akhirnya, setelah rilis yang tertunda hampir 2 bulan, rencana awal rilis tanggal 29 Desember 2007, Ayat-Ayat Cinta rilis juga di bioskop. premiere di 21 Ambarrukmo Jogja Sabtu 23 Febuari 2008, pada midnight show pukul 23.30WIB. saya yang sudah menanti film ini sejak nonton trailernya di TV penasaran banget ama pilm ini. yah...akhirnya baru sempet nonton kemaren (Rabu, 27 Febuari 2008), ya ga telat-telat amat lah ya...
adapun ceritanya kurang lebih seperti ini... (sebelumnya mohon maaf, karena saya memiliki keterbatasan kemampuan dalam menceritakan ulang, saya ambil sinopsisnya di www.21cineplex.com/movie.cfm?id=1819 )
Ini adalah kisah cinta. Tapi bukan cuma sekedar kisah cinta yang biasa. Ini tentang bagaimana menghadapi turun-naiknya persoalan hidup dengan cara Islam. Fahri bin Abdillah (Fedi Nuril) adalah pelajar Indonesia yang berusaha menggapai gelar masternya di Al Ahzar. Berjibaku dengan panas-debu Mesir. Berkutat dengan berbagai macam target dan kesederhanaan hidup. Bertahan dengan menjadi penerjemah buku-buku agama. Semua target dijalani Fahri dengan penuh antusiasme kecuali satu: menikah. Kenapa? Karena Fahri adalah laki-laki taat yang begitu ‘lurus’. Dia tidak mengenal pacaran sebelum menikah. Dia kurang artikulatif saat berhadapan dengan mahluk bernama perempuan. Hanya ada sedikit perempuan yang dekat dengannya selama ini. Neneknya, Ibunya dan saudara perempuannya. Betul begitu? Sepertinya pindah ke Mesir membuat hal itu berubah
Tersebutlah Maria Girgis (Carissa Putri). Tetangga satu flat yang beragama Kristen Koptik tapi mengagumi Al Quran. Dan menganggumi Fahri. Kekaguman yang berubah menjadi cinta. Sayang cinta Maria hanya tercurah dalam diary saja. Lalu ada Nurul (Melanie Putria). Anak seorang kyai terkenal yang juga mengeruk ilmu di Al Azhar. Sebenarnya Fahri menaruh hati pada gadis manis ini. Sayang rasa mindernya yang hanya anak keturunan petani membuatnya tidak pernah menunjukkan rasa apa pun pada Nurul. Sementara Nurul pun menjadi ragu dan selalu menebak-nebak. Setelah itu ada Noura (Zaskia Adya Mecca). Juga tetangga yang selalu disika Ayahnya sendiri. Fahri berempati penuh dengan Noura dan ingin menolongnya. Sayang hanya empati saja. Tidak lebih. Namun Noura yang mengharap lebih. Dan nantinya ini menjadi masalah besar ketika Noura menuduh Fahri memperkosanya
Terakhir muncullah Aisha (Rianti Cartwright). Si mata indah yang menyihir Fahri. Sejak sebuah kejadian di metro, saat Fahri membela Islam dari tuduhan kolot dan kaku, Aisha jatuh cinta pada Fahri. Dan Fahri juga tidak bisa membohongi hatinya. Lalu bagaimana bocah desa nan lurus itu menghadapi ini semua? Siapa yang dipilihnya? Bisakah dia menjalani semua dalam jalur Islam yang sangat dia yakini?
yah...kirakira begitulah, maaf ajah sinopsisnya jelek, maklum ngutipnya dari 21cineplex.com sih...
setelah keluar dari studio 4, studio saya nonton AAC, ternyata mengiring berbagai kekecewaan. harapan saya dari film ini adalah memberikan warna baru dari keragaman film Indonesia, tapi ternyata...poooh....!
saya mencoba melihat satu persatu saja dahulu.
1. setting tempat.
setting tempat untuk cerita ini adalah Mesir, yang kental dengan semangat Islaminya (ya iyalah) terus...sebenarnya menurut info yang saya baca dari majalah Cinemags, take gambar film ini ga semuanya diambil di Mesir beneran, ada beberapa adegan yang diambil di Mesir, tapi hampir 80% di Indonesia. bagus. saya bilang bagus, karena "Mesirnya" cukup meyakinkan. sangat tidak Indonesia. setting tempatnya sudah sip, cuma sayangnya...kok tidak konsisten ya...di Mesir hampir semua penduduk asli sana bisa ngomong bahasa Indoesia...ya saya ga' tau apakah emang begitu keadaanya atau tidak, tapi suasana Mesir jadi hilang ketika polisi lokalnya bisa ngomong bahasa Indonesia, ketika narapidana bisa ngomong bahasa indonesia, ketika perawat dan dokter rumah sakit bisa ngomong pake bahasa Indonesia, ketika preman Mesir juga bisa ngomong bahasa Indonesia...nah loh...!!!!! saya belum tanya wahmuji, apakah Mesir dan Indonesia bener-bener bisa sedekat itu hubungannya. pooh.
2. Akting
untuk akting pemainnya saya belum bisa ngomong banyak, maklum teknik keaktoran (belom ikut kelas terbuka pertunjukan) yang saya kuasai sangat minim sekali, tapi sebagai peikmat film, aktingnya masih sangat sinetron, hehehe...ya ga sangat sinetron sekali si, udah bagus, cuma...haduhhaduh...ga sesuai ekspektasi saya lah. ada pemain yang bermain dengan sangat enak sekali, ada pemain yang lumayan maksa aktingnya (walopun ga' "se-maksa" Tukul di Otomatis Romantis).
3. Cerita
disadur dari novel berjudul sama yang ditulis oleh Habiburrahman El Shirazy.
kalo dari segi cerita...okem!!!! saya suka ceritanya, dengan keislaman, dengan cinta, dengan keluarga, dengan lingkungan patriarkal, dengan semangat memiliki yang dibawa, dengan konfliknya. terasa banget. konflik batin tokoh Aisyah ketika harus meminta Fahri, suaminya, untuk menikahi Maria, wow...menarik. tetapi sekali lagi, setelah saya merasakan lebih lagi, semuanya kok jadi berasa terlalu melankolis ya (emang masalahnya apa?) ? melankolis yang saya permasalahkan disini adalah melankolis yang terlalu dibuatbuat, sepertinya tidak natural. sekali lagi saya menyamakan dengan sinetron. halah!!!!mana ada sinetron yang natural - semua berlebihan. tidak heran kenapa mirip banget ama sinetron, soalnya produsernya sendiri berasal dari keluarga Punjabi yang terkenal sebagai pemasok sinetron Indonesia tidak berkualitas. lalu peran sutradara? akhirnya Hanung sekali lagi tidak dapat mengarahkan aktornya untuk menunjukkan taring yang lebih tajam. kurang maksimal. padahal ceritanya udah enak.
4. frame
saya ga tau istilah tepatnya apah, tapi sepengetahuan saya "frame" merupakan istilah yang umum dalam film. jadi "frame" itu adalah gambar akhir yang nantinya ditunjukkan di bioskop, di frame itu ada komposisi aktor, setting, lighting, dll... (semoga istilahnya tepat). kalo framming-nya saya bisa acungkan jempol. ada beberapa frame yang sangat memukau, yang ga da di film indonesia sebelumnya. wow, keren...nah...tapi sekali lagi saya bilang "beberapa" saja yang memukau }:)
sekian dulu, untuk atmosfer, tone, penyutradaraan, pesan film...mungkin lain kali, saya perlu berdiskusi dulu dengan beberapa orang terpercaya yang bisa diajak diskusi (maksudnya yang udah nonton juga). atau mungkin ada beberapa temen mediasastra.com yang bisa melengkapi juga dipersilahkan, demi kemajuan bersama.
well, saya sebagai penonton, mengucapkan selamat atas film Ayat-Ayat Cinta, filmnya bagus, menarik, berbeda, dan okem. untuk itu saya kasih nilai 6/10 saja, hehehe...masih belom bisa ngalahin Nia Dinata's Berbagi Suami (9/10), sih...




