“Saya Ingin Pulang dan Sholat di Rumah…”

Asiyah (75), warga Kampung Pulo, RT 14, RW 03, Kelurahan Kampung Melayu, Jakarta Timur, kini harus menguni barak pengungsian yang berada di bekas Bioskop Nusantara, di kiri jalan Kampung Melayu. Tempat tinggal yang dibeli dengan susah payah oleh dia dan sang suami (almarhum) tercinta, disambangi air setinggi satu setengah meter, yang berasal dari luapan air Sungai Ciliwung.

Dari Serang, Banten, Asiyah merantau ke Jakarta dengan mengusung predikat pengantin baru. Kala itu, tahun 1945, dia dan sang suami menyewa sepetak ruang berukuran 2 X 3 meter di bantaran Sungai Ciliwung dengan harga Rp 400 per bulan.

Atas hasil usahanya membanting tulang di kota metropolitan ini, dua tahun berselang, dia dan suaminya dapat membeli tempat hunian pertamanya di Jakarta itu dengan harga Rp 10.000.

“Senang rasanya mampu membeli rumah sendiri walaupun jelek. Kami mengumpulkan uang dari hasil kerja kami sebagai buruh,” papar perempuan yang siang itu mengenakan daster dan jilbab hitam itu.

Sejak sepuluh tahun yang lalu, Asiyah harus ditinggalkan sang suami, Panut, menghadap sang pencipta. Mau tak mau, dia harus melanjutkan sisa hidupnya dengan sang anak, Retno (45).

Derita yang dia terima tak berhenti di situ. Anak satu-satunya tersebut, ternyata diketahui berbadan dua tanpa mengetahui siapa bapak dari si jabang bayi yang dikandungnya.

Dia tetap tabah. Bahkan, kebiasaannya sholat lima waktu tak pernah luntur dengan adanya dua kejadian yang menimpanya. Kebiasaan berkomunikasi dengan Yang Maha Esa itu masih rutin dia lakukan sampai sekarang.

Ketika si cucu lahir, Asiyah bersedia mengasuhnya. Anak semata wayangnya, yang tak lain adalah ibu si bayi perempuan bernama Dewi (Cool, bekerja di Depok untuk membantu meratakan isi perut. Setidaknya tidak membiarkannya kempes.

Siang itu, gurat-gurat keriput di wajah Asiyah menampakkan, tak hanya usianya yang sudah memasuki senja, namun juga sketsa garis penderitaan dan perjalanan hidup yang penuh terjal sepanjang hidupnya.

Duduk di tangga yang sedikit becek, dia bercerita bahwa semalam dia menyantap kolaborasi nasi, telur dadar, dan sayur oseng kacang. Ransum yang diberikan PMI itu, sampai dengan siang itu belum lagi dia dapatkan. “Tadi pagi dapat jatah bubur kacang ijo, tapi nggak merata. Jatah saya buat cucu saya saja. Kasihan dia,” katanya sambil mengusap matanya yang tak lagi tampak “hidup”.

Buat dia, tidak makan sudah menjadi hal yang lumrah. Dia mengaku sudah biasa hidup prihatin. Namun, yang paling membuat dia gundah, kewajiban sholat lima waktu yang biasa dia lakukan, kini tak bisa dia laksanakan.

Mukenah dan sajaddah, begitu air menggenangi rumahnya, adalah barang yang pertama kali dia selamatkan. Di tempat pengungsian pun, kedua barang kesayangannya tersebut, turut serta mengisi tas kecil bermotif bunga yang dia letakkan di antara beberapa tas milik pengungsi lain.

“Saya bawa mukenah dan sajaddah, tapi saya nggak sholat. Saya merasa nggak nyaman berada di sini. Lagipula, air yang disediakan di sini belum tentu layak untuk wudhlu. Saya ingin pulang dan sholat di rumah,” urainya. [sigit sastrosupadyo]