kuliah dalam derita
mari berterima kasih dengan kampus kita tercinta dengan segala sistemnya,
dengan banyaknya sks yang dilalui,
banyaknya mata kuliah yang harus diambil,
dan diambil lagi,
atas pergantian kurikulum dan aku jadi korban,
atas uang kuliah yang naik berbanding terbalik dengan fasilitasnya,
atas kesalahan sistem penerimaan hingga aku diterima,
juga atas 2 sks yang dilaksanakan 4 jam dan dibayar berlipat,
atas kebaikannya untuk tidak terlalu komersil dengan tidak cepat meluluskan dan menjual bangku kuliah yang menyebabkan aku mungkin lama disini.
pokoke matur sengsu




mari berterima kasih dengan kampus kita tercinta dengan segala sistemnya
yang secara suci berjuang demi peradaban yang lebih baik
dengan slogannya option for the poor...
menghapus kemiskinan dengan pendidikan untuk menciptakan pengangguran
memberantas kebodohan untuk sesuatu yang lebih bodoh lagi
menciptakan tempat asri dengan mendirikan bangunan
memotivasi siswa demi sebuah akreditasi
marilah berterima kasih kepada kampus kita yang tlah memberi kita...
teman-teman yang baik dan sayang ma kita
keakraban terhadap buku-buku
dan tentunya fasilitas-fasilitas yg jauh dari sempurna tapi "agak" berguna
pastinya karena dengan berada di kampus pulalah kita bisa mengenal Media Sastra.com
terima kasih kampus...
terima kasih buat dosen2 yg sudah capek2 mengajar dan memberikan ilmunya..
terima kasih buat sekretariat yg selalu diganggu oleh mahasiswa/mahasiswi soal ini anu itu
terima kasih buat teman2 yg telah mengisi masa-masa mudaku
terima kasih buat pengalaman senang sedih susah yg berharga
apakah tidak memilih dulu masuk uniersitas mana? karena sebelum kita masuk ke satu universitas pasti kita telazh disodori sejumlah harga perkuliahan. dan setelah kita memilih Universitas Sanata Dharma, maka kita harus bertanggung jawab atas pilihan kita. mari berterima kasih pada Universitas Sanata Dharma karna telah berusaha mengajari kita untuk bertanggungjawab.
salam,
amarah durga
Kuucapkan pada kampusku, terimakasih yang dalam dari hati.
Terimakasih karena telah memberikan kami, anak-anak bodoh ini sebuah wacana tentang sebuah kepandaian. Terimakasih pak, bu, atau siapapun petinggi kampus dan para dosen. Terimakasih atas pengorbanan kalian untuk menjadi pragmatis sehingga telah memberikan kami kesempatan untuk menjadi kritis.
Terimakasih telah memberi ku pengetahuan atas hitam dan putih, sehingga aku bisa berwarna abu-abu...
Tulisan teman-teman benar-benar membuat saya berpikir tentang makna evalusi, giringan moralitas, dan keputus-asaan karena tidak mampu berbuat apapun.inginnnya protes tak tahu jalan, malas mencari referensi tambahan lagi!
benar-benar memuakkan.
semoga saya salah.
akhirnya manusia-manusia lucu ini masih saja lugu. tetap seperti itu dengan alis yang tidak menukik tajam kebawah.
salam,
amarah durga
ketika tidak lagi tersedia ruang untuk mencemooh, diri kemudian gelisah.
kegelisahan adalah awal dari perubahan untuk sebuah jawaban.
..dan muak bukan suatu jawaban...
Untuk otakudang:
Saya ingin klarifikasi tulisan saya tentang kemuakan yang lumayan emosional itu.
Pertama, bahwa saya melihat nada protes yang diungkapkan oleh "thesuperloser" terhadap dinamika kampus dengan segala kompleksitasnya. Anda dan beberapa komentator lain menanggapi dengan nada simpatis-optimis seakan-akan fenomena kegelisahan "thesuperloser" adalah takdir berupa cobaan yang harus dilalui dengan melihat sisi-sisi positifnya. tentu saja ini tidak salah jika kemudian ungkapan itu cocok dengan konteksnya.namun, di akhir tulisan, anda juga memberikan nada protes dengan pengetahuan anda bahwa sikap memotivasi mahasiswa hanya didasarkan pada tujuan akreditasi. terus? maksud anda apa?
kedua, saya melihat beberapa teman lain menanggapi dengan suara yang tidak jauh berbeda: moralis-positivistik.lihatlah tulisan "dalangpotehi", "sedik", dan "sescoplo", anda akan mengerti kenapa saya sebut demikian. rasa muak saya disebabkan oleh, seperti yang saya tulis, tidak analitisnya kritik terhadap kampus, protes tiada tara yang "tanggung", dan pencarian data tentang sistem kampus Sadhar yang minim dilihat dari tidak hadirnya beberapa contoh alasan-alasan konkrit dan cara-cara yang bisa ditempuh untuk mencoba mengatasinya.
Ketiga, jika teman-teman, termasuk anda, giat berkegiatan di luar kelas (tapi masih di kampus: UKM, Komunitas, BEMU, HMJ, HMPS), teman-teman akan mendapatkan beberapa fakta konkrit apa yang sedang diperjuangkan oleh, misalnya, beberapa orang yang tergabung dalam Forum UKM yang memvakumkan BEMU akhir tahun 2007 yang lalu karena dianggap hanya mem'beo'kan aturan-aturan dari kampus, misalnya kenaikan uang SKS dan UKT, pemindahan ruang-ruang UKM yang tidak dicocokkan dengan keperluan tiap UKM, dan tidak adanya hak suara mahasiswa di senat universitas. kemudian, forum itu menggagas Kongres Mahasiswa 2008 yang dilaksanakan pada tanggal 4-6 April lalu dan akan di lanjutkan pada tanggal 12 April ini. Kongres ini bertujuan utama: menciptakan sistem yang lebih baik yang berorientasi pada kepentingan mahasiswa. termasuk kita-kita ini!
Nah, dengan beberapa alasan itulah saya merasa muak dengan pembicaraan sebelumnya.
Saya tahu kemuakan bukanlah jawaban.tapi harus diketahui bahwa rasa muak tidak arbriter. pasti ada alasan yang melandasinya. lagi, apakah muak bukan bagian dari rasa gelisah? apa kriteria anda untuk menjauhkan keduanya?
dan saya tidak setuju bahwa gelisah lahir "ketika tidak lagi tersedia ruang untuk mencemooh". alasannya, pertama: selalu ada ruang untuk mencemooh, kedua:ketika ada ruang mencemooh, apakah kegelisahan akan hilang?, ketiga:anda menyamakan kritik dengan mencemooh, padahal perbedaannya besar. saya pikir, saya tidak perlu menjelaskan makna kata "kritik" di sini. saya anggap anda sudah tahu. dan tulisan anda mungkin hanya rasa lupa.
Salam,
Wahmuji
untuk kawan wahmuji
saya menulis menanggapi apa yang saya alami atau rasakan..entah itu kemudian ada sesuatu hal karena tulisan saya, itu adalah hal lain.artinya setiap orang pasti mengalami hal yang berbeda dan jikalau ada kesamaan menanggapinya bakal berbeda pula..dan itu saya pikir kawan2 yg lain pasti demikian sehingga bisa kita lihat bahwa tanggapan tentang kampus tercinta pasti berbeda-beda..
untuk tulisan pertama misalnya, disitu saya mencoba membuat suatu keironisan tentang kampus usd yg tercinta...segala sesuatu yang saya alami dan rasakan di kampus dengan segala sistem dan kebijakannya terasa bertolak-belakang..itu yang saya rasakan..entah dengan kawan2 yang lain...
dalam beberapa hal saya sepakat dengan apa yang dilakukan oleh2 kawan2 yang memperjuangkan hak2 mahasiswa..paling tidak mereka mencoba berbuat sesuatu dan tidak hanya mengomentari atau bahkan berdiam diri saja..namun, ada beberapa hal lain yang saya tidak sepakati dalam perjuangan itu..tapi itu lebih bersifat teknis dan personal jadi mohon maaf kalo saya tidak bisa cerita banyak..
klo soal cemooh-mencemooh itu saya anggap emosional aj..dan biar terdengar hiperbolis gt...
yang menganggap semua nya serba fine
n tidy but unfortunately SUCKS!!!!