisme, yg berarti meyakini adanya superioritas ras tertentu di atas ras lain, juga diterima sebagai 'kebenaran' bahkan oleh kaum terjajah yg kenyataannya dirugikan melalui ideologi ini. Inilah yg dimaksud Du Bois dengan 'kesadaran ganda', yaitu saat kaum terjajah (kulit gelap) melihat dan memahami dirinya melalui cara pandang kaum yg menjajahnya (kulit terang). Selanjutnya, Kecenderungan perilaku kaum terjajah ini juga dipengaruhi oleh cara kaum penjajah memandang dirinya seperti melalui stereotipe-stereotipe ras. Nah, kesadaran ganda ini biasanya menyebabkan inferioritas di kalangan kaum terjajah baik perorangan maupun kelompok.

Bagaimana Minke mengalami kesadaran-ganda ini? Ya, seperti yg sudah saya gambarkan sedikit di awal pengantar diskusi, ia melihat identitas kebudayaan pribuminya dalam perwujudan tertentu (sembah atau menghormati yg lebih tua) adalah lebih rendah (tak pantas) untuk dirinya yg telah mengontraskan aktivitas budaya pribuminya dengan nilai-nilai egaliter Eropa.. Begitu.. hehe.  Wink

Bagaimana menurutmu? Kamu sudah baca TB? Ayo bagikan pengalamanmu! Cheers!    Cool   Beer

 

 

 gambar hilda_in_palu
Luring
Bergabung: 03/26/2011
Tulisan: 89

sorry guys, baru muncul lagi...

oke ntar aku coba masukin lagu review novel Perburuan itu..

sebenernya baru buku itu doank yg aku baca hehehe, eh ada satu lg yg saduran dari novelnya Steinbeck , The Mice ya kalo gak salah?

makanya saya pengen baca yg lainnya jg....

 

thanks utk support teman2 semua, kayaknya saya bisa betah disini hehehe.... Love

 gambar Wahmuji
Luring
Bergabung: 01/22/2008
Tulisan: 262

@Hilda: Cheers!  Beer

 gambar hilda_in_palu
Luring
Bergabung: 03/26/2011
Tulisan: 89

horeeee...saya sudah beli Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa...

terkagum2 membaca buku pertama...pantesan...pantesan, hebat Pram itu yah...pokoknya seru banget baca buku itu, pdhal pake bahasa lama

wah...wah...keren abis deh

 

nanti kalo dah selesai buku kedua, saya balik lg ya..hehehe

cheers

Cool

 gambar A.B. Prasetya
Luring
Bergabung: 02/03/2008
Tulisan: 53

Ditunggu, Hilda.. Hehehe. 8)  Beer

 gambar Punkysme
Luring
Bergabung: 01/05/2012
Tulisan: 1

aku lebih suka annelies... kebayang cantiknya gimana???

 gambar Alwi Atma Ardhana
Bergabung: 02/03/2008
Tulisan: 213

punkysme, aku setuju banget itu. di kepala dah kebayang gimana cakepnya. hahaha

Evil Evil Evil