INDONESIA

INDONESIA BUKAN SAUDI ARABIA TAPI JUGA BUKAN AMERIKA!!!!!!
|
|
Criticism TagsBlog Tags |
|||
INDONESIA![]() INDONESIA BUKAN SAUDI ARABIA TAPI JUGA BUKAN AMERIKA!!!!!! |
User loginSpread MediaSastraRecent comments
Pollyang paling asik di malam minggu pacaran 0% ke bioskop 33% ngopi 0% ngerjain tugas 0% main ke pantai 0% nginep di kaliurang 0% ngobrol sama calon mertua 0% main badminton 0% tidur 67% berkebun 0% Total votes: 3 Archive
|
New forum topicsAll-time popular content
|
Highest Points
|
|||||||||||||||||||||||||
aku setuju
aku suka dengan kalimat-kapital-singkatmu.
aku langsung ingat soal identitas, soal hibriditas, soal rangkaian impor-ekspor budaya, soal "the other", soal "the outer", soal mengetahui untuk menguasai, soal dijajah secara ekonomi-politik-ideologi, soal sejarah kekuasaan, soal "ketakberdayaan", soal integritas, soal bahasa, soal tai kucing ke-trendi-an luaran, soal sadomasokisme nasionalis, soal nasionalisme, soal "advanced capitalism", soal globalisasi yang jadi ekspansi ekonomi, soal buruh yang sepertinya tak jadi soal bagi negeri ini, soal Mtv perusak logika kritis, soal Raam Punjabi yang jadi agen pembodohan lewat sinetron-sinetron, soal kuingin bercerita tentang "inferiority complex" yang seakan genetis ini...
soal kembaraan ini mau kemana juga, ah..tambah rumit aja, neh.hehehe...
ikut kata temenku,aku juga mau bilang "cup-cup perjuangan!"
dibingungkan globalisasi budaya
globalisasi adalah suatu konsep yang seharusnya memiliki nilai "mutual appreciation", kira-kira begitu kata salah satu dosen saya dulu.
umumnya, satu konsep ditawarkan dengan nada mulia, penyebaran agama adalah salah satu contohnya. saya seiya-sekata dengan wahmuji yang langsung teringat dengan daftar panjang yang dirunutnya tentang konsep "penyebaran" ini. tanda-tanda yang dilontarkan media, tempat umum mencari informasi, memang begitu ruwetnya untuk sekedar dibaca, apalagi dikritisi, karena yang di"serang" adalah mental manusia. ragam hal yang ditawarkan dunia begitu membombardir manusia. di sini kadang manusia menjadi lemah dan terikut arusutama.
kapitalisme sekarang tidak lagi menjadikan kebutuhan manusia sebagai inspirasi industri mereka. penciptaan kebutuhan, begitu kata teman saya, adalah apa yang sekarang dikembangkan. orang tidak butuh kulit yang putih, tapi orang dibuat butuh akan kulit yang putih, begitu kira-kira satu contoh kecilnya.
narasi tentang ini berjalan dengan roda waktu. generasi-generasi baru muncul. gunung-gunung "paramount" tempat sumber penciptaan budaya-citra dibuat. dan padanyalah kebanyakan orang sekarang berkiblat. dan gunung-gunung tersebut dimiliki oleh segelintir kelompok bernama korporasi transnasional. disinilah kapitalisme bermain. dan paham ini menjadi "advanced."
konsep globalisme, yang tadinya bernada mulia itu, kemudian ditunggangi untuk memuluskan pekerjaan penciptaan kebutuhan itu (dan juga penciptaan, bahkan penyeragaman budaya). targetnya adalah sesuatu yang disebut pasar. dan pasar potensial ada di banyak tempat. di situlah drama kudeta pemerintahan dan pembukaan pintu gerbang investasi modal dipentaskan.
dan Indonesia memang bukan Saudi Arabia dan Amerika. Tapi, kalau generasinya enggan membaca tanda, kesanalah Indonesia sekarang menuju: kegunung-gunung tempat konsep "culture" menjadi "cultureal": alias komodifikasi budaya.
tetap membaca, kritis, dan awas!
salam,
ginting
Dalem, dalem.. tapi bener.
Dalem, dalem.. tapi bener. Selalu waspada.. di blog saya juga sempat saya singgung itu > http://ame268.com/common/yah-panduan-nge-blog-garing
ilusi Globalisasi
Globalisasi, apapun aspeknya tidak akan mampu membawa perubahan bagi mereka yang tidak mampu atau berada dibawah bayang2 dominasi menjadi lebih baik. ini adalah issu lama pembodohan yang ditiupkan oleh Hegemonist "kaum yang menghegemoni" atau penguasa demi kepentingan ekonomi/mencari laba sebanyak2nya dengan alasan keterbukaan, modernisasi, dan hilangnya batas2 antar negara. Indonesia khususnya mayoritas rakyat miskin tidak akan mampu menahan derasnya laju globalisasi; ekonomi, budaya, dll karena ketiadaan modal ditambah penguasa indonesia/pemerintah hanya mementingkan perutnya sendiri, membangun perusahaanya dengan menggunakan posisi kekuasaanya. Mereka menguasai jalur2 hegemoni; sekolah, media, hukum, dll. demi kepentingan mereka..........rakyat hanya diam melongo, otaknya di isi oleh kebohongan media dan pasrah menerima nasib sampai 7 turunan. Mahasiswa dituntut untuk selalu mengejar nilai yang tinggi untuk bisa bersaing dalam dunia kerja ("persaingan" selau diajarkan oleh kapitalis) kenyataanya mereka yang punya modal atau koneksi yang ummnya bisa diterima.
Kita sebagai mahasiswa kalau tidak menyadari hal itu berarti masih menjadi korban tetapi dalam kondisi yang berbeda; berbedak, bersepatu, berkemeja, dan membawa buku. Padahal esensinya sama, terus buat apa kuliah mahal2??pilihanya apakah kita akan mengakhirinya (menghancurkan semua ilusi), berkompetisi mati2an dengan sesama kita, atau menunggu mati dan anak cucu kita yang akan melanjutkan pembodohan ini??
aku muak...
aku muak dengan para manusia yang mengaku berkiblat saudi arabia tapi bertingkah barbar dan aku juga muak dengan para manusia yang sangat lokal tapi sok amerika...
Post new comment