Mengapa Harus Balas Dendam?

9 balasan [Tulisan terakhir]
 gambar sigit sastrosupadyo
Bergabung: 11/21/2008
Tulisan: 33

Ermalindo Sonbay

Corak utama zaman ini adalah penerimaan (bahkan dengan cara yang ekstrim) hal-hal yang tidak sesuai dengan norma yang ada, demi pemanusiaan “binatang berakal budi” dan penegakan nilai-nilai kemanusiaan. Namun, alam posmo bukan tanpa dasar dan orientasi nilai.

Nilai-nilai yang diterima bukanlah nilai-nilai yang kontra humanisme. Penerimaan ini serentak dimengerti sebagai pemberian ruang bagi yang selama ini ditinggalkan. Nilai-nilai dan keutamaan, apalagi yang berwarna lokal bukan mati dalam arus ini, melainkan dihidupkan agar kembali mempunyai tempat, setelah metanarasi subjektif yang berdasar pada ego dimatikan.

Yang kecil, yang marginal, yang hampir tak kelihatan, saat ini mempunyai tempat. Mereka perlu dihadirkan secara profesional dan proporsional bukan sekadar pada pameran (show) karakteristik melainkan lebih kepada tenunan kesejajaran (emansipasi) dan keterlibatan (partisipasi) dengan semua yang lain dalam jejaringan.

Jelas bahwa metanarasi besar yang dipertahankan dengan cara-cara yang non-human tidak mempunyai tempat di alam ini, bahkan bisa menjadi wabah bagi kemanusiaan kalau salah ditindak. Lex Talionis, adalah salah satu yang paling tidak sesuai dengan ciri zaman ini. Hukum balas dendam tidak akan menyelesaikan persoalan dan konflik yang ada.

Kemanusiaan tidak berbanding lurus atau terbalik dengan matematika. Persoalan kemanusiaan dengan demikian tidak bisa diselesaikan dengan balas dendam. Jika balas dendam dikedepankan, maka spiral kekerasan yang dideskripsikan Dom Helder Camara akan terus ada dan menggiring manusia mundur ke tahapan sub-human.

Jika kekerasan harus dibalas dengan kekerasan maka kondisi triade hegelian menjalar ke sisi negatif, di mana setiap sintese adalah tese baru yang juga berarti kekerasan baru yang nantinya dilawan dengan kekerasan. Kekerasan hanya bisa diselesaikan dengan pengampunan dan rekonsiliasi.

Sangat sulit, namun tidak mungkin. Susah sekali untuk memberi pengampunan, tapi akan mudah kalau manusia berpikir dan bertindak seolah-olah telah menerima pengampunan. Manusia tidak harus re-aktif terhadap pengampunan, melainkan harus pro-aktif.

Situasi Israel dan Palestina pada konteks internasional menunjukkan masih kuatnya lex talionis digunakan. Hukum balas dendam yang konservatif dan kuno masih dipakai dengan ditumbuhkan dengan suburnya oleh orang-orang postmodern.

Seandainya ada kerelaan untuk mengampuni, maka pendekatan intelektual yang logis matematis bisa disingkirkan dan diganti dengan pendekatan kepedulian/solidaritas yang lebih menekankan penggunaan rasa.

Tidak semua persoalan harus diselesaikan dengan “pembunuhan dan pembunuhan dan seterusnya...hingga tanpa akhir.”

Yang dibutuhkan sekarang adalah keberanian untuk mengatakan tidak pada dorongan balas dendam. Sudah saatnya dengan lapang hati, manusia membiarkan proses peradilan yang “sehat” yang menentukan hukuman terhadap yang bersalah. Bukan kalap mata, yang dengan mudah menjadikan manusia sensitif terhadap isu balas dendam.

Kemanusiaan menuntut individu mencintai pembunuh (yang juga manusia) dan membenci dan mengutuk pembunuhan yang dilakukannya. Perlu ada distingsi yang jelas. Sama halnya dengan konsepsi kebersamaan, di mana manusia mesti mencintai koruptor dan memberi mereka ruang dan waktu untuk berubah ke arah human, sekalipun korupsinya tetap dikutuk dan dibenci.

Ajaran Kristiani dengan tegas membarui hukum balas dendam pada sandaran baru Sang Penyelamat, hukum cinta kasih. Tidak ada lagi mata ganti mata, tidak ada lagi gigi ganti gigi. Yang tersisa adalah kerelaan untuk lebih dahulu mengampuni, kerelaan untuk lebih pro-aktif memperjuangkan nilai-nilai luhur, kerifan lokal dan warisan manusiawi para leluhur. Yang tersisa adalah kerelaan ditampar dua kali, kiri dan kanan dari pada harus balas menampar.

Pelajaran pengampunan dan rekonsiliasi ini juga penting untuk ditajamkan di depan gerbang pergantian pemimpin pada 2009 ini. Mungkinkah para lawan politik memanfaatkan dengan optimal rekonsiliasi pasca pemilu, pilkada dan pilpres ataukah memilih mendiskreditkan dan “memenjarakan” mereka yang tidak sepaham dan tidak sealur sescara politik.

Boleh jadi dengan rekonsiliasi yang sejati, yang kalah dan yang menang nanti sama-sama bisa saling mencintai dan mendukung satu dengan yang lainnya demi rakyat yang mesti disejahterakan. Yang menang tidak besar kepala dan yang kalah tidak kehilangan kepala.
Hal yang paling ditakutkan dari efek buruk yang dibawa persoalan balas dendam adalah bias masalah yang mengekor.

Segala sesuatu akan dikorbankan untuk memenangkan ego sepihak, bahkan sampai hal-hal profesional yang tidak boleh disentuh dengan alasan subjektif misalnya menyangkut jabatan dan kedudukan dalam relasi kemasyarakatan.

 gambar Agus Budi Purwanto
Bergabung: 12/06/2008
Tulisan: 12

Ya. Setuju Sekali.

 gambar agung
Luring
Bergabung: 12/09/2009
Tulisan: 2

saya setuju banget

 gambar mbik
Luring
Bergabung: 02/10/2008
Tulisan: 106

balas dendam ga ada akhirnya

 gambar kolomkiri
Luring
Bergabung: 03/28/2010
Tulisan: 11

dendam melukai jiwa sastra...

 gambar Wahyu Adi Putra Ginting
Bergabung: 01/31/2008
Tulisan: 170

Bagaimana jika yang "membunuh", "memukul", "menindas", "mencuri", "menginjak", "menjajah", dan lain sebagainya itu TIDAK kunjung sadar? Anda ini bisa bicara begitu kan karena Anda tidak menjadi salah seorang Palestina yang tanahnya dicaplok, yang keluarganya di bunuh di depan matanya sendiri; Anda juga bukan salah seorang Irak yang negaranya diobrak-abrik tanpa alasan yang jelas (alasan yang tidak pernah terbukti). Bagaimana mungkin Anda menyuruh orang-orang seperti itu untuk tidak membalas?

Narasi "mata ganti mata hanya akan membuat seisi dunia buta" (dari Gandhi) itu hanya akan bisa berlaku jika pihak penyerang menarik diri, sadar akan tindakannya yang salah, mengakui kesalahannya, membayar kesalahannya, dan, yang paling penting, TIDAK MELAKUKANNYA LAGI. Itu baru namanya tobat sejati.

Narasi POSMODERN yang Anda hadirkan di sini tidak berdampak pada apapun. Hakikat posmodernisme adalah bahwa ia tidak percaya/menolak narasi besar. Dan 'hakikat' itu adalah narasi besar. Maka, posmodernisme menolak hakikatnya sendiri. Posmodernisme tidak punya hakikat. Ini aneh! Bagaimana mungkin Anda bisa mengatakan TIDAK PERCAYA pada kemiskinan, penindasan, keterjajahan, pembodohan, dominasi, dan praktik korupsi? Bukankah yang barusan saya sebutkan tadi semuanya adalah narasi besar? Semuanya itu ada di dalam negara-negara dunia ketiga -- negara-negara (yang sampai sekarang masih) terjajah.

Bung, posmodernisme itu paham yang diproduksi oleh manusia-manusia kelas menengah-atas di Prancis sana. Jean Baudrillard pernah buat pernyataan: "Perang Irak itu tidak ada. Ia hanya simulakrum." Pernyataannya ini didasarkan pada penilaiannya bahwa narasi perang Irak itu adalah narasi yang telah dimanipulasi oleh mediamassa. Perang tersebut hanya ditonton oleh masyarakat Eropa di televisi. Maka, perang itu telah menjadi sebuah simulakrum -- maka nihil. Bodoh sekali bukan?! Coba kalau orang satu itu dicomot dari tempatnya di Prancis sana dan diletakkan di tengah-tengah perang Irak yang sedang berkecamuk itu. Mau bilang apa dia? Perang Irak itu nggak ada?!

Jangan tawarkan posmodernisme ke masyarakat dunia ketiga, Bung. Itu penipuan namanya. Masa mau tidak percaya sama 'kemiskinan'? Kalau mau tawarkan paham, tawarkanlah Pascakolonialisme. Itu lebih kontekstual buat kita. Lebih nyambung.

Dari masa ke masa, dendam yang dibalaskan memang hanya menjadi dendam-dendam baru. Dan tidak pernahlah usai pertikaian dan baku-bacok antara manusia. Tapi ada yang namanya "haus kuasa". Inilah yang membuat orang-orang sialan itu terus-terusan mengganggu perdamaian. Mana mau para produsen senjata itu dunia ini damai. Siapa yang mau membeli senjata kalau dunia damai, penuh cinta-kasih, dan tuna-dendam, seperti yang dicita-citakan Budha, Yesus Kristus, dan tokoh-tokoh yang berwatak nabi itu?

Dorongan balas-dendam akan terus ada kalau penindasan tidak berhenti dilakukan. Itu wajar.

Gandhi pernah sekali menghenyak narasi balas-dendam ini, sewaktu terjadi pertikaian antara umat Hindu dan Muslim di India. Ia mogok makan, dan tak akan berhenti sebelum pertikaian masih terjadi. Cara Gandhi mempromosikan penghapusan niat balas dendam memang keren. Ia bilang kalau si Hindu itu anaknya dibunuh oleh si Muslim, maka ia harus mengambil seorang anak Muslim dan memeliharanya seperti anak kandungnya sendiri. Seperti itulah cara menghapus dendam. Itu ajaran yang keren.

Tapi, ada konteks yang lebih sukar lagi untuk dijawab. Apa? Ya, konteks penjajahan akibat haus-kuasa tadi. Orang lagi enak-enak tidur, eh, tahu-tahu dibom. Alasannya? Karena di negaranya itu terdapat senjata biologis pemusnah massal. Sampai sekarang tidak terbukti. Dan bukannya berhenti, dan tahu malu, eh, malah sampai sekarang masih diokupasi. Lebih parahnya lagi, saat perang masih berlangsung, eh, si negara penyerang tadi ramai-ramai mengumpulkan para dedengkot bisnis minyak bumi dan konstruksi; mereka seenaknya saja bagi-bagi wilayah untuk produksi bisnis mereka. Nah, masa mau diam saja? Mengampuni mereka? Nanti dulu...

 gambar Alwi Atma Ardhana
Bergabung: 02/03/2008
Tulisan: 213

mas sigit ini hanya melihat balas dendam dengan satu versi. Balas dendam jelas diperlukan, tentu dalam versi lainya. Versi yang lain yang saya maksudkan disini adalah pembeberan fakta yang sebenarnya terjadi mengenai hal-hal yang menyebabkan timbulnya dendam itu (entah kekerasan fisik atau lainnya). Karena hal-hal yang menimbulkan dendam tidak hanya dalam bentuk kekerasan fisik, namun bisa saja kekerasan dalam tataran (pe)wacana(an) mengenai satu golongan orang yang di-obyek-an. Bahkan dalam beberapa kasus, termasuk contoh kasus yang anda tawarkan yaitu sengketa jalur Gaza antara Israel dan Palesina, kekerasan mengawali adanya (pe)wacana(an) mengenai orang-orang Palestina. Melalui pemberitaan, yang sebagian bear dilakukan pers barat, pemuda-pemuda Palestina digambarkan sebagai pihak 'pemberontak'-nya (teroris) yang merongrong kekuaan Israel. Hal tersebut ditegaskan Edward Said, dalam buku-nya, COVERING ISLAM, yang menyelidiki bagaimana bias-nya berita-berita mengenai sengketa israel dan palestina. Narasi dalam berita-berita itu lah yang pada akhirnya menjadi landasan, walaupun bukan satu-satunya, Amerika untuk mem-booming-kan narasi tentang terorisme yang selalu dilekatkan pada islam. Di Indonesia sendiri ada kasus yang sangat mirip dengan kasus yang anda sajikan yaitu masalah pembantaian massal yang dilakukan Soeharto beserta angkatan darat dengan bantuan CIA-nya, sesuai dengan narasi John Roosa dalam DALIH PEMBUNUHAN MASSAL. Kekerasan fisik yang dilakukan tidak lantas berhenti, namun seperti dalam kasus israel dan palestina, dilanjutkan dengan kekerasan non-fisik seperti pe-label-an (stigmatisasi) pada orang-orang yang dianggap kiri (PKI). Stigma ini bertahan selama bertahn-tahun yang sebenarnya digunakan untuk membungkam korban pembantaian tadi dan pengetahuan mereka, apabila memang mereka tahu (terlibat), tentang kejaian dimalam awal oktober 1965 itu. (pe)wacana(an) mengenai PKI melalui stigmatisasi tadi, dengan menyelewengka arti komunisme dan gerakan-gerakan kiri, yang terjadi disini benar-benar membantu amerika untuk menancapkan pengaruhnya beserta paham kapitalis-liberal-nya di indonesia. Pada kedua kasus yang saya ajukan, jelas narasi balas dendam sangat diperlukan. Akan tetapi, balas dendam dengan vers yang beda dengan versi yang anda ajukan diatas, yaitu kekerasan. Kemudian, yang menjadi masalah bagi saya tentang naasi balas dendam anda adalah subyek balas dendam tadi karena menurut saya balas dendam tidak melulu harus dilakukan oleh obyek kekerasan namun juga masyarakat luas. Alasannya, masyarakat, dalam usulan saya ini saya cenderung mengambil contoh orde baru, CIA dan PKI, memiliki hak untuk mendapatkan akses ke informasmengenai hal-hal yang berkaitan dengan hajat orang banyak tadi sepeti kasus pembantaian yang dilanjutkan dengan stimatisasi orang-orang dalam golongan tertentu. Masyarakat dalam hal ini harus menuntut balas atas pemipuan yang terjadi mengenai motif sebenarnya atas pembantaian dan stigmaisasi tadi yang tidak lan untuk mencekokkan satu-satunya versi sejarah mengenai 1965 dan melegitimasi kekuaaan orde baru dibawah babi bernama soeharto yang jelas memuluskan segala bisnis amerika yang ingin masuk ke indonesia, freeport salah satu contoh perusahaan amerika yang segera setelah pembantaian orang-orang dari golongan kiri masuk keindonesia yaitu tahun 1967. Dalam pandangan saya ini, balas dendam tidaklah harus dilakukan oleh pihak yang pertama kali ditekan, namun juga oleh pihak ketiga, yang sebenarnya juga korban karena penipuan sejarah. Jadi, dengan pemahaman ini versi balas dendam yang dilakukan jelaslah berbeda dengan pemahaman mas sigit diatas yang cenderung melihat hanya ada dua pihak dalam setiap kekerasan yaitu pelaku dan korban dan melupakan pihak ketiga yang juga dikorbankan. Dengan pemaparan diatas jelas tindak kekerasan harus ditutup dengan balas dendam, dengan sudut pandang saya, demi tercapainya rekonsiliasi yang merupakan puncak dari setiap konflik karena tanpa ada usaha balas dendam jelas rekonsiliasi tak akan tercapai karena tidak ada kejelasan mengenai konflik itu sendiri karena kebisuan yang merupakan bagian dari kekerasan tadi.

 gambar andri 28
Luring
Bergabung: 11/22/2009
Tulisan: 22

say no to balas dendam
and say yes to balas budi.....................

ga ada gunanya deh balas dendam, nyapein diri sendiri, kebales engga, hati aja keruh,,,,,,,,,,,,,
bener ga,?
hehehehehhehehe

 gambar Wahyu Adi Putra Ginting
Bergabung: 01/31/2008
Tulisan: 170

Bung andri28, harusnya Bung tidak berhenti sampai "say no to balas dendam and say yes to balas budi" saja. Bilang juga dong "katakan tidak untuk penindasan!" Hehehe...

 gambar andri 28
Luring
Bergabung: 11/22/2009
Tulisan: 22

betul bung, dan say no to korupsi..................