Apa itu Kritik Sastra?

Ditulis oleh: Alwi Atma Ardhana
Tanggal: 17 Januari 2011
Statistik: 16 komentar, 16340 kali dibaca

Pengantar

Apa itu kritik sastra? Sebuah pertanyaan yang berat untuk dijawab bahkan oleh orang-orang yang telah menempuh pendidikan formal sastra, khususnya di Indonesia. Kalaupun ada jawaban atas pertanyaan itu, jawaban tersebut umumnya tidak memuaskan. Salah satu contoh, yang paling kini, dari ‘jawaban-yang-tidak-memuaskan’ ini adalah makalah Budi Dharma yang dipaparkan di Temu Sastrawan Indonesia III di Tanjungpinang yang berlangsung dari tanggal 28 hingga 31 oktober 2010 lalu. Bagi Prof. Dr. Budi Dharma, yang seorang akademisi sastra (paling tidak kita ketahui dari dari titel di di depan namanya), [s]emua pendapat mengenai sastra pada hakikatnya adalah kritik sastra.”. Sehingga, tulisan sekecil apapun tentang karya sastra adalah kritik sastra; blurb-blurb di sampul-sampul novel juga adalah kritik sastra. Sebaliknya, menurut Katrin Bandel, yang juga seorang akademisi sastra yang ‘ditugasi’ untuk menanggapi/menyanggah makalah Budi Dharma, sebuah kritik sastra “mesti ada elaborasi yang menjelaskan mengapa penulisnya (kritikus-pen) sampai pada penilaian tertentu.” Dalam pendapat Katrin Bandel, blurb-blurb tentu tidak dapat digolongkan sebagai kritik sastra. Ketidakpuasan Katrin dari makalah Budi Dharma mengenai penggolongan ‘kritik sastra’, hal yang mendasar dalam dunia sastra, adalah sinyal yang patut ditangkap.

Makalah Budi Dharma, yang seharusnya merupakan tulisan akademis (memberi penjelasan yang lebih masuk akal dan disertai beberapa kutipan pendapat teoretikus sastra sebelumnya sebagai pembanding) tapi tak jadi, merupakan simbol parahnya pendidikan sastra di Indonesia, termasuk para akademisi yang menghidupinya. Secara lebih luas, dalam makalahnya, Katrin Bandel melihat keparahan para akademisi sastra ini dengan menyatakan bahwa “tulisan-tulisan di jurnal-jurnal akademis sering justru bermutu lebih rendah daripada tulisan di koran, di majalah sastra atau di website sastra.” Penyebabnya, bagi Katrin Bandel, adalah kurangnya keinginan para dosen sastra mengembangkan diri dan besarnya tekanan struktural (kampus) yang mengharuskan para dosen hanya menulis di jurnal-jurnal dengan lisensi DIKTI. Menurut saya, ada penyebab lain yang sebenarnya turut mengambil peran terjadinya fenomena di atas yaitu tidak adanya pendidikan sastra yang memadai sejak dini di Indonesia: di Indonesia tidak ada pelajaran sastra di tingkatan SD, SMP/SLTP maupun SMA/SLTA, hanya mata pelajaran Bahasa Indonesia yang ada dan tentu tidak akan mampu mencakup sastra Indonesia secara menyeluruh. Yang kedua, penekanan pentingnya kritik sastra sebagai bagian mendasar dari studi sastra tidak diberikan di fakultas sastra. Berapa mahasiswa sastra yang mengetahui bahwa tujuan akhir dari fakultas sastra, salah satunya, adalah mencetak kritikus sastra? Atau berapa mahasiswa yang mengetahui bahwa kritikus sastra adalah sebuah profesi? Dan itu bukanlah sebuah kebetulan semata, karena sangat jarang brosur-brosur iklan fakultas-fakultas sastra yang menuliskan kritikus sastra sebagai salah satu profesi, bahkan yang utama, yang hadir sebagai hasil dari pendidikan di fakultas sastra; kebanyakan profesi yang diiklankan adalah sastrawan, budayawan, bahkan wartawan. Dari segi kurikulum, berapa SKS dalam setiap prodi bernama-depan ‘sastra’ yang membahas kritik sastra secara khusus? Saya, sebagai orang yang pernah belajar di fakultas sastra, tidak mendapatkan mata kuliah-mata kuliah yang membahas kritik sastra secara khusus itu.

Esai ini berangkat dari lemahnya pendidikan sastra di Indonesia, yang mana saya termasuk salah satu produknya, yang bahkan tidak mampu menjawab pertanyaan sederhana di awal esai ini. Dengan mencoba menjawab pertanyaan tersebut, dengan semaksimal mungkin, paling tidak esai ini akan mengisi ruang lowong di ranah pendidikan sastra (di) Indonesia.

 gambar Fyrzha Imam

puyeeengggg banget gmana nerjemahinnya yah...??? hehheh

 gambar Tjah Kenthir A

kemaren sudah baca berulang2 tapi gak paham.hahahaha...

aku nyimak sajalah diskusinya

 

swn

 gambar Alwi Atma Ardhana

Silahkan Tjah Kenthir A    Tidak ada orang awam kok di sastra

 gambar Tjah Kenthir A

Bang Alwi Atma Ardhana aku minta ijin yah untuk copy paste, bagus banget iseainya. aku hanya orang awam yang ingin belajar sastra saja.

suwun

 gambar Sabina Thipani

Aku mau berkomentar sedikit soal jurnalisme sastrawi itu. Aku nggak tahu banyak soal sejarahnya, tapi dari karya jurnalisme sastrawi yang kubaca dan beberapa pelatihan jurnalistik yang kuikuti, berbeda dengan tulisan yang ditulis Truman Carpote (yang seperti kata Alwi, berangkat dari fiksi tapi mengadopsi gaya tulis jurnalisme), jurnalisme sastrawi berangkatnya dari fakta. Tidak boleh ada fiksi setitikpun. Cara menulisnya saja yang mirip dengan gaya sastra.

 

Dan setahuku, tidak seperti sastra, jurnalisme sastrawi itu belum ada yang dianalisa dengan kritik sastra.

 

Soal Linda Christanty, menurutku tidak semua tulisannya itu tergolong jurnalisme sastrawi (artinya berangkat dari fakta), tulisan Linda juga ada yang benar-benar sastra. Contoh tulisan  Linda yang dapat digolongkan sebagai karya sastra itu kayaknya tulisan-tulisannya di Rahasia Selma. Tapi bukunya yang baru, Jangan Tulis Kami Teroris itu menurutku tergolong jurnalisme sastrawi...

 gambar Alwi Atma Ardhana

Saat ini jelas teori-teori yang digunakan untuk mengkritik karya sastra makin banyak. Itulah alasan Jonathan Culler di bukunya, yang diulas juga di situs ini tentunya di bagian ulasan buku, memulai dengan menjelaskan apa itu teori. Masuknya beragam teori  adalah fenomena yang terjadi di Eropa dan Amerika tahun 1960-an. Di tahun-tahun itu, bersamaan dengan kelahiran Cultural Studies di Inggris (Universitas Birmingham), teori-teori seperti psikoanalisa, marxisme, semiotika, etnografi dll merambah dunia sastra. Yang sedikit berbeda adalah marxisme karena jauh sebelum kelahiran Cultural Studies, ideologi telah menghasilkan banyak kritikus sastra seperti George Lukacs, Lucien Goldman, Zdhanov, Walter Benjaminbahkan Marx sendiri). Bagi ide(ologi)2 lain, persinggungan dengan sastra sebenarnya dimulai dengan kebiasaannya para pemikirnya untuk menerjemahkan ide-idenya melalui karya sastra seperti Lacan yang menjelaskan teori Psikoanalisa-nya dalam seminar-seminarnya dengan memanfaatkan cerpen milik Edgar Allan Poe ("The Purloined Letter"). Di Eropa dan Amerika, teori-teori ini berkembang dengan pesat. Teori-teori hasil campuran dari berbagai disiplin terus ditemukan namun, sayangnya, sedikit memang yang masuk ke Indonesia. Seharusnya teori2 ini masuk lewat fakultas sastra. Tapi, kondisi fakultas sastra juga parah saat ini. sangat jarang dosen2 membawa teori-teori terbaru apalagi menjadi ahli di sebuah ideologi. Inilah menurutku akar permasalahan minimnya jumlah kritikus sastra dari kampus2. jadi, menurutku, saat ini untuk jadi kritikus memang harus belajar secara mandiri karena kampus tidak memberikan pendidikan sastra yang baik. hehe

 

Hilda, untuk rangkaian pertanyaan yg kedua, setauku tulisan "jurnalisme-sastrawi" (atau "sastra jurnalistik?") adalah genre tulisan yang berkembang akhir tahun 1950-an di Amerika. Gaya tulis ini berkembang lewat gerakan Jurnalisme Baru yang menyusupkan gaya tulis mirip sastra pada laporan2 jurnalistik. Tokoh gerakan ini antara lain adalah Thomas Wolf. Di sisi lain, di sekitar gerakan itu ada juga penulis2, dengan latar belakang sastranya, mencoba menulis novel dengan gaya laporan jurnalistik seperti Truman Capote (karyanya natara lain; In Cold Blood dan Breakfast at Tiffany's) yang gaya tulisnya menyerupai catatan lapangan seorang jurnalis. Jadi, gaya ini semacam pertemuan penulis2 dari dua latar belakang berbeda yang mencoba saling mengadopsi gayanya masing2. Aku gak tau banyak ttg itu mungkin kawan2 lain tau lebih banyak..

 

hilda, kamu dulu fakultas sastra mana?

 gambar hilda_in_palu

hmmm...aku akan membaca artikel ini pelan2..sambil mengernyit dan juga menyimak dng benar...spy gak tersesat di dlm kata2nya yg lumayan njeliment...

tapi banyak sekali yg bisa dipelajari disini, itung2 mengembalikan kembali ingatan2 masa lalu di bangku kuliah hehehe..

 

kritik sastra, saat ini masih memakai teori2 lalu kah, atau sudah ada perkembangan yg terbaru? mungkinkah krn perkembangannya begitu lambat banyak yg malas utk mengulas dan mengimplementasikannya dalam karya2 sastra yg baru?

 

oh ya saya mau tanya juga tentang tulisan2 yg katanya bergaya bahasa jurnalisme-sastra seperti karya2nya Linda Christanty, apakah memang ada gaya bahasa atau aliran itu?gimana historinya?

 

thanks all utk info-nya  Smile

 gambar kresna duta

sastra itu  adalah  kebebasan, tidak berpihak , tidak  dibatasi, tidak  beraliran.......................he he he . sebuah ajaran suci...

 gambar kresna duta

sastra itu  adalah  kebebasan, tidak berpihak , tidak  dibatasi, tidak  beraliran.......................he he he . sebuah ajaran suci...

 gambar Alwi Atma Ardhana

kalo menurut kawan-kawan, konsep estetika Bloom ini, sekaligus pembacaannya di tulisan ini, gimana?? mari diskusi!

 gambar Alwi Atma Ardhana

sedikit cerita ya..

ketika aku nulis esai di atas, aku sangat dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran Harold Bloom dan pada pemikiran Harold Bloom sangat menghargai sesuatu yang bernama 'pengaruh' ini. Di awal 'Western Canon' itu Bloom mengulangi lagi ide estetikanya (setelah sebelumnya dijlentrehkan dengan 'njelimet' di buku dia 'Anxiety of Influence'). Jadi, aku bakalan njawab lewat idenya dia. Baginya, estetika adalah ide-ide yang turun-temurun ditemui dalam teks. Ide ini juga mencakup permasalahan teknik menulis: metafora, simile, irony. Sekilas terlihat mirip dengan konsep estetika para filsuf idealis Jerman, Kant adalah salah satu yang disebut Bloom. Kemiripan ini terletak pada diksi 'ide' (mengingat filsafat idealis sangat mengagung-agungkan ide sebagai sesuatu yang transedental). Segala sesuatunya di dunia manusia ini bagi mereka hanyalah suatu tindakan untuk pada akhirnya berujung pada totalitas ideal. Berbeda dengan mereka, Bloom menganggap estetika 'ide'-nya terletak secara imanen di teks, tidak di luar alam manusia namun juga tidak di dalam manusia, melainkan di teks. Ada sesuatu bernama ide ini ditanam dalam teks sastra seorang pengarang kuat seperti Shakespeare misalnya yang akhirnya menyebar karena saking kuatnya, pengarang-pengarang setelahnya sulit keluar dari bayang-bayang ide Shakespeare ini. Beberapa pengarang memang dapat keluar walopun masih terasa dalam teks-teks mereka pengaruh Shakespeare. Shakespeare dianggap sebagai pengarang yang menemukan karakter dinamis oleh Bloom. Saat ini, siapa pengarang yang bisa lepas dari ide macam ini? Inilah estetika ide Bloomian. Estetika adalah ide akan keindahan yang ditemukan oleh seorang pengarang kuat dan diejawantahkan lewat teks sastra.

 gambar MH Hibrida

Kesan dan pertanyaan yang tiba-tiba muncul dari membaca teks di atas adalah: apa itu estetika?

 gambar Alwi Atma Ardhana

Kalau mengikuti definisi kanon di buku Harold Bloom ' The Western Canon', yang aku juga pakai sebagai salah satu referensi ketika menulis tulisan di atas, kanon adalah sekumpulan karya para pengarang yang diajarkan dalam kurikulum di institusi-institusi pendidikan. Jadi, penetapan sebuah tradisi kanon sastra itu lewat institusi-institusi pendidikan. Di Indonesia, institusi-institusi ini mengikuti kanon yang dibuat oleh Balai Pustaka. karya-karya yang diterbitkan oleh Balai Pustaka  (seperti, Siti Nurbaya, Salah Asuhan, Layar Terkembang, dll) menjadi kurikulum pendidikan Bahasa Indonesia di institusi-institusi tadi. Namun, sayangnya, ya pemilihan karya yang dilakukan oleh Balai Pustaka ini lebih bersifat politis daripada usaha kritik sastra yang serius. Lebih lanjut, sebuah karya tidak perlu dikritik oleh banyak kritikus agar pantas masuk dalam kanon, bahkan cukup satu kritikus sastra mengingat pembentukan kanon juga bergantung pada selera kritikus, yang bersifat individual. Namun, biasanya, apabila memang seorang penulis memang memiliki tingkat pencapaian yang tinggi, banyak kritikus yang akan saling setuju untuk mengangkatnya dalam sebuah tradisi. Contoh saja, Lukacs dan Bloom adalah dua kritikus yang memiliki pandangan berbeda tentang pendasaran penciptaan kanon. Namun, mereka sama-sama setuju bahwa Tolstoy adalah salah sat kanon Eropa.

 

Jawaban untuk pertanyaanmu yang kedua juga masih berkaitan dengan jawabanku di atas. Salah satu keuntungan sebuah penulis yang masuk dalam kanon adalah diingat. Ingatan akan sebuah tradisi kanon ini sangatlah penting mengingat sekumpulan tulisan ini akan disebar-luaskan melalui institusi-institusi pendidikan. tradisi-tradisi kanon ini akan menjadi ingatan sebuah bangsa akan diri mereka sendiri. bagi saya, ingatan akan bangsa Indonesia akan diri mereka akan berbeda jika saja Balai Pustaka tidak hanya memasukkan pengarang-pengarang yang sesuai dengan ideologi kolonialis mereka, Jika saja pengarang-pengarang pra-Indonesia yang termaktub di buku Pram 'Tempo Doeloe' dan buku Pax Benedanto 'Kesusastraan Melayu-Tionghoa' tentu saja konsep diri-bangsa rakyat indonesia akan berbeda. Mengikut alur pemikiran Harold Bloom, yang ekstrim, dalam buku yang aku sebut di awal, tradisi kanon ini bahkan sebuah jalan mengetahui bagaimana kita 'ditemukan'. Konsep kemanusiaan yang ada dalam karya-karya kanon tersebutlah yang membentuk manusia seperti sekarang ini. Pernyataan Bloom "Shakespeare invented us all" adalah tanda betapa pentingnya seorang Shakespeare, minimal, bagi orang Inggris karena ide-ide kemanusiaan yang ada dalam karyanya telah ikut membentuk Inggris yang sekarang ini (minimal dilihat dari bahasa yang ia temukan).

Nah, melanjutkan ke pertanyaan ke tiga, para kritikus sastra di Indonesia seharusnya memperlakukan Pram seperti bagaimana Bloom memperlakukan Shakespeare. Selama ini Pram dianggap besar karena ia mampu bertahan melalui penyingkiran struktural zaman Orba. studi tentang sumbangan Pram pada (sastra) Indonesia sangat minim sekali. Mirisnya, salah satu studi yang menarik malah datang dari A. Teeuw yang mengangkat penggambaran manusia Indonesia, dalam bukunya 'Citra Manusia Indonesia' di karya-karya Pram walaupun A. Teeuw juga belum menjelaskan sumbangan yang telah diberikan Pram. Jadi, sebenarnya masih sulit untuk menganggap Pram dan pengarang-pengarang lain di Indonesia besar karena belum memadainya studi sastra pada karya-karya mereka. Pram harus disandingkan dengan pendahulu-pendahulunya dan penerus-penerusnya dalam sebuah usaha kritik sastra agar ia dapat dianggap sebagai salah seorang pengarang besar dalam tradisi kanon sastra Indonesia.

 gambar Maria Puspitasari Munthe

huaah...terima kasih banyak mas alwi, tulisan ini benar-benar berguna dan mengajari banyak hal. ada yang mau aku tanyakan sedikit. siapa saja yang bisa bantu tolong yaak..

- sebuah karya sastra atau pengarangnya bisa diklasifikasikan dalam kelas kanon atas dasar 1 bentuk kritik sastra saja atau karena banyak kritikus yg meletakkannya di kelas kanon? bagaimana caranya (bukan dasar atau kriterianya, melainkan bentuk penetapannya) badan sastra atau siapa pun itu yang berwenang (contoh: Balai Pustaka) menetapkan karya kanon?

- di tulisan itu disebutkan bahwa "Fungsi utama kritik sastra tidak lain adalah menciptakan kanon." sebenarnya, apa tujuan dari menciptakan kanon?

- di bagian terakhir tertulis: "Pramoedya Ananta Toer seharusnya menjadi besar karena ada penghormatan dalam bentuk kritik sastra yang meletakkannya dalam sebuah tradisi sastra kanon oleh kritikus sastra." ada kata 'seharusnya', asumsi saya berarti sebenarnya tidak seperti itu. memang tidak adakah kritik sastra atas Pram ataupun karyanya? kalau ada, boleh saya minta referensinya?

 

terima kasih, terima kasih buat yang berkenan menjawab. ditunggu... Smile

 gambar Wahyu Adi Putra Ginting

pada durgadurga: Hahaha... too much to be neglected!

 gambar durgadurga

argghhh...too much!!!