Smile is keys in everything we problem
Bagaimana Aku “Akan” Jika Kamu (?)
Semuanya tertulis dan terbait akan sebuah rangkuman ketika aku melihat semua realita yang ada padaku dan Manusia seperti kalian yang membuat ku (?) KARENA KALIAN SERING MELUPAKAN NYA!!! BAHKAN AKU?
Dan terangkumlah semuanya ketika aku terdiam menatap mereka ::
1. Ketika mereka meminta untuk sebuah PERKENALAN dari yang lain agar mereka dikenali… Tapi, bagaimana aku bisa membuat mu dikenal dan mengenalmu? Jika kau sendiri tak mengenal dirimu? Dan bagaimana aku bisa percaya bahwa kau akan lakukan hal yang sama jika kau tak pasti untuk membuat yang lain saling mengenal?
2. Ketika mereka meminta untuk sebuah KEDEKATAN dari yang lain agar mereka dan aku dekat… Tapi, bagaimana aku bisa lebih dekat dengan mu? Jika kau sendiri tak dekat dengan jiwamu? Dan bagaimana aku bisa yakin kita akan saling dekat dan menjalani sebuah kedekatan?
3. Ketika mereka meminta untuk sebuah PENGHARGAAN dari yang lain agar mereka dihargai… Tapi, bagaimana kau dapat aku hargai? Jika kau sendiri tak menghargai dirimu sendiri? Dan bagaimana aku bisa yakin kau bisa menghargai yang lain untuk pengharapan PENGHARGAAN?
4. Ketika mereka meminta untuk sebuah KEJUJURAN dari yang lain agar mereka tak dibohongi… Tapi, bagaimana kau bisa tak kubohongi? Jika kau sendiri tak bisa jujur pada dirimu sendiri? Dan bagaimana aku bisa percaya akan kejujuran yang kau berikan?
5. Ketika mereka meminta untuk sebuah SANJUNGAN DAN PUJIAN dari yang lain agar mereka terhormat… Tapi, bagaimana aku bisa memuji mu? Jika kau sendiri tak bisa percaya pada pujian mu? Dan bagaimana aku bisa percaya akan rasa saling memuji yang akan terlahir?
6. Ketika mereka meminta untuk sebuah KEPANDAIAN dari yang lain agar mereka dikagumi… Tapi, bagaimana aku bisa mengagumi? Jika kau sendiri tak bisa yakin akan kepandaian dirimu? Dan bagaimana aku bisa percaya bahwa kau bisa berbagi dari kepandaian mu?
7. Ketika mereka meminta untuk sebuah KEPERCAYAAN dari yang lain agar mereka dipercayai… Tapi, bagaimana aku bisa mempercayai? Jika kau sendiri tak mempercayai dirimu sendiri? Dan bagaimana kau bisa yakinkan akan sebuah kepercayaan itu sementara semuanya tak pasti!
8. Ketika mereka meminta untuk sebuah KERENDAHAN HATI dari yang lain agar mereka disegani… Tapi, bagaimana aku bisa menilai itu bukan kesombongan? Jika dirimu sendiri tak menampakkan kerendahanan hatimu? Dan bagaimana aku yakin kau bisa pastikan aku akan tidaksombongan itu, sementara itu tak benar-benar?
9. Ketika mereka meminta untuk sebuah KEADILAN dari yang lain agar mereka merasa sama… Tapi, bagaimana aku bisa lebih adil pada mu? Jika dirimu sendiri tak adil pada jiwa, hati, dan logika mu? Dan bagaimana aku bisa menuntun rasa keadilan untuk yang lain, sementara itu tidak ada?
10. Ketika mereka meminta untuk sebuah CINTA agar mereka dicintai… Tapi, bagaimana aku bisa mencintaimu? Jika kau sendiri tak mencintai dirimu? Dan bagaimana aku bisa percaya bahwa kau bisa mencintai yang lain jika dirimu sendiri tak pasti!
Maka semuanya adalah (?) yang ada pada otakku…
Meski aku bukanlah manusia yang SELALU BENAR, Tapi aku yakinkan diriku sebelum aku menyakini yang lain…
Meski aku bukanlah manusia yang tersirat untuk KESEMPURNAAN, Tapi aku percayakan dulu akan semuanya untukku sebelum aku mempercayakan yang lain…
Dan…
Yang terpenting “walau aku bukanlah manusia yang ada pada KEINDAHAN HAKIKI, Tapi aku yakin pada diriku untuk ku sendiri, sebelum aku mencintai yang lain
DAN JIKA KAU MENGERTI MAKSUD KU INI
…
CINTAILAH DIRIMU SENDIRI
DAN
MULAI SEMUANYA SENDIRI DULU



Seringkali aku mendengar narasi 'berawal-dari-diri-sendiri-dulu' untuk sebuah hubungan dan keberhasilan. mungkin narasi ini memang bekerja pada kedua ranah itu (meski aku meragukannya).
pertanyaan yang selalu muncul di kepalaku ketika mendengar narasi ini adalah:
1. apa diri pernah selesai dicari? jika tidak, berarti semua tuntutan 'aku' dalam tulisan di atas tidak akan terkabul.
2. narasi 'berawal-dari-diri-sendiri' itu kan sangat umum, mirip dengan 'manusia-pasti-merasakan-kesedihan-dan-kesenangan'. artinya, hal yang sangat umum ini tidak bisa dipakai untuk menilai sesuatu dan cenderung akan menghentikan dialektika. narasi model seperti itu adalah pemutusan nalar. terus, ngapain dengan 'berawal-dari-diri-sendiri-dulu'? bukankah pilihan memang adalah keputusan yang dibuat diri?
3. soal mencintai. bagaimana jika ternyata aku mencintai diriku, namun caranya berbeda dengan idealismemu mengenai bagaimana aku harus mencintai diriku? jika kamu memaksa, berarti kan kamu malah membuatku tidak mencintai diriku?
narasi 'berawal-dari-diri-sendiri' juga memiliki efek apatisme pada sistem. dan efek ini sangat besar. saya beri dua contoh.
Laskar Pelangi dan seri-seri selanjutnya sangat laku di Indonesia. narasi yang sering muncul adalah perjuangan tokoh-tokohnya dalam menggapai mimpi. pusatnya adalah individu. dengan narasi seperti ini, sistem pendidikan yang bobrok dan cara mengatasinya tidak mendapat perhatian karena individu ajaib pasti bisa mengalahkan segala rintangan. sistem pemikiran 'modern' yang diagung-agungkan oleh tokoh utama di sana sama sekali luput dari kritik yang memadai dan malah cenderung diterima dengan sukarela. untuk lengkapnya coba baca Laskar Pemimpi karya Nurhady Sirimorok.
Contoh kedua adalah film Wall-E. film yang berkisah tentang kehancuran bumi karena sampah dan industri ini juga menggeser fokus sistem kapitalis yang merusak dan jadi penyebabnya ke individu, seolah-olah individu-individu, jika punya kesadaran dari diri sendiri akan mampu mengubah keadaan.
Semua individu pasti punya kesadaran lingkungan (yang di amerika jadi opium baru pengganti agama [menurut Zizek]), tetapi selama sistemnya tidak jadi fokus untuk diubah, yang ada hanya romantisme individu. romantisme 'semua-berawal-dari-diri-dulu'.
Salam kenal,
wahmuji
saya membenarkan anda tidak setuju... asal jangan ubah ideologi saya... terimakasih