Teori Sastra

Apa itu Kritik Sastra?

Apa itu Kritik Sastra?

Ada yang hilang dari tradisi sastra Indonesia, yaitu tradisi kritik sastra. Isu itu sudah didengungkan Sitor Situmorang sejak tahun 1950an, dan hingga kini masih relevan dibicarakan karena banyaknya akademisi yang lulus fakultas sastra (atau fakultas ilmu budaya) tak mampu menanggapi dengungan itu. Bahkan, pada kondisi terkini, masih saja ada seorang akademisi dan sastrawan besar bernama Budi Dharma yang jelas gagal mendefinisikan kritik sastra. Maka, penelusuran sejarawi perihal kritik sastra perlu dilakukan.

Kritik sastra telah mengalami perubahan secara konseptual sebelum mencapai bentuk yang dikenal saat ini. Akan tetapi satu hal yang tidak pernah berubah sejak awal digagasnya kritik sastra oleh orang-orang yang digolongkan sebagai kritikos (ahli retorika, ahli tata bahasa dan filsuf) di Yunani, adalah perihal menilai kualitas sebuah teks. Pada masa Yunani klasik, embrio kritik sastra memiliki cakupan yang sangat luas; penilaian ketepatan pemilihan kata sebuah pidato hingga keteraturan tata bahasa pada sebuah teks termaktub di dalamnya. Perubahan yang cukup berpengaruh terjadi saat tradisi pemikiran gerejawi, pada Masa kegelapan, memasuki ranah ini. Kritik sastra digunakan untuk memilah teks gerejawi antara canon dan apocrypha. Konsep pembedaan antara canon dan apocrypha ini yang lantas memberi jalur pemikiran baru kritik sastra; sebuah tujuan baru dalam kritik sastra, yaitu membuat sebuah tradisi sastra kanon. Pada masa Pencerahan/Renaisans, para kritikus sastra pun mulai membedah karya-karya sastra dan menilai mana di antara karya-karya tersebut yang memang bernilai tinggi dan patut dijadikan sebuah awal dari tradisi ber(sastra).

Dan kini di sinilah kita, menyelam di samudra karya sastra, mencari karya-karya yang patut menjadi kanon.