Bertahan dari Ancaman Rob
Siang itu, Kamis (05/02), hujan turun lebat. Di atas, mendung hitam menggelantung. Angin yang bertiup kencang seakan menambah atmosfir di pemukiman Waduk Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara yang kala itu nampak sunyi. Seorang tua duduk di depan susunan papan kayu membentuk sebuah bangunan, namun tak beraturan. Itulah tempat tinggalnya.
Mustain (63), setiap hari duduk di depan rumah yang sudah dia huni sejak lima tahun yang lalu itu. Dia hidup bersama sang istri. Tiga anaknya, yang sudah berkeluarga, memilih untuk membangun rumah sendiri tak jauh dari huniannya.
Dia sudah tidak lagi mampu untuk berkarya. Fisiknya sudah rapuh digerogoti usia. Praktis, sang istri tercinta, Sudarti (55), yang telah menemani hidupnya selama 35 tahun, bergelut seorang diri di riuhnya ibu kota untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari dengan menjadi pemulung.
Selama tinggal di Waduk yang mulai beroperasi tahun 1967 itu, Mustain sudah berulang kali pindah. Pasalnya, rumahnya selalu roboh terkena banjir. “Wilayah ini memang sering terendam banjir akibat terjadi gelombang pasang (rob). Rumah saya yang ini saja yang tahan lama,” katanya.
Menurut pria asli Sumenep ini, selama 15 tahun tinggal di Waduk Pluit, pada setiap musim hujan daerah itu selalu selalu terendam air. Namun, banjir cepat surut, termasuk pada saat banjir besar tahun 1996 lalu. Dia menuturkan, genangan air surut kembali hanya dalam waktu satu atau dua hari.
Menanggapi perkiraan akan terjadinya rob besar pada 9 Februari nanti, dia berharap hal itu tidak akan terjadi. “Misalnya benar-benar terjadi, kami akan mengungsi sementara. Setelah surut, kami akan kembali lagi di tempat ini,” ucapnya tanpa sedikitpun menunjukkan kekhawatiran pada raut wajahnya.
Nurlita (33), seorang ibu muda asli Brebes, juga berujar hal senada. Dia sudah terbiasa dengan banjir yang terjadi. “Sudah biasa, mas. Nggak khawatir. Kalo terendam semua, ya sudah,” tuturnya dengan aksen sedikit ngapak-ngapak.
Ketika pasang, lanjut dia, biasanya warga banyak yang masih bertahan. Banjir cepat surut, karena dipompa. Selama tinggal di tempat itu sejak 1998, dia sudah berkali-kali mengalami banjir. “Sudah tahu resiko jika tinggal di sini. Kan, banjir di sini sudah terjadi sejak dulu,” Wanita yang sehari-harinya mengurus kedua anak balitanya itu membeberkan.
Seperti diketahui, sebanyak 15 hektar dari 80 hektar lahan yang ada di Waduk tersebut dikuasai pemukiman liar. Pemerintah Provinsi (pemprov) DKI Jakarta merencanakan revitalisasi tempat tersebut dengan menertibkan sekitar 8.000 rumah yang terdapat di pinggir waduk Pluit tersebut.
Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi air pasang di wilayah Muara Baru dan juga sekitar Jakarta Utara, secara jangka panjang. Apalagi, rumah-rumah tersebut menempati lokasi yang memang bukan pada tempatnya, yakni di sekitar tanggul pompa Pluit.
Saat ini, tanggul untuk mengantisipasi melimpahnya air pasang hanya terbuat dari karung pasir dan batu kali yang mampu menahan air pasang sampai ketinggian 220 sentimeter saja.
“Pemerintah hanya menyanggupi uang ganti Rp 1 juta, padahal kami minta Rp 10 juta. Sampai sekarang belum ada titik temu,” ujar Mustain sambil mengepulkan asap rokok kreteknya. [sigit sastrosupadyo]



