Hari Jumat tanggal 6 juni 2008 pukul 17.00 wib, bertempat di Taman Sastra, akan diadakan peluncuran antologi puisi POETIK, sebuah proyek antologi perdana Media Sastra, yang dikerjakan melalui Tim Antologi.
silahkan ramaikan Forum ini.
Hari Jumat tanggal 6 juni 2008 pukul 17.00 wib, bertempat di Taman Sastra, akan diadakan peluncuran antologi puisi POETIK, sebuah proyek antologi perdana Media Sastra, yang dikerjakan melalui Tim Antologi.
silahkan ramaikan Forum ini.
“…karena hanya kalau generasi muda menyadari buruknya keadaan, perubahan di masa depan bisa diharapkan.” – Katrin Bandel
Februari 2008 adalah titik waktu kala bunga rampai puisi ini selesai dicetak. Setelah melalui proses merangkak-pelan-tapi-pasti, akhirnya proyek antologi perdana Media Sastra, melalui Tim Antologi, ini selesai digarap. Seperti yang diungkapkan para penggagasnya, POETIK merupakan buah kegelisahan atas kesadaran untuk mengisi sebuah ruang “baru” berkarya sastra. POETIK, dalam debutnya kali ini, sengaja mengusung tema “keragaman”, untuk menyebut nama lain dari tema “tanpa tema”. Hal ini bukan tidak disengaja, dan bukan pula karena malas merumuskan sebuah konsep tematik tertentu. POETIK dibuat untuk dapat merangkul seluruh bentuk rasa, dengan bermacam motifnya, yang diabadikan dalam bentuk karya sastra – dalam hal ini puisi – yang merupakan hasil perenungan orang-orang di Universitas Sanata Dharma.
Ya! POETIK adalah sebuah ruang alternatif berkarya sastra. Memang benar bahwa sebuah antologi puisi bukanlah konsep ruang baru, dan bukan pula konsep ruang yang tidak arusutama (mainstream). Antologi puisi, ataupun cerpen ataupun esei, adalah konsep yang cukup berumur. Namun begitu, antologi pulalah yang kerap digunakan untuk menampung karya-karya yang tak tertampung media lain bukan karena dikotomi bagus-jelek atau statusquo-subversif. Pemasyarakatan karya sastra oleh media umum, media massa (koran) adalah salah satu contohnya, tentunya telah dihinggapi oleh motif-motif politis yang kadang sangat subjektif, atau bahkan nepotis. Nah, ketika gejala ini sudah merajalela, perlawanan terhadapnya patut dilakukan. Bentuk perlawanan tersebut oleh Media Sastra diwujudkan dalam bentuk penciptaan ruang-mudah-publik berkarya sastra. Mengapa ruang “mudah”? Kosa-kata “mudah” yang dimaksud bukanlah untuk dimengerti dalam artian “murahan” – seperti tanggapan orang-orang sinis-skeptis-konservatif-najis terhadap sastra cyber (mereka berkesimpulan sempit bahwa sastra cyber “cuma” ruang bagi karya-karya yang tidak lulus untuk terbit di media massa). Terlepas dari “keberhasilan” teksnya, karya sastra, apapun motif penulisan dan siapapun penulisnya, tetap layak mendapatkan ruang hadir di tengah khalayak agar dapat dibaca, dinikmati, disanjung, dimaki, diteliti, dan tidak serta-merta malapuk diruyaki rayap waktu. Untuk itu, sebuah ruang “mudah” sudah semestinya dibuat.
***
Sebagai tindak lanjut dari penerbitan antologi POETIK, Media Sastra berkenan mengadakan perhelatan bertajuk peluncuran. Peluncuran antologi tersebut akan diadakan pada tanggal 6 Juni 2008 pukul 17.00 wib, bertempat di Taman Sastra USD. Tulisan yang sedang kawan-kawan baca ini merupakan sebuah wacana-umpan sebagai bentuk pra-kondisi bagi kawan-kawan, yang kami undang untuk hadir dalam acara tersebut, agar kawan-kawan dapat datang tidak dengan tangan hampa, melainkan hadir dengan sebuah wacana, dan, lebih hebat lagi, dengan kritik serta tanya.
Peluncuran POETIK tidak dimaksudkan untuk “mengiklankan-diri” dengan luapan ungkapan eufonik semata. POETIK membutuhkan banyak masukan kritis. Maka konsep diskusi dihadirkan. Diskusi di sini lebih dimunculkan dalam bentuk obrolan. Jadi, tidak seperti sebuah seminar, meski ada fokus pembicaraan dan pembicara-khususnya.
Topik pembicaraan yang coba untuk diangkat ada tiga. Yang pertama, berbicara mengenai proses pembuatan antologi POETIK: mulai dari kegelisahan yang mengilhaminya, pengkonsepannya, motif-motif proses yang hadir, dan sedikit tentang proses teknis yang dialami. Peristiwa-peristiwa yang ada sebelum, saat, dan setelah pembuatan POETIK perlu diomongkan karena, seperti yang dituliskan kedua penyuntingnya dalam Kata Pengantar dari Penyunting, "Keingusan tim dalam menggagas antologi ini mengalami beberapa kecolongan disana-sini yang berimbas pada lamanya antologi puisi ini untuk dapat terbit. Kurang-matangnya konsep saat penyiapan isian antologi dan kekurangtahuan mengenai standar terbitnya sebuah buku banyak berimbas pada ketergesa-gesaan dalam proses pracetak."
“Kekurangtahuan” dan “keingusan” dari tim antologi yang relatif awam dalam proses penerbitan kumpulan puisi, ketika dipresentasikan, dan setelah mendapat tanggapan dari pemirsa acara peluncuran POETIK, akan terperbaiki.
Yang kedua, berbicara mengenai relevansi media alternatif semacam POETIK dalam kaitannya dengan lingkup luas sastra Indonesia mutakhir dan kecenderungan-kecenderungan yang terjadi dalam ranah gejala berkomunitas di sastra Indonesia. Obrolan mengenai hal ini menjadi penting mengingat POETIK merupakan sebuah ruang yang dibuat oleh sebuah komunitas sastra juga. Gejala dominasi suatu komunitas tertentu terhadap sastra Indonesia sedang hangat dibicarakan. Dominasi ini akan mematikan akomodasi keragaman karya, dan menjadi satu borok yang membobrokkan sastra Indonesia. Ruang berupa media massa, sampai pada taraf tertentu, cenderung telah dimonopoli oleh orang-orang “berpengaruh” dari komunitas-komunitas sastra tertentu pula. Belum lagi berbicara mengenai dominasi-babtis-sentralistik Jakarta terhadap sastra Indonesia, yang berimbas juga pada pandangan “sempit” dunia terhadap sastra kita. Mengingat hal itu, pokok bahasan ini menarik untuk diobrolkan.
Yang ketiga adalah bentuk apresiasi kritis terhadap puisi-puisi yang di muat di antologi POETIK. Ini menjadi sebuah apresiasi kritis pertama. Ide tentang ini muncul karena POETIK hadir di tengah lingkungan akademisi sastra. Karya-karya yang mengisi lembaran POETIK akan menjadi lebih eksis ketika sebuah kritik diberlakukan terhadapnya. Karya tersebut dikaji sebagai karya, bukan dihubung-hubungkan dengan kaitannya sebagai sebuah bagian dari konsep tematik “tanpa tema” POETIK. Sebagai karya yang diterbitkan oleh media alternatif, tentunya puisi-puisi yang ada di antologi POETIK tidak terlepas dari pemahaman stereotipikal opisisi biner tentang bagus-jelek atau berhasil-gagal. Penghakiman atas ini bukan tak boleh dimunculkan. Namun, lagi-lagi, juga selain sebagai wujud tanggung-jawab intelektual dari akademisi sastra, sebuah kritik rasional, sepedas apapun itu, jauh lebih berharga dari pada sebuah blurb ataupun makian spontan yang tidak disertai analisis masuk-akal.
***
Ada tiga pembicara yang diundang untuk bercakap-cakap bersama pemirsa acara peluncuran POETIK. Pembicara-pembicara yang akan mendiskusikan topik-topik yang terungkap di atas adalah Galang Wijaya (Tim Antologi Media Sastra), Katrin Bandel (penulis kata pengantar POETIK, dosen dan kritikus sastra), dan Novita Dewi (dosen sastra USD). Pun begitu, peluncuran POETIK yang dibungkus dalam bentuk obrolan santai ini takkan mempunyai efek-tinggal yang bena (signifikan) tanpa kehadiran kawan-kawan sekalian.
Sudah saya baca edisi perdana POETIK. Keren! I'm really proud of you, guys!
I can hardly wait for the D-Day!
Berikut beberapa puisi saya yang ditulis tanpa ilham, hanya ill dan hum belaka. Please feel free to dash out your comments.
Mayat-mayat Cinta
Berserakan ketika
Negara menggadaikan kekayaan alamnya,
Wakil rakyat mati hati nuraninya,
Orang tua melalaikan kewajibannya,
Pemuka agama lupa panggilan hidupnya,
Dosen melacurkan profesinya,
Dan mahasiswa?
Ditunggangipun rela.
Padanan
Tak ada yang lebih sejuk,
Dari kasih tulus seorang ibu.
Tak ada yang lebih merdu,
Dari sapaan rindu sang kekasih.
Adakah yang lebih panas,
Dari hati yang terbakar iri?
Mea Culpa, Mea Culpa
Malam merangkak,
Dua hati berdebur,
Di sela deburan ombak.
Yang kasmaran, yang takabur.
Kucium suamimu,
Maafkan aku.
please tell me how to get POETIK?......especially for those who stay outside jogya........
thanks n salut for those who concern about curiousity.......
salam jg buat bung ginting dkk yang selalu gila dan gila......dan gila lagi....
Terima kasih buat kawan Agung Wijaya atas responnya.
Poetik disebarkan di beberapa tempat di jogja: warung Taman Budaya Yogyakarta, Kedai Kebun Forum, Karta Pustaka, Frappio coffee shop, Social Agency jalan Solo (kalau tak salah, hehehe), dan Kopma Sanata Dharma.
sebenarnya Tim Produksi Poetik belum mengantisipasi pemesanan Poetik buat calon pembaca di luar Yogyakarata. namun begitu, kami juga mengirimkan antologi puisi ini secara gratis ke beberapa komunitas sastra di luar kota. kami akan berusaha memenuhi keinginan calon pembaca, yang berdomisili di luar yogya, untuk mendapatkan Poetik. caranya, pengiriman lewat jasa pos. berikan saja alamat jelas, dan kami akan kirimkan. dan pembayarannya dapat ditransfer melalui atm BNI dengan nomor rekening 0120771613 atas nama Wahyu Adi Putra Ginting, atau melalui atm BCA dengan nomor rekening 0372426665 juga atas nama Wahyu Adi Putra Ginting. Poetik dijual dengan harga Rp. 12.000 per satuannya. namun, untuk pengiriman luar kota via pos, akan dikenakan biaya tambahan ongkos kirim. nah, masalahnya kami belum tau kira-kira berapa yak ongkos kirimnya? gini aja, kalau benar-benar berminat nanti kami kirimkan saja dulu. mengenai harga nanti sesudah dikirim baru diberitahu. yang penting nyampai dulu. otre?
salam,
ginting
iye tuh sepakat...nyang penting nyampe dulu aj barangnya...masalah bayar-membayar urusan belakangan yak.... }:)
bacanda...bung...
karya anak bangsa harus diapresiasi dan dihargai setinggi-tingginya...
oya nama Agung wijaya itu palsu....
thecums....(masa lupa..
tp ga penting jg sihhh
sukses 4 u all
try to google one or all of them.. I believe you will find the delivery costs