saya jenuh. adakah hiburan yang tidak bisa menghibur? masalah yang tidak masalah? kesegaran yang tidak menyegarkan? tidak yang selain tidak?
ayo ngrumpi!
jenuh itu kalau lagi sakit. mau baca gak enak, mau main keluar badannya gak enak juga. *sedikit curhat* *habis sakit* 
ngrumpi puisi lg dunk...


seru juga itu usulannya hilda. dimulai dari kalian suka puisinya siapa? dan kenapa? hehe.. 
psttttt mas doni..
tanga tanda itu artinya apa seeech???

apa ya...kayaknya kemarin aku salah tulis...atau tidak sengaja menulis...ketika baca ini aku juga bingung.....astaga...kok bisa yak.....
yaaah...tdk menjawab masalah yg dirumpikan....

aku nariknya ke tema puisi2 a la koran2 minggu nasional yang akhir2 ini seringkali megangkat tema lokal dari daerahnya; pembacaan ulang dongeng, cerita rakyat, mitologi dll. namun, bagiku, mereka tidak membicarakannya secara kontekstual. jarang sekali yang melakukan kontekstualisasi atas, sebut saja, cerita rakyat tersebut. yang didengung-dengungkan mereka beraliran realisme magis. aku di sini tidak setuju dengan klaim ini. realisme magis memang bericara tentang lokalitas tadi. lihat saja pionir realisme magis yg kebanyakan dari daerah amerika latin seperti Marquez. marquez ketika berbicara tentang Macondo (sebuah desa di kolombia yg jadi setting tempat di novelnya yg sangat terkenal "One Hundred Years of Solitude), ia menggunakan ironi. ironinya ini menurutku datang dari usaha kontekstualisasinya; bagaimana ia melihat perkembangan ide (masuknya berbagai macam ide dan teknologi) ke desa tersebut dengan kondisi mental manusia-manusia di desa tersebut. ironinya terletak di kondisi manusia-manusia di desa tadi yang alih-alih memanfaatkan ide tadi untuk dirinya sendiri, mereka malah terjebak dalam mengikuti ide-ide yg berdatangan tanpa diundang itu. mereka jadi lupa kediriannya dan sibuk mengikuti ide-ide tadi yg kemudian malah menghancurkan mereka sendiri; contohnya adalah dibangunnya sebuah pabrik yg mengeksploitasi penduduk sekitar. mereka mengira dengan membangun pabrik mereka mengikuti perkembangan jaman, yang mereka samakan dengan kemakmuran, padahal karna tidak benar-benar memanfaatkan ide-ide untuk diri mereka, mereka malah jadi tertindih ide-ide dalam bentuk teknologi tadi. di luar realisme magis juga ada salah satu genre yg membicarakan lokalitas tanpa mengeksploitasi eksotisme lokalitas yaitu; marvelous realism. marvelous realism ini lahir di daerah karibia yg mana banyak dari penduduknya adalah (anak cucu) mantan budak. di sana, genre ini lahir karna mereka ingin membicarakan jarak antara kondisi mereka di tempat yang baru dengan kondisi yg mereka bayangkan di asal mereka (walaupun kondisi asal mereka hanya berdasarkan cerita-cerita karna mereka sebenarnya sudah tak mengenal lagi asal muasal mereka). di sini juga ada ironi lagi tentang kondisi sekitar mereka saat ini (keterbuangan) sengan kondisi ideal rumah dalam bayangan mereka). di poin ini kedua genre yg aku bicarakan jauh lebih kritis ketika melihat lokalitas dibanding dengan karya-karya koran tadi. tapi, di luar yg koran itu ada banyak pengarang yg menulis dengan gaya realisme magis yang lebih mirip dengan yg ada di amerika latin itu sehingga jelas lebih kritis. ayooo lanjutkan diskusinya....

seperti yang di katakan mas doni agung:
aku jenuhhh.......
hmm...saya dengar dulu ada pertentangan sastra (mungkin puisi mungkin juga genre lain) bhw ada dikotomi antara sastra lokal dan sastra pusat, sastra lokal merasa sering dikesampingkan oleh pusat? mungkinkah penyebabnya adalah koran2 nasional yg hanya mengedepankan puisi2 atau karya2 yg bertema nasional atau direstui oleh koran2 nasional mingguan itu?
saya dulu senang kok baca dongeng2 lokal, malah tdk mengerti kalau mereka menggunakan pendekatan2 diluar lokal utk mengkontekstualkan karya2 mereka..hmmm, bukankah itu baik menurutku setidaknya para penyair kita belajar banyak tentang pendekatan2 tsb dari luar dan kemudian menterjemahkannya dalam bhs lokal yg bisa dimengerti oleh orang2nya..hehehhe
mas alwi, kupas dunk genre2 apa aja utk puisi yg populer dari luar itu? realisme magis...spt apa sih contohnya? kasih linknya dunk ttg Marquez atau Macondo itu...wah ternyata belantara puisi benar2 hutan belantara...

tapi saya kok malah gak jenuh....
menurutku utk menguliti sastra dan puisi dan belajar memahaminya, bisa pinjam quote nya si Steve Jobs... 'stay hungry, stay foolish'...

Alas..the flesh is poor
menyenangkan atau tidak kah kuliah itu?
sastra pop.... wew 
Tentang pusat dan daerah memang politik sastra macam itu terjadi. model konconan gitu, siapa dekat dia dapat tempat. hehe. Hal-hal macam ini hanya dapat dipecahkan lewat berjalannya dialektika kritik sastra. Jadi, satu karya besar bukan karena dimuat di koran nasional tapi ada kritik sastra yang mumpuni tentang karya tersebut. menurutku, dari unsur dalamannya, gak ada itu sastra pusat dan daerah. Istilah-istilah ini muncul karena adanya penyingkiran atas karya-karya tertentu karena kurang dekatnya dengan, katakanlah, editor ruang budaya satu koran nasional. Cuma itu saja. Tapi ketika masuk ranah kritik sastra, sesungguhnya, dikotomi macam ini tidak ada. Di depan kritikus, sebelum proses kritik dimulai, karya sastra itu bebas.
mengenai realisme magis, beberapa penulis yang dicap dalam genre ini adalah Marquez, Borges, Neruda, Mistral ,Lorca dll. Asal muasalnya ya dari kondisi negara-negara latin pasca-kolonial itu yang ironis; masuknya industri tidak sejalan dengan perkembangan mental penduduk aslinya. Kalo genre-genre di luar itu banyak banget e. hehehe. aku juga gak tau semuanya. Tiap zaman pasti ada genrenya sendiri-sendiri. Mending milih satu trus dibahas aja

adakah karya-karya yang di jamannya dipandang remeh dan sampah tapi di jaman kemudian menjadi idola dan dipuja-puja... 
@Stevano Yusuf : Banyak banget, di. Alasannya beragam itu. Mulai dari cuma dianggap gila kayak kasus William Blake sampe pertentangan ideologi dengan penguasa kayak pengarang-pengarang Lekra. Salah satu tugas kritikus menurutku menilai karya-karya itu dengan alat-alat akademik.
tapi kalau Lekra kan terkenal dulu karena Partai Komunis lagi naik daun trus terkenal sekarang karena Partai Komunis pernah dianiaya dan mereka juga pernah dianiaya. Kalau kasus William Blake hmmm boleh-boleh. Tapi kayaknya masalah kualitas suatu karya tidak perlu dicari dari luar tetapi dari dalam karya itu sendiri. hmmm bagaimana sudah cukup aristotelianist....




