Surat-menyurat Pramoedya & GM. Gimana tafsirmu atas pandangan masing-masing?

9 balasan [Tulisan terakhir]
 gambar A.B. Prasetya
Luring
Bergabung: 02/03/2008
Tulisan: 53

Berikut ini aku kutipkan surat-menyurat GM dan Pramoedya dalam satu kesempatan. Latar belakang surat-menyurat ini adalah bahwa GM menulis surat terbuka buat Pram untuk menanggapi keputusan Pram menolak untuk menerima permintaaan maaf Gus Dur yang pada saat itu menjabat sebagai Presiden RI. GM melihat bahwa keputusan Pram adalah sesuatu yang pantas dikritik. Namun, Pram membalas surat terbuka GM dengan penjelasan-penjelasan yang buat saya begitu beralasan, mencerahkan, dan begitu otobiografis.

Niat tulisan ini saya ajukan di sini adalah saya ingin mengajak diatra sekalian untuk menafsirkan dan menilai segala aspek yang hadir bersama kedua surat itu, baik itu pandangan, gaya tulis, bangunan logika dan argumentasi keduanya, dan juga mungkin membandingkan kepribadian dan prinsip, bahkan ideologi dua sastrawan yang berbeda generasi ini. Bahkan, bisa juga nyerempet2 soal konsep 'memaafkan' kalau mau dibahas.. 

Jadiiii, APA TAFSIRMU? hehe  Wink Beer

 

 

 

Surat Terbuka untuk Pramoedya Ananta Toer
oleh Goenawan Mohamad


Seandainya ada Mandela di sini. Bung Pram, saya sering mengatakan itu, dan mungkin mulai membuat orang jemu. Tapi Mandela, di Afrika Selatan, menyelamatkan manusia dari abad ke-20. Tiap zaman punya gilanya sendiri. Abad ke-20 adalah zaman rencana besar dengan pembinasaan besar. Hitler membunuh jutaan Yahudi karena Jerman harus jadi awal Eropa yang bersih dari ras yang tak dikehendaki. Stalin dan Mao dan Pol Pot membinasakan sekian juta "kontrarevolusioner" karena sosialisme harus berdiri. Kemudian Orde Baru: rezim ini membersihkan sekian juta penduduk karena "demokrasi pancasila" tak memungkinkan adanya orang komunis (dan/atau "ekstrim" lainnya) di sudut manapun.

Rencana besar, cita-cita mutlak, dan mengalirkan darah. Manusia menjadi penakluk. Ia menaklukkan yang berbeda, yang lain, agar dirinya jadi subjek.

Mandela bertahun-tahun di penjara, orang hitam Afrika Selatan bertahun-tahun ditindas, tapi kemudian ketika ia menang, ia membuktikan bahwa abad ke-20 tak sepenuhnya benar: manusia ternyata bisa untuk tak jadi penakluk. Ia menawarkan rekonsiliasi dengan bekas musuh. Ia tak membalikkan posisi dari si objek jadi sang subjek.

Tiap korban yang mengerti rasa sakit yang sangat tak akan mengulangi sakit itu bahkan kepada musuhnya yang terganas. Ia.akan menghabisi batas antara subjek dan objek. Makna "rekonsiliasi" di Afrika Selatan punya analogi dengan impian Marx: karena proletariat tertindas, kelas ini berjuang agar setelah kapitalisme ambruk, segala kelas sosial pun hilang. Proletariat tak akan mengakhiri sejarah dengan berkuasa, melainkan menghapuskan kekuasaan, pangkal lahirnya korban-korban. Sejarah adalah sejarah penebusan kemerdekaan. Utopia itu tak terlaksana, tapi tiap utopia mengandung sesuatu yang berharga. Begitu ia menang, Mandela membongkar kembali tindak sewenang-wenang para petugas rezim apartheid yang menindasnya (dan juga tindak sewenang-wenang pejuang kemerdekaan pendukung Mandela sendiri). Proses itu mirip “pengakuan dosa” di depan publik.

Kemudian: pertalian kembali. Mandela menunjukkan, bahwa pembebasan yang sebenarnya adalah pembebasan bagi semua pihak. Bung Pram, saya ragu apakah Bung akan setuju dengan asas itu. Bung menolak ide "rekonsiliasi", seperti Bung nyatakan dalam wawancara dengan Forum Keadilan 26 Maret 2000 pekan lalu. Bung menolak permintaan maaf dari Gus Dur. “Gampang amat!”, kata Bung. Saya kira, di sini Bung keliru.

Ada beberapa kenalan, yang seperti Bung, juga pernah disekap di Pulau Buru, di antaranya dalam keadaan yang lebih buruk. Mereka sedih oleh pernyataan Bung. Saya juga sedih, karena Bung telah bersuara parau ketidak-adilan. Justru ketika berbicara untuk keadilan. Bung terutama tak adil terhadap Gus Dur. Bagi seseorang dalam posisi Gus Dur, (Presiden Republik Indonesia, pemimpin NU, tokoh Islam, yang tumbuh dalam masa Orde Baru), meminta maaf kepada para korban kesewenang-wenangan 1965 berarti membongkar tiga belenggu yang gelap dan berat di pikiran banyak orang Indonesia.

Belenggu pertama adalah kebiasaan seorang pemimpin umat untuk memperlakukan umatnya sebagai kubu yang suci. Dengan meminta maaf, Gus Dur memberi isyarat bahwa klaim kesucian itu tak bisa dipertahankan, dan tak usah. Tiap klaim kesucian bisa jadi awal pembersihan dan kesewenang-wenangan. Dengan meminta maaf, diakui bahwa dalam peristiwa di tahun 1965 sejumlah besar orang NU, juga orang Islam lain - juga orang Hindu di Bali dan orang Kristen di Jawa Tengah - telah terlibat dalam sebuah kekejaman. Mengakui ini dan meminta maaf sungguh bukan perkara gampang. Bung Pram toh tahu tak setiap orang sanggup melakukan hal itu. Mungkin juga Bung sendiri tidak akan.

Dengan meminta maaf Gus Dur juga membongkar belenggu tahayul selama hampir seperempat abad: bahwa tiap orang PKI, juga tiap anak, isteri, suaminya, layak dibunuh atau disingkirkan. Gus Dur mencampakkan sebuah sikap yang tak mau bertanya lagi: adilkah yang terjadi sejak 1965 itu? Seandainya pun pimpinan PKI bersalah besar di tahun 1965, toh tetap amat lalim hukuman yang dikenakan kepada tiap orang, juga sanak keluarganya, yang terpaut biarpun tak langsung dengan partai itu. Kita ingat kekejaman purba: sebuah kota dikalahkan dan setiap warganya dibantai atau diperbudak.

Gus Dur agaknya tak menginginkan kezaliman itu. Ia, sebagai presiden, membiarkan dirinya dipotret duduk mesra dekat Iba, putri D.N. Aidit, yang hampir seumur hidupnya jadi pelarian yang tanpa paspor di Eropa. Dalam adegan itu ada gugatan: bersalahkah Iba hanya karena ia anak Ketua PKI? Jawaban Gus Dur: tidak. Tak banyak tokoh politik yang berbuat demikian, Bung Pram. Tak gampang untuk seperti itu. Gus Dur juga telah membongkar belenggu ”teori” tua ini: bahwa PKI selamanya berbahaya. Ia bukan saja minta maaf kepada para korban pembasmian massal 1965. Ia juga hendak menghapuskan larangan resmi bagi orang Indonesia untuk mempelajari Marxisme-Leninisme. Ia seperti menegaskan bahwa komunisme adalah masa lampau yang menjauh, gagal—juga di Rusia dan Cina. Memekikkan terus “bahaya komunis” adalah menyembunyikan kenyataan bahwa PKI jauh lebih mudah patah dalam perlawanannya dibandingkan dengan gerakan Darul Islam.

Siapa yang menghentikan masa lalu, akan dihentikan oleh masa lalu. Gus Dur tidak. Ia sering salah, tapi ada hal-hal pelik yang ia tempuh karena ia ingin masa lalu tak jadi sebuah liang perangkap. Ia memang bukan Mandela yang pernah dirantai. Tapi seorang korban yang memaafkan sama nilainya dengan seorang bukan-korban yang meminta maaf. Maaf bukanlah penghapusan dosa. Maaf justru penegasan adanya dosa. Dan dari tiap penegasan dosa, hidup pun berangkat lagi, dengan luka, dengan trauma, tapi juga harapan. Dendam mengandung unsur rasa keadilan, tapi ada yang membedakan dendam dari keadilan. Dalam tiap dendam menunggu giliran seorang korban yang baru.

Begitu sulitkah Bung menerima prinsip itu? Karena masa lalu seakan-akan menutup pintu ke masa depan? Sekali lagi: siapa yang menghentikan masa lalu, akan dihentikan oleh masa lalu.

Tapi mungkin juga Bung hanya bisa melihat korban sebagai perpanjangan diri sendiri. Seakan di luar sana tak mungkin ada. Dalam wawancara, Bung menyatakan setuju bila orang-orang yang tak sepaham dengan Revolusi disingkirkan (ini di masa “Demokrasi Terpimpin” 1959-1965, ketika sejumlah suratkabar dibrangus, sejumlah buku & film & musik dilarang, sejumlah orang dipenjarakan). Bung mengakui ini semua melanggar hak asasi. Dan Bung punya argumen: waktu itu “Perang Dingin” dan Indonesia dalam bahaya. Tapi kekuasaan apa yang berhak menentukan ada “bahaya” atau tidak? Dan jika adanya ”bahaya” bisa menjadi dalih penindasan, Soeharto pun menjadi benar. Ia juga dulu mengumumkan Indonesia terancam bahaya (”komunis”) di Perang Dingin, maka rezimnya pun membunuh, membuang, dan mencopot entah berapa ribu orang dari jabatan. Dan pengadilan dibungkam. Bung memang menambahkan: ingat, pelanggaran hak asasi waktu Bung Karno tak seburuk dengan yang terjadi di masa Orde Baru. Mochtar Lubis, korban Demokrasi Terpimpin, tak dikurung di Pulau Buru, tapi di Jawa. Memang ada perbedaan. Tapi adakah peringkat penderitaan? Bagaimana membandingkannya? Di mana ukurannya, bila di masa yang sama, apalagi di masa yang berbeda, ada yang ditembak mati, ada yang disiksa, ada yang di sel, ada yang di pulau?

Dalam sejarah kesewenang-wenangan, semua korban akhirnya diciptakan setara, biarpun berbeda. Suatu hari dalam kehidupan Pramudya Ananta Toer di Pulau Buru setara terkutuknya dengan suatu hari dalam kehidupan Ivan Denisovich dalam sebuah gulag Stalin. Tak bisa ada hierarki dalam korban, sebagaimana mustahil ada hierarki kesengsaraan.

Saya kira ini penting dikemukakan. Di zaman ketika sang korban dengan mudah dianggap suci, seorang yang merasa lebih ”tinggi” derajat ke-korban-annya akan mudah merasa berhak jadi maha hakim terakhir. Tapi seperti setiap klaim kesucian, di sini pun bisa datang kesewenang-wenangan. Mandela tahu itu. Gus Dur mungkin juga tahu itu. Keduanya merendahkan hati. Saya pernah mengharapkan Bung akan bersikap sama. Saya pernah harapkan ini, Bung Pram: bukan sekedar keadilan dan hukum yang adil yang harus dibangun, tapi di arus bawahnya, kebencian pun lepas, dan kemudian hilang, tenggelam. Saya tak tahu masih bisakah saya berharap.




(Tanggapan buat Goenawan Mohamad)

Saya Bukan Nelson Mandela
oleh Pramoedya Ananta Toer



Saya bukan Nelson Mandela. Dan Goenawan Mohamad keliru, Indonesia bukan Afrika Selatan. Dia berharap saya menerima permintaan maaf yang diungkapkan Presiden Abdurrahman Wahid (Tempo, 9 April 2000), seperti Mandela memaafkan rezim kulit putih yang telah menindas bangsanya, bahkan memenjarakannya. Saya sangat menghormati Mandela. Tapi saya bukan dia, dan tidak ingin menjadi dia.

Di Afrika Selatan penindasan dan diskriminasi dilakukan oleh kulit putih terhadap kulit hitam. Putih melawan hitam, seperti Belanda melawan Indonesia. Mudah. Apa yang terjadi di Indonesia tidak sesederhana itu: kulit cokelat menindas kulit cokelat. Lebih dari itu, saya menganggap permintaan maaf Gus Dur dan idenya tentang rekonsiliasi cuma basa-basi. Dan gampang amat meminta maaf setelah semua yang terjadi itu. Saya tidak memerlukan basa-basi.

Gus Dur pertama-tama harus menjelaskan dia berbicara atas nama siapa. Mengapa harus dia yang mengatakannya? Kalau dia mewakili suatu kelompok, NU misalnya, kenapa dia berbicara sebagai presiden? Dan jika dia bicara sebagai presiden, kenapa lembaga-lembaga negara dilewatinya begitu saja? Sekalipun dalam kapasitasnya sebagai presiden, Gus Dur tidak bisa meminta maaf. Negara ini mempunyai lembaga-lembaga perwakilan, dan biarkan lembaga negara seperti DPR dan MPR mengatakannya. Bukan Gus Dur yang harus mengatakan itu.

Yang saya inginkan adalah tegaknya hukum dan keadilan di Indonesia. Orang seperti saya menderita karena tiadanya hukum dan keadilan. Saya kira masalah ini urusan negara, menyangkut DPR dan MPR, tetapi mereka tidak bicara apa-apa. Itu sebabnya saya menganggapnya sebagai basa-basi.

Saya tidak mudah memaafkan orang karena sudah terlampau pahit menjadi orang Indonesia. Buku-buku saya menjadi bacaan wajib di sekolah-sekolah lanjutan di Amerika, tapi di Indonesia dilarang. Hak saya sebagai pengarang selama 43 tahun dirampas habis. Saya menghabiskan hampir separuh usia saya di Pulau Buru dengan siksaan, penghinaan, dan penganiayaan. Keluarga saya mengalami penderitaan yang luar biasa. Salah satu anak saya pernah melerai perkelahian di sekolah, tapi ketika tahu bapaknya tapol justru dikeroyok. Istri saya berjualan untuk bertahan hidup, tapi selalu direcoki setelah tahu saya tapol. Bahkan sampai ketua RT tidak mau membuatkan KTP. Rumah saya di Rawamangun Utara dirampas dan diduduki militer, sampai sekarang. Buku dan naskah karya-karya saya dibakar.

Basa-basi baik saja, tapi hanya basa-basi. Selanjutnya mau apa? Maukah negara mengganti kerugian orang-orang seperti saya? Negara mungkin harus berutang lagi untuk menebus mengganti semua yang saya miliki.

Minta maaf saja tidak cukup. Dirikan dan tegakkan hukum. Semuanya mesti lewat hukum. Jadikan itu keputusan DPR dan MPR. Tidak bisa begitu saja basa-basi minta maaf. Tidak pernah ada pengadilan terhadap saya sebelum dijebloskan ke Buru. Semua menganggap saya sebagai barang mainan. Betapa sakitnya ketika pada 1965 saya dikeroyok habis-habisan, sementara pemerintah yang berkewajiban melindungi justru menangkap saya.

Ketika dibebaskan 14 tahun lalu, saya menerima surat keterangan bahwa saya tidak terlibat G30S-PKI. Namun, setelah itu tidak ada tindakan apa-apa. Dalam buku saya Nyanyi Sunyi Seorang Bisu yang terbit pada 1990 juga terdapat daftar 40 tapol yang dibunuh Angkatan Darat. Tapi tidak pernah pula ada tindakan.

Saya sudah kehilangan kepercayaan. Saya tidak percaya Gus Dur. Dia, seperti juga Goenawan Mohamad, adalah bagian dari Orde Baru. Ikut mendirikan rezim. Saya tidak percaya dengan semua elite politik Indonesia. Tak terkecuali para intelektualnya; mereka selama ini memilih diam dan menerima fasisme. Mereka semua ikut bertanggung jawab atas penderitaan yang saya alami. Mereka ikut bertanggung jawab atas pembunuhan-pembunuhan Orde Baru.

Goenawan mungkin mengira saya pendendam dan mengalami sakit hati yang mendalam. Tidak. Saya justru sangat kasihan dengan penguasa yang sangat rendah budayanya, termasuk merampas semua yang dimiliki bangsanya sendiri.

Saya sudah memberikan semuanya kepada Indonesia. Umur, kesehatan, masa muda sampai setua ini. Sekarang saya tidak bisa menulis-baca lagi. Dalam hitungan hari, minggu, atau bulan mungkin saya akan mati, karena penyempitan pembuluh darah jantung. Basa-basi tak lagi bisa menghibur saya.

 


 

 


 

 gambar hilda_in_palu
Luring
Bergabung: 03/26/2011
Tulisan: 89
menarik sekali..sungguh, baru baca... saya akan kembali memberikan tanggapan setelah membaca dng sangat surat menyurat orang2 top ini Laughing out loud Love
 gambar gerarda agriveta
Bergabung: 01/22/2011
Tulisan: 3

Terlihat sekali GM kurang politis terhadap hukum di Indonesia. Omongannya moral melulu. Penjajahan yang dipaparkan GM tidak sebanding dengan penjajahan yang dialami Pram.

 

Bicara soal moral:

Memaafkan itu tidak mudah, apalagi luka dan penderitaan yang harus ditanggung sangat mendalam. Dia menyebutnya "pahit". Kita lihat kerugian yang Pram rasakan:

- "Buku-buku saya menjadi bacaan wajib di sekolah-sekolah lanjutan di Amerika, tapi di Indonesia dilarang. Hak saya sebagai pengarang selama 43 tahun dirampas habis."
- "hampir separuh usia saya di Pulau Buru dengan siksaan, penghinaan, dan penganiayaan"
- "Salah satu anak saya pernah melerai perkelahian di sekolah, tapi ketika tahu bapaknya tapol justru dikeroyok"
- "Istri saya berjualan untuk bertahan hidup, tapi selalu direcoki setelah tahu saya tapol"
- "ketua RT tidak mau membuatkan KTP"
- "Rumah saya di Rawamangun Utara dirampas dan diduduki militer, sampai sekarang"
- "Buku dan naskah karya-karya saya dibakar"

 

Nah, bayangkan aja kalau kita sendiri jadi Pram. Apa bisa dengan mudah menerima permintaan maaf, walaupun disertai ganti rugi berupa uang atau harta?

(#diucapkan dengan gaya gaul) Halloooo, lo pikir bisa apa tulisan dengan riset2 yang banyak dan waktu yang cukup lama tentunya dibakar gitu aja? Cobak aja Bakar semua karyanya GM, Delete semua soft copy yg tersimpan di memori seluruh komputer di Indonesia maupun mancanegara atau perangkat elektronik lain, cari sampai ke pelosok desa-desa untuk menghapuskan semua catatan2nya. Apa reaksinya ketika presiden yang bukan representasi dari rakyat cuma minta maaf?

 

Bayangkan juga ketika Pram sudah mengabdikan seluruh hidupnya untuk Indonesia dengan karya-karyanya, tapi apa yang dilakukan pemerintah orba saat itu? MEMBAKAR KARYA-KARYANYA, MENYAKITI KELUARGANYA, MERAMPAS HAK-HAKNYA YANG PALING ASASI.

sekali lagi: Apa reaksinya ketika presiden yang bukan representasi dari rakyat cuma minta maaf?


GM tidak merasakan apa yang dirasakan, bahkan ia tidak berempati kepada Pram dan korban-korban kekejaman ORBA.

 

Bicara soal keadilan:

Dari penderitaan Pram, apakah adil jika Gus Dur yang entah berbicara sebagai siapa, (mungkin dalam konteks yang disebutkan GM, sebagai presiden) cuma memintamaaf atas segala kepahitan itu?

Bagiku, tidak adil. Mau diganti rugi dengan ganti rugi harta sebanyak apapun, LUKA tetaplah LUKA. Yang terjadi tetaplah terjadi, sejarah sudah menulisnya, dan luka itu sudah terinternalisasi dalam pikiran dan terlalu menusuk perasaan Pram, karena tidak hanya dia yang dilukai, dia dan keluarganya yang tidak salah apa-apa harus menanggung penderitaan yang bukan seharusnya mereka alami.

Lagipula, orientasi hidup Pram bukan harta. Ketika ia bahagia dengan menulis, berada di dekat keluarga, kemudian kebahagiaan itu direnggut dengan semena-mena dan sebagai permintaan maaf diganti dengan kata maaf, sekalipun diberikan harta benda, tetap saja itu tidak adil, karena ia tidak bahagia dengan harta.

 

Kira2 begitu menurutku Smile

 gambar kucrut
Luring
Bergabung: 06/18/2011
Tulisan: 18

perbandingan2 yang dipakai om GM menjauhkan konteks sosial-politik yang menjadi latar tempat om Pram hidup. dan itu sudah dijawab dengan mudah oleh Pram sekaligus menjadi pembuka yang sudah menonjok tulisan GM; "Saya bukan Nelson Mandela"

tulisannya om GM banyak asumsinya. barangkali itu karena pandangan politisnya banyak bersandar pada nilai-nilai kemanusiaan universal yang imut-imut, dan lagi-lagi menjauhkan konteks. persoalannya pada generalisasi!! tapi generalisasinya keterlaluan menurutku. pertama, dengan menyamakan Pram dengan Nelson, kemudian pembantaian warga yang dituduh komunis dengan pembantaian yahudi. dari situ saja sudah terlihat rapuhnya bangunan argumentasi GM yang sekaligus menunjukkan perspektif politisnya. 

dan itu sangat kontras dengan tulisan Pram yang kuat dengan argumentasi yang tegas sekaligus kontekstual. 

 

ini ni salah satu asumsinya: 

"Tiap korban yang mengerti rasa sakit yang sangat tak akan mengulangi sakit itu bahkan kepada musuhnya yang terganas."

sejak kapan rasa bisa diformulasikan secara pasti seperti itu? sejak lebaran monyet? 

mmm,..

..

sekarang kita pake kalimatnya om GM deh "Siapa yang menghentikan masa lalu, akan dihentikan oleh masa lalu." jika ini ditempatkan dalam konteks perombakan dan penyusunan ulang sejarah '65 yang berorientasi pada korban, saya setuju! biar maafnya ngk cuma di mulut. 

 

ini topik yang menggigit!! ayo lanjut!!  

 gambar Alwi Atma Ardhana
Bergabung: 02/03/2008
Tulisan: 213

GM dan TEMPO itu murni produk ORBA. ada buku yg membahas hubungan GM dengan ORBA yg cukup rinci; WARS WITHIN oleh janet steele. nada omongan GM di surat itu kan permisif sekali. ia seperti agen ORBA yg memintamaafkan lembaga asalnya Tongue Tongue Tongue

 gambar doni agung setiawan
Bergabung: 07/04/2011
Tulisan: 113

saya sepakat dengan Pram, " apa kepentingan meminta maaf?"

lalu saya berfikir: apa kepentingan saya menyepakati pram?

 

kesepakatan tersebut hadir begitu saja, sama sekali, dan saya tidak berkepentingan dengan Pram (alm), Gus Dur (alm), dan GM. tapi saya berkepentingan dengan sobat saya yang membuat diskusi ini ada, lepas dari kepentingan dia dengan yang terkait dalam diskusi ini.

 

jikalau kita, suatu saat, entah sengaja atau tidak, menjadi seperti dari salah satu dari ketiga tokoh besar tersebut, atau sebesar ketiga tokoh tersebut, akan mengalami hal yang serupa?

jangan tanya apa kepentingan saya menanyakan ini. kepentingan saya bisu, saya yang bisa bicara.

tanga tanda

 gambar hilda_in_palu
Luring
Bergabung: 03/26/2011
Tulisan: 89

saya pernah baca buku2nya Pram yg luar biasa, dan beliau juga seseorang yg punya semangat 'melawan' seumur hidupnya menurut saya, benar2 sastrawan sejati...saya hanya baca tulisan2 GM di Caping-nya Tempointeraktif.com hehehe...senang bacanya krn njelimet, suka pake kata2 filsuf ini dan itu dari jaman yunani, renesans sampai jaman reformasi...,meskipun sekarang2 saya lihat banyak pengulangan dalam tulisan2nya itu..

untuk 2 surat itu, sepertinya saya lebih memihak Pram...bukan krn tdk mengampuni, saya juga percaya pengampunan itu perlu utk setiap manusia, tapi yg diminta Pram memang bukan gaya memohon ampun dan diampuni seperti itu, jalur hukumnya jelas, keadilan yg dirampas dalam 43 thn...

seharusnya GM malu membandingkan Pram dng Mandela....

Love

 gambar Alwi Atma Ardhana
Bergabung: 02/03/2008
Tulisan: 213

"Negara kok bisanya cuma minta maaf?" saya pikir ini yang jadi pikiran utama Pram ketika menanggapi Gus Dur. Kalo Pram mengiyakan permintaan maaf Gus Dur, ia justru meniadakan posisi Gus Dur di struktur kenegaraan (Presiden). Dengan posisi tersebut seharusnya Gus Dur tidak hanya minta maaf (dalam artian tindakan pribadi), namun lebih ke tindakan struktural kenegaraan(pencabutan segala perundang-undangan yang berhubungan dengan kejadian yang menyebabkan pembunuhan, penyingkiran, pelabelan dll). Hal tersebut jauh lebih bermakna. GM menolak sisi permintaan maaf sebagai tindakan kenegaraan ini. kenapa? jelas karena ia secara tak langsung terlibat di penindasan yang tak sebutkan sebelumnya. Saat kejadian 65 dan setelahnya, ia berada di luar negeri dan 'ditugasi' CCF untuk meng-counter semua berita-berita tentang pembantaian yang ada (liat bukunya Janet Steele yang aku sebutkan di komen awalku). Kalo sampe Gus Dur berani meminta maaf melalui perndang-undangan akan terjadi pembacaan ulang secara besar-besaran atas sejarah, termasuk sejarah sastra. Angkatan 66 yang ada di hampir semua buku kan angkatan 66 yang non-komunis (GM ada di dalamnya), jika ini dibaca ulang dengan mengikutsertakan penulis-penulis yang disingkirkan GM bisa jadi tak termasuk di dalam angkatan ini dan terhapus dari sejarah sastra Indonesia. Jadi, jelas ia lebih suka Pram menerima permintaan maaf Gus Dur karena setelahnya tidak ada dampak apa-apa (atas eksistensinya).

 gambar hilda_in_palu
Luring
Bergabung: 03/26/2011
Tulisan: 89

orang2 yg katanya kampiun2 sastra ini juga bisa menyesatkan sejarah ya.....

Puzzled

 gambar kholil ahmad
Luring
Bergabung: 01/07/2010
Tulisan: 18

....ruar biasa. komen dan yang dikomentari, sungguh cerdas. juga tentang sejarah bangunan sastra indonesia dimana kubu GM dan Pram berseberangan pada waktu itu --kalau mau dibahas juga sangat menarik ---tetapi bicara soal maaf memaafkan memang sungguh luar biasa -- karena betapapun dendam memang bagian dari hukum itu sendiri/pembalasan yang setimpal demi tegaknya keadilan. manusia, siapa pun tak akan bisa mmberi maaf dan memaafkan begitu saja, itu sudah azali/asasi. dan memang hanya sedikit orng seperti mandela-yang rela membuang sifat kemanusiaannya/ego sakit hatinya dan memilih meberikan saja maaf, bahkan kpd orang2 yang pernah menyakitinya. so itulah mengapa kita semua kagum kepadanya. dalam kontek GusDur, jangna lupa juga, dia tidak hanya meminta maaf saja, tetapi juga (tolong dikoreksi/dibaca ulang ) mencabut tap MPR  --yng isinya kurang lebih ttg - stigma negatif tentang PKI/komunisme di Indoensia.  Pram dengan karya2 yang saya kagumi/dan masih saya baca sampai sekarang, adalah benar ketika bangunan argumentasinya soal tidak menerima maaf GusDur adalah ketidakjelasans etatus GusDur sebagai apa/mewakili apa dan lebih menuntut ditegakkannya keadilan oleh lembaga2 peminrtahhan sebagai bukti nyata permintaan maaf atas prilaku yang diterimanya....toh GusDur terbukti tulus permintaan maafnya (dng mencabutan tap MRP ttg PKI tesb) dan kehadiran GusDur  pada hari kematian Pram...