buku Rabindranath Tagore yang pertama kali saya baca adalah 'on the shore of eternity'. anthology puisi ini merupakan hadiah dari Pakdhe saya. ada kebijaksanaan terutama tentang menghadapi kehilangan yang ditulis oleh Tagore. gambaran-gambaran yang beliau sajikan dalam puisi-puisinya terasa sangat dekat dengan kita. tidak ada hal yang terlepas dari tangkapan jaringan kelima inderanya. kebijaksanaannya mungkin dipengaruhi oleh posisinya sebagai seorang Hindu. hidup bagi beliau adalah sederetan kereta fenomena dimana manusia harus bisa melihat dengan mantap. puisi-puisi Tagore adalah kunci awal berpikir bagi saya. ide-ide dasar sebagai pegangan menulis puisi yang lain.hal itu juga sangat terasa dalam buku-buku beliau yang lain seperti Gitanjali, the strayed birds, siul gelombang dll. kedekatan Tagore dengan kondisi sekitarnya membangun sebuah jembatan kokoh antar alam. alam tumbuhan, alam manusia maupun hewan serta hal-hal kecil yang melingkupinya. sehingga membuatnya seolah-olah mampu mengartikan nasib masing-masing ciptaanNYA. sungguh, Tagore menawarkan landasan berpikir tentang dunia dengan dahsyatnya.
Silakan masuk atau daftar dulu untuk menulis komentar
buku tagore yang pernah saya baca adalah bulan sabit, sekaligus menjadi favorit saya...
di dalamnya di ceritakan tentang dunia yang di lihat dari sudut pandang anak-anak. menarik untuk saya karena kesukaan akan hal2 imaji masa kanak-kanak yang saya punya.
buku ini punya hubungan emosi dgn saya terutama di soal bagaimana saya harus berpikir untuk bisa tune-in dgn kehidupan di masa2 awal kuliah.
kadang saya pikir ini bukan buku.
lebih seperti kotak musik, di mana kenangan2 di kunci dengan kata2 dan tulisan lalu akan dimainkan lagi saat di baca.
Silakan masuk atau daftar dulu untuk menulis komentar
setuju sekali mas alwi,disitu juga tagore bisa ngegambarin suasna kematian tapi dengan nuansa yang berbeda sehingga orang yg smula berpikir bahwa kmatian sbagai hal yg menakutkan akan berpikir bahwa kematian adalah sesuatu yg indah dan pantas untuk kita tunggu...cuma sayangnya aku baru baca bukunya yg edisi indonesia,dan itu buku tagore pertama saya yg saya dapatkan dr tukang buku langganan saya.kayaknya asik juga baca yg edisi bhs inggris...
untuk bang durga mungkin besok pas ketemu di t4 babi bisa saya bawakan salah satunya jika berminat...
Silakan masuk atau daftar dulu untuk menulis komentar
Khas penulis-penulis yang berfokus pada tema-tema spiritualitas pada umumnya berangkat dari penggalian spiritualitas dahulu sebelum menulis. Tentu akan beda karya-karya yang dihasilkan oleh penulis yang sudah tercerahkan (dan karenanya menulis dari kalbu yang jernih), daripada penulis yang lebih melandasi karyanya dengan rasio semata. Tagore, Chopra, Coelho, Sutasoma, Valmiki, Dalai Lama, ... you name it! TS Pinang? Hmmm.... heheheh...
Silakan masuk atau daftar dulu untuk menulis komentar
Rumah dan Dunia adalah pertemuan saya pertama dengan karya Tagore. sebenarnya sejak sekolah dasar dahulu saya sudah mendengar nama Tagore. namun, hanya sebatas nama sebuah lembaga kursus bahasa inggris di kota saya, yang, notabene, pengelolaannya didominasi oleh etnis Hindi. Tagore, bagi pengagumnya, adalah seorang guru besar -- seorang rabi negara. sudut pandang spiritual, seperti yang dikatakan mas Pinang, benar-benar menjadi titik tolak bagi banyak karyanya. novel Rumah dan Dunia yang saya baca merupakan tulisan yang sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa. diterbitkan oleh Bentang Pustaka. beruntung penerjemahnya lihai dan cukup cerdas dalam melafalkan kembali cerita berlatar India klasik itu ke dalam Bahasa. suasana dan rasa dari bahasa kata-kata Tagore teraba dengan sangat khas di sana. Tagore baik sekali menggunakan analogi-analogi yang sangat "Hindi-contextualized". di novel itu, Tagore mengadu semangat "semu" nasionalis penuh "nafsu" BANDE MATARAM dengan pemikiran penuh renung yang cenderung lebih "legawa" lebih sabar lebih "brahmana". ada banyak sekali hal menarik yang bisa dicari di cerita Rumah dan Dunia. yang sangat menarik perhatian saya, berhubung rasa melankolis sedang melanda saya saat membaca novel itu, adalah ritual-ritual "cinta" yang aneh yang dilakukan pasangan suami-istri India dalam keadaan keterkurungan si wanita di dalam istana, dan lagi, keliaran yang tak terbendung tak tertampung saat sang perempuan melangkah keluar "Rumah" menuju "Dunia".
sayang, saya sempat mendengar bahwa prestasi Tagore yang meraih penghargaan Nobel sastra tahun 1913 diruyaki praduga tentang politik cari-muka kaum kolonial terhadap ASIA, sang jajahan mereka.
pun begitu, karya-karya Tagore tetap asyik untuk dicerna. dan tak habis digerus parutan waktu.
Silakan masuk atau daftar dulu untuk menulis komentar
tagore, penyair yang penyair
buku Rabindranath Tagore yang pertama kali saya baca adalah 'on the shore of eternity'. anthology puisi ini merupakan hadiah dari Pakdhe saya. ada kebijaksanaan terutama tentang menghadapi kehilangan yang ditulis oleh Tagore. gambaran-gambaran yang beliau sajikan dalam puisi-puisinya terasa sangat dekat dengan kita. tidak ada hal yang terlepas dari tangkapan jaringan kelima inderanya. kebijaksanaannya mungkin dipengaruhi oleh posisinya sebagai seorang Hindu. hidup bagi beliau adalah sederetan kereta fenomena dimana manusia harus bisa melihat dengan mantap. puisi-puisi Tagore adalah kunci awal berpikir bagi saya. ide-ide dasar sebagai pegangan menulis puisi yang lain.hal itu juga sangat terasa dalam buku-buku beliau yang lain seperti Gitanjali, the strayed birds, siul gelombang dll. kedekatan Tagore dengan kondisi sekitarnya membangun sebuah jembatan kokoh antar alam. alam tumbuhan, alam manusia maupun hewan serta hal-hal kecil yang melingkupinya. sehingga membuatnya seolah-olah mampu mengartikan nasib masing-masing ciptaanNYA. sungguh, Tagore menawarkan landasan berpikir tentang dunia dengan dahsyatnya.
bulan sabit
buku tagore yang pernah saya baca adalah bulan sabit, sekaligus menjadi favorit saya...
di dalamnya di ceritakan tentang dunia yang di lihat dari sudut pandang anak-anak. menarik untuk saya karena kesukaan akan hal2 imaji masa kanak-kanak yang saya punya.
buku ini punya hubungan emosi dgn saya terutama di soal bagaimana saya harus berpikir untuk bisa tune-in dgn kehidupan di masa2 awal kuliah.
kadang saya pikir ini bukan buku.
lebih seperti kotak musik, di mana kenangan2 di kunci dengan kata2 dan tulisan lalu akan dimainkan lagi saat di baca.
ga tau
Tagore tuh sapa sich? kaga tau tuh...coba saya cai dulu perpus...
salam,
amarah durga
pantai keabadian
setuju sekali mas alwi,disitu juga tagore bisa ngegambarin suasna kematian tapi dengan nuansa yang berbeda sehingga orang yg smula berpikir bahwa kmatian sbagai hal yg menakutkan akan berpikir bahwa kematian adalah sesuatu yg indah dan pantas untuk kita tunggu...cuma sayangnya aku baru baca bukunya yg edisi indonesia,dan itu buku tagore pertama saya yg saya dapatkan dr tukang buku langganan saya.kayaknya asik juga baca yg edisi bhs inggris...
untuk bang durga mungkin besok pas ketemu di t4 babi bisa saya bawakan salah satunya jika berminat...
Spirituality First, Writing Later
Khas penulis-penulis yang berfokus pada tema-tema spiritualitas pada umumnya berangkat dari penggalian spiritualitas dahulu sebelum menulis. Tentu akan beda karya-karya yang dihasilkan oleh penulis yang sudah tercerahkan (dan karenanya menulis dari kalbu yang jernih), daripada penulis yang lebih melandasi karyanya dengan rasio semata. Tagore, Chopra, Coelho, Sutasoma, Valmiki, Dalai Lama, ... you name it! TS Pinang? Hmmm.... heheheh...
Rumah dan Dunia
Rumah dan Dunia adalah pertemuan saya pertama dengan karya Tagore. sebenarnya sejak sekolah dasar dahulu saya sudah mendengar nama Tagore. namun, hanya sebatas nama sebuah lembaga kursus bahasa inggris di kota saya, yang, notabene, pengelolaannya didominasi oleh etnis Hindi. Tagore, bagi pengagumnya, adalah seorang guru besar -- seorang rabi negara. sudut pandang spiritual, seperti yang dikatakan mas Pinang, benar-benar menjadi titik tolak bagi banyak karyanya. novel Rumah dan Dunia yang saya baca merupakan tulisan yang sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa. diterbitkan oleh Bentang Pustaka. beruntung penerjemahnya lihai dan cukup cerdas dalam melafalkan kembali cerita berlatar India klasik itu ke dalam Bahasa. suasana dan rasa dari bahasa kata-kata Tagore teraba dengan sangat khas di sana. Tagore baik sekali menggunakan analogi-analogi yang sangat "Hindi-contextualized". di novel itu, Tagore mengadu semangat "semu" nasionalis penuh "nafsu" BANDE MATARAM dengan pemikiran penuh renung yang cenderung lebih "legawa" lebih sabar lebih "brahmana". ada banyak sekali hal menarik yang bisa dicari di cerita Rumah dan Dunia. yang sangat menarik perhatian saya, berhubung rasa melankolis sedang melanda saya saat membaca novel itu, adalah ritual-ritual "cinta" yang aneh yang dilakukan pasangan suami-istri India dalam keadaan keterkurungan si wanita di dalam istana, dan lagi, keliaran yang tak terbendung tak tertampung saat sang perempuan melangkah keluar "Rumah" menuju "Dunia".
sayang, saya sempat mendengar bahwa prestasi Tagore yang meraih penghargaan Nobel sastra tahun 1913 diruyaki praduga tentang politik cari-muka kaum kolonial terhadap ASIA, sang jajahan mereka.
pun begitu, karya-karya Tagore tetap asyik untuk dicerna. dan tak habis digerus parutan waktu.
mohon karya tagore
tolong kirimin gua karyanya tagore yang lo punya yach...thanks berat