dogma

atheis itu punya "agama",
yang g punya agama tu malah yang
agamanya dua!

 gambar durgadurga

atheis itu beragama, dan yang punya 2 agama pun beragama.
tidak ada yang berbeda.orang yang memisahkan punya agama dan tidak punya agama justru orang yang tidak beragama.

salam,
amarah durga

 gambar sedik

banyak orang yg bilang begitu dan akupun setuju
dan menurutku,orang yg tak beragama pun berarti tlah memiliki sebuah agama yg tanpa nama
yg entah disadari atau tidak dia juga pasti meyakini sesuatu,apapun wujudnya
jadi bingung ngomongin agama...

 gambar dalangpotehi

agama, bagiku salah satu kata paling menjengkelkan yang terdengar ditelingaku. dari dulu hingga sekarang banyak orang tertipu dengan kata agama, menipu dengan kata agama, membunuh dan terbunuh dengan kata agama. lebih baik memang tidak ada saja konsep agama itu, soalnya gak jelas. agama itu buat diri sendiri, orang lain atau Tuhan? siapa yang bisa menjawab...

 gambar ascetic

agama adalah suatu tatanan hidup manusia yg diciptakan oleh manusia itu sendiri yg bertujuan untuk mengingatkan kita bahwa ada kuasa yg lebih tinggi diatas kita.

udah banyak perdebatan tentang agama sejak ribuan tahun lalu dan akan selalu jadi bahan perdebatan paling besar bagi umat manusia sampai mereka punah. baik itu perdebatan secara komunikatif, peperangan ataupun perdebatan dalam batin kita sendiri.

kita diberi anugerah untuk bisa merasa, merasakan mana yg baik dan mana yg tidak. saya tidak akan menjelekkan agama ataupun menghasut orang lain utk tidak percaya agama. agama adalah pilihan hidup, dan biarkan menjadi sebuah pilihan. bukan paksaan.
tak ada satu manusia pun yg bertanggung jawab atas spiritual manusia lain.

banyak orang yg memaki2 agama, merasa bahwa agama tidaklah penting, dan mereka bangga dengan itu. merasa bahwa tingkat spiritualnya lebih tinggi dari orang lain. padahal kalo kita cermati, orang2 semacam itu belum tentu pernah BENAR2 menghayati agama yg pernah mereka peluk erat dari sejak lahir.

keadaan semacam ini aku sering bilang hanyalah sebuah pemberotakkan dari otak aneh kita, ketika mulai muncul pertanyaan2 dan gejolak tentang hidup. kita mulai melawan, manyalahkan sekeliling kita, membanding2kan, mencari alternatif dan semacamnya. dan bagi masyarakat kita, terutama anak muda, menjadi atheis adalah keren. mengucap kata atheis adalah hebat.

agama ataupun orang atheis. itu semua hanyalah definisi, sedangkan hubungan saya dengan Tuhan tidak bisa didefinisikan. definisi dalam hal ini hanya akan mempersempit iman. manusia dilahirkan berbeda, begitupun hubungan dengan Tuhan.

saya percaya ada kuasa yg lebih tinggi dari manusia, itu saja sudah lebih dari cukup untuk membimbing hidupku.

satu pedoman hidupku: "semua itu baik adanya"

 gambar durgadurga

sejak awal saya lahir saya dibimbing oleh kedua orangtua saya untuk menganut agama yang mereka percayai. kemudian sampai saya benar-benar dibaptis sebagai tanda percaya. saya pikir tidak sedikit teman yang memiliki pengalaman yang sama dengan saya. sekarang saya sudah berusia 23 tahun, saya sampai pada fase berpikir bahwa agama diatur oleh manusia. agama adalah buatan manusia untuk memilah antara baik dan buruk, agar terjadi keseimbangan sehingga pada akhirnya kita dapat hidup di dunia ini berdampingan, karena dunia ini penuh dengan keanekaragaman. lalu saya dihantamkan dengan kenyataan bahwa banyak kejadian yang berbeda sekali dengan konsep hidup berdampingan itu. praktisi gerejawi ditemukan bersifat duniawi, akhirnya berkata bahwa "jika besok saat dewasa dan berkeluarga tidak punya uang, maka tidak akan bisa sembahyang." Edan, pikir saya.
lalu saya menemukan kenyataan lagi bahwa suatu penganut agama banyak yang memutuskan untuk melakukan aksi bunuh diri dengan bom melekat diseluruh tubuh. astaga!!! banyak orang melakukan pembunuhan atas nama agama. apa-apaan ini?

akhirnya saya berpikir lagi. paling tidak agama itu mengajarkan kebaikan. dan saya mempercayai yang baik.

salam,
amarah durga

 gambar dalangpotehi

Agama diciptakan untuk mengatur kehidupan sesama manusia. Agama diciptakan untuk memberi kejelasan antara baik dan buruk.
Agama tercipta karena kita merasakan adanya kekuatan yang lebih besar dari kita.
Maaf, anda terlalu naif jika percaya alasan-alasan diatas. memang ketiga alasan diataslah (atau setidaknya yang lain yang berhubungan dengan itu) yang mereka, para pemimpin agama, inginkan untuk kita percayai.
Silahkan percaya atau tidak, agama dibuat dengan tujuan untuk memudahkan manusia untuk menjawab pertanyaan sulit dengan jawaban mudah.
Contohnya, pertanyaan yang paling kerap ditanyakan oleh para filsuf, darimana dunia ini berasal? berbagai teori rumit, dan kalkulasi yang tidak 'terjamah' dikemukakan namun masih saja ada sebuah kelemahan dalam setiap teori dan perhitungannya. jadi, mungkin manusia memang mempunyai sifat untuk 'mempermudah' sehingga ditemukannyalah konsep Tuhan. Jadi konsep Tuhan hanyalah sebuah alat bantu untuk persoalan kompleks dengan mudah dan cepat atau instan, seperti kalkulator, alat bantu menghitung.
Maaf jika ini mengecewakan anda para pencari Tuhan, tapi jika anda mau jujur pada diri sendiri dan logika, anda akan menemukan jawaban yang sama dengan saya.

 gambar Wahmuji

Beberapa tahun yang lalu, saya sangat fanatik dengan kepercayaan yang saya anut. sebutlah itu agama. saya merasa bahwa agama lain lebih rendah dari agama saya. kemudian saya menemukan fakta bahwa yang saya percayai tidak benar-benar sebuah kemewahan - hanya bagian tertentu dari kompleksitas perbedaan-perbedaan..

Beberapa tahun lalu, teman saya mengatakan, "saya sadar bahwa saya telah menerima status beragama sejak saya lahir dari orang tua saya. saya pikir-pikir, sekarang, ada baiknya juga apa yang saya anut." begitulah, dan teman saya begitu gembira dengan keputusannya. mungkin, beberapa akan bilang bodoh. kadang saya juga. tapi beberapa mungkin akan merasa sepaham karena proses pengalaman yang bertipe sama. dan kadang saya pun berpikir itu bukanlah masalah selama..selama tidak ada yang membahasnya dengan tujuan mendogmakan aliran tertentu yang sudah jelas diketahui warna benderanya dan kemunafikannya.

Banyak dari teman saya yang sangat moderat menghargai perbedaan, khususnya tentang agama. dan itu menyenangkan. setidaknya menurut saya.

Ah, saya jadi ingin menjabarkan pengetahuan saya yang terbatas tentang agama termasuk asal kata-nya. tidak. tidaklah terlalu penting sebenarnya dalam tataran yang masih 'lucu' itu. jadi saya urungkan saja.

Pada dasarnya, saya melihat teman-teman yang menulis di sini sudah sadar bahwa agama diciptakan manusia. itu sebuah pemahaman yang menarik karena kita memasukkan diri dalam proses awal pembuatan secara tidak langsung karena kita juga menggolongkan diri sebagai manusia.jadi,sekali lagi, kita sepertinya sepaham bahwa agama diciptakan oleh spesies kita.

Saya menganggap, terlepas dari apapun, spesies kita tidak akan pernah bisa hidup tanpa mempercayai sesuatu. dan kepercayaan selalu tak sendirian-setidaknya ada pola yang mirip dengan itu. mungkin pola itu efek dari "takdir" spesies kita ini yang pastinya sudah setuju dengan konsep "manusia sosial".

Di perayaan natal, mungkin yang terpenting adalah momen berkumpul keluarga dan ucapan-ucapan perayaan momen yang telah disepakati bersama sebagai momen penting. orang-orang yang mudik saat lebaran mungkin bukan untuk merayakan "fitrah"nya, tetapi mencipta ruang bersama..apapun momennya, tujuannya tetap berkumpul bersama.

Akan berbeda lagi, mungkin, ketika secara historis kita membaca perang agama.tentunya pemaksaan kebenaranlah yang ditanam dalam-dalam dijunjung tinggi-tinggi. iyakah?
saya tidak terlalu percaya itu adalah alasan satu-satunya. saya tidak percaya motif tunggal. yang ada hanyalah tumpukan motif-motif yang mencari dominasi, yang dibentuk oleh tanda-tanda.bukankah itu membuktikan juga bahwa ada ketidakberdayaan? ah, "sesuatu" yang lebih tinggi itu..tuhankah? Sultan Hamengku Buwono X pernah bilang dalam pidatonya, "manusia hanya punya dua rasa, yaitu rasa ketuhanan dan rasa kemanusiaan. tidak ada rasa keagamaan."

"Manusia mati tak apa", kata Pinang, "Di surga tiada kan kita butuh asmara", kata Rendra, dan "Saya bahagia karena sekarang saya tak percaya apa-apa", kata teman saya Mando.
dan saya mengembangkan, atau mungkin membelokkan, penggalan kata dari tokoh periklanan Amerika tahun 1920an Bruce Barton, yaitu untuk tidak menyerahkan hidup saya pada siapapun atau apapun. saya hanya akan bekerja keras untuk apa yang saya sendiri rasakan dengan sekian pemikiran klasik, modern, dan metropolitan tentang manusia, dan mungkin, untuk manusia. mungkin.mungkin juga untuk ketidakpercayaan saya.

Salam,
Wahmuji

 gambar durgadurga

perayaan natal atau perayaan lebaran atau perayaan-perayaan yang lain akhirnya saya terima dengan paksaan, karena keluarga adalah orang yang baik dan beragama, ujarnya, lalu berkumpul dengan orang lain, mengucapkan selamat, mengunjungi tetangga, dan pada esoknya tidak terjadi apa-apa. saya terpaksa berkumpul dengan orang lain, terpaksa mengucapkan selamat, terpaksa turut mengunjungi tetangga, dan terpaksa menerima bahwa esoknya tidak terjadi apa-apa.

saya memiliki keluarga yang baik, dan saya bersyukur atas itu, sehingga saya merelakan tidak menjadi diri saya sendiri karena rasa memiliki saya. paling tidak itu yang saya alami sampai saat ini.

salam,
amarah durga

 gambar thesuperduperloser

aku harap kita setuju dalam satu hal, orang yang tida beragama adalah orang yan mengatakan orang lain itu tidak beragama!

loser strikes back

 gambar Wahmuji

Maaf, harapan anda tidak terpenuhi. saya tidak setuju.

Kata "agama" berasal dari bahasa sansekerta yang secara singkat artinya "baik". saya curiga bahwa kata "agama" yang anda maksud adalah agama yang telah dilegalkan oleh sebuah institusi, yaitu negara. Kita akan bersinggungan dengan banyak hal. Salah satu yang paling mendasar adalah pemaknaan "baik" tidaknya sesuatu. soal institusi, termasuk legalitas "agama" yang mungkin anda maksudkan itu, akan lebih panjang lagi pembahasannya. namun, lebih baik kembali ke kata-kata anda.

Jika "agama" yang anda maksud adalah, misalnya, "agama" yang dilegalkan oleh negara Indonesia (yang jumlahnya 6 itu), maka saya tidak setuju jika orang yang mengatakan orang lain tidak beragama adalah orang yang tidak beragama. mungkin anda adalah pengikut Fatikan. jika benar, agama anda adalah katolik. jika anda telah mengucapkan kalimat syahadat, mendirikan sholat, menunaikan zakat, dan berpuasa pada bulan ramadhan, anda adalah seorang muslim. apapun itu, anda boleh ngomong bahwa saya tidak beragama. dan saya akan menerimanya (jika, sekali lagi, "agama" yang anda maksud adalah agama yang dilegalkan negara itu). kemudian, anda akan tetap menjadi umat katolik atau islam atau apapun. dan saya tetap akan bilang juga bahwa anda masih beragama.

Di sisi lain, saya menghargai sikap toleransi ala Pancasilais anda itu.

Salam,
Wahmuji

 gambar otakudang

menjadi agak naif ketika pembahasan kita hanya terbentur pada penilaian untuk mereka yang beragama atau tidak beragama, karena hal tersebut sudah menjadi keyakinan masing2 yang berasal dari realitas ataupun pengalaman spriritual masing2..jika kemudian ada kaum yang tidak beragama...so what!???gitu lho...
agama juga tidak bisa dilihat atau bahkan "diadili" dari satu sisi saja melainkan harus menyeluruh..jadi jika boleh saya katakan bahwa bahasan ini muncul sebagai gejolak kawula muda saja. karena berkutat pada permukaannya (agama) tanpa melihat sisi historis, budaya, politik, atau (seharusnya) religi...
umat manusia (khususnya indonesia) sebagian besar menganut agama genetik. artinya mereka memeluk agama karena faktor keturunan..jika orangtua saya beragama A, saya pasti memeluk agama A...namun itupun terjadi bukan tanpa sebab..ada beberapa hal yang menyebabkan demikian...faktor sosial(lingkungan dimana kita berpijak) menjadi salah satu sebab utama..(orangtua)kita takut untuk dikatakan "gila"jika berpindah agama..misalnya orangtua saya katolik tapi kemudian ketika saya lahir saya diajarkan untuk mengucapkan kalimat syahadat ajaran islam..gimana aklo gitu... Smile
makanya kemudian carilah kebenaran secara menyeluruh perihal keyakinan masing masing untuk kemudian memilih yang terbaikkkk atau seperti jargon menyambut pemilu "memilih untuk tidak memilih!"
Wink

 gambar otakudang

tanpa bermaksud bicara SARA...
apa tanggapan kawan2 tentang filmnya Geert Wilders yaitu "fitna"?

 gambar sedik

menurut saya hal itu biasa2 aja,hal itu booming karena exploitasi pers yg berlebihan,klo orang yg bener2 beragama (masih menurut saya) tidak akan terprovokasi,saya bukanl;ah orang yg taat beragama tp saya tidak terprovokasi dengan hal itu...smoga hal ini juga terjadi pada umat beragama yg bersangkutan lainnya...