Salah seorang teman diskusi saya yang selalu punya ide kontroversial mengikrarkan untuk secara ’tidak terpaksa’ melawan bahasa Inggris demi nasionalisme. Dia beranggapan bahasa Inggris adalah predator peradaban yang harus dienyahkan. Tentu karena ia mencintai peradaban tempat kita hidup ini. Begini pendangan saya tentang bahasa Inggris:
Bahasa adalah sebuah politik identitas. Ia merupakan penenda ideologi dan status sosial bagi yang memakainya. Juga simbol berkuasanya peradaban yang melahirkan bahasa itu. Jadi ini hanya masalah siapa yang berkuasa dan siapa yang dikuasai. Dan sejarah telah berpihak pada peradaban barat, sebagian kita menyebutnya peradaban modern, yang membuktikan bahwa peradaban barat dengan segala perangkatnya telah menjadi pemenang dalam panggung kehidupan modern.Apapun persepsi kita tentang itu toh ini hasil kesepakatan sejarah bahwa kita tidak mempunyai pengetahuan dan teknologi, dua mantra paling ampuh dalam peradaban tempat kita hidup ini, yang mampu menyihir dunia dan membuat kita semua bertekuk lutut.
Kita selalu bersikap mendua, benci tapi rindu,ketika berhadapan dengan peradaban barat. Kita membenci hegemoni dan kecongkakan mereka tapi kita juga cinta mati dengan tekhnologi yang mereka temukan, buku-buku yang mereka tulis, film-film yg mereka buat, lagu-lagu yang mereka ciptakan.
Kita tentu tidak perlu mengambil sikap "buruk rupa cermin dibelah". Kita hanya bisa membuat counter culture, tanpa perlu menjadi "anjing menggonggong" dan " kafilah tetap berlalu". Menjadi 'anjing menggonggong' memang lebih mudah daripada menjadi' kafilah' yang tekun dan teguh pendirian. Tugas kita adalah memuliakan culture kita sendiri bukan memaksa orang lain menganggapnya demikian. Ini jelas bukan tugas yang mudah Bung, it is not an easy business as usual.
Bahasa ‘hanyalah’ sebuah gejala dari sebuah culture tertentu. Melawan bahasa untuk menandingi culture yang ada di belakangnya sama saja dengan seseorang yang menyembuhkan sakit kepala yang menahun dengan sebutir aspirin saja, tanpa menyadari bahwa ada kangker ganas yang bersarang di kepalanya dan harus dienyahkan dengan obat yang lebih tepat. Jadi yang perlu dilakukan bukan menghilangkan gejalanya yang tampak tapi bagaimana mengetahui akar permasalahannya. Yaitu menyadari bahwa kita harus menguasai ilmu pengetahuan, sains dan tehnologi. Yak karena tiga hal itulah yang menjadi mesin penggerak peradaban. Siapapun yang menguasainya dialah yang akan menjadi pemimpin peradaban yang diikuti segala gaya hidupnya, perilakunya, seleranya bahkan cara bicaranya yang tak lain adalah bahasa.
Bagi saya dan siapapun yang belajar English, menguasai bahasa ini bukanlah simbol ketertindasan kita atas mereka, tapi justru kecerdasan kita dalam ikut memberi arah peradaban ini. Karena dengan bahasa inilah kita memahami mekanisme dan kekuatan-kekuatan yang mengendalikan peradaban modern. Cara kita menghadang dan melakukan perlawanan terhadap dominasi kultur barat.
Saya bisa dan memahami English tapi saya juga bisa berbahasa Indonesia dengan lancar dan berbahasa Jawa dengan lumayan baik. Saya lebih memilih menjadi manusia bertopeng barat tapi berhati Jawa. Barat dalam pengertian pola pikir dan wawasan, Jawa dalam sikap dan perilaku.



