budaya

Senin, 10 Oktober 2011 yang lalu di Gedung Societet Militer Taman Budaya Yogyakarta digelar pertunjukan teater berjudul Bunga di Comberan. Pertunjukan itu disajikan oleh kerja sama "Kelola"  dengan Theatre Embassy yang mengadakan program teater untuk pemberdayaan.

Baca selengkapnya »

Lirih…. lirih dan semakin dalm
Suara itu menapaki senja
Meninggalkan kepedihan mendalm
Bagi surya merona senja

http://www.google.com/search?q=SEDULUR%20PAPAT%20LIMO%20PANCER

Baca selengkapnya »

Malam belum begitu larut
ketika tembok di sekelilingku
meraung hebat karna
disandarkan padanya pedang tua perkasa
di mana lusinan nyawa telah digariskan
berhenti lewat tajam belai mautnya
Aku mencoba bertanya "Mengapa?"
"Dan kau tau apa jawabnya?"
Sang pedang renta lirih berkata:
"Bahkan untuk kemakmuran
perdamaian dan persatuan

Baca selengkapnya »

Dengan sepatu tinggi

Kaki-kaki itu padat melenggang

Dari meja ke meja lain.

Cukup di bawah sorotan bohlam lima watt

Senyum dari dua wanita itu

Menyusur melawati mata kami.

 

Warung kopi, rokok, juga lelaki

Baginya adalah musik tarian hujan

Kadang keras kadang lembut.

 

Hai wanita,

Baca selengkapnya »

KAENDAHANE TAMAN
I suddenly became a stranger in it

apa kang sejatine tumiba
ing taman kang den bangun
dening kapitayan

sirna ana ngendi
sakehing wewangen
kang tansah ngedhemake rasa

melati kang rinonce
ing saben paseban
mangsa sore

: sirna

jombang, 9 September 2010
terasing

Ketika mantra jadi penawar getir, maka berbahagialah para ahli mantra yang ketiban lagi rezeki nomplok. Bursa mantra semarak menggeliat bak ombak laut raya diterpa galau angin pancaroba. Mantra-mantra jadi penangkis sekaligus pemungkas segala ingin dan tak ingin yang menggedor-gedor dinding nafsu untuk bisa begini dan begitu, sesuka-suka hatiku dan hatimu. Mantra jadi pengingkar sekaligus pengikat untuk menolak dan menarik segala damba dari rindu-rindu tabu yang menggelayut di ubun-ubunku dan ubun-ubunmu. Mantra kembali berjatidiri sebagai mantra.

Di ujung senja, di sebuah kampung tua yang tak jaya lagi, kutemui seorang ahli mantra yang sudah sangat lanjut usianya. Kukabarkan duniaku, kusampaikan maksudku, kusumpah serapah marahku, kutangiskan tangisku, kupinta beruntai mantra-mantranya. Sekejap Pemantra Tua tercenung, lalu terbahak tanpa suara.

“Mengapa mantra? Haruskah mantra?”tanyanya serak.

“Harus! Harus mantra!”jawabku lirih tapi pasti.

“Tapi, kenapa manta?”

“Karena mantra!”

“Lho?!”

“Nah…”

“Jadi?!”

“Mantrakanlah! Mantrakanlah…”

“Baik. Baik, jika itu maumu. Tapi, ini bukan mantraku. Ini puisi mantranya M. Nurgani Asyik. Ia sudah duluan pergi meninggalkan kita dijemput gelombang raya. Mantranya masih saja berjaya. Ini mantra tak main-main. Ini mantra Ya, Hoo…!!”

“Ya, Hoo…!!??”

“Ya! Camkan dan simak baik-baik : ya langit ya gunung ya awan ya angin ya hujan/ ya rimba ya padang ya jin yang bersemayam dalam tenang/ ini datang tumbal ini ada sesajen ini pucuk-pucuk aji ini berkas doa-doa/ ya air ya udara ya mambang ya mayang ya api ya tanah ya badai ya afrit ya peri yang bertahta dalam bahagia/ ini datang kaul ini ada perhidangan ini kelumit mantra ini setumpuk isim/ ya penguasa jadikanlah aman bersama kami/ya, hooo….!!!/ ya Nabi ya Rasul ya Adam ya Muhammad ya Malaikat ya Jibril ya Ridwan ya Izrail ya Chaidir/ ya Allah Nan Maha Penyayang/ ini sesembahan ini sesujudan ini dedoa sakral/ ya Allah Sang Penguasa/ tumpukkan rahmatMu maka tentramlah hati ini.”

Usai pengungkapan mantra itu, alam malam kampung tua terasa begitu tua. Bulan pucat di seperempat langit timur bermuram durja, seakan tercekat ditimpuk-timpuk mantra itu. Sirat serat mantra itu telah mematikan gerak, menafikan munafik, meninabobo hati-hati picik, menggorok putus niat busuk para pemabuk yang suka tipu-tipu. Mantra itu telah mematikan inginku melibas habis segala inginmu. Mantra itu telah mengembalikanku kepadaku. Sebagai pencari mantra, sebenarnya aku tengah mencari diriku sendiri.

Entahlah juga mantra itu dapat mengembalikanmu padamu, jika kamu juga sedang mencari-cari dirimu.

Ketika aku tersadar dari pencarian itu, malam telah larut sekali. Pusaran waktu telah memasuki hari baru di penanggalan baru. Kampung tua yang tak lagi berjaya mati dalam gigil udara pagi. Pemantra Tua juga mati meringkuk sepi di sudut dinding gubuk tuanya. Aku dan kamu juga tengah beringsut-ingsut memasuki hari-hari perjanjian mati.

Mantra yang hampir sempurna kudapatkan dari Pemantra Tua itu ternyata terpulang kembali ke hati yang tentram, menuju jiwa yang tenang. Maka, wahai jiwa-jiwa yang tenang, kembalilah…

Matahari baru di hari baru berpendar lain sekali. Gerak hari baru terasa cepat sekali. Ketika kuhitung-hitung diriku terasa kosong sekali. Aku beranjak tua cepat sekali…

Banda Aceh, 30 Desember 2007

(Sumber : Serambi Indonesia ~ Minggu, 30 Desember 2007)

Baca selengkapnya »

Aku Bertanya dan Berkata Padamu
Karya : Ampon Yan

apa lagi yang ku tulis kawan
kaupun tahu menahu
bukankah bangsa ini kerumunan yang tersibuk sibuk
semua bersatu satu diberanda para penyihir
kaupun akan berumah disitu, kawan

apa lagi yang ku katakan kawan
kau pun membisu bisu
bukankah negeri ini panggung buat para penyanyi

Baca selengkapnya »

Cerpen : Saiful Bahri

Ini Kali AA Yang Pergi

“APA masih ada yang lain di luar? Kalau tidak ada lagi, saya mau mohon izin….”desah AA pada pukul 20.20 WIB malam Jum’at, 25 Maret 2010 di ruang rawat Geurutee Kamar 14 Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin Banda Aceh.

Baca selengkapnya »

secangkir kemesraan terhidang
secangkir debu datang

secangkir kerinduan pulang
secangkir debu terbuang

terkadang, rindu itu debu
acap, mesra bak debu

kulihat tebing hari
menggerutu sambil menyulam mimpi
menyemat gundah tak bertepi
buat langkah beku, lalu mati

Oleh : EMHA ANHAR HUSYAM

Baca selengkapnya »

NAMA besar komponis Ismail Marzuki sama tenar dengan sekian ratus lagu ciptaannya, mulai dari yang berjenis seriosa, keroncong, stambul, mambo, rumba, tango, hingga mars.

Baca selengkapnya »