Teater Populer

Teater Populer, yang merupakan sebuah kelompok yang dipimpin oleh sutradara film kenamaan, Alm. Teguh Karya, pada Kamis (29/01) menggelar acara bertajuk “Ekonomi Kreatif Dalam Bingkai Perfilman Indonesia” di Sekretariat Jalan Kebon Pala I/295, Tanah Abang, Jakarta Pusat, pukul 14.00 WIB.

Dalam acara tersebut, hadir sebagai pembicara adalah Pimpinan Sanggar Teater Populer Slamet Rahardjo Djarot, Pengacara Todung Mulya Lubis, dan Walikota Jakarta Pusat Dr Hj Sylviana Murni SH, Msi.

Pada awal acara, diputar film karya Teguh Karya berjudul “Cinta Pertama” (First Love) buatan tahun 1973. Dalam film yang hanya diputar selama 10 menit itu, diangkat persoalan mengenai permasalahan perfilman Indonesia. Tak luput pula, dibahas mengenai keberadaan Teater Populer di kancah seni dan budaya Indonesia, terutama dunia perfilman.

Slamet Rahardjo mengungkapkan, Teguh Karya selalu membuat film tanpa unsur seks dan peperangan. Terbukti, karya yang dihasilkan mampu merajai dunia perfilman Indonesia, bahkan sampai ke luar negeri.

“Teater Populer menjadi school of thought. Almarhum Teguh Karya berpesan kepada saya agar kreativitas seni dan budaya, khususnya perfilman, tidak boleh mati. Teater Populer harus selalu menjadi tempat berkreasi,” katanya.

Sepeninggal Teguh Karya, Slamet Rahardjo menjadi orang pertama di Teater Populer. Dia berharap, melalui tempat tersebut, para sineas di Indonesia dapat mengembangkan dunia perfilman Indonesia agar dapat menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Disinggung pula bahwa saat ini, industri pertelevisian merontokkan selera. Banyak terjadi kecelakaan budaya, terutama pemakaian bahasa lisan ke dalam bahasa tulisan. Dikhawatirkan, hal tersebut akan menghambat lahirnya seniman-seniman handal seperti yang telah ada sebelumnya.

Di tahun 2009 ini, Teater Populer mengadakan berbagai kegiatan dan pelatihan. Satu diantanya adalah GLADIACTOR. GLADIACTOR merupakan sebuah kegiatan pelatihan bidang seni teater, film, dan televisi yang dirancang oleh Slamet Rahardjo Djarot bersama Alex Komang (aktor) dan Dewi Matindas (pakar psikologi).

“Kami menjadikan Teater Populer sebagai a place of 24 hours cultural events. Harapan kami ke depan, di mulai dari tempat ini, kota Jakarta juga dapat menjadi sebuah tempat penyelenggaraan seni dan budaya sehingga munculnya industri kreatif yang dicanangkan pada 2009 ini, tidak mengancam matinya seni dan budaya di Indonesia,” tambahnya.

Dalam kesempatan itu, Sylviana Murni memberikan lima set kostum tari betawi kepada Teater Populer yang diwakili oleh Slamet Rahardjo. “Ini sebagai wujud kepedulian saya, sebagai walikota, terhadap eksistensi seni dan budaya. Saya mendukung penuh agar komunitas yang ada di Kebon Pala ini tetap eksis,” papar Sylvia.

Teater Populer, yang semula bernama Teater Populer Hotel Indonesia, diresmikan pada hari Senin, 14 Oktober 1968, di Bali Room Hotel Indonesia, Jakarta. Anggota awalnya berasal dari ATNI (Akademi Teater Nasional Indonesia), mahasiswa, dan para teaterawan independen. Manajemen kelompok ini berpayung di bawah Departemen Seni & Budaya Hotel Indonesia. Aktor dan Aktris alumni kelompok ini di antaranya adalah Slamet Rahardjo Djarot, Christine Hakim, Hengky Solaiman, Niniek L. Karim, Alex Komang, dll. [sigit sastrosupadyo]